 |
|
| |
Hubungan
Asmara di Tempat Kerja
|
| |
Oleh
Johanes
Papu
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
6 September 2002
|
| |
Hubungan
asmara antara pekerja dengan koleganya maupun antara
pekerja dengan atasan atau pun bawahan merupakan suatu
fenomena yang biasa ditemui dalam dunia kerja. Hubungan
asmara tersebut ada yang berakhir dengan perkawinan dan
ada juga yang berakhir dengan kepahitan, saling membenci,
penuh dengan dendam bahkan salah satu pihak lalu menuduh
bahwa telah terjadi pelecehan seksual.
|
| |
Fenomena
diatas tentu saja sangat menarik untuk disimak lebih
lanjut mengingat bahwa hubungan asmara merupakan suatu
hal yang wajar dan amat manusiawi sebagai akibat dari
interaksi antar individu. Permasalahannya adalah bahwa
hubungan tersebut seringkali disertai dengan
gejolak-gejolak psikologis yang akhirnya dapat
mempengaruhi kinerja individu yang bersangkutan atau pun
rekan kerja yang lain (team atau departemen). Selain itu
tidak adanya peraturan tertulis yang secara jelas
mengatur batasan-batasan yang harus dipatuhi oleh
individu yang sedang di mabuk asmara tersebut, semakin
membuatnya menjadi kompleks.
Pertanyaan
yang harus dijawab kemudian adalah apa saja risiko yang
mungkin timbul sebagai akibat menjalin hubungan asmara
dengan rekan kerja. Lalu bagaimana HRD harus berperan
untuk menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan hubungan
asmara tersebut. Dan pertanyaan terakhir adalah
bagaimana individu yang sedang dimabuk asmara tersebut
menyikapi hubungan yang terjadi sehingga tidak
mempengaruhi kinerja mereka. Dalam artikel ini penulis
akan mencoba untuk menguraikan hal-hal tersebut.
|
| |
Alasan
|
| |
Beberapa
alasan mengapa bisa terjadi hubungan asmara di tempat
kerja, menurut penulis dapat dibagi dalam beberapa
alasan:
|
| |
Kesiapan
|
| |
Para
pekerja di perusahaan atau organisasi pada umumnya
adalah orang-orang yang secara fisiologis dan psikologis
merupakan individu yang sudah siap untuk menjalin
hubungan asmara, bahkan berumahtangga. Selain itu
mereka pada umumnya memiliki kesiapan finansial yang
relatif lebih baik dari masa sebelumnya (cth: memiliki
penghasilan dan fasilitas). Dengan kondisi-kondisi
tersebut maka sangatlah wajar jika individu mulai
tertarik satu sama lain dan mencari pasangan hidupnya
masing-masing.
|
| |
Waktu
|
| |
Di
Indonesia waktu efektif yang dihabiskan untuk
bekerja dalam seminggu adalah antara 40 jam s/d 48 jam.
Dengan kondisi yang serba padat dan macet di kota-kota
besar seperti di Jakarta maka waktu yang tersisa untuk
aktivitas di rumah menjadi semakin sedikit karena jarak
tempuh antara rumah dan kantor terkadang bisa
menghabiskan waktu satu sampai dua jam per hari. Selain
itu kondisi tersebut berpotensi untuk membuat para
pekerja memutuskan untuk tinggal lebih lama di kantor
karenna menunggu arus lalu lintas menjadi lebih lancar.
