|
Di bawah ini bukan obat untuk diminum lantas kita yakini
akan menjamin kesembuhan begitu kita bangun tidur.
Kenyataan hidup ini sepertinya tidak bisa dihadapi
dengan rumusan yang cara kerjanya seperti obat sakit
kepala. Kenyataan hidup ini menuntut resep yang isinya
adalah apa saja yang harus kita lakukan dan apa saja
yang harus kita hindari, terlepas itu enak atau tidak
enak. Di bawah ini adalah resep untuk dijalankan.
Beberapa resep yang perlu dijalankan paska PHK itu
antara lain:
1. Memperjuangkan
Tujuan
Tujuan di sini adalah sasaran yang kita inginkan untuk
terjadi dari apa yang kita usahakan hari ini. Silahkan
memilih tujuan yang cocok sesuai dengan keadaan-personal
anda. Anda boleh memilih mencari pekerjaan lain, memilih
usaha sendiri, menjadi “self-employer”, dan
lain-lain. Tentukan tujuan yang jelas lalu perjuangkan
tujuan itu.
Mengapa tujuan di sini menjadi penting? Setidaknya ada
dua alasan yang perlu kita sadari. Pertama,
tujuan adalah manajemen pikiran. Kalau kita sudah
menetapkan tujuan dan itu kita perjuangkan hari demi
hari paska PHK, maka pikiran kita tidak terbebani oleh
ingatan pada hal-hal buruk yang menimpa kita.
Disadari atau tidak, sebenarnya yang membuat kita malas,
berat melangkah, dan semisalnya, kerapkali bukan karena
tidak mampu melangkah, tetapi karena pikiran ini kita
gunakan untuk mengingat-ingat peristiwa yang tidak
memotivasi kita. Karena itu kita sering mendengar
nasehat bahwa fokus mengandung kekuatan.
Kedua,
tujuan bertindak sebagai “pengontrol nasib”. Saya ingin
menjelaskan istilah ini dengan meminjam ungkapan lama
yang mengatakan bahwa nasib kita tidak ditentukan oleh
apa yang menimpa kita hari ini. Nasib kita akan
ditentukan oleh kemana langkah ini akan kita gerakkan.
Tujuan adalah sasaran di mana langkah ini akan kita
gerakkan untuk mencapainya. Kita semua tahu bahwa tujuan
apapun yang kita tetapkan, apalagi mendapatkan pekerjaan
baru atau membangun usaha baru, tentunya tidak dapat
kita capai semudah membalik tangan. Tetapi harus kita
sadari bahwa dengan memiliki tujuan yang jelas dan
jelas-jelas kita perjuangkan, akan membuat kita
termotivasi dan terbentengi. Bahwa nantinya harus ada
tujuan jangka pendek, tujuan perantara, tujuan jangka
panjang, atau tujuan ideal, ini semua masalah tehnis
yang harus kita sesuaikan dengan keadaan.
2.
Menyadari Tanggung Jawab Personal
Yang membuat kita menderita, kehilangan sumber
penghasilan, kehilangan status dan lain-lain (dalam
kasus PHK ini) boleh jadi bukan ulah kita. Namun, karena
kita yang menderita dan karena kita yang menginginkan
solusi, maka kitalah yang harus menjadi penanggung jawab
utama atas nasib kita. Kitalah yang harus bertanggung
jawab untuk menyembuhkan atau memperbaiki diri kita dari
“luka batin” yang diakibatkan keputusan PHK.
Dengan kata lain, kita tidak bisa mengandalkan solusi
bagi hidup kita pada orang lain atau pada manajemen
perusahaan. Soal bahwa ada persoalan hukum yang harus
kita selesaikan dengan pihak lain, seperti pada kasus
IPTN, ini urusan hubungan kita dengan pihak lain yang
sudah ada mekanismenya. Kita bisa menempuh cara melalui
hukum, melalui kekeluargaan dan lain-lain.
Tanggung jawab yang tidak bisa dilemparkan kepada pihak
lain adalah tanggung jawab untuk memperbaiki diri dalam
wilayah hubungan kita dengan diri kita (intrapersonal).
Tanggung jawab di wilayah ini tidak ada mekanismenya
kecuali harus diciptakan sendiri. Intinya, kita perlu
mengangkat diri sendiri sebagai pihak yang paling
bertanggung jawab atas perbaikan diri kita.
3. Mempertegas
“positioning”
PHK memang PHK. Diotak-atik dengan menggunakan teori
apapun, PHK itu rasanya sama: pahit! Meski begitu, tapi
pelajaran yang bisa dipetik bisa bermacam-macam. Dari
sekian orang yang saya tahu, pelajaran positif yang bisa
diambil dari peristiwa sedih ini adalah memperjelas
positioning. Maksudnya di sini adalah memperdalam
pengetahuan tentang diri (self-understanding).
