|
|

|
Mari Membalik Hirarki !
|
|
|
Oleh:
Ubaydillah,
AN
|
|
|
Jakarta, 8 September 2006
|
|
|
Hirarki
Maslow
Konon, sebelum wafat, Abraham Maslow,
Bapak Penggagas Hierarki Kebutuhan itu, sempat
menunjukkan penyesalannya. Teori motivasi yang
digagasnya itu mestinya perlu direvisi. Apanya yang
perlu direvisi? Menurut yang ditulis Danah Zohar dan
Ian Marshall dalam bukunya Spiritual Capital (Mizan:
2005), katanya, Hierarki Kebutuhan yang digagasnya
mestinya perlu dibalik.
Seandainya itu benar-benar kejadian,
maka yang paling bawah bukanlah kebutuhan fisik (fisiologis),
melainkan aktualisasi-diri. Maslow menyesal karena
teori yang sebenarnya dimaksud untuk memaparkan
problema masyarakat saat itu, mengilhami orang-orang
tertentu untuk menjadi tamak dan terus-terusan
memikirkan kebutuhan fisiknya, kebutuhan ragawinya.
Di sisi lain, seperti yang kerap kita dengar, teori
ini juga banyak “dimanfaatkan” oleh orang-orang
malas untuk menjustifikasi kemalasannya dengan
alasan kebutuhan fisik.
Sebagaimana kita ketahui, Maslow
mengeluarkan teori motivasi yang diasaskan pada
kebutuhan manusia dalam bentuk gambar piramida (kebutuhan
fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan,
aktualisasi-diri). Tak tahunya, teorinya ini bisa
dibilang termasuk yang paling mashur dan telah
dijadikan pedoman banyak orang.
Kalau membaca buku-buku manajemen
yang beredar, ada sedikitnya tiga penjelasan dari
teori Maslow itu. Pertama, setiap
tingkatan atau hierarki, harus dipenuhi lebih dulu
sebelum tingkatan berikutnya diaktifkan. Orang tidak
terdorong untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan
sosial sebelum kebutuhan fisiknya dapat dipenuhi.
Orang tidak terdorong untuk mengaktualisasikan
dirinya sebelum kebutuhan lain-lain terpenuhi.
Kedua,
setelah satu kebutuhan dipenuhi, kebutuhan tersebut
tidak lagi dapat memotivasi perilaku seseorang.
Tingkatan kebutuhan di atas hanya bisa diibaratkan
seperti pintu masuk. Jauh sebelum kita sampai rumah,
yang kita tuju adalah pintu masuk rumah. Begitu kita
sudah sampai di depan rumah, kepentingan kita dengan
pintu masuk hanyalah untuk bisa melewatinya.
Jika ini dikaitkan dengan usaha
memotivasi orang, maka yang diperlukan adalah
mengetahui sudah sampai pada hierarki ke berapa kini
orang itu berada. Seandainya orang itu masih berada
pada hierarki fisiologi lantas dimotivasi untuk
melakukan hal-hal yang menjadi sumber pemenuhan
kebutuhan sosial, ini mungkin tidak kena.
Paling-paling dia akan jawab:
“wong cari makan aja susah, masak
diajak yang nggak-nggak. . .”
Ketiga,
Maslow memisahkan kelima kebutuhan itu menjadi dua
tingkat, yaitu: tingkat atas dan tingkat bawah.
Kebutuhan fisiologis dan keamanan digambarkanya
sebagai kebutuhan tingkat bawah. Sedangkan kebutuhan
sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri
digambarkannya sebagai kebutuhan tingkat atas.
Kebutuhan tingkat bawah mendapatkan pemenuhan dari
faktor eksternal. Sementara kebutuhan tingkat atas
mendapatkan pemenuhan dari faktor internal.
|
|
|
Mengapa Aktualisasi Diri?
Jika kita harus ikut setuju juga
dengan keinginan Maslow itu, mungkin kita punya
beberapa alasan di bawah ini:
Pertama,
tidak ada teori buatan manusia yang punya
kesempurnaan mutlak. Semua menjadi relatif,
tergantung konteks, tergantung metode, tergantung
objectives, dan tergantung pada variable.
Seperti yang difirmankan kitab suci, kesempurnaan
mutlak itu hanya milik Tuhan.
Kedua,
atas nama eksplorasi dan eksperimentasi, apa dosanya
juga kalau kita mau membalik piramida itu. Toh itu
hanya untuk diri kita sendiri. Kalau pun salah, toh
tidak ada aparat hukum yang menjebloskan kita ke
penjara. Tidak ada kesalahan yang terlalu fatal di
sini.
Ketiga,
kandungan manfaat. Manfaat? Sesungguhnya, yang
dituntut oleh kehidupan dari diri kita ini, adalah
menunjukkan siapa diri kita. Di tempat kerja, kita
dituntut untuk menunjukkan siapa diri kita. Di
keluarga, kita dituntut untuk menunjukkan siapa diri
kita. Di masyarakat, kita dituntut untuk menunjukkan
siapa diri kita.
