|
 |
|
| |
MANAJEMEN STRES BAGI RELAWAN
|
| |
Oleh RR.
Ardiningtiyas Pitaloka**
|
| |
Jakarta,
4 Mei 2005
|
| |
"Seorang ayah marah besar melihat anaknya menolak
untuk melahap sayur bayam. “Kamu harus bersyukur
tinggal makan, di sana orang kelaparan tidak ada
makanan!” teriak sang ayah dengan nada tinggi dan muka
merah padam menahan amarah. Si anak yang baru duduk di
bangku SD tidak berkutik selain tertunduk dengan mata
berkaca-kaca, untung sang ibu segera datang menenangkan".
|
| |
Secuil adegan
ini penulis dengar dari seorang teman yang mendapati
suaminya mudah emosi dan sangat sensitif setelah pulang
dari tugas kemanusiaan di Aceh selama dua minggu.
Organisasi tempat suaminya bergabung menerapkan sistem roling
dua minggu untuk menghindari kelelahan termasuk psikis,
namun mungkin belum dilakukan langkah sistematis untuk
mengelola stres negatif (distres) relawannya.
Salah satu dampaknya tergambar dalam cuplikan kisah di
atas.
|
| |
Kerja Relawan
|
| |
Bencana
tsunami memang sangat mengguncang dan mengundang banyak
orang untuk menjadi relawan baik yang selama ini telah
terlatih dan terorganisir, maupun relawan dadakan dan
‘bonek’ (bondo nekat). Belum usai
trauma tsunami, gempa dengan kekuatan 8,7 skala Richter
kembali mengguncang kawasan antara pulau Nias dan pulau
Simeuleuh dengan arah guncangan ke selatan (sebelumnya
ke utara). Gempa yang terjadi kurang lebih pukul 11
malam WIB pada Senin 28 Maret 2005 awalnya ditakutkan
akan mengundang tsunami, meski tidak terjadi, namun
wajah Nias dan Simeuleuh tetap porak poranda dan
mengundang para relawan dari pelosok dunia untuk kembali
menyingsingkan lengan. Beberapa relawan asing yang belum
lama melambaikan salam perpisahan kini harus kembali
untuk tahap tanggap darurat seperti mengevakuasi jenazah
dan sebagainya, tidak terkecuali relawan dalam negeri
yang masih terkonsentrasi di Aceh.
Membayangkan
kerja para relawan ini sungguh menggetarkan hati, selain
harus jauh dari keluarga, mereka juga harus berhadapan
dengan prasangka yang kadang tertuju pada relawan asing
atau mereka yang memiliki keyakinan berbeda dengan
mayoritas masyarakat korban bencana. Penulis mendapatkan
daftar kerja utama yang harus dilakukan para relawan di www.urbanpoor.or.id
(08/01/05), yang dirinci berdasarkan kegiatan relawan di
Aceh akibat tsunami;
-
identifikasi
tempat-tempat penampungan dan kebutuhan pengungsi yang
dikelompokkan dalam: lokasi, jumlah pengungsi
(berdasarkan gender dan usia), kondisi makanan,
kesehatan, pakaian, shelter, air dan sanitasi,
juga permintaan informasi dan catatan khusus mengenai
kondisi itu
-
distribusi
kebutuhan tempat-tempat penampungan yang telah
teridentifikasi
-
distribusi
relawan ke tempat-tempat penampungan lainnya serta
mendirikan Posko
-
evakuasi
jenazah (korban)
-
memperbarui (update)
informasi undatuk dapat dimanfaatkan pihak luar (yang
berkepentingan)
-
mengusahakan
logistik untuk didistribusikan
-
bongkar-muat
pangan yang diangkat dan disebarkan ke wilayah
pengungsian
|
| |
Stressor
(sumber-sumber stres) bagi Relawan
|
| |
Enrenreich dan Elliot dalam Journal of Peace
Psychology ,2004 , menggambarkan dengan rinci
stressor bagi relawan, yaitu;
-
tuntuan
fisik yang berat dan kondisi tugas (kerja) yang
tidak menyenangkan
-
beban
kerja yang berlebihan, jangka waktu lama dan
