|
|

|
Mengantisipasi Kelumpuhan Karir
|
|
|
Oleh:
Ubaydillah,
AN
|
|
|
Jakarta, 3 Oktober 2006
|
|
|
Berawal
Dari Ketidakpuasan
Meski kita disebut makhluk pelupa,
tapi masih diberi kemampuan untuk mengabadikan
ingatan terhadap sesuatu. Selain pernikahan atau
cinta pertama, peristiwa yang tak mungkin terlupakan
adalah ketika kita menerima pekerjaan baru. Ini
umumnya terlepas apakah kita baru sekali itu bekerja
atau tidak.
Kalau mengingat ke belakang, saat itu
kita benar-benar merasa puas. Kepuasan itu kita
ekspresikan dengan antusian kerja yang tinggi,
disiplin, motivasi yang bagus, kesediaan belajar dan
menerima pelajaran dari orang lain, dan lain-lain.
Kita benar-benar merasa memiliki alasan yang cukup
kuat untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan.
Tapi, seiring dengan proses waktu,
kepuasan itu mulai menurun atau memudar. Ini
biasanya terekpresikan dari mulai misalnya: setengah
hati menghadapi hari Senin, merasa plong secara
berlebihan pada Jum’at atau Sabtu sore, jenuh atau
bosan terhadap pekerjaan yang kira rasakan itu-itu
saja, merasa
tidak bangga
lagi
terhadap profesi atau pekerjaannya,
merasa kehilangan gairah untuk mensyukuri pekerjaan,
dan lain-lain.
Kalau melihat temuan dari sejumlah
studi di bidang karir, ada yang bisa dijadikan
petunjuk. Studi mengungkap sebagian besar karyawan
punya antusias tinggi ketika menemukan pekerjaan
baru. Tapi, antusias itu akan menurun setelah enam
bulan bekerja. Ini dirasakan oleh 85 % dari 1000
perusahaan yang dijadikan objek studi dan melibatkan
kurang lebih satu setengah juta karyawan dari sejak
tahun 2000-2004 (Sirota Survey Intelligence, New
York).
Studi lain mengungkap bahwa
kegairahan karyawan hanya akan berlangsung paling
maksimal satu tahun dari sejak setelah mendapatkan
pekerjaan. Selama masa satu tahun pertama ini,
mereka sangat antusias, komitmennya bagus, bersedia
untuk menerima nasehat dari atasannya, dan datangnya
tepat waktu(The Gallup Organization, 2003).
Pertanyaannya adalah, apa yang
menyebabkan itu terjadi? Karena ini masalah manusia,
maka biasanya masalah itu muncul bukan bersumber
dari satu sebab. Mayoritas masalah manusia bersumber
dari dua hal, yaitu:
1. Pemicu
Yang saya maksudkan dengan pemicu di
sini adalah sebab-sebab yang berasal dari luar (faktor
eksternal). Berbicara mengenai pemicu dalam
kaitannya dengan kepuasan / ketidakpuasan kerja,
mungkin cakupannya bisa kita uraikan, antara lain:
-
Pekerjaan itu sendiri
-
Gaji, tunjangan, penghasilan
-
Lingkungan kerja
-
Perkembangan karir
-
Penilaian kerja
-
Perlakuan manajemen
-
Pembagian / penunjukan kerja
-
Dan lain-lain sejauh yang terkait
dengan soal puas dan tidak puas.
Jika ada sebagian dari hal-hal yang
saya sebutkan di atas yang menurut kita tidak sesuai
lagi atau tidak fair, maka benih-benih ketidakpuasan
mulai tumbuh. Dan jika ini terus berlanjut dan terus
berlanjut, maka benih itu tumbuh membesar sampai
kemudian membentuk ekspresi riil yang bermacam-macam.
Ada yang kehilangan perspektif positif menyangkut
tempat kerja. Asal bicara kerjaan, komentarnya sudah
asem saja. Ada yang malas-malasan, ada yang ingin
pindah tetapi hanya ingin dan ada yang benar-benar
pindah.
