 |
|
| |
Mengendalikan
Amarah
|
| |
Oleh
Johanes
Papu
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
25 Juni 2003
|
| |
Kemarahan
pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti
pernah dialami oleh semua individu. Di satu sisi
manusia memang harus melepaskan semua amarah yang ada di
dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau
terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi
lain tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk
mengungkapkan kemarahan tersebut sebab jika tidak maka
hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin
sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu
harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum
kemarahan itu justru yang mengendalikan hidupnya. Dalam
ruang konseling di website ini banyak sekali para member
yang sudah mengalami bagaimana kemarahan sudah mengambil
kendali dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya menjadi
sangat frustrasi karena menyadari bahwa dirinya begitu
gampang terpancing untuk marah baik di kantor maupun di
rumah sehingga tidak lagi mampu berinteraksi
secara baik dengan orang lain (pacar, istri-anak, rekan
kerja, maupun atasan-bawahan).
|
| |
Dengan
kondisi yang demikian tentu saja si "pemarah"
tersebut harus mendapatkan pertolongan dari para
profesional sebab ketidakberdayaan untuk mengendalikan
amarah sudah menimbulkan masalah baru. Hal seperti ini
tentu amat disayangkan mengingat bahwa rasa marah (amarah)
sebenarnya bisa dikendalikan ataupun dicarikan cara yang
tepat untuk mengeluarkannya. Inilah yang akan dicoba
untuk dibahas dalam artikel singkat ini dengan suatu
harapan bahwa para pembaca dapat mempraktekkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
|
| |
Amarah
|
| |
Amarah
adalah salahsatu bentuk emosi manusia yang
sepenuhnya bersifat normal dan sehat. Setiap individu
pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski
merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika
tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif
maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan
masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di
keluarga, atau pun hubungan
interpersonal. Faktor
penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor
external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang
individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan
anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet
atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal
external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh
adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri anda. Dengan
kata lain ada unfinished business yang bisa
memicu anda untuk marah. Contoh: ketakutan atau
kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan
dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun
kenangan pahit di masa lalu.
|
| |
Pemberang
vs Kalem
|
| |
Sehubungan
dengan kemarahan, dalam kehidupan sehari-hari seringkali
dijumpai bahwa ada individu-individu tertentu yang
sangat gampang marah. Mereka bisa marah terhadap hal apa
saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Singkat kata
mereka ini lebih banyak menunjukkan kemarahan
dibandingkan dengan individu-individu lainnya.
Individu-individu seperti inilah yang biasa di sebut
"Pemberang" atau sering pula disebut sebagai
orang yang "emosional" (meski istilah ini
menurut saya kurang tepat). Individu-individu ini
amat sering terlihat mengomel, menggerutu,
memboikot atau menarik diri dari pergaulan, berteriak,
bahkan sampai melemparkan barang-barang atau
mengeluarkan kata-kata tidak senonoh.
|
| |
Sementara
itu kita juga menjumpai bahwa ada individu yang
jarang sekali terlihat marah bahkan seolah-olah tidak
pernah marah. Mereka tidak meluapkan kemarahan dengan
cara meledak-ledak tetapi lebih terlihat tenang-tenang
saja (kalem) atau paling-paling hanya sebatas menggerutu
atau mengeluh. Individu
yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka
yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap
suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa
frustrasi (low tolerance for
frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa
mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak
menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah
dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah
ketika situasi "tidak berpihak" mereka
seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena
melakukan suatu kesalahan. Adapun faktor yang bisa
menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang
sekali menjadi marah dapat dibagi dalam beberapa faktor
sebagai berikut:
|
| |
1.
Genetik
|
| |
Fakta
genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir
dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat
pada awal-awal tahun kehidupan sang anak.
|
| |
2.
Sosial-Budaya
|
| |
Dalam
budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering
dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu
seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan
kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik
kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak
pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun
mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.
|
| |
3.
Latarbelakang Keluarga
|
| |
Tak
bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan
yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang
menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang
mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian
membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah
seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan
tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun
berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua
yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak
yang pemberang pula (workplaceblue.com).
|
| |
Beberapa
Pendekatan
|
| |
Anda
tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu
yang menjadi penyebab kemarahan. Andapun akan sangat
sulit (bahkan tidak mungkin) untuk bisa mengubah orang
lain agar tidak membuat anda marah. Satu hal yang bisa
ada lakukan adalah mnegndalikan emosi anda sendiri.
Dalam rangka menyalurkan dan mengendalikan kemarahan,
maka ada tiga pendekatan yang bisa dipilih:
|
| |
1.
Mengekspresikan Kemarahan secara Asertif
|
| |
Mengekspresikan
kemarahan anda dengan cara assertif - tidak agresif - merupakan cara yang paling sehat dalam mengungkapkan kemarahan.
Untuk bisa melakukan hal ini maka anda harus belajar
menentukan kebutuhan-kebutuhan anda dan bagaimana cara
mencapainya tanpa harus menyakiti orang lain. Dengan
bertindak asertif berarti anda menghormati diri anda
sendiri dan orang lain. (baca artikel: Asertivitas)
|
| |
2.
Menahan Amarah dan Mengalihkannya
|
| |
Hal
ini terjadi ketika anda menahan rasa marah, berhenti
memikirkannya dan mencoba memfokuskan diri pada sesuatu
hal yang positif. Tujuannya adalah agar dapat mengurangi
rasa marah yang sedang meluap dan mengubahnya menjadi
tindakan yang konstruktif. Contoh: ketika sedang marah
maka anda justru bekerja lebih lama dan produktif.
Sayangnya cara ini bisa merugikan diri sendiri. Artinya
jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak
dan tidak pernah dikeluarkan maka dapat mengakibatkan
hipertensi, depresi atau pun tekanan darah tinggi.
|
| |
3.
