|
 |
|
| |
RELIGI
DAN SPIRITUALITAS SEBAGAI COPING STRES DALAM PENANGANAN PSIKOLOGIS KORBAN TSUNAMI
|
| |
Oleh: RR.
Ardiningtiyas Pitaloka, S.Psi., M.Si.
|
| |
Jakarta,
19 Januari 2005
|
| |
Teror
Management Theory
|
| |
Manusia
sebenarnya terjebak dalam suatu kontradiksi, di satu
sisi, ia dituntut untuk survive
dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, namun
pada sisi lain juga diganjal dengan kenyataan akan
kematian. Kondisi ini menimbulkan suatu terror
paralyzing (teror yang melumpuhkan) seperti
diterangkan dalam teror
management theory (TMT).
"TMT
posits that the juxtaposition of a biological
predisposition toward self-preservation that human
beings share with all forms of life with the uniquely
human awareness of inevitability of death gives rise to
potentially overwhelming terror.” (Pyszczynski,Solomon&Greenberg,2003,h.27)
Bencana
nasional yang memakan korban lebih dari seratus ribu
jiwa di tanah Rencong dan Sumatra Utara telah
membelalakkan mata dunia internasional. Insan di
berbagai belahan dunia semakin disadarkan antara
perjuangan untuk hidup dan kematian yang pasti datang.
Kematian, bahkan telah menghampiri dan menyeringai,
melemaskan penghuni bumi, terutama di Aceh-Sumut dan
kawasan lainnya.
Namun,
manusia tidak diciptakan hanya untuk merasakan
kengerian. Setiap orang memiliki kemampuan mekanisme coping
sendiri-sendiri seperti juga eksistensi manusia yang
unik sebagai pribadi. Menurut
TMT, belief (keyakinan)
akan bertindak sebagai cultural
anxiety-buffer dalam mengatasi teror kehidupan
tersebut di atas.
"This
potential of terror is managed by the construction and
maintenance of cultural worldviews: humanly constructed
beliefs about the nature of reality that infuse
individuals with a sense that they are persons of value
in a world of meaning, different from and superior to
corporeal and mortal nature, and thus capable of
transcending the natural bounderies of time and space
and, in so doing, eluding death.” (Pyszczynski,Solomon&Greenberg,2003,h.27)
Budaya
mengembangkan konsep realita simbolik yang berfungsi
membantu individu mengelola teror dengan memelihara
keyakinan dalam cultural
worldview (pandangan dunia budaya) dan hidup sesuai
standard nilai yang menjadi bagian pandangan budaya itu
(Greenberg, Simon, Pyszczynsk, Solomon, Veeder, Chatel,
1992). Dua
komponen manajemen teror ini disebut sebagai cultural
anxiety-buffer (penyangga kecemasan budaya) yang
menjadi dasar psikologis dan rasa aman individu
(Harmon-Jones, Simon, Greenberg, Solomon, Pyszczynski,
McGregor, 1997)
|
| |
Harapan
Pasca Badai
|
| |
Masyarakat
Aceh yang selama ini telah dihimpit oleh konflik
berkepanjangan terkenal dengan kehidupan yang kental
dengan ajaran Islam. Islam telah menjadi nafas utama
kehidupan di Aceh, ini menunjukkan internalisasi
nilai-nilai keyakinan yang dianut masyarakat di tanah
Serambi Mekah. Dalam bahasa TMT, Aceh yang terkenal
religius memiliki penyangga kecemasan budaya yang
menonjol yakni agama Islam.
Keyakinan
yang kental dan menjadi identitas masyarakat Aceh ini
menyiratkan harapan di tengah suara sumbang akan
pemulihan pasca bencana tsunami di sana. Penulis sepakat
dengan artikel Kristi Poerwandari di Kompas (8/1) bahwa
harapan itu tetap dan akan selalu ada, tentu dengan
tidak mengecilkan berbagai resiko psikologis yang
kemungkinan besar muncul pada sekian minggu, bulan,
bahkan tahun ke depan.
Kondisi
pasca bencana yang serba tidak menentu memang
menimbulkan tekanan yang luar biasa bagi para korban,
tidak hanya stress namun kemungkinan timbulnya depresi
juga tidak kecil. Luka psikis yang mendalam dapat muncul
dalam gejala-gejala psikologik atau sering disebut
sebagai Post
Traumatic Syndrom Disorder (PTSD) gangguan sindroma
pasca traumatik, dalam istilah psikologi.
