|
 |
|
| |
Cukupkah
Berpikir Positif?
|
|
|
Oleh:
Ubaydillah,
AN
|
| |
Jakarta,
15 November 2005
|
|
|
Antara
Jalan & Tujuan |
|
|
Abraham
Maslow pernah mengeluarkan nasehat bahwa salah satu yang
penting untuk diingat bagi siapa pun yang ingin
mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan antara
jalan dan tujuan dalam praktek hidup. Dalam teori, pasti
semua orang sudah tahu apa itu perbedaan antara jalan
dan tujuan, tetapi dalam praktek, jawabnya belum tentu.
Andaikan
semua orang sudah mengerti perbedaan antara jalan dan
tujuan dalam praktek, tentulah ilmu manajemen tidak
sampai berpetuah: “Jangan menjadikan aktivitas sebagai
tujuan”. Aktivitas adalah jalan, cara atau sarana
sedangkan tujuan adalah sasaran yang hendak kita
wujudkan dengan cara yang kita terapkan. Aktivitas
bukanlah tujuan dan tujuan bukanlah aktivitas, dan
karena itu perlu dibedakan.
Andaikan
semua orang sudah mengerti perbedaan antara cara dan
tujuan dalam praktek, tentulah Thomas Alva Edison tidak
sampai berpetuah: “Jangan hanya menenggelamkan diri
pada kesibukan demi kesibukan tetapi bertanyalah tujuan
dari kesibukan yang Anda jalani.” Kesibukan kerapkali
melupakan kita akan tujuan dari kesibukan itu dan karena
itulah maka perlu diingatkan.
Dalam
kaitan dengan pembahasan kali ini, mungkin sekali-sekali
kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah berpikir
positif itu jalan atau tujuan? Menggunakannya sebagai
jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada
proses positif yang perlu kita jalani sedangkan
menggunakannya sebagai tujuan berarti kita cukup hanya
sampai pada tahap menciptakan pikiran positif atas
kenyataan buruk di tempat kerja, di sekolah, di kampus
dan di mana-mana.
Memilih
sebagai jalan atau tujuan, sebenarnya adalah hak kita.
Tidak ada orang yang akan melaporkan kita ke polisi
dengan memilih salah satunya. Tetapi kalau kita
berbicara manfaat yang sedikit dan manfaat yang banyak
maka barangkali sudah menjadi keharusan-pribadi untuk
selalu mengingat bahwa berpikir positif itu adalah jalan
yang kita bangun untuk mencapai tujuan yang kita
inginkan. Logisnya bisa dijelaskan bahwa jika jalan yang
kita pilih itu positif, maka perjalanan kita menuju
terminal tujuan juga positif atau terhindar dari
hambatan-hambatan negatif akibat dari kekeliruan kita
dalam memilih jalan. Begitu ‘kan?
Hal
ini agak berbeda sedikit dengan ketika kita memilihnya
sebagai tujuan. Dibilang baik memang sudah baik dan
dibilang untung memang sudah untung. Untung yang paling
riil adalah mendapatkan suasana batin yang positif atau
terhindar dari hal-hal buruk yang diakibatkan oleh
pikiran negatif. Dale
Carnegie menyimpulkan:
“Ingatlah
kebahagiaan tidak tergantung pada siapa dirimu dan apa
yang kamu miliki tetapi tergantung pada apa yang kamu
pikirkan.”
Hanya
saja, jika ini dikaitkan dengan persoalan mengaktualkan
potensi atau meraih prestasi yang lebih tinggi di
bidang-bidang yang sudah kita pilih, tentulah masih
belum final. Mengapa? Perlu disadari bahwa suasana batin
yang sepositif apapun tidak bisa mengaktualisasikan
potensi sedikit meskipun kalau suasana batin kita keruh
akibat pikiran negatif, maka usaha kita untuk
mengaktualisasikan potensi itu dipastikan terhambat.
Jangankan potensi, sampah pun, menurut Tom
Peters, tidak bisa dibuang oleh pemikiran yang
jenius atau oleh strategi yang jitu.
Bahkan
menurut Charles A. O'Reilly, Professor, Stanford
Graduate School of Business, dunia ini tidak peduli
dengan apa yang kita tahu kecuali apa yang kita lakukan.
Puncak
dari kehidupan ini adalah tindakan, bukan pengetahuan.
Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa ukuran penilaian
manusia yang paling akhir adalah aksi, titik.
Ini sudah klop dengan penjelasan Tuhan bahwa kita tidak
mendapatkan balasan dari apa yang kita khayalkan
(fantasi) melainkan dari apa yang kita usahakan.
|
|
|
Rahasia
Berpikir Positif
|
|
|
Dengan
memiliki suasana batin positif, maka ini akan menjadi
sangat kondusif (mendukung) untuk menjalankan proses
positif berikutnya, yang antara lain:
|
| |
1. |
Pelajaran
|
|
|
|
“Hukum
Tuhannya” mengatakan bahwa pelajaran positif itu ada
di mana-mana sepanjang kita mau menggali dan
menyerapnya: di balik kesalahan, kegagalan,
pengkhianatan orang lain atas kita, di balik musibah
buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Hanya saja,
meskipun pelajaran positif itu ada di mana-mana, tetapi
prakteknya membuktikan bahwa pelajaran positif itu tidak
bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh
pikiran-pikiran negatif.
Mendapatkan
pelajaran positif memang tidak langsung mengangkat
prestasi kita tetapi kalau kita ingin mengubah diri kita
untuk menjadi semakin positif maka syarat mutlak yang
harus dimiliki adalah menambah jumlah dan kualitas
pelajaran positif yang kita serap, seperti kata Samuel
Smile dalam salah satu tulisannya: “Tidak
benar jika orang berpikir bahwa kesuksesan diciptakan
dari kesuksesan. Seringkali kesuksesan dihasilkan dari
kegagalan. Persepsi, study, nasehat dan tauladan tidak
bisa mengajarkan kesuksesan sebanyak yang diajarkan oleh
kegagalan.”
|
| |
2. |
Keputusan |
|
|
|
Satu
kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak
mendekte kita harus mengambil keputusan tertentu tetapi
menawarkan pilihan kepada kita. Tawaran itu antara lain
adalah: a) boleh memilih keputusan untuk mundur,b) boleh
memilih keputusan untuk mandek / kembali ke semula dan
c) boleh memilih keputusan untuk terus melangkah dengan
menyiasati, mencari celah kreatif, dan lain-lain.
Nah,
salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk
melahirkan keputusan yang nomor tiga adalah memiliki
batin yang kondusif dan positif. Kita saksikan sendiri
di lapangan bahwa meskipun semua orang punya keinginan
untuk memilih keputusan nomor tiga, tetapi karena hanya
sedikit orang yang punya kemampuan menghilangkan pikiran
negatif, maka prakteknya justru keputusan nomor dua atau
nomor satu yang menjadi pilihan favorit.
Jika
dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, ada hal yang
tidak bisa diingkari bahwa semua orang setiap saat telah
memilih keputusan tertentu tentang apa yang akan
dilakukannya. Dari keputusan yang dipilih itulah lahir
sebuah tindakan yang menjadi penyebab sebuah hasil.
Karena itu ada saran Brian Tracy yang patut kita
renungkan bahwa yang menentukan nasib kita itu bukan apa
yang menimpa kita melainkan keputusan yang kita ambil
atas apa yang menimpa kita. Artinya, keputusan mundur
akan menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan
menghasilkan kemandekan dan keputusan maju akan
menghasilkan kemajuan. |
| |
3. |
Keteraturan
Langkah |
|
|
|
Apa
yang menyebabkan langkah kita terkadang mudah diserang
virus keputusasaan dan kepasrahan? Apa yang terkadang
membuat kita mudah bongkar-pasang rencana hanya karena
mood sesaat? Sebab-sebabnya tentu banyak tetapi salah
satunya adalah pikiran negatif. Sekuat apapun fisik kita
atau sekuat apapun keinginan kita untuk mewujudkan
tujuan, biasanya akan tidak banyak membantu apabila
pikiran ini sudah penuh dengan kotoran negatif. Kita
menjadi orang yang putus asa bukan karena kita tidak
mampu bertahan, melainkan karena kita telah mengambil
keputusan yang fatal.
Nah,
dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal buruk
yang menimpa kita setidak-tidaknya ini menjadi bekal
buat kita untuk melakukan hal-hal positif secara
terus-menerus dalam arti tidak mengandalkan perubahan
keadaan atau tidak mudah disakiti oleh pukulan keadaan.
