| |
Aksi
Unjuk Rasa dan Dilema Perburuhan Kita
|
| |
Oleh
Johanes Papu
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
10 Oktober 2001
|
| |
Aksi
unjuk rasa dan mogok kerja nampaknya sudah menjadi fenomena yang biasa di masa sekarang. Dari aksi yang
dilaksanakan secara damai sampai pada aksi yang berakhir
dengan tindakan anarkis berupa pengrusakan fasilitas
perusahaan atau penganiayaan terhadap orang-orang
tertentu. Selain itu unjuk rasa seringkali "disusupi"
pihak-pihak luar yang dengan tidak segan-segan melakukan
tindakan kekerasan terhadap para pelaku unjuk rasa,
seperti yang dialami PT. Kadera AR Indonesia pada akhir
Maret 2001 dan PT. Batam Textile Industry di awal Mei
2000. Situasi ini tidak urung menciutkan niat investor
untuk menanamkan modalnya di tanah air kita tercinta,
dan bahkan para investor yang sudah masuk pun banyak
yang sudah hengkang ke Cina, Vietnam atau negara-negara
lain yang dinilai aman bagi usaha investasi mereka.
|
| |
|
| |
Dari
kenyataan tersebut akan timbul pertanyaan, apa yang
sedang terjadi dan mengapa pemerintah tidak juga
berhasil meredakan situasi tersebut atau paling tidak
mencegah tindakan anarkis, sehingga tercipta kestabilan
dan kenyamanan dalam bekerja. Untuk
menjawab pertanyaan tersebut perlu maka dilihat
tiga faktor utama yang dapat dianggap sebagai pemicu.
Ketiga faktor tersebut juga melibatkan tiga pihak
penting dalam hubungan industrial yaitu karyawan / buruh,
pengusaha yang diwakili pihak management, dan pemerintah
yang diwakili oleh Depnakertrans. Ada pun ketiga faktor
tersebut adalah :
|
| |
-
Adanya
tuntutan kesejahteraan dari karyawan.
-
Tanggapan
dari pengusaha / management yang tidak bersedia
berunding dengan karyawan
-
Peran Departemen
Tenaga Kerja selaku lembaga yang
diberi kepercayaan untuk menjembatani
perselisihan antara buruh dengan pengusaha tidak
berjalan sebagaimana yang diharapkan.
|
| |
Mengapa Buruh Melakukan Unjuk Rasa dan Mogok
Kerja?
|
| |
|
| |
Masalah
mogok kerja di Indonesia sejak bergulirnya era reformasi
sudah menjadi suatu hal yang “umum”. Meskipun
prosedur untuk melakukan “mogok kerja” menurut UU
Perburuhan no. 22 th 1957 harus terlebih dahulu
mendapatkan tanda penerimaan pemberitahuan mogok dari
ketua Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan
tingkat Daerah (P4D), dalam kenyataan para buruh tetap
saja mogok tanpa menunggu adanya tanda terima tersebut
|
| |
|
| |
Jika
dilihat secara garis
besar, unjuk rasa atau pemogokan pada dasarnya terjadi
karena adanya ganjalan atau ketidakharmonisan hubungan
antara pekerja dan pengusaha. Adanya tuntutan yang
diajukan pekerja, yang tidak ditanggapi atau tidak dapat
dipenuhi oleh pengusaha, seringkali menimbulkan gejolak
dan konflik yang diikuti unjuk rasa dan pemogokan. Menurut Indra Ibrahim
(2001) dalam makalah “Pengatasan Unjuk Rasa di
Industri Tekstil” tuntutan para pengunjuk rasa
dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu tuntutan
normatif dan tuntutan non normatif.
|
| |
|
| |
Tuntutan
Normatif
|
No.
|
Tuntutan
|
Jumlah
Kasus
|
Prosentase
|
|
1.
|
UMR
|
40
|
21.98
|
|
2.
|
Hak cuti
|
34
|
18.68
|
|
3.
|
Jamsostek
|
25
|
13.74
|
|
4.
|
PHK
|
24
|
13.19
|
|
5.
|
Hak lembur
|
18
|
9.89
|
|
6.
|
Serikat Pekerja
|
13
|
7.14
|
|
7.
|
Hak THR
|
12
|
6.59
|
|
8.
|
Uang jasa
|
6
|
3.30
|
|
9.
|
KKB
|
5
|
2.75
|
|
10.
|
Pelaksanaan pesangon
|
5
|
2.75
|
|
|
Total
|
182
|
100.00
|
Tuntutan Non Normatif
|
No.
|
Tuntutan
|
Jumlah
Kasus
|
Prosentase
|
|
1.
|
Kenaikan Upah /THR
|
89
|
23.67
|
|
2.
|
Menu / Uang makan
|
53
|
14.10
|
|
3.
|
Transport
|
33
|
8.78
|
|
4.
|
Insentif / Kesejahteraan
|
32
|
8.51
|
|
5.
|
Solidaritas
|
23
|
6.12
|
|
6.
|
Bonus
|
18
|
4.79
|
|
7.
|
Tunjangan Sembako
|
17
|
4.52
|
|
8.
|
Intimidasi / Skorsing
|
16
|
4.26
|
|
9.
