|
|
|
Menyembuhkan
Luka Psikologis Akibat PHK di Tempat Kerja Baru
|
|
|
Oleh Johanes
Papu
|
|
|
Team e-psikologi
|
|
|
Jakarta,
7 Maret 2002
|
|
|
Karyo
akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan baru setelah
berjuang selama satu setengah tahun setelah di PHK dari
sebuah perusahaan otomotif. Dalam masa-masa perjuangan
mendapatkan pekerjaan, ia telah menjalani puluhan kali
wawancara dan test tertulis. Beberapa kali ia berhasil
melewati beberapa tahap dalam penerimaan karyawan, namun
ternyata pada tahap screening akhir ternyata orang
lain yang diterima. Namun berkat kegigihan dan semangat pantang
menyerah akhirnya ia diterima bekerja di sebuah
perusahaan otomotif terkemuka. Teman-teman dan
kerabatnya beranggapan bahwa ia adalah seorang yang
beruntung karena berhasil mendapatkan pekerjaan dengan
jabatan dan bidang pekerjaan yang sama dengan sebelumnya
dan bekerja pada perusahaan besar dan terkemuka. Namun
bagi Karyo semua itu tidak lagi terasa sebagai suatu
"kemenangan". Ia menanggapi keberhasilan
tersebut secara biasa-biasa saja. Ia bahkan masih risau
memikirkan kelanjutan karirnya di perusahaan tersebut
dan meragukan apakah ia mampu berprestasi dengan baik di
tempat kerjanya yang baru ini.
|
|
|
Bagi anda yang pernah terkena PHK dan kemudian berhasil
memperoleh pekerjaan baru, setelah melalui perjuangan
yang sangat panjang, mungkin pengalaman Karyo pernah juga anda
alami terutama pada saat-saat awal anda diterima bekerja.
Perasaan kaget, tidak percaya bahwa itu benar-benar
terjadi, ragu apakah setelah diterima akan mampu bekerja
dengan baik, sulit mempercayai atasan
atau perusahaan baru, atau bahkan mempertanyakan apakah ini
benar-benar hasil usaha sendiri atau ada pihak lain yang
ikut campur tangan, adalah sebagian gambaran dampak
psikologis (saya lebih suka menyebutnya "luka
psikologis") yang masih membekas pada individu yang
baru diterima kerja pasca PHK. Pertanyaan yang patut
diajukan adalah mengapa terjadi reaksi
seperti itu dan apa yang sebaiknay dilakukan untuk
menyembuhkan luka psikologis yang
masih membekas di individu korban PHK tersebut?
|
|
|
Penyebab
|
|
|
Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan
seseorang untuk membangun kembali rasa aman dan rasa
percaya diri terhadap pekerjaan baru yang diperolehnya
setelah sekian lama tidak bekerja? Jawabnya sangat
tergantung pada faktor apa yang menyebabkan seseorang
kehilangan pekerjaan. Bagi mereka yang terkena PHK
massal akibat adanya perampingan perusahaan atau merger
atau perusahaan bangkrut, mungkin akan merasa bahwa PHK
bukanlah suatu kegagalan pribadi, karena itu mereka akan
lebih mudah untuk membangun rasa aman dan percaya diri
di tempat kerja yang baru. Bagi mereka yang
terkena PHK
secara tidak hormat mungkin akan merasa sangat malu dan
terhina, apalagi jika PHK tersebut terjadi sebagai
akibat kelalaian yang tidak disadari si korban.
Bagi orang-orang dengan kondisi seperti ini mungkin akan lebih sulit dan
dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk
menumbuhkan kembali kepercayaan diri, rasa aman terhadap
pekerjaan barunya dan kepercayaan terhadap rekan kerja
serta perusahaan baru. Sebagian dari orang tersebut yang
merasa dirinya "sangat berguna dan memiliki harga
diri sangat tinggi", mungkin akan terus beranggapan
bahwa PHK merupakan kerugian besar bagi perusahaan karena harus
kehilangan "orang-orang terbaiknya". Sebagian lagi akan
tinggal dalam kemarahan dan sakit hati, berusaha mencari
"kambing hitam" atau mulai mengucilkan diri
dan dirasuki oleh penyesalan yang mendalam.
|
|
|
Sementara itu, bagaimana individu
bereaksi dalam menyikapi PHK akan sangat tergantung
pada karakter individu masing-masing. Pada
umumnya individu seringkali mengidentikkan dirinya
dengan identitas perusahaan/organisasi. Kenyataan di
lapangan menunjukkan betapa banyak orang yang selalu
mengatasnamakan suatu perusahaan/organisasi, terlebih
jika perusahaan/organiasi tersebut sudah terkenal,
kemanapun ia pergi bahkan untuk urusan pribadi yang
tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Bagi
orang-orang seperti ini pekerjaan merupakan simbol
status dan harga diri yang tidak ternilai. Oleh karena
itu mereka akan sangat terpukul dan seringkali
bertindak kontraproduktif manakala harus kehilangan
pekerjaan.
|
|
|
Bagi individu yang
memandang kehidupan secara sangat pribadi dan
subyektif, seperti disebutkan diatas, kehilangan
pekerjaan dianggap sebagai penghinaan atau serangan
terhadap pribadi. Mereka merasa dilecehkan dan mungkin
sangat marah sehingga sulit berpikir secara obyektif.
