|
Kalau mengacu pada laporan ILO (Condition of Work
Digest, Vol. 11/2, ILO Publication Center) kondisi kerja
yang bisa digambarkan dengan penjelasan di bawah ini
akan berpotensi menimbulkan stress kerja:
Pertama adalah desain tugas / pekerjaan yang
stressful. Ini misalnya beban kerja yang terlalu
berat, kurang ada waktu untuk istirahat, jam kerja yang
terlalu panjang, rutinitas yang membosankan atau target
yang sulit dicapai berdasarkan kemampuan yang dimiliki
pekerja (unrealistic goal or target)
Kedua adalah gaya manajemen yang stressful.
Ini misalnya kurang melibatkan pekerja dalam proses
mengambil keputusan, komunikasi yang kurang mencair atau
kebijakan manajemen yang terlalu kejam (lack of
family-friendly policies) yang hanya mementingkan
faktor efisiensi dan mengabaikan faktor manusiawi.
Ketiga adalah hubungan
interpersonal yang tidak kondusif. Ini misalnya terlalu
banyak konflik antarindividu, kurang bersahabat
antarsesama, krisis toleransi, dan seterusnya. Konon,
miliu kerja yang sudah mencekam seperti ini tidak
saja berakibat pada hambarnya suasana kerja antarpekerja,
tetapi juga berimbas pada bagaimana orang-orang di dalam
organisasi itu melayani orang lain, katakanlah seperti
tamu, pelanggan, pembeli atau penelpon. Karena mereka
merasakan “kekejaman” maka mereka pun memperlakukan
orang lain secara kejam.
Keempat adalah peranan kerja yang
tidak jelas. Ini misalnya terjadi konflik peranan,
ketidakjelasan hasil kerja yang bisa diharapkan atau
terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan.
Kelima adalah nasib karir yang
tidak jelas. Ini misalnya terjadi ketidakamanan (insecurity),
tidak ada kesempatan untuk berkembang, tidak diberi
peluang untuk lebih maju, cepat melakukan perubahan yang
tidak mempertimbangkan kesiapan pekerja (disorientasi),
dan lain-lain. Jika ada orang yang di-PHK dengan
alasan-alasan yang tidak jelas dan tidak dijelaskan,
maka keputusan demikin ini bisa mengancam rasa aman
pekerja lain. Mereka akan berpikir bahwa dirinya bisa
saja akan bernasib sama. Kalau sudah ada banyak orang
yang punya kesimpulan demikian tentu saja virus stress
kerja cepat menyebar.
Keenam adalah kondisi lingkungan yang mengancam
keselamatan. Ini misalnya tidak nyaman, tidak sehat,
tidak leluasa, dan lain-lain. Jika seseorang harus
menjalankan tugas yang ber-resiko sementara dia secara
mental dan skill tidak siap, bisa saja akan
terkena stress kerja.
Dari enam hal di atas, konon ada tiga yang paling
dirasakan menjadi stressor, yaitu: a) memberi target,
tugas atau tanggung jawab yang tidak realistis, b) lemah
dukungan dari atasan, dan c) tidak membuka pintu
keterlibatan dalam proses mengambil keputusan.
Nah, untuk mengurangi, mengantisipasi atau mengatasinya,
maka saran yang bisa kita pertimbangkan adalah:
1. Merumuskan standar, criteria dan strategi untuk
mengatur muatan kerja agar benar-benar sesuai dengan
kapabilitas dan sumberdaya yang tersedia. Kalau kita
menerima order yang deadline-nya begitu menekan,
sementara kita secara skill dan resource
belum siap dan itu kita “paksakan”, ya mau tidak mau
akan menimbulkan stress. Untuk mengantisipasinya berarti
kita perlu mempersiapkan diri untuk memiliki kualitas
yang sesuai dengan standard demand yang sekiranya
akan kita hadapi. Caranya, dengan meng-up grade
diri.
2. Merancang pekerjaan atau tugas yang kira-kira
menantang, memberikan nilai tambah, memberikan
kesempatan orang untuk mengaplikasikan keahliannya atau
pengetahuan atau pengalaman. Bagaimana jika pekerjaan
yang ada saat ini adalah rutinitas yang itu-itu saja?
Mungkin pilihannya adalah memberi tantangan baru yang
kira-kira bisa dicapai dan bisa dijadikan bukti adanya
perkembangan atau peningkatan.
3. Mempertegas peranan dan tanggung jawab masing-masing
orang agar tidak terjadi crowded atau
overlapping. Ini bisa dilakukan secara formal (kesepakatan
baku) atau non-formal (catatan berdasarkan perkembangan
keadaan).
4. Memberi kesempatan berpartisipasi dalam proses
mengambil keputusan. Orang akan merasa bertanggung jawab
apabila dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Merasa bertanggung jawab adalah bagian positif dari
kejiwaan. Jiwa yang positif akan tidak mudah terkena
stress kerja.
5. Mengurangi berbagai bentuk komunikasi dan informasi
yang bisa menimbulkan kekacauan, ketakutan atau
ketidakpastian.
6. Memberi ruang terjadinya proses keakraban sosial di
antara para pekerja, misalnya makan bareng, mengunjungi
yang sakit, mengadakan perlombaan, dan lain-lain
7. Menerapkan jam kerja yang compatibel dengan
tuntutan perubahan eksternal maupun tujuan yang ingin
dicapai.
8. Menetapkan manajemen kinerja: memberi
reward kepada yang berprestasi dan menegur yang
melanggar serta menyemangati yang tertinggal. Jangan
sampai kita bersikap acuh tak acuh pada yang berprestasi,
acuh tak acuh pula pada yang melanggar dan acuh tak acuh
pula pada yang tertinggal.
