|
|

|
Blokade
Mental
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
7 Juli 2003
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menjadi manusia efektif
ternyata tidak saja menuntut optimalisasi keunggulan
semata melainkan ada kebutuhan lain yang sebesar
optimalisasi, yaitu menyingkirkan blokade.
Blokade adalah barrier (halangan) yang
menghambat potensi kita untuk dapat berfungsi
seperti yang kita maksudkan sehingga akhirnya
menjadi tidak efektif atau banyak menelan pemborosan
energi, waktu
dan konsentrasi. Ibarat sebuah talang, jika air tidak
mengalir selancar
yang seharusnya terjadi
berarti terdapat
kemungkinan tanda tanya, “there is
something technically/strategically wrong”.
Bisa jadi talang itu bocor dan membuat kucuran
air membanjiri tempat lain yang tidak diinginkan atau
aliran air terhalang oleh tumpukan benda-benda kecil.
|
|
|
Peristiwa
di mana orang menjalani hidup tidak efektif –
sebagaimana talang – tidak selamanya disebabkan oleh
faktor ketidamampuan (over-burden) tetapi oleh
adanya kebocoran atau kemampetan. Kalau mengutip
rumusan Paretto (20:80), blokade itulah yang membuat
kita menjalani hidup sebaliknya (80:20). Kita
mengeluarkan energi 80 % dan hanya menghasilkan 20 %
dari sasaran. Padahal mestinya 20 % kita keluarkan dan
mendapatkan 80 % sasaran atau setidaknya 30:70, 40:60
atau 50:50. Pertanyaannya, bentuk blokade apakah yang
menghambat tersebut?
|
|
|
Kemampuan
dan Kebiasaan
|
|
|
Setelah mengeluarkan
pendapat tentang “The Seven Habit – The Most
Effective People” , Covey menemukan hubungan
korelatif antara kebiasaan efektif dan tingkat
aktualisasi kemampuan
dasar manusia (dalam: Seven Habit Revisited:
seven unique human endowment, Stephen Covey:
1996-1998). Di dalam diri manusia terdapat tujuh
kemampuan dasar yang
berasosiasi dengan model kebiasaan menurut kontinum
tertentu. Tujuh kemampuan dasar (endowment) itu
antara lain: 1) Kesadaran-diri (self awareness),
2) imajinasi (imagination and conscience),
3) Kemauan (will power), 4) mentalitas
berlimpah (abundance mentality), 5) Keberanian (courage
with consideration), 6 ) Kreativitas (creativity),
7) Pembaruan (self renewal). Ketujuh kemampuan
dasar itu digolongkan menjadi dua, yaitu primer (1,2,
3) dan sekunder (4, 5, 6, 7). Adapun tujuh kebiasaan
manusia efektif (seperti yang sudah dijelaskan dalam
buku Covey yang telah beredar di sini) adalah: 1)
Proaktif (Proactive), 2) Berawal dari tujuan
akhir (Begin with the end), 3) Mengutamakan
yang utama (First thing first), 4) Berpikir
menang-menang (Think win-win), 5) Memahami
lebih dulu (seek first to understand), 6)
sinergisitas (synergize), 7) Mengasah gergaji (sharpen
the saw). Mari kita mulai membahas
bagaimana ketujuh kemampuan dasar (seven
endowments) itu menciptakan tujuh kebiasaan
tertentu (Seven habits) berdasarkan
peringkatnya. Peringkat yang dimaksud adalah tingkat
pencapaian kualitas pengembangan diri / aktualisasi
kemampuan potensial:
|
|
|
1.
|
Kesadaran
Diri - Proaktif
|
|
|
|
Kesadaran-diri adalah
kemampuan kunci untuk memahami orang lain dan dunia
ini - ‘what is happening and how something takes
the process to happen’. Bahkan kesadaran-diri
merupakan pintu untuk mengenal di mana sebenarnya
keunggulan/kelemahan diri kita. Dengan kesadaran-diri
yang tinggi maka kaki kita mantap menginjak realitas
bumi dan tidak ragu-ragu dalam bertindak.
Kemampuan tentang
kesadaran-diri apabila diaktualkan secara optimal akan
menghasilkan kebiasaan efektif
berupa proaktif: memiliki kemampuan untuk
memilih respon yang cocok atau menentukan keputusan.
Dikatakan kebiasaan efektif
karena
semua persoalan tidak ada yang membingungkan
apabila ditangani oleh orang yang berkapasitas mampu
mengambil keputusan. Kualitas menjadi pengambil
keputusan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh
orang dengan kesadaran-diri setengah-setengah.