Jika kemarahan tersebut diarahkan pada dirinya sendiri,
maka mereka mungkin masih akan terus merasa bahwa
dirinya tidak berharga untuk jangka waktu cukup lama
meskipun telah memiliki pekerjaan baru.
|
|
|
Bagi individu yang memandang setiap kejadian secara
obyektif dan rasional serta percaya bahwa segala
sesuatu di jagat raya diatur oleh hukum tertentu,
bersifat logis dan adil, kehilangan pekerjaan akan
berarti kehilangan kendali terhadap diri sendiri dan
alam sekitarnya. Kondisi tersebut membuat mereka
kehilangan kepercayaan diri dan timbul ketakutan bahwa
mereka tidak mungkin lagi dapat kembali ke kondisi
seperti sebelum PHK.
|
|
|
Dari
seluruh individu yang ada dalam satu perusahaan,
menurut careerjournal.com, hanya ada sepertiga
individu yang mengganggap bahwa pekerjaan adalah alat
/kendaraan untuk menjalani kehidupan, bukan sebagai
simbol status, stabilitas, penentuan harga diri atau
pengendalian terhadap alam sekitar. Bagi individu
seperti ini kehilangan pekerjaan tidak menimbulkan
reaksi emosional yang kontraproduktif. Kehilangan
pekerjaan bagi mereka dianggap sebagai suatu situasi
sementara yang tidak nyaman tetapi tidak perlu merasa
tertekan.
|
|
|
Siklus
|
|
|
Karol Wasylyshyn, seorang psikolog, mengatakan
bahwa setiap
individu, apapun tipe atau temperamennya, akan mengalami
suatu siklus yang disebut "DABDA" -
denial, anger, bargaining, depression and acceptance -
ketika kehilangan pekerjaan. Denial (penolakan)
muncul ketika seseorang yang diberitahu akan di PHK mulai berkata: "Ini tidak mungkin terjadi
pada saya". Selanjutnya karena penolakan tersebut
tidak menghilangkan rasa sakit hati dan tidak
menyebabkan realitas yang lebih baik maka timbul
"Anger" (kemarahan), individu akan berkata:
"Ini tidak adil! Perusahaan tidak dapat melakukan
ini terhadap saya!". Namun karena ternyata "perusahaan"
dapat saja melakukan PHK, maka si individu akan
mencoba mengajukan Bargaining (penawaran): "Ok,
jika gaji saya dipotong 25% perbulan, apakah saya
masih tetap bisa bekerja?". Pada umumnya sangat
jarang penawaran yang diajukan oleh karyawan akan
diterima oleh perusahaan atau majikan. Oleh karena itu
ketika penawaran tersebut gagal, maka individu akan
memasuki depresi (Depression). Meskipun pada
umumnya setiap individu mau tidak mau harus menerima
keadaan yang terjadi dan sebenarnya merupakan suatu "happy
ending", namun bagi sebagian orang dibutuhkan
waktu dan kerja keras yang panjang untuk mencapai
tahap penerimaan (Acceptance) tersebut.
|
|
|
Banyak diantara individu yang dapat melewati siklus
tersebut dengan cepat dan memperoleh kembali keseimbangan
hidup (equilibrium). Namun tidak jarang sebagian
individu justru terjebak (berlama-lama) dalam salah satu tahap dari
siklus tersebut. Mereka mungkin tetap menolak
kenyataan dengan mengembangkan pandangan: "Suatu saat
perusahaan akan menyadari kesalahannya dan akan datang
memohon pada saya untuk bergabung kembali", atau
masih tetap penuh amarah: "Awas kalian semua yang
memecat saya, saya akan membalas penghinaan ini".
Selain itu ada juga yang terjebak dalam depresi
berkepanjangan yang sangat merugikan dirinya sendiri.
|
|
|
Apa yang Sebaiknya dilakukan?
|
|
|
Bagaimana seseorang memperoleh
kembali rasa percaya diri dan dapat memiliki
kepercayaan terhadap orang lain dan perusahaan sehingga pada akhirnya
timbul loyalitas dan komitmen terhadap perusahaan akan
sangat dipengaruhi oleh usaha-usaha yang dilakukan
oleh orang tersebut segera setelah ia diterima bekerja.