2. Penentu
Penentu di sini adalah sebab-sebab
yang bersumber dari dalam diri kita. Apa yang kita
ciptakan dari dalam diri kita (dari mulai pandangan,
pemikiran, penyikapan, keputusan, tindakan), dalam
menghadapi pemicu adalah yang menentukan kita.
Karena itu, ada banyak pesan yang mengingatkan kita
tentang hal ini. Pesan itu antara lain begini;
“Nasibmu tidak ditentukan oleh apa
yang menimpamu tetapi ditentukan oleh apa yang kamu
lakukan atas apa yang menimpamu.”
“It’s not what on you, but it’s what
in you.”
“Tindakanmu adalah fungsi dari
keputusanmu, bukan fungsi dari keadaanmu.”
Dan masih banyak lagi pesan serupa
yang kerap kita dengar.
Jika semua ini kita gunakan untuk
menjelaskan fenomena kepuasan dan ketidakpuasan,
maka penjelasan yang mungkin kita tangkap adalah
bahwa hal-hal yang menurut kita tidak sesuai atau
tidak fair, memang memunculkan ketidakpuasan.
Hanya saja, apakah ketidakpuasan itu akan kita
gunakan untuk memperbaiki atau merusak diri, itu
pilihan kita. Artinya pilihan di sini adalah
kita yang menentukan. Kitalah sang penentu itu.
Fungsi ini tidak bisa kita lemparkan kepada siapapun
biarpun kita menolaknya. Ini karena akibat riilnya
akan kembali kepada kita juga.
Jujur perlu kita akui, meski kita
sudah mengetahui perbedaan antara pemicu dan penentu
dalam teori, namun prakteknya masih kerap kita
lupakan. Ketika ketidakpuasan itu berubah menjadi
hal-hal yang merusak karir kita, hampir tidak ada
yang secara gentle mengakui bahwa itu lahir karena
keputusan kita juga. Umumnya, kita menunjuk siapapun
atau apapun yang penting bukan diri kita.
|
|
|
Kelumpuhan karir
Kelumpuhan karir (Career Paralyse)
sebetulnya hanya sebuah istilah untuk menggambarkan
adanya dinamika karir seseorang yang sudah tidak
bergerak lagi, entah itu ke atas atau ke samping.
Meminjam istilah dari banyak literatur, orang yang
terkena ini langkahnya seperti orang yang terpenjara
(trapped), putus asa atau tidak punya harapan
lagi ketika berbicara soal karir atau profesi.
Wilayah kehidupan lain di luar karir juga terkena
imbas buruk, tertekan oleh perasaan tidak aman atau
tidak layak.
Dalam prakteknya kerap kita jumpai
ada sekelompok orang yang dinamika karirnya bergerak
membaik tetapi ada juga yang dinamika karirnya sudah
mandek atau lumpuh di level tertentu. Tentu saja ini
diukur menurut keadaan masing-masing orang. Pesan
John Maxwell mengatakan: “Banyak orang yang akhirnya
berada di tempat (kerja) yang salah karena mereka
mendiami tempat yang tepat terlalu lama.”
Tanda-tanda paling umum yang perlu kita waspadai
seputar munculnya kelumpuhan itu adalah:
-
Benar-benar
merasa tidak bahagia dengan pekerjaan atau
profesi yang ada
-
Depresi
berat meski
sudah
promosi, rotasi, dsb
-
Kecenderungan
untuk melakukan kritik-diri
secara
berlebihan
-
Motivasi
dan semangat berkompetisi yang sangat rendah
-
Rasa
rendah diri
-
Tidak
memiliki tujuan yang jelas dan jelas-jelas kita
perjuangkan
Menurut laporan studi di bidang karir,
hal-hal buruk di atas tidak muncul seketika dan
langsung banyak, melainkan berproses. Kelumpuhan
terjadi karena adanya pengabaian yang
berproses dari titik tertentu ke titik yang lain.