Pada level aktualisasi
kemampuan yang rendah,
kebiasaan hidup yang dihasilkan tidak efektif (
talang bocor) yaitu kebiasaan reaktif – tidak
memiliki kemampuan memilih alias dibentuk oleh
bagaimana orang lain dan keadaan membentuknya. Di
level ini semua persoalan besar/kecil akan
membuat dirinya ‘bingung’ - terombang
ambing, bahkan bisa jadi tidak tahu mana yang besar
dan mana yang kecil.
|
|
|
2.
|
Imajinasi – Tujuan akhir
|
|
|
|
Kemampuan imajinasi apabila
diaktualkan secara optimal
dengan petunjuk kesadaran dan prinsip akan
menghasilkan kebiasaan hidup yang bermuara pada tujuan
akhir/kepentingan misi. Orang yang telah melatih
imajinasinya pada level tinggi senantiasa akan membuat
lilin harapan dan visi menyala sehingga tidak mudah
digoda oleh berbagai bentuk distraksi dari luar dan
dari dalam atau
tidak mudah kalut oleh kegelapan realitas temporer.
Kondisi internal yang terus tercerahkan
(enlightenment) oleh lilin harapan dan visi inilah
yang membuat dirinya realistic (berada di atas
realitas) atau victor (pemenang) dan effective.
Sebaliknya, pada level
aktualisasi kemampuan yang
rendah di mana orang membiarkan imajinasinya
liar kemana-mana tanpa kesadaran atau prinsip yang
jelas akan menghasilkan cetakan kebiasaan hidup yang
tidak berbentuk, atau menjadi korban (victim),
sudah kemana-mana tetapi tidak menemukan apa-apa
(sense of futility about goal).
Imajinasi yang liar bisa terjadi kapan pun dan di
manapun yang lazimnya kita kenal dengan aktivitas ‘ngelamun’.
Secara permukaan sulit dibedakan antara orang ngelamun
dan orang yang melatih imajinasi dengan bervisualisasi
kreatif tetapi dalam hitungan yang ke sekian kali
perbedaan itu akan sebesar kemutahiran kreasi.
Bukankah semua temuan tekhnologi berawal dari
imajinasi ?
|
|
|
3.
|
Kemauan
- Mengutamakan yang Utama
|
|
|
|
Kemampuan manusia berupa
kemauan apabila diaktualkan secara optimal akan
menghasilkan kebiasaan hidup teratur - mengutamakan
yang utama, dan penuh displin dalam membuat tata letak
antara prioritas utama, kepentingan, dan urgensitas.
Keteraturan dan displin tidak dapat diraih tanpa
kemauan keras untuk merebut tanggung jawab. Orang yang
tahu tata letak akan membuat kebiasaan hidup efektif.
Pada level aktualisasi yang
rendah, kemampuan ini akan menghasilkan
kebiasaan hidup berupa mentalitas jalan-pintas, atau the
simple answer, menolak tanggung jawab hidup
sehingga tidak terjadi keteraturan. Membesar-besarkan
hal yang kecil dan mengabaikan hal yang menjadi
benih-benih
peristiwa besar
(kebocoran atau kemampetan talang).
Orang yang malas tidak berarti hidupnya efektif
meskipun ia menolak bertanggung jawab karena pada
dasarnya hidup ini tidak memberi pilihan antara
bertanggung jawab atau tidak, melainkan harus
bertanggung jawab.
|
|
|
4.
|
Mentalitas
Berlimpah - Berpikir Menang-menang
|
|
|
|
Kemampuan mentalitas atau
kapasitas mental yang diaktualkan secara optimal akan
menghasilkan kebiasaan berpikir menang-menang dalam
menjalin hubungan dengan orang lain. Mentalitas
berlimpah akan menghasilkan karakter kepribadian
berprinsip. Prinsiplah yang menjadi sumber
keberlimpahan, kemakmuran dan keamanan. Kalau
dikaitkan dengan kecerdasan EQ, tingkat kecerdasan
yang tinggi akan mampu memproduksi kebahagian di dalam
sehingga berkuranglah tingkat
dependensinya terhadap
sumber kebahagian dari
luar . Semakin
kuat orang memegang ‘principle-centered’ (berpusat
pada prinsip hidup), semakin mudah orang tersebut
mengalirkan rasa cinta/penghargaan kepada orang lain -
to share recognition. Oleh karena itu
dikatakan, mentalitas berlimpah akan
menghasilkan profit dan power.
