|
Secara umum bisa dikatakan bahwa
sebetulnya tidak satupun orang yang menginginkan dirinya
menderita “double trouble” akibat adanya trouble,
dibikin menjadi gelap oleh kegelapan, dibikin menjadi
semakin menderita oleh penderitaan. Kita semua
menginginkan terbit terang setelah gelap, solusi setelah
problem, dan seterusnya.
Keinginan demikian tentu sudah baik dan benar,
hanya saja terkadang ada hal-hal di dalam batin
kita yang bisa menghambat terwujudnya keinginan itu dan
tidak segera kita singkirkan. Akhirnya, bukan yang kita
inginkan yang kita dapatkan. Di antara hal-hal yang
perlu kita singkirkan sesuai kemampuan kita dan secara
bertahap adalah:
1.
Kebenaran-egoisme.
Begitu kita menjadikan pilihan
untuk ambruk, frustasi, dan trauma itu sebagai
satu-satunya jawaban yang paling benar di dunia ini dan
tak ada lagi jawab lain, maka pengetahuan, pengalaman,
dan kesadaran kita kalah, alias tak berguna, dan lumpuh
total.
Pengetahuan memang sumber
petunjuk, pengalaman memang guru, dan kesadaran memang
pemberi peringatan (reminders), namun ini masih koma,
belum titik. Pengetahuan kita akan menunjukkan kita
apabila kita mau menerima petunjuknya, pengalaman akan
menjadi guru apabila kita belajar kepadanya, dan
kesadaran akan menjadi reminder apabila kita
mendengarkannya.
Selama yang menang di dalam batin
kita adalah kebenaran-egoisme itu, maka sulit rasanya
kita bisa memenuhi persyaratan-persyaratan di atas. Kita
akan tetap memilih bertahan menjadi orang yang frustasi
dan trauma oleh keadaan buruk meskipun sudah datang
kepada kita instruksi untuk bangkit dari pengetahuan,
pengalaman dan kesadaran dari dalam diri kita dan dari
orang lain yang datang kepada kita.
Sedemikian perkasanya kebenaran-egoisme itu berkuasa di benak kita, maka
paslah jika kemudian doktrin Samurai mengajarkan:
winning first than fighting”(Taklukkkan nafsumu lebih
dulu baru bertempur). Doktrin militer mengajarkan: “be
warrior than soldier” (jadilan jagoan lebih dulu baru
bergabung menjadi pasukan tempur). Jan
Christian Smuts mengingatkan: “Orang tidak
kalah oleh lawannya melainkan kalah oleh dirinya.
2.
Ikut umumnya orang
Tidak selamanya mengikuti
“kebenaran umum” itu menguntungkan buat kita. Memang
benar kita pantas menjadi orang frustasi ketika kita
pernah dihantam oleh pukulan buruk masa lalu. Karena ini
berpotensi memperburuk diri kita, maka dibutuhkan
pikiran kreatif untuk keluar dari penjara kebenaran umum
demikian.
Ikut-ikutan pada apa yang umumnya
dipilih dan dilakukan oleh orang banyak (conformity)
seringkali menghalangi kreativitas kita. Kreativitas
adalah kemampuan kita untuk memunculkan pikiran-pikiran
yang berbeda dari hal-hal yang sama atau yang sudah ada
untuk menghadirkan sesuatu yang lebih baik dan lebih
bermanfaat buat kita.
Karena itulah, ajaran leluhur kita
melarang “taklid-buta” (ikut-ikutan tanpa akal).
Kita disuruh untuk mengabadikan warisan yang masih baik
dan disuruh untuk menciptakan hal baru yang lebih baik,
lebih unggul dan lebih bermanfaat.
3.
Kesimpulan salah
Salah di sini bukan punya
pengertian dosa atau pelanggaran hukum, melainkan salah
yang lebih punya pengertian tidak sejalan dengan realita
yang bekerja dalam praktek hidup kita. Di antara bentuk
kesimpulan yang salah itu adalah ketika kita menegaskan
bahwa keadaan akan memberikan ciuman kepada kita setelah
memberikan pukulan buruk atau keadaan akan mengubah diri
kita menjadi jauh lebih baik setelah ia pernah
memberikan pukulan buruk.
Di mana letak kesalahan itu?
Umumnya, keadaan akan memberikan piala kemenangan
setelah kita menjadi orang yang menang melawan hawa
nafsu kita. Biasanya, keadaan akan memberikan perlakuan
baik setelah kita lebih dulu memperbaiki diri kita
Seringkali keadaan tak menaruh belas kasihan kepada kita
yang membiarkan diri kita dibikin buruk oleh keadaan
buruk. Pepatah kita memberi isyarat, tangga itu menimpa
orang yang sudah jatuh.
Mungkin, berdasarkan kebiasaan
keadaan yang seperti itu, maka Washington
Irvin mewasiatkan pesan agar kita jangan sampai dibikin
kerdil oleh nasib buruk. "Orang kalah hidupnya
dibikin tak berdaya oleh nasib buruk sementara orang
menang mengalahkan nasib buruk"
Kalau kita merujuk pada
rekomendasi yang dikeluarkan oleh Heike Schmidt-Felzmann
(Create Winning Thought By Changing Self-Talk: 2002)
dari studinya terhadap sejumlah atlet, kesimpulan kerdil
itu bisa mempengaruhi performance atlet di lapangan.
Karena itu, ia menyarankan:
§
Hindari unek-unek batin yang menggiring anda pada
kekhawatiran, ketakutan dan kegoncangan.
§
Hindari unek-unek yang mengajak anda memikirkan kekalahan,
kegagalan dan kesengsaraan masa lalu.
§
Hindari unek-unek batin yang mengajak anda meyakini adanya
takhayyul yang tidak-tidak, seperti misalnya: "Jika
saya kalah dalam pertandingan ini, maka habislah riwayat
saya."
§
Hindari unek-unek yang mengajak anda untuk memfokus pada
peluang kekalahan, masalah, problem, kesulitan, hambatan
dan seterusnya. Seperti yang dipesankan Anthony Robbins:
"Gunakan 10 % waktu anda untuk memikirkan masalah
dan gunakan yang
90 % untuk memikirkan solusi."
§
Atasi munculnya stress dengan cara yang positif. Saran Dr.
Denis Waitley, cara positif untuk mengatasi stress
adalah: a) jangan mengubah sesuatu yang sudah tidak bisa
diubah lagi, seperti masa lalu, dan lain-lain, b)
ubahlah apa yang masih bisa anda ubah dengan cara
melakukan sesuatu, seperti misalnya menggunakan hari ini
seoptimal mungkin, dan c) hindarkan diri anda melakukan
sesuatu yang akibatnya bisa membuat anda stress di masa
depan, seperti misalnya membiarkan hari ini tanpa
melakukan apapun.
|