Pendeknya, kehidupan ini menuntut
kita untuk melakukan proses aktualisasi diri dan
kehidupan ini tidak mau peduli sudah sampai hierarki
mana kini kita berada. Kenyataan hidup ini
‘masa-bodoh’ dengan hierarki. Ini kalau kita merujuk
pada pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan
aktulisasi diri itu adalah:
“to realize fully one’s potential,
to realize one’s mission, to realize the idea of
becoming the best.”
Artinya, dalam keadaan apapun dan
dalam situasi apapun, kita tetap dituntut untuk
mengaktualisasikan diri kita. Jika ini dikaitkan
dengan motivasi untuk berprestasi, di tempat kerja
atau di manapun, mungkin kepentingan kita untuk
membalik piramida itu bisa dijelaskan antara lain:
1. Aktualisasi
potensi
Kalau berbicara tentang potensi
manusia, ini mungkin referensinya sudah sangat
banyak. Profesor anu berbicara ada sekian kecerdasan
yang terpendam dalam diri manusia. Profesor anu lagi
berbicara ada sekian bakat yang terpendam. Profesor
lain lagi berbicara ada sekian kompetensi dasar.
Kitab suci berbicara betapa hebatnya manusia itu dan
sekaligus berbicara betapa lemahnya manusia itu.
Intinya, seperti kesimpulan Daniel Goleman, seberapa
pun kecerdasan manusia itu bisa diungkap, yang
sanggup diungkap itu hanya sebagian dan sekian.
Meski terkesan ada perbedaan yang
cenderung sulit disepakati tentang “istilah”nya,
tetapi semuanya sepakat untuk satu hal, yaitu:
potensi manusia itu selamanya tidak akan berubah
menjadi prestasi selama tidak diaktualisasikan.
Maslow sempat bicara: “Saat
ini juga Anda sudah berada di dalam posisi yang
tepat untuk melakukan apapun. Di dalam diri Anda
sudah terdapat kapasitas, bakat, misi, arah hidup
dan panggilan yang menyadarkan.”
Untuk mengaktualisasikan potensi
menjadi prestasi, memang dibutuhkan banyak hal.
Memang dibutuhkan banyak proses. Memang dibutuhkan
banyak waktu. Memang dibutuhkan banyak uang. Memang
dibutuhkan banyak fasilitas. Tapi, ini semua
dibutuhkan setelah ada satu hal: munculnya
motivasi dari dalam diri seseorang untuk
mengaktualisasikan dirinya.
Dipikir-pikir, katakanlah untuk kasus
di Indonesia, ini lebih bermanfaat. Kalau kita
menunda – bahkan menghentikan perjalanan meraih
kebutuhan aktualisasi dengan alasan menunggu
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang ada di
bawahnya dalam Piramida Maslow itu, maka
pertanyaannya bukan masalah benar atau salah, tapi
kapan bisa tercapai. . . .?
Barangkali inilah yang ikut andil
atas munculnya fenomena di mana kebanyakan kita
tidak pernah tahu apa potensi dan keunggulan kita,
apa kompetensi dan kecerdasan dasar yang kita
miliki - sampai kita meninggal dunia, padahal
katanya potensi yang kita miliki itu banyak sekali.
Ini benar-benar paradoks !!!
2. Bukti
diri
Memunculkan dorongan aktualisasi diri
juga kita butuhkan saat menghadapi realitas yang
brutal atau bertentangan dengan keinginan. Realitas
semacam itu sama artinya dengan halang rintang.
Meski realitas itu tak berbicara, tetapi sebetulnya
ia menawarkan tiga pilihan: a) apakah Anda
akan mundur, b) apakah Anda akan diam, dan
c) apakah Anda akan tetap memutuskan untuk
melangkah maju dengan mencari jalan lain.
Kita pilih yang manapun, sebetulnya
itu pilihan kita. Tak ada orang lain yang punya
ruang ikut campur di sini. Cuma, pilihan yang kita
jatuhkan itu adalah bukti siapa diri kita.
Jika kita memilih mundur, itulah bukti siapa diri
kita. Meski kita sanggup mengungkapkan beribu dalih,
tapi dunia ini akan tetap mencatat itulah bukti
siapa diri kita. Itulah kita yang mundur. Sebaliknya,
jika kita memilih maju dengan mencari jalan lain,
itu pulalah bukti siapa diri kita. Meski tidak ada
koran yang menulisnya tetapi dunia ini akan
mencatatnya sebagai rapor (report).
Kaitannya dengan bahasan kita ini
adalah, jika kita menjadikan terpenuhinya kebutuhan
fisik, keamanan, sosial dan lain-lain sebagai
pra-syarat yang kita tetapkan untuk memulai langkah
maju, dengan berlindung di balik Piramida Maslow,
tentu kasihan sekali konsep itu. Piramida itu
dikeluarkan untuk memotivasi manusia supaya lebih
maju, tapi kini disalahgunakan untuk men-demotivasi.