Penyembuhan
psikologik ini memang tidak dapat secepat pemulihan
jaringan listrik, telekomunikasi, atau sarana fisik
lainnya. Namun demikian, tekanan atau stress yang
dialami para korban tsunami membutuhkan sentuhan
psikologis, karenanya kehadiran tim psikologi dari
HIMPSI maupun pihak lain yang berkompeten memang sangat
diperlukan.
|
| |
Religi
dalam Coping Stress
|
| |
Studi
dari Graham, Furr, Flowers dan Burke (2001) menunjukkan
bahwa agama dan spiritualitas hendaknya dilibatkan dalam
proses konseling psikologis. Hal ini karena agama dan
spiritualitas sangat penting dalam usaha mengatasi
stress.
"Religion
generally refers to an integrated set of beliefs and
activities (Corbett,1990 dalam Graham, dkk.,
2001,h.2), whereas
spirituality is seen as the meaning gained from life
experiences (May, 1982 dalam Graham, dkk.,2001) which
may or may not be theistic in nature."
(Richards & Bergin,1997; Shafranske
&Gorsuch,1984, dalam Graham, dkk.,2001,h.2)
"Religion
has been seen as providing resources for coping with
situations that are perceived as harmful or threatening
by affecting hoe individual assess their situations and
their ability to cope."
(Pargament,1990 dalam Graham,2001,h.3)
Spika,
Shaver, dan Kirkpatrick (1985, dalam Graham 2001)
mencatat tiga peran religi dalam coping process yaitu (a) menawarkan makna kehidupan, (b) memberikan sense
of control terbesar dalam mengatasi situasi, dan (c)
membangun self
esteem.
Beberapa
studi menunjukkan bahwa religi memainkan peran
yang penting dalam mengatasi stress. Dua sumber coping
yang biasanya dilakukan adalah prayer
dan faith in
God (berdoa dan berserah diri pada Tuhan) (Belavich,
1995 dalam Graham,2001).
|
| |
Saran
Praktis
|
| |
Antrian
sukarelawan yang ingin menyumbangkan tenaga dengan
segenap jiwanya termasuk dari tim psikologi menjadi
salah satu harapan yang harus terus dikembangkan bagi
pemulihan para korban pasca tsunami. Internalisasi
religi yang kuat pada masyarakat
merupakan potensi besar dan kuat yang telah
dibuktikan secara empirik dari studi Graham, dkk.(2001).
Dampak
psikologis yang tidak pendek melainkan bisa memakan
waktu hingga lebih 10 tahun ke depan bahkan Ayub Sani
Ibrahim dalam artikelnya di Kompas (3/1) menyatakan
kemungkinan terjadiya gangguan stres pascatrauma
sampai dengan jangka 30 tahun. Oleh karena itu,
gagasan teknik pertolongan berjenjang ganda yang
dituliskan Johana E. Prawitasari dalam artikelnya: Pertolongan
berjenjang ganda (dalam
Harian Umum Kompas, 8 Januari 2005) perlu
mendapat perhatian serius dan memiliki cukup waktu untuk
diwujudkan.
Pertolongan
berjenjang ganda mengadopsi sistem multi
level marketing (MLM) yang sempat menjadi tren di
masyarakat. Menurut Johana E. Prawitasari, akan sangat
bermanfaat dan efektif jika para psikolog merancang
suatu pedoman pendampingan psikologis sederhana yang
dapat digunakan oleh relawan untuk melatih masyarakat
tentang masyarakatnya sendiri.
Berangkat
dari ide brilian di atas dan kuatnya nuansa religi
masyarakat, maka tim relawan psikologi bisa bergandengan
tangan dengan masyarakat, utamanya para ulama, pemimpin
pengajian untuk dilatih mengatasi stres pascatrauma
dalam jangka panjang. Menurut Johana E. Sawitri,
masyarakat membutuhkan pemahaman tentang dinamika
psikologis yang dialami saat pascabencana dan antisipasi
stres pasca trauma.
Tidak
harus terpaku pada pemimpin agama, namun juga bisa
mengoptimalkan mahasiswa atau tokoh-tokoh setempat,
terutama yang memiliki pemahaman agama, mengingat studi
Graham (2001) akan pentingnya religi dalam coping
stres dalam penanganan psikologis. Semoga bermanfaat!(jp)
|
| |
--------------------------------------
|
| |
**Penulis
adalah alumni program Magister Sains Psikologi Sosial Universitas
Indonesia
|
| |
_________________________
|
|