Hal ini semakin menambah banyaknya waktu yang dihabiskan
di kantor. Dengan
tersedianya banyak waktu yang dihabiskan di kantor/aktivitas kerja maka tidaklah mengherankan jika
selama bekerja terjalin hubungan asmara antar individu.
|
| |
Kebersamaan
|
| |
Perusahaan
merupakan suatu sistem yang saling berhubungan satu
dengan yang lain. Pekerjaan atau tugas-tugas kantor pun
mengikuti sistem tersebut sehingga banyak tugas yang
harus dikerjakan secara bersama-sama (teamwork). Dalam
kebersamaan ini individu dapat saling bertukar informasi,
belajar satu dengan yang lain dan tidak jarang mereka
membagi pengalaman-pengalaman pribadi. Situasi inilah
yang kadang-kadang memunculkan benih-benih cinta
diantara para pekerja.
|
| |
Minat
|
| |
Kesamaan
minat akan suatu pekerjaan atau profesi sangat
berpeluang untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara
individu. Secara psikologis ketika kita bertemu dengan
orang yang memiliki minat yang sama atau seprofesi
maka secara tidak langsung kita akan merasa lebih
dekat dan mudah untuk bertukar pikiran atau ngobrol.
Kejadiannya sama seperti ketika seseorang yang tinggal
di perantauan bertemu dengan seseorang yang berasal dari
daerah/kota yang sama dengan dirinya. Inilah salah satu
sebab mengapa individu yang menjalin hubungan
seringkali berasal dari bidang atau divisi yang sama,
meski tidak berada dalam satu kantor/ruangan.
|
| |
Risiko
|
| |
Sama
seperti setiap orang yang sedang jatuh cinta, maka
menjalin asmara dengan teman sekantor juga membawa
berbagai kebahagiaan bagi pasangan yang sedang jatuh
cinta tersebut. Individu yang sedang dimabuk cinta
mungkin tidak sabar untuk segera tiba kantor karena akan
bertemu dengan pujaan hatinya, ia juga tidak keberatan
untuk bekerja lembur (asal ditemani oleh pacarnya).
Energinya menjadi berlipat ganda (terutama pada awal
masa pacaran) sehingga seringkali terlihat bekerja
dengan penuh semangat, bahkan mungkin belum pernah
seenergik itu sebelumnya. Namun
demikian kebahagiaan tersebut diatas tidak akan
berlangsung lama jika pasangan yang dilanda cinta
tersebut tidak berhati-hati dan memperhitungkan dengan
seksama risiko-risiko yang akan dihadapi di kemudian
hari. Risiko-risiko tersebut diantaranya:
|
| |
Terlena
|
| |
Pada
umumnya individu yang sedang jatuh cinta seringkali
terbuai dan lupa dengan realitas yang ada. Hal ini
cenderung membuat kesadaran diri individu tersebut untuk
hal-hal tertentu diluar percintaan menjadi berkurang
karena terfokus pada sang pujaan hati. Pada masa-masa
ini nasehat rekan kerja yang sangat penting mungkin akan
kurang didengar dibandingkan dengan saran yang diberikan
oleh sang pacar. Jika kedua individu tidak menyadari
realitas yang ada (ada banyak pekerjaan menunggu atau
ada teman-teman yang mengharapkan bantuan kerjasama, dll)
maka bisa jadi hubungan asmara yang terjadi malah
berubah menjadi bencana karena akan menghambat
perkembangan karir masing-masing.
|
| |
Konflik
Kepentingan
|
| |
Hubungan
asmara yang terjadi antara atasan dan bawahan akan
sangat berpotensi menimbulkan berbagai konflik
kepentingan. Jika kedua pihak tidak menyadari dengan
sungguh-sungguh maka akan sangat sulit untuk melakukan
penilaian yang obyektif pada hal-hal yang berhubungan
dengan penilaian kinerja atau pun menyangkut
pendisiplinan. Bukankah akan sangat sulit untuk
meninggalkan unsur subyektivitas ketika anda (atasan)
diminta untuk menilai seseorang (bawahan) yang kebetulan
adalah pacar atau pujaan hati anda sendiri? Selain
itu sebagai atasan, bisa saja anda "dimanfaatkan"
oleh pacar anda tersebut untuk mencapai
kepentingan-kepentingan pribadi tanpa anda sadari.
|
| |
Energi
|
| |
Hubungan
asmara, dimanapun lokasinya, tidak akan mungkin dapat
ditutup-tutupi. Cepat atau lambat semua orang di sekitar
anda pasti akan tahu siapa kekasih anda. Dalam hal
menjalin hubungan asmara di kantor maka individu harus
menyiapkan energi ekstra untuk menghadapi berbagai
komentar, kecemburuan atau pun kecurigaan yang mungkin
dilakukan oleh rekan kerja. Komentar yang harus disikapi
secara profesional dan elegan misalnya: "tentu saja
karirnya cepat menanjak, lihat dong siapa pacarnya!"