kelelahan kronis (chronic fatigue)
-
berkurang
atau bahkan hilangnya privasi dan ruang pribadi
-
jauh dari
keluarga menimbulkan kecemasan pada kondisi keluarga
-
kurangnya
sumber-sumber yang tepat (adequate resources)
baik secara personil, waktu, bantuan logistik atau
skill (ketrampilan) untuk melakukan tugas yang
dibebankan
-
adanya
bahaya mengancam (penyakit, terkena gempa susulan,
dan sebagainya), perasaan takut dan tidak pasti yang
berlebihan
-
kemungkinan
melakukan evakuasi yang berulang
-
kemungkinan
menyaksikan kemarahan dan menurunnya rasa syukur
dalam masyarakat korban
-
secara
berulang, teringat akan cerita-cerita traumatis,
tragedi atau kisah yang memicu ingatan trauma
individu yang telah lampau
-
beban
birokratis yang berlebih atau kurangnya dukungan
(suport) dan pengertian pimpinan organisasi
-
konflik
interpersonal di antara anggota kelompok relawan
yang di lapangan mengharuskan mereka untuk dekat dan
saling bergantung pada waktu cukup lama
-
perasaan
tidak berdaya kala menghadapi tuntutan yang melewati
batas (overwhwelming need)
-
perasaan
sakit karena tidak bisa memenuhi tuntutan yang ada
-
dilema
moral dan etika
-
harus
mampu menjaga netralitas (sikap netral) jika berada
dalam situasi politik yang terpolarisasi
-
perasaan
bersalah melihat korban bencana tidak memiliki
makanan, tempat bernaung dan kebutuhan hidup lain.
Rentetan tugas di
atas menampilkan emosi-emosi negatif yang sangat mungkin
hinggap dan dialami relawan, seperti ‘burnout’,
compassion fatigue’, ‘vicarious’ atau secondary
traumatization, direct posttraumatic stress syndromes
(akibat menyaksikan langsung peristiwa traumatis),
depresi, pathological grief reactions, kecemasan,
‘over-involvement’, atau ‘over-identification’
dengan masyarakat korban bencana.
Ilustrasi kecil di
awal tulisan merupakan contoh dari timbulnya
keterlibatan atau identifikasi berlebih dalam diri
relawan terhadap masyarakat Aceh yang terkena bencana.
Keterlibatan berlebih ini menyeret emosi relawan hingga
menimbulkan perasaan bersalah yang berlebih juga saat
kembali ke ‘dunia’nya di mana makanan begitu mudah
didapat dan dikonsumsi.
|
| |
Manajemen Stres untuk Relawan
|
| |
Besarnya kemungkinan relawan mengalami distres,
maka sudah menjadi kebutuhan bila organisasi relawan
yang ada mengambil langkah-langkah sistematis untuk
mengurangi stres anggotanya. Enrehreich dan Elliot dalam
studinya menemukan banyak relawan yang telah kembali
dari tugas ternyata tidak mendapatkan dukungan simpatik
terhadap distres yang mereka alami. Terdapat pula
budaya ‘macho’ dalam organisasi relawan,
yakni adanya kecenderungan menolak atau mengingkari
dampak psikososial dari pekerjaan kemanusiaan yang penuh
tekanan. Bagi sebagian kalangan, menjadi relawan
seolah-olah melambungkan orang dan kelompoknya sebagai
‘superhero’ yang tentu tidak membutuhkan perhatian
simpatik.
Dalam tiga konferensi “Managing Stress in
the Humanitarian Aid Worker” terakhir
(dua di antaranya disponsori oleh Antares Foundation
& the U.S Center for Disease Control, September
2001 & 2002; konferensi ke tiga diselenggarakan oleh
Action Without Borders and Peace Brigades
International, Maret 2004), menyatakan, “Nececity
of addressing the psychological impact of the
humanitarian aid work is beginning to penetrate the
humanitarian aid community.”
