Menumbuhkan
Kreativitas di Tempat Kerja
Oleh
Johanes Papu
Team
e-psikologi
Jakarta,
18 Juni 2001
Anda mungkin sependapat dengan saya
bahwa Garin Nugroho, sutradara penuh bakat yang telah
meraih berbagai penghargaan di dalam maupun luar
negeri, adalah seseorang yang sangat kreatif.
Kreativitas beliau dapat terlihat dari karya-karyanya
yang cenderung lain dari pada yang biasanya.
Ditengah-tengah suasana dunia perfilman dan sinetron
Indonesia yang cenderung menonjolkan kemewahan
& thema-thema yang jauh dari realitas (dunia mimpi),
Garin mampu melahirkan film-film yang berkisah tentang
realitas kehidupan dan dapat dilihat dalam kehidupan
sehari-hari. Lebih dari itu, Garin dapat memadukan
antara kemampuan mengexplorasi berbagai realitas yang
ada ke dunia film/sinetron dengan prinsip-prinsip seni.
Sehingga hal-hal yang sederhana menjadi menarik dan
penting, meskipun di Indonesia belum banyak
orang yang memahami hal itu.
Pertanyaan kita adalah bagaimana
seseorang bisa begitu kreatif sementara yang lainnya
tidak. Apakah kreativitas dapat dipelajari? Jika ya,
bagaimana menumbuhkan kreativitas di tempat kerja?
Menurut para ahli, seseorang yang
kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara
berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh
orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya
mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan
disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang
menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses
kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna,
dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.
Tahap-Tahap Kreativitas
Secara umum tahapan kreativitas dapat
dibagi dalam 4 tahap: Exploring, Inventing, Choosing
dan Implementing.
-
Exploring. Pada tahap ini pekerja
atau businessman mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam
kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka
mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka
proses kreativitas sudah dimulai.Hal penting yang
harus diperhatikan pada saat ini adalah
menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir
kreatif
-
Inventing.
Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan
untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik
dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat
membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang
traditional.
-
Choosing. Pada tahap ini
perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide
yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
-
Implementing. Tahap akhir
untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana
membuat suatu ide dapat diimplementasikan.
Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi
jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan,
maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama saja
dengan syair lagu "layu sebelum berkembang".
Model
Kreativitas
Menurut Charles Prather, dalam bukunya
Blueprint for Innovation, gaya atau model kreativitas
seseorang bersifat menetap. Prather membagi 2 gaya
kreativitas:
-
Adaptive Problem
Solving.
Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja
cenderung menggunakan kreativitas untuk
menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal
yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini
adalah bahwa mereka akan berusaha sebaik mungkin
untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih
cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka
lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat.
Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat
penghargaan.
-
Innovative Problem
Solving.
Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja
cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang
sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai
"agent of change" karena lebih
memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada
menyempurnakan yang sudah ada. Dalam
perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian
yang melakukan riset, penciptaan produk baru,
mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta,
dan orang-orang yang menjaga kelangsungan
hidup perusahaan di masa yang akan datang.
Hambatan untuk Berpikir Kreatif
Meskipun kreativitas dan inovasi
sangat dihargai di banyak perusahaan, namun hal
tersebut tidak selalu dikomunikasi kepada para
pegawainya. Perusahaan bahkan seringkali tidak
memberikan ruang gerak bagi para pekerjanya untuk
berkreasi dan berinovasi. Banyak perusahaan di
Indonesia merupakan contoh dimana ide-ide
kreatif hanya berakhir diruang-ruang rapat semata.
Hambatan lain yang mengganggu
kreativitas adalah jika pekerjaan yang kita jalani
tidak sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki.
Selain itu gaya kreativitas yang dimiliki tidak "match" dengan tuntutan pekerjaan
sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Anda adalah
sebagai "agent of change" tetapi pekerjaan
Anda lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut anda untuk
melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.
Hambatan lain datang dari unsur
psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus
berani untuk dinilai aneh oleh orang lain. Lihat saja
para penemu dan seniman-seniman besar yang pada saat
menciptakan karyanya seringkali dianggap "gila". Nah,
karena itu tidak semua pegawai siap untuk berbeda
pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut
kemudian terbukti benar. Pola pendidikan kita yang
kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan
pendapat juga sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.
Menumbuhkan Kreativitas
Pada dasarnya
kreativitas dapat terjadi di semua bentuk organisasi
atau perusahaan sejauh organisasi tersebut menghargai
atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Jika
tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi
frustrasi dan selanjutnya terjebak dengan rutinitas
yang ada.
Berdasarkan
hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas
dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan
memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai
permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang
kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah
organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja
menuntut iklim yang permissif terhadap existensi
individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor,
disamping tetap memegang teguh rasa hormat,
kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.
Salah
satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan
inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara
mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan.
Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur
kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja.
Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa
banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork)
yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal
ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu
akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.
Penempatan pegawai
dengan konsep the right people with the right job juga
merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya
kreativitas dan inovasi. Hal ini karena
penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan
mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi
individu dalam menyelesaikan masalah-masalah
pekerjaannya.
Root-Bernstein,
salah seorang penulis buku Sparks of Genius,
mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara
kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah
pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk
mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu
dilakukan brainstorming secara regular. Dengan
melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat
memberikan ide dan solusi yang baru. Selamat mencoba.(jp)
_____________________________