(maksudnya karir seseorang lebih mudah menanjak ketika
berpacaran dengan seseorang yang memiliki jabatan
strategis dalam perusahaan). Atau mungkin juga ada
komentar yang mengatakan sebagai berikut: "heran ya,
kok dia mau pacaran dengan orang seperti itu?"
Tentu saja untuk menghadapi komentar atau kecurigaan
seperti ini dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati dan
kemampuan untuk menahan amarah. Bukankah semua ini
membutuhkan energi ekstra?
|
| |
Bukan
Hanya Urusan Dua Orang
|
| |
Mereka
yang menjalin hubungan asmara di kantor mungkin
berpendapat bahwa hubungan tersebut hanyalah urusan
pribadi kedua belah pihak. Namun apakah benar demikian?
Kenyataannya hubungan asmara tersebut menimbulkan dampak
yang luas ke rekan-rekan kerja yang lain. Secara sadar
maupun tidak, hubungan asmara tersebut akan mewarnai
berbagai penilaian, pengambilan keputusan dan hubungan
kerja antara pasangan yang berpacaran dengan teamwork
atau rekan kerja lainnya. Rekan-rekan kerja yang lain
mungkin akan cenderung mengambil jarak atau membatasi
topik pembicaraan dengan anda dan pasangan, ketika
mereka melihat anda sedang duduk berduaan di kantin,
ruang meeting, acara-acara company gathering, atau
tempat-tempat lainnya karena ingin memberikan
privacy kepada anda berdua. Keputusan-keputusan yang
menyangkut promosi, tugas dan tanggungjawab, team
building dan pelaksanaan suatu proyek yang melibatkan
anda seringkali diambil berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang menyangkut hubungan
asmara anda. Alangkah sayangnya jika anda tidak mendapat
promosi hanya gara-gara orang lain menilai bahwa anda
terlalu mementingkan hubungan asmara daripada pekerjaan.
|
| |
Pelecehan
Seksual
|
| |
Hubungan
asmara yang terjadi di kantor, terutama antara atasan
dan bawahan, seringkali berakhir dengan kepahitan. Dalam
banyak kasus, individu yang telah berakhir hubungan
asmaranya cenderung menjelek-jelekkan satu sama lain
atau saling membenci. Tidak jarang akhirnya justru
muncul tuduhan bahwa salah satu pihak telah melakukan
pelecehan seksual. Inilah risiko berat yang mungkin
harus diwaspadai para atasan yang kebetulan menjalin
hubungan dengan anak buahnya, mengingat bahwa masalah
pelecehan seksual merupakan salah satu topik yang
seringkali membuat kejatuhan karir seseorang.
|
| |
Peran
HRD
|
| |
Masalah
hubungan asmara dengan rekan kerja di kantor bisa
menjadi problematik manakala hubungan tersebut sudah
mengganggu kinerja pegawai yang bersangkutan atau pun
rekan-rekan lainnya sehingga produktivitas perusahaan
ikut terganggu. Dalam hal ini, meskipun HRD sebenarnya
tidak boleh mencampuri urusan pribadi pegawai, namun
jika masalah pribadi tersebut ternyata telah mengganggu
produktivitas perusahaan maka HRD wajib melakukan
tindakan berupa teguran, bimbingan bahkan peringatan
tertulis. Permasalahannya adalah banyak perusahaan (mungkin
99%) tidak memiliki batasan yang jelas tentang hal-hal
apa saja yang harus dipatuhi oleh individu yang menjalin
hubungan asmara dengan teman kerja di kantor. Hal ini
tentu berbeda jika pasangan tersebut sudah sepakat untuk
menikah (biasanya sudah ada aturan yang jelas apakah
perusahaan membolehkan pegawai yang memiliki hubungan
keluarga dapat bekerja di satu perusahaan atau tidak).