Menenangkan Diri
|
| |
Cara
lain yang bisa ditempuh dalam mengendalikan kemarahan
adalah dengan cara menenangkan diri, menarik nafas
dalam-dalam dan mencoba meredakan emosi.. Dalam hal ini
ketika amarah datang maka anda segera mengambil jarak
dari sumber penyebab kemarahan dan mencoba untuk
mengendalikan emosi yang sedang bergejolak di dalam diri
anda sendiri. Dengan demikian diharapkan bahwa amarah
yang ada di dalam diri anda berangsur-angsur mereda.
|
| |
Mengendalikan
Amarah
|
| |
Beberapa
hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk
mengendalikan amarah:
|
| |
1.
Relaksasi
|
| |
Melakukan
relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi
tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang
menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat
dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik
nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan
untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan
kata-kata: "relaks; tenang aja; take it easy; gak
apa-apa kok".
|
| |
2.
Humor
|
| |
Meskipun
amarah merupakan suatu hal yang serius tetapi jika anda
mau merenungkan atau mencermatinya secara mendalam maka
tidak jarang di dalam kemarahan seringkali tersimpan
hal-hal yang bisa membuat anda tertawa. Bahkan
seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang menjadi
penyebab kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat
sepele. Namun demikian dalam penggunaan humor
hendaklah perlu diperhatikan 2 hal: 1) jangan
menggunakan humor hanya untuk mentertawakan masalah yang
sedang anda hadapi tetapi gunakan humor sebagai suatu
cara yang konstruktif untuk menyelesaikan masalah; 2)
jangan menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau
sarkastik sebab hal itu merupakan bentuk ekspresi
kemarahan yang tidak sehat.
|
| |
3.
Mengubah Cara Pandang
|
| |
Individu
yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk,
menyumpah dan mengucapkan berbagai macam kata-kata yang
menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedang
marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi
berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah
mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut
dengan suatu yang rasional. Contoh: daripada anda
mengatakan: "ah, ini sangat mengerikan, hancur
semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya",
cobalah mengubahnya dengan : "ya memang hal ini
membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa
saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari
segala-galanya bagi saya dan kemarahan tidak akan
mengubah apa-apa". Mengingat
bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka
untuk mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis.
Semakin anda bisa berpikir logis (bisa mempertimbangkan
akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka akan
semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri.
Ingatkan diri anda bahwa apa yang sedang terjadi pasti
tidak hanya dialami oleh anda seorang diri dan dunia
tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang
terjadi hanyalah merupakan suatu "tinta merah"
dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan hal ini setiap
kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat
pandangan yang lebih seimbang.
|
| |
4.
Selesaikan Masalah secara Tuntas
|
| |
Mengingat
bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang
dari dalam diri seperti adanya masalah yang belum
terselesaikan, maka akan sangat baik jika anda
menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara
mungkin dan tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada
masalah yang bisa terselesaikan tanpa campurtangan anda
secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda
membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang
berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban
psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi
marahpun akan berkurang.
|
| |
5.
Melatih cara Berkomunikasi
|
| |
Dalam
banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam
berkomunikasi. Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi
perbedaan pendapat, tidak bersedia menjadi pendengar
atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang
lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang
yang marah cenderung mengambil kesimpulan secara cepat
dan kesimpulan tersebut seringkali aneh dan tak terduga. Meskipun
setiap individu berhak untuk membela diri ketika
dikritik atau diajak adu argumentasi, namun untuk itu
diperlukan ketenangan dan sikap untuk tidak merespon
secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan
secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang
lain, bahkan ketika orang tersebut mengemukakan pendapat
yang bertentangan dengan anda. Hal ini memang memerlukan
kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi
dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika
tidak timbul amarah dalam diri anda maka situasi yang
ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda
menjadi lebih matang dalam berkomunikasi.
|
| |
6.
Mengubah Lingkungan
|
| |
Apa
yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa
penataan kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja
anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti
merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut
dan juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri
untuk menghindari lingkungan yang tidak menyenangkan
atau keluar dari lingkungan tersebut untuk sementara
waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada
rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada,
maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi ke
suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan cara ini
maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap
bekerja tanpa marah-marah.
|
| |
7.
Melakukan Konseling
|
| |
Mengingat
bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda
dalam menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka
ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu
mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda
melakukan konseling dengan psikolog atau para
profesional lainnya. Melalui bantuan para profesional
ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana
cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar
tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu saja
hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu
akan membantu anda menjadi lebih baik.
|
| |
Disamping
hal-hal yang telah disebutkan diatas, mungkin
masih
banyak cara yang dapat dilakukan oleh anda untuk
mengendali amarah di dalam diri. Salahsatu yang patut
dicatat adalah dengan semakin mendekatkan diri pada
TUHAN. Dengan kata lain ketika anda berada dalam situasi
tidak menyenangkan dan anda ingat bahwa hal tersebut
adalah dari TUHAN maka saya yakin anda pasti akan
berpikir panjang untuk benar-benar menjadi marah. Akhir
kata: anda tidak akan pernah bisa menghilangkan amarah
tetapi anda bisa mengendalikannya. Hidup pasti akan
selalu diwarnai oleh suka dan duka, frustrasi, kepahitan
dan kehilangan, serta tindakan yang tak terduga dari
orang lain atau lingkungan. Anda
tidak bisa menghindari hal tersebut tetapi anda bisa
mengubah cara bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri
anda. Mengendalikan amarah akan membuat anda menjadi lebih tenang dan
mampu menikmati hidup selamanya. Semoga berguna.....(jp)
|
| |
_________________________
|