|
Kontrak Kerja
|
16
|
4.26
|
|
10.
|
Manager SDM mundur
|
14
|
3.72
|
|
11.
|
Pesangon
|
10
|
2.66
|
|
12.
|
Catering
|
9
|
2.39
|
|
13.
|
Pakaian kerja
|
9
|
2.39
|
|
14.
|
Premi Kehadiran
|
8
|
2.13
|
|
15.
|
Kerja kembali
|
7
|
1.86
|
|
16.
|
Uang shift
|
7
|
1.86
|
|
17.
|
Sarana ibadah
|
6
|
1.60
|
|
18.
|
Pengangkatan
|
4
|
1.06
|
|
19.
|
Surat sakit
|
3
|
0.8
|
|
20.
|
Slip gaji
|
2
|
0.53
|
|
|
Total
|
376
|
100.00
|
|
| |
|
| |
Data tahun 2000
|
| |
|
| |
Jika
dilihat dari kedua tabel diatas maka faktor gaji/upah
tampaknya masih mendominasi tuntutan para pekerja.Dalam
kasus PT Kadera AR Indonesia,
aksi mogok dipicu oleh rendahnya gaji karyawan
serta seringnya pimpinan perusahaan bertindak
sewenang-wenang. Namun jika dilihat lebih lanjut akar
masalahnya adalah gaji (tingkat kesejahteraan) karyawan
yang dirasa sudah sangat tidak mencukupi biaya hidup (Kompas,
31 Maret 2001). Hal tersebut dapat dimengerti
mengingat situasi perekonomian yang sangat parah
sehingga para pekerja masih jauh dari sejahtera.
Meskipun pemerintah telah menetapkan UMR di setiap
daerah, namun UMR tersebut selalu dirasakan kurang
akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang selalu lebih
tinggi dibanding kenaikan upah.
|
| |
|
| |
Tuntutan untuk
memperbaiki kesejahteraan hidup tampaknya akan terus
menjadi tuntutan para buruh, mengingat bahwa hal
tersebut merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi
agar para pekerja dapat termotivasi untuk bekerja dengan
baik, seperti yang dikemukakan oleh Abraham Maslow dalam
teori Hirarki Kebutuhan (Hierarchy of Needs Theory).
Jika mengambil teori Hirarki Kebutuhan dari Abraham
Maslow maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
motivasi dan produktivitas pekerja adalah:
-
Physiological (kebutuhan fisik):
adalah upah, rumah, sandang
-
Safety (kebutuhan akan rasa
aman): adalah jabatan, kepastian karir, status
kerja yang jelas
-
Social (kebutuhan akan
hubungan sosial / kasih sayang): adalah hubungan
interpersonal antar rekan kerja, atasan dan bawahan,
dan iklim kerja
-
Esteem (kebutuhan akan
pengakuan / dihargai): adalah penghargaan
perusahaan terhadap individu atas kinerja atau hasil
usahanya, pemberian otonomi
-
Self-actualization (kebutuhan
aktualisasi diri): kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan
perwujudan diri / professionalisme.
|
| |
Berdasarkan
hirarki kebutuhan tersebut di atas maka jika kebutuhan
dasar / fisik dari para buruh masih belum terpenuhi maka
gejolak dan konflik dalam hubungan industrial dipastikan
masih akan marak dikemudian hari
|
| |
|
| |
Hampir
senada dengan pendapat Maslow,
seorang psikolog lain bernama Frederick Herzberg
mengemukakan sebuah teori yang disebut Motivation-Hygiene
Theory. Herzberg
membagi kebutuhan pekerja menjadi dua bagian yaitu: Hygiene
Factors dan Motivational Factors.
|
| |
|
| |
Hygiene factors berhubungan
dengan kebutuhan fisik / biologis seperti makanan,
pakaian dan perumahan. Hygiene factors ini dalam
perusahaan dapat berupa
kebijakan perusahaan, system administrasi, gaji,
iklim kerja, lingkungan kerja, hubungan interpersonal
dan supervisi. Menurut Herberg jika faktor ini telah
dipenuhi oleh perusahaan maka dapat meningkatkan
motivasi meskipun belum menjamin bahwa pekerja akan puas.
Kepuasan kerja dalam hal ini sangat tergantung pada
situasi atau kondisi yang ada pada saat itu. Sebaliknya,
Motivator factors, adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan achievement (prestasi), proses
mencapai suatu prestasi, dan kesempatan untuk
mengembangkan diri secara psikologis. Dalam perusahaan
faktor ini dapat berupa jenis atau nilai suatu pekerjaan
bagi si pemegang jabatan, tanggung jawab, pengakuan atas
prestasi kerja, atau pun prestasi yang dapat diraih oleh
si pekerja. Menurut Herzberg faktor ini lebih dapat
memotivasi si pekerja jika kebutuhan ini dapat dipenuhi.
Secara singkat kedua faktor tersebut dapat
dibedakan dari dua pertanyaan:
-
Mengapa Anda harus bekerja? (Hygiene
factor), dan
-
Apakah yang membuat
Anda bekerja dengan baik? (Motivator factors).
|
| |
Mengapa Pengusaha Menolak untuk Berunding?
|
| |
|