Dalam hal ini maka individu yang akan menikah sudah tahu
risikonya (cth: salah satu pihak harus mengundurkan diri).
Dengan memperhatikan hal-hal seperti ini, ada baiknya
jika pihak HRD mampu menyusun seperangkat aturan
tertulis yang mengatur tentang batasan-batasan yang
diperbolehkan atau tidak diperbolehkan untuk dilakukan
jika perusahaan mengijinkan pegawainya menjalin hubungan
dengan rekan kerja di dalam satu perusahaan. Hal ini
dipandang perlu mengingat bahwa sampai kapanpun pasti
akan selalu ada hubungan asmara di antara para pekerja (sesama
rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan).
|
| |
Mengingat bahwa
hubungan asmara yang terjadi di kantor tidak mungkin
dapat terhindarkan, maka hal-hal yang harus menjadi
perhatian khusus dari pihak HRD adalah menyangkut
hal-hal sebagai berikut:
|
| |
Perselingkuhan
|
| |
Perselingkuhan
mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dan
tanpa disadari seringkali perselingkuhan tersebut justru
terjadi di tempat kerja. Oleh karena itu HRD harus
jeli dalam menanggapi permasalahan tersebut. Penanganan
masalah ini mungkin akan lebih banyak menggunakan
pendekatan pribadi daripada profesional, apalagi jika
budaya dalam perusahaan tersebut cenderung "memberikan
toleransi" terhadap perselingkuhan. Dalam
perusahaan-perusahaan tertentu memang ada yang melakukan
tindakan tegas dengan langsung meminta individu yang
melakukan perselingkuhan dengan rekan kerja untuk
menghentikan kegiatan tersebut dan jika tidak maka akan
dilakukan tindakan tegas berupa PHK. Hal tersebut
tentu sangat baik untuk menjaga keutuhan rumah tangga
para pekerja. Namun sayang jumlah perusahaan yang
melakukan hal tersebut masih sedikit dan para "peselingkuh"
pun semakin pintar menutupi aksi mereka.
|
| |
Tempat
|
| |
Hubungan
asmara antar rekan kerja akan berpotensi menimbulkan
masalah jika dilakukan secara berlebihan, misalnya
memeluk atau mencium pasangan di depan rekan-rekan kerja
yang lain (untuk budaya Indonesia) atau berkencan di ruang rapat,
kantin, dll. Kejadian tersebut selain tidak membuat
nyaman rekan-rekan kerja yang lain, juga menyalahi
fungsi tempat kerja tersebut. Hal-hal yang harus
menjadi perhatian HRD dalam hal ini adalah menjaga agar
fasilitas yang ada di kantor tidak dimanfaatkan untuk
berkencan dan perilaku yang dinilai berlebihan tidak
terjadi di tempat kerja. Tempat-tempat tersebut misalnya:
ruang meeting, ruang kerja direktur/manager, ruang
fotocopy, kantin dan lift atau elevator.
Tempat-tempat ini harus diusahakan bersih dari kegiatan
pacaran. Informasikan hal ini kepada semua pegawai dan
disertai sanksi bagi yang melanggar.
|
| |
Hubungan
Asmara Atasan - Bawahan
|
| |
Kejelasan
aturan main yang harus dilakukan jika ternyata ada
atasan yang menjalin hubungan asmara dengan bawahan
mungkin sangat perlu dipikirkan oleh HRD. Hal ini adalah
demi menjaga kinerja kedua belah pihak dan menghindarkan
mereka dari risiko-risiko yang tidak diinginkan seperti
telah disebutkan di atas.
|
| |
Beberapa
Saran
|
| |
Melarang
individu untuk menjalin hubungan asmara dengan teman di
kantor mungkin merupakan suatu hal yang mustahil dan
tidak akan banyak manfaatnya. Bagaimana pun juga hal
tersebut merupakan hak setiap orang dan salah satu dari
tugas perkembangan yang harus dijalani oleh individu.