Hal lain yang lebih krusial adalah
sikap dunia. Dunia ini tidak punya kebijakan yang
berbasiskan perasaan, seperti iba atau kasihan atas
dalih yang kita kemukakan. Ketika kita mengambil
keputusan mundur, dunia ini membalasnya dengan
kemunduran. Ketika kita mengambil keputusan diam,
dunia ini membalasnya dengan stagnasi. Ketika kita
mengambil keputusan maju, dunia ini membalasnya
dengan progresivitas. Ini diberikan dengan tanpa
memandang hierarki kebutuhan.
Jadi, kita kedepankan atau kita
“simpan” masalah aktualisasi diri itu, pada akhirnya
dunia ini tetap menuntut untuk diawalkan, di
kedepankan, di utamakan. Suka atau tidak, siap atau
tidak, memang sudah begitu garisnya. Ini kalau kita
bicara minimalnya untuk dua konteks di atas. Adapun
untuk konteks lain, bisa jadi akan lebih bermanfaat
kalau Piramida itu diikuti, misalnya untuk
memotivasi anak buah atau karyawan. |
|
|
Penggoda Bernama Desakan "Kebutuhan"
|
|
|
Menurut petuah klasik orang-orang
bijak, jika Tuhan harus lebih banyak mengingatkan
manusia tentang kehidupan dunia yang membahayakan
dan kehidupan akhirat yang lebih menjanjikan, itu
bukan berarti kehidupan dunia ini tidak penting.
Dunia ini tetap penting, terlepas kita menganggapnya
penting atau tidak.
Peringatan terhadap dunia itu
dikeluarkan berkaitan dengan “the nature”
manusia. Secara insting, manusia lebih tertarik
dengan kehidupan dunia, target jangka pendek, dan
hasil yang langsung kelihatan dan bisa dilihat orang
lain, sekaligus bisa dinikmati sekarang juga.
Manusia, by nature, kurang tertarik dengan
kehidupan akhirat, yang nanti, yang tidak kelihatan
langsung, dan yang tidak bisa dinikmati sekarang.
Jika Tuhan lebih banyak mengingatkan
keutamaan intelektual, emosional dan spiritual (kualitas
manusia), dan lebih banyak mengingatkan bahayanya
kekayaan, perhiasan atau penampilan, itu bukan
berarti semuanya itu tidak penting bagi manusia.
Tapi, ini karena, secara nafsu, manusia lebih
tertarik untuk mengejar kemewahan dengan harta
ketimbang mengasah intelektualnya atau emosionalnya.
Manusia lebih tertarik menunjukkan kekayaannya (show-off)
ketimbang tertarik untuk meng-amal-kan (sebagian)
kekayaannya kepada orang lain.
Jika itu semua kita jelaskan dengan
bahasa manajemen, mungkin kebutuhan dunia (jangka
pendek, kelihatan langsung) atau kebutuhan fisik
manusia itu selalu berada pada level “urgent”
dalam diri manusia. Sementara, kebutuhan yang
berjangka panjang, kebutuhan yang mengarah pada
terbentuknya kualitas manusia, dan semisalnya selalu
ditempatkan pada level “important”.
Sayangnya, seperti pesan Covey,
kebanyakan manusia lebih sering merasa terdesak oleh
kebutuhan-kebutuhan urgent-nya dan
mengabaikan kebutuhan-kebutuhan yang important.
Covey menyebutnya dengan istilah keracunan desakan.
Sebagai contohnya misalnya, adakah orang yang merasa
terdesak untuk membaca buku, beramal, mengasah
potensinya, dan semisalnya? Kalau pun ada, itu
jumlahnya sedikit. Tapi, jika kita bertanya adakah
orang yang terdesak untuk membeli teve terbaru,
handphone terbaru, atau mobil keluaran baru,
tentu ini jumlahnya terlalu banyak.
Kaitannya dengan motivasi berprestasi
adalah, jika kita selalu menjadikan pemenuhan
kebutuhan fisik (dalam pengertian yang luas),
sebagai syarat mutlak untuk berprestasi, berkarya,
berkreasi atau berbuat baik bagi manusia, kerapkali
ini akan dikalahkan oleh dorongan kebutuhan yang
tidak ada habisnya itu. Bahkan seringkali hanya
berupa tipuan. Desakan kebutuhan fisik itu seperti
air laut. Semakin banyak kita minum, semakin haus
kita.
Karenanya, kepentingan kita untuk
membalik piramida itu bukan untuk sebagai bahan
menulis puisi bahwa Maslow telah gagal. Bukan untuk
itu. Maslow telah “berijtihad” dengan kemampuannya
dan untuk konteks tertentu masih tetap perlu
dijadikan rujukan, misalnya untuk pimpinan
organisasi. Kepentingan kita untuk membaliknya itu
adalah agar kita tidak terjebak dalam upaya memenuhi
kebutuhan fisik dan mengabaikan kebutuhan
aktualisasi dengan berlindung di balik teori
Piramida.
Dan lagi, kalau kita mau
hitung-hitungkan sederhana, jika kita sudah
mengaktualisasikan potensi yang kita miliki menjadi
kumpulan prestasi yang terus bertambah dan
mengaktualisaikan “siapa diri kita” dalam menghadapi
realitas, masak sih kebutuhan fisik,
kebutuhan sosial, dan lain-lain tidak terpenuhi sama
sekali?
|
|
_____________________________
|
|