Saya yakin anda pun tidak kesulitan menemukan contoh
yang bagus tentang hal ini dari orang-orang di sekitar
anda. Ada banyak orang yang akhirnya menyadari
keunggulan, kelemahan, kelebihan, kekurangan,dan
lain-lain, meski awalnya mereka menolak (secara batin).
Bahkan tidak sedikit yang menemukan profesi baru yang
lebih pas dan lebih bagus. Mungkin bisa diistilahkan
dengan kalimat blessing in disguise.
Saya melihat bahwa mempertegas positioning pada
saat kita menghadapi masa-masa sulit ini tidak saja
berkaitan dengan soal itu penting atau tidak. Tetapi ini
berkaitan dengan kalkulasi logika yang sehat. Kita
gunakan untuk mempertegas positioning atau tidak,
toh kenyataan yang kita hadapi memang begitu. Daripada
waktu berlalu tanpa guna, lebih baik kita gunakan untuk
melakukan hal-hal yang positif.
4. Menambah
jumlah orang
Salah satu hukum yang perlu ditaati oleh orang yang
sedang mencari sesuatu yang berharga bagi dirinya adalah
Hukum Kemungkinan (the law of possibility). Pasal
dalam Hukum ini mengatakan bahwa semakin banyak orang
yang kita kenal maka semakin besar pula peluang
keberhasilan kita. People, people and people.
Semua yang kita cari pada dasarnya sudah sedang berada
di tangan orang. Semua rejeki yang datang kepada kita,
termasuk peluang, datangnya “melalui” proses atau pun
“melalui” tangan orang lain. Tidak ada yang jatuh dari
langit atau muncul dari tengah-tengah halaman buku yang
kita baca atau muncul dari teori yang kita hafal.
Praktek hidup membuktikan, orang yang kita kenal
berperan sangat besar bagi keberhasilan kita. Tujuan
apapun yang kita pilih, entah itu mau mencari pekerjaan
baru, membangun usaha baru, atau menjalani profesi baru,
atau apapun, tak akan lepas dari peranan orang yang kita
kenal. Terlepas anda setuju atau tidak, tetapi di sini
Dale Carnegie ingin menyadarkan betapa pentingnya orang
lain itu bagi kita. “Satu – satunya rumus paling penting
bagi kesuksesan adalah mengetahui bagaimana berhubungan
dengan orang lain”, katanya begitu. Tentu saja bukan
sembarang orang yang punya arti penting bagi kita.
5.
Keimanan-kreatif
Iman yang saya maksudkan di sini bukan iman pernyataan (ucapan
mulut). Pada level ini semua orang pasti beriman. Iman
yang saya maksudkan adalah iman dalam level pembuktian.
Lantas, apa hubungannya dengan PHK? Semua doktrin
keimanan akan mengajarkan bahwa kita ini dimiliki (being
owned) oleh Tuhan, bukan kita yang memiliki Tuhan.
Dan, Tuhan itu punya sifat yang antara lain adalah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dengan doktrin itu, orang beriman diperintahkan untuk
meyakini seyakin-yakinnya bahwa solusi (rahmat atau
kasih sayang Tuhan) itu pasti ada. Soal teknisnya
bagaimana dan seperti apa, itu soal lain. Yang penting,
selama masih ada usaha, solusi pasti ada. Karena itu,
pencarian harus selalu dilakukan. Bila ada satu tempat
yang belum memberi solui, berarti solusi yang kita cari
berada di tempat lain atau dengan menggunakan cara lain.
Dan begitu seterusnya. Inilah kreatif itu.
Muatan keimanan demikian sangat kita butuhkan sebagai
dorongan untuk berusaha secara terus menerus, bukan
sebagai pembenar untuk pasrah-kalah terhadap kenyataan.
Bayangkan apa yang terjadi ketika kita sudah
berkesimpulan ditinggalkan Tuhan atau sudah tidak
dimiliki lagi? Bayangkan apa yang terjadi ketika kita
sudah berkesimpulan bahwa Tuhan telah menjegal langkah
kita sampai di sini?
Meski kesimpulan negatif demikian tidak
ber-efek apapun pada “Diri Tuhan”, tetapi usaha kita,
dengan kesimpulan seperti itu, sudah lebih dulu
dikalahkan oleh keputusasaan (baca: kalah oleh perintah
setan) atau sudah dikalahkan oleh opini kita sendiri.
Kita semua diajarkan untuk menaati perintah Tuhan dan
dilarang menaati perintah setan. Tuhan menyuruh kita
mencari terus, sementara setan menyuruh kita berhenti
mencari. Bukti keimanan adalah ketika kita terus mencari
karena kita yakin bahwa apa yang kita cari itu ada atau
sudah disediakan. Selamat berusaha!! |