Satu hal yang harus diperhatikan adalah jangan sampai
hubungan asmara tersebut merusak karir dan hubungan
orang tersebut bagi orang lain. Beberapa
hal berikut mungkin patut anda pertimbangan jika anda
tetap ingin menjalin hubungan asmara dengan rekan kerja:
|
| |
Pastikan
bahwa Anda Mampu Menerima Berbagai Konsekuensi
|
| |
Risiko
orang berpacaran adalah ada masa indah dan ada masa yang
sangat menyakitkan. Pada masa-masa bahagia mungkin tidak
ada persoalan bagi anda untuk menghadapinya, namun jika
muncul masa-masa sulit maka pastikan anda sudah siap
untuk menghadapinya. Jika seandainya hubungan
berakhir maka pastikan bahwa anda masih bisa bersikap
profesional bilamana bertemu atau bekerjasama kembali
dengan mantan kekasih anda tersebut.
|
| |
Cerdik
|
| |
Sebelum
memutuskan untuk menjalin hubungan asmara maka pastikan
bhawa pasangan anda merupakan orang yang dapat anda
percayai. Artinya jangan sampai anda berkencan dengan
seseorang yang ternyata akan dengan gampang menceritakan
hal-hal yang menjadi rahasia anda (pribadi maupun bisnis)
kepada orang lain. Pilihlah pasangan dengan cerdik dan
cermat
|
| |
Hati-hati
|
| |
Meski
perusahaan tidak melarang anda untuk menjalin hubungan
dengan rekan kerja, namun hendaknya hal tersebut
dilakukan dengan hati-hati dan penuh tenggangrasa
terhadap rekan-rekan kerja yang lain. Artinya untuk
mengungkapkan rasa sayang dan cinta anda hendaknya tidak
dilakukan secara berlebihan atau dilakukan di depan
rekan-rekan kerja lainnya. Anda dan pasangan harus bisa
menjaga perasaan rekan kerja yang lain dan tidak
menggunakan waktu-waktu kerja untuk berpacaran. Selain
itu hindari penggunaan tempat-tempat maupun fasilitas kantor.
|
| |
Usahakan
tidak Berpacaran Dengan Bawahan Anda
|
| |
Demi
menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan atau
hal-hal negatif seperti tuduhan pelecehan seksual, maka
bagi anda yang kebetulan memegang jabatan tertentu maka
sebaiknya anda tidak menjalin asmara dengan bawahan anda
di kantor.
|
| |
Lihat
Dunia Lain
|
| |
Merupakan
suatu hal yang amat berguna bagi anda jika anda dapat
membatasi diri untuk tidak menghabiskan sebagian besar
waktu anda dengan pasangan anda. Jika hal ini tidak
dapat anda lakukan, maka itu sama artinya dengan menutup
diri terhadap hal-hal baru. Selain itu anda akan
kehilangan banyak teman dan "network" sehingga
jika suatu saat anda ternyata putus hubungan
dengan pacar anda, maka anda akan kebingungan mencari
teman baru. Padahal di satu sisi kita amat membutuhkan
teman dalam bekerja (untuk mensupport maupun bertukar
pikiran). Oleh karena itu, selama masa pacaran sangat
penting bagi anda berdua untuk tidak menerapkan prinsip:
"DUNIA MILIK KITA BERDUA DAN YANG LAIN CUMA
NGONTRAK". Oke.....(jp)
|
| |
_________________________
|