|
 |
|
| |
Stress?
Belailah Kucing!
|
| |
Oleh RR.
Ardiningtiyas Pitaloka**
|
| |
Jakarta,
27 Mei 2003
|
| |
Bagi penyayang kucing, kalimat diatas mungkin
sudah tidak terlalu asing. Namun bagi yang tidak pernah
memiliki atau terpaksa menjauhi kucing karena alergi
terhadap bulunya, mungkin meragukan dan menganggap judul
diatas hanya mitos atau sugesti belaka. Selain kucing,
anjing atau binatang berbulu lain, masih banyak binatang
peliharaan yang diyakini dapat menjadi obat stress
seperti burung atau ikan. Ikan! Siapa yang tak pernah
mendengar Lou-Han, si jidat menonjol dengan warna
menyolok yang sedang menjadi primadona? Meskipun
harganya mahal, sebagian masyarakat Indonesia tidak
kehabisan akal untuk mengkoleksinya, termasuk mengalah
memilih yang lokal biar sedikit ‘miring’ harganya.
Perkutut pun masih menjadi idola sebagian penyayang
burung dengan suaranya yang indah, sekali lagi
menghilangkan stress!
|
| |
Stress dapat terjadi dalam berbagai kondisi dan situasi,
demikian juga pelaku atau individu yang mengalami stress
ini. Pelaku stress pun tidak hanya pada seseorang namun
juga secara kolektif seperti masyarakat. Hal itu
disebabkan karena sumber stress dapat berasal dari apa
pun, tergantung dari persepsi penerima.
|
| |
Stress
|
| |
Salah satu pendekatan untuk mengenal stress
adalah pendekatan psikologik. Pendekatan psikologik
menggambarkan bagaimana cara seseorang mempersepsikan
suatu peristiwa atau kondisi, berperan dalam menentukan stress.
Hal inilah yang dikenal dengan ‘Model Penilaian’
atau ‘Penafsiran Stress’. Stress dirumuskan sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representasi
dari transaksi khas dan problematik antara seseorang dan
lingkungannya. Selye mengungkapkan adanya ‘stressor’ yang merupakan unsur lingkungan
dari stress (1950). Sedangkan hakekat sumber stress
dalam pendekatan psikologik adalah semua kondisi atau
situasi yang ada dalam kehidupan kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut dapat ditarik kesimpulan bahwa stress
merupakan kondisi yang timbul saat seseorang
berinteraksi dan dan bertransaksi dengan situasi-situasi
yang dihadapinya dengan cara-cara tertentu. Reaksi stress yang muncul mengikuti stress yang
dihadapi dapat berupa reaksi fisik, psikologis dan
tingkah laku. Stress juga dapat berlangsung dalam jangka
waktu pendek atau berkepanjangan. Bila pendek, biasanya
tidak menjadi masalah besar namun bila panjang dan tidak
dapat dikendalikan maka dapat memunculkan efek-efek
negatif seperti depresi, sakit jantung, nafas sesak dan
lain sebagainya. Stress yang berakibat negatif dipersepsikan sebagai
sesuatu yang merugikan atau menyakitkan dan disebut
dengan distress, sedangkan stress yang
menghasilkan perasaan menyenangkan, menantang,
meningkatkan gairah dan prestasi serta meningkatkan
produktivitas disebut dengan uestress (Selye,
1982).
Dalam menanggulangi stress, upaya yang harus
dilakukan tidak hanya sebatas mengatasi stress saja,
namun tersirat juga usaha menyesuaikan dan mengadaptasi
secara efektif terhadap tuntutan-tuntutan yang dihadapi.
|
| |
Teman
Sejati
|
| |
Karen Allen, seorang peneliti dan guru besar
Universitas New York di Buffalo, mengatakan: ”Kami
menangkap bahwa orang memandang binatang peliharaannya
sebagai sumber yang berharga dan penting dalam dukungan
sosial.” Menurut
studi terbarunya, dalam kondisi stress mungkin seseorang
lebih baik bersama binatang kesayangan daripada teman
bahkan pasangan. Dalam studi sebelumnya ditemukan pula
bahwa seseorang yang memiliki binatang peliharaan,
ternyata terdapat tingkat stress yang rendah, bahkan
menurunkan angka rata-rata kematian serangan jantung.
|
| |
Allen mengemukakan, kehadiran binatang kesayangan
meringankan efek stressor pada detak jantung, tekanan
darah dan mempercepat pemulihan ke tingkat mendasar.
Binatang peliharaan juga membantu menurunkan ke level
garis dasar pemiliknya pada kenaikan kardiovaskular
serta meningkatkan kemungkinan pemilik binatang
menganggap stressor sebagai sesuatu yang ‘menantang’
daripada ‘mengancam’.
Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi, apakah
memang karena sugesti dan kepercayaan yang telah
berkembang di masyarakat, atau ada hal lain? Binatang
kesayangan menurunkan tingkat stress dengan menghadirkan
‘nonjudgmental companionship’, dukungan yang
sulit dilakukan oleh seorang sahabat atau bahkan
pasangan. “Sebesar apapun kita meyakini seseorang
berada pada posisi kita, selalu ada penilaian atau
evaluasi,” kata Allen (Benson,2002).
|
| |
Cobalah
|
| |
Penelitian Allen telah membuktikan dan menguak
misteri keistimewaan binatang kesayangan. Sahabat yang
hadir tanpa menghakimi! Tentu saja, karena ia bukanlah
manusia, walaupun dapat memberikan respon bila kita
mengelus atau menyayanginya. Perawatan yang baik membuat
sesorang merasa memiliki, dan binatang peliharaanpun
menjadi ‘mengenal tuannya’ sehingga terjadilah
persahabatan antar keduanya. Namun demikian hal tersebut
bukanlah berarti teman ‘manusia’ tidak penting lagi.
Adakalanya, seseorang membutuhkan diskusi atau umpan
balik dari kegundahan hati, namun ada saatnya seseorang
hanya ingin didengar, hanya butuh ‘tempat sampah’
untuk membuang semua yang menyesakkan dada. Nah saat
inilah binatang kesayangan mungkin bisa membantu.
Dengan sentuhan jemari anda ke bulunya yang lembut,
liukan mereka saat bermanja di pangkuan, atau lonjakan
tubuhnya mengejar bola bisa membuat Anda tertawa lepas,
hingga mengendurkan otot-otot yang tegang dan melupakan
persoalan hidup yang sedang menghimpit.
Binatang peliharaan bisa saja ikan, burung,
kucing, anjing, kelinci, atau iguana, terserah pada
selera dan juga kemampuan finansial anda, yang penting
diketahui kini adalah mereka akan menjadi sahabat yang
meredakan stress dan membuat Anda melihat stressor
sebagai tantangan hidup, bukan ancaman. Selamat mencoba!(jp)
|
| |
--------------------------------------
|
| |
Sumber:
|
| |
Soeswondo, Soesmalijah. 1993. Stress Kerja
Dalam Era Pembangunan: Pidato
|
|
|
pengukuhan diucapkan pada upacara penerimaan
jabatan sebagai guru besar tetap psikologi pada
fakultas psikologi Universitas Indonesia di Depok.
|
| |
Benson, Etienne. 2002. Friends Indeed; Social
support from pets can lower stresss,
|
| |
research shows. Monitor On Psychology (A
Publication of The American Psychological
Association): December 2002: Volume 33 No.11; page 26)
|
| |
**Penulis
adalah
mahasiswa program Pascasarjana Psikologi Kekhususan Sosial Sains
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
|
| |
_________________________
|
|