Usaha-usaha tersebut menyangkut hubungan dengan rekan
kerja, atasan/bawahan, dan kepedulian terhadap diri
sendiri dan lingkungan sekitarnya.
|
|
|
Hubungan baik dengan rekan kerja baru dan
keinginan yang kuat untuk menjadi bagian dari sebuah
team/group dapat membuka jalan bagi terciptanya
loyalitas dan komitmen. Namun harus disadari bahwa
tidak semua rekan kerja baru memahami apa yang ada
dalam pikiran karyawan yang baru. Dengan demikian ada
kemungkinan bahwa mereka salah dalam memahami perasaan
karyawan baru yang telah mengalami masa-masa sulit
pencarian pekerjaan. Oleh karena itu, tanpa bermaksud meminta
rasa belah kasihan atau bertindak defensive, ada
baiknya anda (karyawan baru) memberitahu atasan/bawahan dan rekan
kerja anda tentang apa yang pernah anda alami di masa
lalu. Jika
anda termasuk tipe orang yang extrovert (outgoing)
proses integrasi dengan perusahaan dan rekan kerja
mungkin dapat berlangsung dengan mudah. Tetapi jika
anda termasuk orang dengan tipe introvert,
mungkin akan agak sulit memulai hubungan dengan rekan
kerja yang baru, sehingga tidak jarang dianggap
sombong. Namun demikian ini bukanlah suatu pilihan,
melainkan suatu kewajiban yang harus dilakukan jika
anda ingin memperoleh dukungan dari rekan-rekan baru
anda.
|
|
|
Jika anda termasuk individu yang rational, seorang
pemikir yang obyektif, mungkin ada baiknya anda
melakukan analisa terhadap berbagai kejadian dan
reaksi anda dalam menyikapi setiap kejadian tersebut.
Catatlah faktor-faktor apa yang telah mengakibatkan
diri anda terkena PHK, pelajari hal-hal yang dialami
selama masa pencarian pekerjaan, apa tujuan yang ingin
dicapai dalam beberapa tahun ke depan dan apakah
kelebihan atau keuntungan dari jabatan anda yang baru
ini. Dengan melakukan analisa tersebut anda akan
dapat mengurangi ketakutan yang tidak rasional,
mengurangi pikiran-pikiran yang tidak produktif, dan
dapat lebih fokus pada kekuatan dan sumber daya
individu yang ada saat ini..
|
|
|
Bagi mereka yang merasa kehilangan kendali terhadap
diri dan alam sekitarnya sebagai akibat dari kehilangan pekerjaan mungkin akan mengabaikan
kesehatan fisik dan jiwa mereka. Meskipun kesehatan
jiwa tidak selalu berarti memiliki kondisi fisik yang
prima, namun secara faktual akan sangat sulit bagi
seseorang untuk peduli terhadap kondisi fisiknya jika
ia tidak sejahtera secara mental. Demi meningkatkan
kesehatan mental dan fisik, maka setelah mendapatkan
pekerjaan baru cobalah melakukan kebiasaan-kebiasaan baru
yang berguna bagi keseimbangan fisik dan mental seperti melakukan olahraga atau
diet. Akan sangat baik jika anda bergabung dalam
kelompok (club) olahraga dimana anda dapat
berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain.
|
|
|
Suatu
teknik yang disebut "Mental Imaging"
mungkin akan sangat berguna untuk menghilangkan
pikiran-pikiran negatif yang muncul pada saat anda
telah diterima bekerja kembali. Cara kerja teknik ini
adalah dengan menyusun skenario (secara mental)
tentang suatu kondisi kerja yang stabil, aman, lalu
identifikasi perilaku-perilaku produktif yang dapat
menunjang anda mencapai kesuksesan sehingga anda
optimis dapat melangkah ke masa depan yang lebih cerah.
Sekali skenario tersusun, cobalah berperilaku menurut
skenario tersebut.
|
|
|
Penyembuhan
luka psikologis tentulah harus disertai dengan usaha
keras dan perhatian yang sangat serius dari individu
yang bersangkutan untuk mengatasi keraguan terhadap
dirinya sendiri dan mendapatkan kembali kepercayaan
dan komitment terhadap perusahaan. Ingatlah bahwa
sekali anda diterima bekerja artinya anda mempunyai
kewajiban untuk memberikan yang terbaik dari semua hal
yang anda miliki kepada perusahaan seperti yang pernah
anda janjikan ketika wawancara atau proses penerimaan
karyawan. Pada akhirnya nanti mungkin kontribusi anda
akan sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan,
karir anda, dan keamanan kerja bagi rekan-rekan yang
lainnya. (jp)
|
|
_____________________________
|
| |
|