Sebaliknya pada
level aktualisasi yang rendah akan menghasilkan
kebiasaan hidup talang bocor berupa mentalitas kerdil (scarcity)
di mana orang merasa kurang dengan dirinya. Rasa
bahagia, rasa aman, dan rasa makmur tidak mampu
diciptakan oleh dirinya melainkan merasa harus
bergantung kepada orang lain sehingga tidak mudah
memberi maaf atas kesalahan apapun yang dilakukan oleh
mereka. Suami/istri yang bermentalitas kerdil akan
mudah bentrok walaupun pemicunya berupa sendok makan
yang jatuh padahal (mestinya) cukup diselesaikan
dengan memaafkan sedikit. Karena tidak mampu memaafkan
akhirnya membuat
kebocoran tidak hanya menetes melainkan mengalir deras,
dan akhirnya banjirlah rumah tangga.
|
|
|
5.
|
Keberanian
- Memahami Lebih Dahulu
|
|
|
|
Kemampuan keberanian apabila
diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan
efektif berupa memahami lebih
dulu baru akan dipahami. Memahami
lebih dulu membutuhkan keberanian dengan
pertimbangan. Dikatakan efektif karena memahami lebih
dulu akan (biasanya)
membuat kita dipahami lebih dulu. Memahami lebih dulu
adalah membuka talang yang macet atau kalau
dipinjamkan dari istilah lain, memahami lebih dulu
adalah kebiasaan empati, bukan simpati.
Sebaliknya keberanian yang
tidak diaktualkan secara optimal akan menghasilkan
kebiasaan hidup tidak efektif berupa keinginan untuk
dipahami lebih dulu baru akan memahami. Jika
dikembalikan ke kehidupan kita, akar dari sebab
persoalan besar adalah dasar berkomunikasi yang ingin
dipahami lebih dulu. Semua orang memang secara alami
ingin dipahami lebih dulu.
|
|
|
6.
|
Kreativitas
- Sinergisitas
|
|
|
|
Kemampuan kreativitas
apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan
kebiasaan hidup efektif berupa terciptanya keunggulan
sinergis dari perbedaan atau persamaan. Keunggulan
sinergis adalah manifestasi kesadaran misi dan tidak
dapat diraih dengan pendewaan posisi. Salah satu
karakteristik keunggulan sinergis adalah terciptanya
saluran komunikasi di antara respectful minds
yang berinteraksi untuk menemukan kompromi dan
kerjasama. Kenyataan seringkali mengajarkan
bahwa pada akhirnya, kerjsa sama yang diolah
dengan kreativitas akan menang melebihi ‘confrontation’.
Sebaliknya kemampuan
kreativitas yang tidak diaktualkan secara optimal akan
menghasilkan kebiasaan hidup tidak efektif berupa
kebuntuan alternatif dan kemacetan aliran transformasi.
Satu-satunya jalan yang ditempuh adalah membuat ‘defensive
communication’ dibarengi dengan pendewaan posisi
antara saya dan anda, kami dan mereka. Posisi yang
didewakan akan membuat aliran kepentingan misi bisa
macet dan akhirnya terbuang ke tempat yang tidak
diinginkan.
|
|
|
7.
|
Pembaharuan
- Mengasah Gergaji
|
|
|
|
Kebiasaan mengasah gergaji
dihasilkan dari kemampuan pembaruan-diri
yang diaktualkan secara optimal. Dikatakan
kebiasaan efektif karena dengan terus mengasah gergaji
(baca: pengembangan diri) dapat mengurangi kemungkinan
yang menyebabkan kegagalan atau kelambanan
menyelesaikan masalah akibat perubahan keadaan.
Seperti dikatan, siksaan paling berat yang kita rasakan adalah ketidaktahuan (kebodohan).
Pembaharuan adalah inovasi, improvisasi,
pembelajaran, atau merenovasi talang.
Sebaliknya, kemampuan
pembaruan yang tidak diaktualkan secara optimal akan
membuat kita terperosok dalam sistem hidup yang
tertutup, gaya hidup yang gelap, dan buntu. Tak pelak
lagi sistem dan gaya hidup demikian hanya akan
mewariksakn ketertinggalan dari kemajuan zaman,
mentalitas kerdil dan kebodohan akan perkembangan
informasi.
|
| |
Uraian singkat di atas
mudah-mudahan dapat mendorong kita untuk mengecek
kondisi talang di atas "rumah diri kita"
secara langsung agar dapat membuat kesimpulan yang paling mendekati obyektif;
apakah talang yang tidak dapat mengalirkan air
sebagaimana mestinya itu disebabkan oleh kerusakan fatal
atau hanya kemampetan. Bila yang terjadi hanya
mampet, pengalaman menunjukkan sangat amat jarang
kemampetan talang diakibatkan oleh benda besar dalam
peristiwa sesaat, misalnya pohon yang roboh atau lainnya.
Sebab kalau benda besar yang menghalangi langsung kita
singkirkan. Lebih
sering talang yang mampet disebabkan oleh serpihan kayu,
lumpur, lumut yang awalnya kita anggap tidak
membahayakan. Dan begitu hujan turun, maka …. Bem!
Semoga bermanfaat. (jp)
|
|
_____________________________
|
|