Untuk koreksi-diri, marilah kita lihat proses di
bawah ini:
Awalnya, kelumpuhan itu berawal dari
ketidak-puasan yang diabaikan. Kita merasa tidak
puas dengan keadaan sekarang tetapi ketidakpuasan
itu kita biarkan menjadi energi negatif. Atau juga
kita menjumpai hal-hal yang membuat kehilangan
alasan untuk bersyukur tetapi itu kita biarkan atau
tidak kita transfromasikan menjadi energi positif.
Dalam hitungan yang ke sekian juta
kali, ketidak-puasan itu muncul dari batin kita dan
selalu kita biarkan, maka lahirlah sel-sel baru.
Jadilah ia demotivator dalam bentuk: tidak ada
gairah berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi,
kehilangan visi pribadi ke depan, bekerja dengan
niat asalkan gaji bulanan lancar, dan seterusnya.
Sampai pada tahap di mana sebagian
besar kebiasaan kerja kita didominasi oleh
ketidakpuasan dan demotivasi, maka sangat masuk akal
jika yang terjadi adalah kelumpuhan. Ibarat kata,
biarpun ilmu manajemen kita segunung, tetapi kalau
batin ini bermasalah, kemungkinan besar ilmu yang
segunung itu tak bisa berbuat banyak. Biarpun
jaringan kita banyak, tetapi kalau batin kita
bermasalah, maka jaringan yang banyak itu tak bisa
berbuat banyak untuk kemajuan karir kita.
|
|
|
Menjadikan sebagai pemacu
|
|
|
Dilihat dari perspektif ketuhanan,
munculnya perasaan tidak puas atas keadaan yang ada,
itu bukan sesuatu yang tanpa guna. Ketidakpuasan ada
gunanya dan kitalah yang diberi pilihan untuk
menggunakannya. Jika diikuti perspekstif ini,
berarti kita diharapkan dapat menggunakan
ketidakpuasan yang muncul sebagai pemacu atau
pendorong untuk melakukan hal-hal yang positif.
Karena itu, Dr. Felice Leonardo Buscaglia, American
Professor of Education, pernah berpesan: "Perubahan
adalah hasil akhir dari pembelajaran. Perubahan itu
melibatkan tiga langkah, yaitu: pertama,
ketidakpuasan. Kedua keputusan untuk berubah
guna memenuhi penolakan atau kebutuhan. Ketiga,kesadaran
untuk mengabdikan diri pada proses perkembangan."
Seperti kita sadari, memang tidak semua perubahan
membawa perbaikian yang langsung buat kita, tetapi
semua perbaikan menuntut perubahan.
Terkait dengan pembahasan kita kali
ini, pertanyaannya adalah bagaimana mengelola
ketidakpuasan itu agar tidak menjadi benih-benih
kelumpuhan karir seperti yang sudah dibahas di muka?
Barangkali kita bisa melakukan tiga hal berikut ini:
Pertama,
menyadari bahwa ketidakpuasan itu bisa kita gunakan
sebagai pemacu dan menggunakannya untuk memacu diri.
Seperti yang sudah kita bahas, ketidakpuasan itu
netral gunanya meski rasanya sama. Karena netral (bisa
killer dan bisa builder), maka jangan
heran bila ada sebagian orang yang semakin terpacu
dan ada lagi yang malah menjadi lumpuh. Ini bukti
bahwa perbedaan ini tidak diciptakan dari
ketidakpuasan itu, melainkan diciptakan dari
bagaimana orang itu menggunakan ketidakpuasannya.
Jangan heran bila dalam satu realitas, ada orang
yang mendapatkan pencerahan dan ada orang yang
mendapatkan kegelapan.
