|
Perbedaan
arti job security dan career security akan
membentuk pemahaman irrational
yang mandul kalau diartikan secara posisi
tetapi akan 'klop' kalau diartikan secara misi.
Artinya, untuk memahami career security maka anda
harus melepaskan diri dari apa pun posisi anda (karyawan,
professional, pemilik usaha) dan hanya berpegang pada
misi bahwa diri andalah yang menjadi sumber segalanya
bagi kelangsungan karir anda. Dengan kata lain, career
security adalah ajaran mentalitas berupa The
enterprising mental attitude - mentalitas
pengusaha. Lagi - lagi kita terjebak dalam arti
posisi dengan kalimat pengusaha karena istilah ini
sudah dikramatkan sedemikian rupa selama
bertahun-tahun sehingga membuat kebanyakan orang takut
untuk menyebut
dirinya pengusaha, padahal suka atau tidak suka,
semua orang adalah pengusaha, pejuang gagasannya.
Inilah inti dari paradigma career security.
Agar
tidak terlalu banyak menghadapi jebakan idiom, maka
perubahan paradigma dari job security ke career
security harus diatur dengan tata letak (realisasi
misi) yang tidak saling berlawanan. Hal itu mengingat
bahwa setiap paradigma mengandung nilai plus-minus.
Tugas kita adalah mengambil plus dari paradigma lama
untuk dijadikan lebih plus dengan paradigma baru.
Paradigma job security yang telah
menyelimuti kultur kita mewariskan kepercayaan
bahwa modal untuk membeli keamanan atas pekerjaan
adalah loyalitas dan kerja keras. Pada batas
yang terlalu jauh, mentalitas demikian akan 'membutakan'
penglihatan terhadap adanya 'gold mine' di
dalam diri yang menunggu sentuhan 'gold mind'.
Hal
lain yang perlu diingat lagi adalah bahwa paradigma
merupakan materi ajaran mentalitas yang
dimaksudkan untuk mengubah konstruksi pola
pikir dan tidak perlu mengubah bentuk tatanan
fisik kalau memang secara riil belum mampu dan tidak
diperlukan. Paradigma career security
mengajarkan perubahan mindset (pola pikir) dari
bekerja dengan cemeti perintah menuju ke bekerja atas
keinginan untuk memperbaiki diri atau dorongan
berprestasi
di tempat kerja. Cemeti perintah akan
menciptakan karakter 'asking for' dalam arti 'low
bargain' yang membuat banyak orang melihat
tanggung jawab untuk menyelesaikan
pekerjaan sebagai beban hidup. Sementara career
security akan menciptakan karakter mental sebagai
'giver'. Tangan "giving"
bagaimana pun akan lebih mulia di banding tangan "asking".
Hal
terakhir yang harus diingat juga adalah bahwa
perubahan paradigma sebenarnya merupakan jembatan
peradaban dari level rendah ke level yang lebih tinggi.
Kalau orang sudah berpegang pada paradigma lebih
positif maka kemungkinan besar dapat dikatakan bahwa
ia punya potensi lebih besar untuk menciptakan perilaku
yang lebih positif dalam merespon keadaan.
Sebab keadaan yang sebenarnya terjadi, meskipun kita
menganut paradigma job security, tetapi
toh kita bisa mudah kehilangan
pekerjaan karena keputusan orang lain,
kebijakan lembaga, atau bahkan perubahan
negara lain. Kalau dikaji untung-ruginya, career
security lebih mendorong pada upaya menciptakan
persiapan di dalam untuk menghadapi perubahan keadaan
di luar sementara job security tidak mendorong
demikian atau lebih cenderung pasrah. Artinya
perubahan paradigma dari job security ke career
security melambangkan tangga peradaban yang
lebih atas / lebih untung.
Dengan
sedikit pertimbangan di atas, rasanya tidak ada
ruginya atau bahkan tidak
mengandung resiko ancaman keamanan apapun kalau
kita sudah bisa menyambut baik
ajakan untuk mengganti paradigma kerja dari job
security ke career security. Alasan
rational dan faktual yang dapat kita jadikan pijakan
untuk mengganti paradigma itu adalah kenyataan bahwa
pekerjaan tidak lagi menyisakan ruang 'comfort
zone' atau paling tidak ukurannya makin sempit .
Penyempitan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor,
mulai dari persaingan, peristiwa eksternal, dan
perubahan kebijakan.
Persaingan
yang oleh para ahli diistilahkan sudah mencapai
tingkat hyper menuntut
kualitas pengecualian. Kualitas rata-rata sudah
semakin jauh dari perhitungan. Kalau ada perusahaan
membutuhkan - misalnya saja - tenaga accounting
dengan kualifikasi S1, tentu semua orang mengatakan
mudah. Tetapi kalau ditambah kualifikasinya harus bisa
bahasa Inggris, sudah berkurang yang berani mengatakan
mudah. Apalagi kalau ditambah dengan pengusaan job
skill yang memang dibutuhkan untuk melaksanakan
pekerjaan riil di lapangan, misalnya saja harus
menguasai program MYOB, peraturan perpajakan, Brevet A
/ B, maka dipastikan tidak semua orang mengatakan
mudah. Lebih-lebih kalau ditambah embel-embel harus
berpenampilan 'menarik'.
|