9. Menghargai kepentingan atau
nilai-nilai yang dianut individu selama tidak
bertentangan dengan akal sehat secara umum, misalnya
memberikan hak istirahat bagi karyawan yang baru saja
terkena musibah semacam kematian keluarga
10. Menjaga keputusan dan aksi (implementasi)
agar sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi
Untuk Para
Karyawan
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang karyawan untuk
menangani stress kerja? Kalau tidak bisa menangani
seluruhnya, apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya?
Kalau tidak bisa menguranginya, apa yang bisa dilakukan
untuk mengambil manfaat darinya? Berikut ini adalah
hal-hal yang masih mungkin Anda lakukan:
Pertama, panggilan tanggung jawab itu jalankan /
artikan sebagai sebuah peluang atau kesempatan belajar.
Terkadang atasan atau pimpinan juga belum tahu
sejauhmana kemampuan Anda dalam sebuah tugas dan
sejauhmana tugas itu realistis bisa dijalakan atau
sejauh mana target itu bisa dicapai. Agar Anda dan
atasan sama-sama tahu, ya jalankan lebih dulu lalu
jelaskan hasilnya berdasarkan pengalaman di lapangan.
Apakah Anda melihat tugas itu sebagai stressor atau
opportunity, toh ujung-ujungnya Anda juga tetap harus
menjalankannya, terutama jika Anda tidak punya pilihan
lain yang available. Bukankah begitu? Inilah yang bisa
disebut dengan mengubah cara melihat, bersikap dan cara
memperlakukan. Perbedaannya, Anda yang menganggap tugas
sebagai stressor, tidak memperoleh nilai tambah apapun,
baik bagi diri sendiri maupun hasil kerja. Bagaimana
bisa menghasilkan yang terbaik jika hati sudah berkeluh
kesah. Sebaliknya, nilai tambah sudah pasti ada di
tangan bagi Anda yang menerima tugas dan tanggung jawab
sebagai sebuah peluang belajar. Anda merasa tambah
pengalaman dan skill, tambah rasa percaya diri, tambah
dipercaya, dsb.
Kedua, gunakan sebagai wadah untuk memperkuat
diri. Kekuatan manusia itu dibentuk dengan cara seperti
kekuatan yang dimiliki batang pohon. Batang pohon itu
bertambah kekuatannya karena hembusan angin yang
menggoyahnya. Begitu juga dengan kekuatan mental manusia
dalam menghadapi hal-hal sulit. Kekuatan ini bukan
kekuatan yang dibawa dari lahir, tetapi kekuatan yang
merupakan hasil dari olah kemampuan dalam menghadapi
hal-hal sulit. Pendeknya, kalau orang sudah terbiasa
menjadikan kesulitan sebagai saran untuk “give-up”,
lama-lama terbiasa give-up (patah). Sebaliknya,
kalau orang itu memilih untuk menantang atau membuktikan
diri sebagai orang yang tangguh, lama-lama kelamaan akan
terbiasa menjadi orang yang tangguh.
Ketiga, jadikan sarana untuk menggali ilmu,
informasi, atau cara melakukan sesuatu (tehnik & metode).
Kalau Anda hanya menghadapi target atau pekerjaan yang
biasa-biasa saja, mungkin pengetahuan, informasi, cara
yang Anda miliki ya mungkin itu-itu saja. Sebaliknya,
jika Anda menghadapi target yang luar biasa, mungkin
untuk sementara waktu Anda tertekan, tetapi jika itu
digunakan sebagai jalan untuk menambah keahlian,
lama-lama kan tidak begitu.
Terkadang juga bahwa pekerjaan itu menjadi beban
(stressor) atau tidak, bukan karena beban pekerjaannya,
tetapi karena kemampuan kita yang belum naik. Kemampuan
di sini bisa berupa kemampuan mental (mental skill) atau
karena kemampuan kerja (job skill). Dengan
menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk meningkatkan
kemampuan, berarti kemungkinan terjadinya stress kerja
di kemudian hari bisa berkurang.
Satu hal lagi yang penting di sini adalah menjadikan
pekerjaan yang kita anggap stressor itu sebagai sarana
untuk menambah tehnik, metode atau cara dalam menangani
pekerjaan. “Bagaimana kalau gaji kita tidak naik-naik
padahal keahlian dan kemampuan kita sudah naik?” Jika
Anda tidak berhenti meng-upgrade skill,
serugi-ruginya Anda hari ini masih akan untung di hari
esok. Skill Anda akan menaikkan kualitas Anda. Tapi jika
Anda berhenti, ini malah membuat Anda stress dua kali:
hari ini dan esok.
Keempat, jadikan sarana untuk memperluas
friendships. Biasanya, saat kita menghadapi tugas
atau pekerjaan yang stressful, kita pun mulai berani
untuk tanya sana-sini. Sebaiknya ini perlu kita jadikan
pembuka untuk memperluas jaringan. Kelemahan kita
terkadang adalah menghubungi orang hanya pada saat-saat
kepepet. Alangkah baiknya kalau ini kita follow-up-i
setelah kita tidak kepepet lagi nanti dan kita perdalam
lagi hubungan yang telah ada.
Kelima, pikirkan diri anda. Pada saat-saat
menghadapi pekerjaan yang stressful, jangan hanya
membayangkan atasan, manajemen, atau pimpinan yang suka
maksa. Yang lebih penting untuk Anda bayangkan adalah
memikirkan diri Anda yang sedang stress dan bagaimana
cara mengatasinya. Kalau Anda hanya memikirkan atasan,
mungkin Anda hanya akan menyalahkannya. Tapi jika Anda
fokus memikirkan diri sendiri, maka yang muncul adalah
kemauan atau inisiatif untuk mengatasi masalah anda.
Mau coba? Semoga bermanfaat! |