Dengan menjadikan ketidakpuasan itu
sebagai pemacu atau pendorong kemajuan maka di
sini posisi kita secara mental bukan menjadi korban
atas ketidakpuasan tapi sebagai penguasa atas
ketidakpuasan itu. Selain Anthony Robbins, Saya
kira di dunia ini sudah banyak orang yang sanggup
menggunakan ketidakpuasannya untuk meraih prestasi
yang lebih tinggi atau untuk memperbaiki dirinya.
“Rahasia untuk berprestasi adalah belajar bagaimana
menggunakan kesengsaraan dan kesenangan, bukan
menjadi korban kesengsaraan atau kesenangan. Jika
kamu melakukan ini maka kamu akan bisa mengontrol
hidupmu dan sebaliknya jika kamu tidak melakukannya,
maka kamu akan dikontrol,” begitu kesimpulan Robbins
Kedua,
realisasikan ke dalam program perbaikan. Seperti
kita tahu, untuk meraih kemajuan atau perbaikan
tentu tidak cukup dengan hanya memiliki dorongan
yang kuat atau keinginan yang kuat. yang dibutuhkan
selain itu adalah merealisasikan keinginan yang
keras itu ke dalam sebuah program perbaikan yang
spesifik dan riil. Kenapa harus spesifik? Biasanya,
program perbaikan yang kita inginkan itu jumlahnya
amat banyak. Apalagi dalam kondisi ketidakpuasan.
Inginnya kita adalah mengubah diri secara total
(total improvement) dan sekaligus.
Meski sedemikian rupa keinginan itu,
tapi bila kemampuan kita tidak sampai, keinginan itu
pasti gagal. Untuk menghindari ini harus ada
perbaikan yang spesifik berdasarkan prioritas.
Inilah yang disebut learning atau belajar
menjadi lebih baik dari praktek.
Ketiga
adalah mengelola emosi. Seperti kita alami, perasaan
ketidakpuasan itu dinamis sifatnya. Untuk satu hal,
untuk satu keadaan dan satu tempat, bisa saja
terkadang kita merasa tidak puas, dan terkadang kita
puas. Jadi, selain dinamis juga temporer. Karena itu,
tidak terlalu tepat juga kalau kita menggunakan
setiap ketidakpuasan itu untuk menyusun program
perbaikan baru.
Nah, di sini saya melihat bahwa
mengelola emosi itu penting, karena akan mengajarkan
kapan kita menggunakan ketidakpuasan sebagai pemacu
untuk merumuskan program perbaikan baru dan kapan
kita menggunakan ketidakpuasan itu sebagai spirit
untuk menjalankan program yang sudah kita rumuskan.
Kalau kita sedikit-sedikit bongkar pasang rencana,
judul akhirnya malah tidak karu-karuan. Tetapi kalau
kita tidak merumuskan rencana baru atau memiliki
standar prestasi yang baru, ini biasanya malah
membikin kita mandek yang berujung pada apa yang
disebut dengan kelumpuhan karir itu.
Dengan tiga hal di atas katakanlah
misalnya nasib karir kita belum sebagus yang kita
inginkan, tetapi yang paling penting di sini adalah
batin kita dinamis. Dengan batin yang dinamis ini
langkah kita menjadi dinamis dan lebih enteng. Kalau
langkah kita menjadi enteng, saya pikir ini berbeda
dengan ketika langkah kita yang telah dipenuhi oleh
beban ketidakpuasan. Kita bagaikan kendaraan yang
kelebihan muatan. Biarkan gas sudah kita tancap
sedemikian kuat, tapi kecepatannya masih belum
optimal. Seperti pesan seorang atlit, masalahnya
bukan di luar diri kita, tetapi di dalam diri kita.
Kita memang tidak bisa menciptakan perubahan karir
dalam satu malam, tetapi keputusan kita untuk
melakukan perubahan atau menggunakan ketidakpuasan
sebagai pemacu perubahan, bisa kita lakukan dari
mulai malam ini juga. Benar ‘kan?
|
|
_____________________________
|
|