| |
EQ
dan Kesuksesan Kerja
Daniel
Goleman dalam bukunya "Emotional Intelligence: Why it
Can Matter More than IQ" (Bantam, 1995) mengatakan bahwa
untuk mencapai kesuksesan dalam pekerjaan dibutuhkan
bukan hanya "cognitive intelligence" tetapi juga
"emotional intellegence". Emotional intellegence atau disingkat
EQ adalah kemampuan untuk untuk mengendalikan hal-hal
negatif seperti kemarahan dan keragu-raguan atau rasa
kurang percaya diri dan juga kemampuan untuk memusatkan
perhatian pada hal-hal positif seperti rasa percaya
diri dan keharmonisan dengan orang-orang disekeliling.
Dalam buku berikutnya, "Working With Emotional
Intelligence",
Goleman menekankan perlunya emotional intelligence dalam
dunia kerja, suatu bidang yag seringkali dianggap lebih
banyak menggunakan "cara berpikir analitis" daripada
melibatkan perasaan atau emosi. Menurutnya setiap orang
dalam perusahaan atau organisasi dituntut untuk memiliki
EQ yang tinggi. Selain itu Goleman berpendapat bahwa
IQ bersifat relatif tetap, sementara EQ dapat berubah sehingga
bisa dibentuk dan dipelajari.
Pro
dan Kontra
Pendapat
Goleman mendapatkan banyak tanggapan pro dan kontra
di kalangan para Psikolog. Beberapa Psikolog memandang
pendapat Goleman sangat penting bagi bagi pengembangan
ketrampilan atau keahlian dalam suatu pekerjaan, sementara
yang lain menganggap bahwa validitas EQ yang menunjang
terbentuknya suatu ketrampilan dan keahlian belum terbukti.
Ada juga yang tidak sependapat bahwa EQ dapat diajarkan.
Bagi mereka hanya kemampuan kognitif dan ketrampilan
teknis yang merupakan hal utama yang dapat membuat seseorang
menjadi sukses dalam pekerjaan.
John Mayer, seorang
psikolog dari University of New Hampshire, mendefinisikan
EQ secara lebih sederhana. Menurut Mayer, EQ adalah
kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan
emosi diri sendiri. Sementara Goleman mendefinisikan
EQ secara lebih luas, termasuk optimisme, kesadaran,
motivasi, empati dan kompetensi dalam melakukan hubungan
sosial. Bagi Mayer, traits (kecenderungan) tersebut
lebih merupakan kecenderungan kepribadian. Hal tersebut
juga didukung oleh Edward Gordon, yang mengatakan bahwa
EQ lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan "mood"
(suasana hati) yang tidak dapat diubah. Menurut Gordon,
perbaikan kemampuan analisis dan kemampuan kognitif,
adalah cara terbaik untuk meningkatkan kinerja para
pekerja. Menanggapi kritikan tersebut, Goleman mengatakan
bahwa kemampuan kognitif mengantarkan seseorang ke "pintu
gerbang suatu perusahaan", tetapi kemampuan emosional
membantu seseorang untuk mengembangkan diri setelah
diterima bekerja dalam sebuah perusahaan. EQ merupakan
faktor yang sama pentingnya dengan kombinasi kemampuan
teknis dan analisis untuk menghasilkan kinerja optimal.
Semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu perusahaan,
semakin crucial peran EQ.
EQ
dalam Dunia Kerja
Secara
khusus, para pemimpin perusahaan membutuhkan EQ tinggi
karena mereka mewakili organisasi, berinteraksi dengan
banyak orang baik di dalam maupun di luar organisasi
dan berperan penting dalam membentuk moral dan disiplin
para pekerja. Pemimpin yang memiliki empati akan dapat
memahami kebutuhan para pegawainya dan dapat memberikan
feedback yang konstruktif . Jenis pekerjaan juga berpengaruh
terhadap jenis EQ. Menurut Goleman, untuk dapat sukses
dibidang sales dituntut kemampuan berempati guna mengetahui
"mood" pelanggan dan kemampuan interpersonal guna memutuskan
kapan saat yang paling tepat untuk menawarkan suatu
produk dan kapan harus diam. Di lain pihak, untuk dapat
sukses menjadi seorang pelukis atau petenis professional
individu dituntut untuk memiliki disiplin diri dan motivasi
yang tinggi.
Mengajarkan
EQ
Nilai
mendasar yang mau dikembangkan dengan menampilkan EQ
dalam dunia kerja adalah implikasinya terhadap penyelenggaraan
pelatihan-pelatihan. Dengan memperhatikan bahwa EQ berperan
aktif bagi kesuksesan seseorang dalam bekerja maka organisasi
perlu melakukan pelatihan-pelatihan EQ. Pada area ini
para psikolog dapat mengambil peran besar untuk membantu
individu dalam membangun kompetensi emosional yang dibutuhkan
oleh pekerjaannya. "EQ mempengaruhi semua aspek yang
berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan ketika anda bekerja
seorang diri, keberhasilan anda akan sangat tergantung
pada seberapa besar tingkat kedisiplinan dan motivasi
anda sendiri". (jp)
_____________________________
|