Survey
pada tahun 1997 melalui telepon yang dilakukan McCall
& Salma mengungkap bahwa sebagian besar organisasi
relawan belum mengembangkan mekanisme suport psikologis
bagi relawannya. Enam tahun kemudian, mulai terlihat
usaha tersebut meski dipandang belum maksimal oleh
Ehrenreich & Elliot. Menurut mereka, sudah saatnya
diperlukan usaha untuk mengembangkan seperangkat standar
minimum yang jelas bagi ‘kesejahteraan psikologis’
relawan, dan ini merupakan tantangan besar secara
internal bagi dunia organisasi kemanusiaan. Usaha ini
akan jauh menguntungkan relawan di masa mendatang juga
dunia secara umum.
|
| |
Relawan di
Indonesia
|
| |
Sejak tsunami menyapu kawasan paling barat Indonesia,
kita kebanjiran relawan dari dalam maupun luar negeri,
yang terlatih juga yang nekat. Namun cukup banyak LSM
yang tidak sekedar ‘bonek’ turun mengevakuasi mayat,
mengeluarkan korban yang terjepit di reruntuhan, mendata
korban dan banyak lagi. Sepatutnyalah Indonesia mengucap
terima kasih setulus-tulusnya pada ‘pahlawan
kemanusiaan’ ini.
Pada
pihak lain, kita harus segera serius membentuk relawan
yang permanen dalam arti secara organisasi, program,
pelatihan, termasuk melindungi relawan dengan manajemen
stres yang sistematis dan terlatih. Bencana alam tidak
terbatas pada gempa bumi atau tsunami, melainkan juga
tanah longsor baik akibat alam maupun kecerobohan
pengelolaan manusia (terutama pemegang otoritas) seperti
musibah longsor sampah di Leuwigajah. Bencana
kekeringan yang mengancam sodara kita di Nusa Tenggara
Timur juga hendaknya masuk agenda organisasi relawan.
Luasnya
wilayah Indonesia dan kondisi alam yang ada membutuhkan
relawan yang terlatih dan terorganisir baik dari
pemerintah maupun non pemerintah. Sudah seharusnya
negeri ini memiliki ‘dana abadi’ untuk bencana alam
yang bisa terjadi setiap saat, bukankah para ahli
geologi menyatakan bahwa pergeseran lempeng bumi masih
dan akan terus terjadi? Usaha pencegahan pun harus
segera berbenah secara serius dengan studi dan teknologi
tinggi serta komunikasi efektif dengan masyarakat
termasuk organisasi relawan.
Relawan
adalah manusia biasa, ia memiliki resiko sangat besar
dampak psikologis dari tugas kemanusiaan yang diemban,
karenanya ia berhak mendapat perlindungan diri tidak
hanya secara fisik, namun ada yang lebih laten yaitu
dampak psikososial. Penulis berharap tulisan ini dapat
menambahkan sedikit gambaran lebih jelas akan penting
dan beratnya tugas relawan. Sebagai manusia biasa,
relawan juga membutuhkan ‘bekal’ dan ‘senjata’
untuk menangani distres dalam tugasnya. Sehingga, ketika
mereka kembali ke dunia ‘normal’, ia bisa kembali
menyesuaikan diri dan menerima kenyataan yang jauh
berbeda dari tempat tugas.
|
| |
--------------------------------------
|
| |
Sumber:
|
| |
Ehrenreich,J.H. & Elliot,T.L. (2004) Managing stress
in humanitarian aid workers: a survey of humanitarian
aid agencies’ psychosocial training and support of
staff. Dalam Journal of Peace Psychology, vol 10,
no.1,p.5-66
Relawan Forum
LSM Aceh. http://www.urbanpoor.or.id.
08/01/05
|
|
|
|
| |
--------------------------------------
|
| |
**Penulis
adalah alumni program Pascasarjana Psikologi Kekhususan Sosial Sains
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
|
| |
_________________________
|
|