Seperti pesan Denis Waitley, “Bukan
dirimu yang menjadi penghambat kemajuanmu tetapi muatan
pikiran yang kamu bawa.”
Dari
pesan itu mungkin ada satu hal yang perlu kita ingat
bahwa pikiran negatif yang kita bawa atau yang kita
biarkan itulah yang terkadang menjadi penghambat langkah
kita atau mengganggu kelancaran langkah kita dalam
menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan. Karena itu
paslah jika ada permisalan yang menggambarkan bahwa
pikiran negatif itu akan memberikan kotoran di dada
kita. Dada yang penuh dengan kotoran yang kita biarkan
akan membuat punggung kita terbebani oleh muatan-muatan
yang memberatkan lalu mengakibatkan langkah ini tidak
selancar seperti yang kita inginkan. |
| |
Hal-hal
Apakah yang Perlu Dijalani? |
| |
Di atas sudah kita singgung bahwa menggunakan
pikiran positif sebagai jalan berarti setelah kita
berpikir positif masih ada proses positif yang perlu
kita jalani. Apa yang perlu untuk dijalani? |
| |
1. |
Temukan pelajaran khusus |
|
|
|
Entah
sadar atau tidak, kerapkali istilah berpikir positif ini
hanya kita praktekkan sebatas berprasangka baik,
meyakini adanya hikmah yang mencerahkan, atau sebatas
punya opini positif. Tentu ini sudah benar dan sudah
baik tetapi kalau kita kaitkan dengan hasil sedikit dan
hasil yang lebih banyak, maka proses positif yang perlu
kita lakukan adalah mengaktifkan pikiran kita untuk
menemukan pelajaran-pelajaran spesifik yang benar-benar
cocok dan relevan dengan keadaan-diri kita pada hari
ini.
Sebut
saja misalnya kita gagal dalam usaha. Memang sudah benar
kalau kita berpikir bahwa di balik kegagalan itu ada
hikmah buat kita. Hanya saja hikmah di sini mengandung
pengertian yang seluas isi daratan, alias masih umum.
Kegagalan usaha kita bisa disebabkan oleh waktu yang
belum tepat, kesalahan memilih orang, kurang gigih,
kurang skill, keadaan eksternal yang di luar kontrol,
dan lain-lain. Karena tidak mungkin kita menyerap hikmah
secara keseluruhan dalam satu waktu, maka yang paling
penting adalah menyerap hikmah yang relevan saja sebagai
bahan mengoreksi diri. |
| |
2.
|
Gunakan dalam hal khusus |
|
|
|
Banyak
pengalaman yang sudah menguji bahwa memiliki rumusan
tujuan yang jelas dan jelas-jelas diperjuangkan,
ternyata memiliki manfaat cukup besar bagi proses
positif. Dengan kata lain, untuk bisa menggunakan
pelajaran yang sudah kita serap menuntut adanya rumusan
tujuan yang kita upayakan realisasinya. Tanpa ini,
mungkin saja pelajaran positif yang kita temukan itu
akan nganggur alias kurang banyak manfaatnya.
J.M.
Barrie memberikan contoh dari pengalamannya: “Selama
lebih dari 30 tahun saya memimpin, saya sampai pada
kesimpulan bahwa yang paling penting di sini adalah
memiliki kemampuan yang saya sebut “kegagalan maju”.
Kemampuan ini bukan sekedar memiliki sikap positif
terhadap kesalahan.
Kegagalan maju adalah kemampuan untuk bangkit
setelah anda dipukul mundur, kemampuan untuk belajar
dari kesalahan dan kemampuan untuk melangkah maju ke
arah yang lebih baik.”
Dengan
kata lain, agar kita bisa menjadikan kegagalan kita
sebagai dorongan untuk meraih kemajuan tidak cukup hanya
dengan memiliki pikiran positif dan sikap positif atas
kegagalan itu, melainkan dibutuhkan upaya kita untuk
menggunakan pelajaran yang sudah kita dapatkan dalam
usaha meraih keinginan berikutnya. Pelajaran,
pengetahuan, dan petunjuk pengalaman yang tidak kita
gunakan untuk membimbing praktek kita pada hari ini akan
menjadi dokuman yang nilai dan manfaatnya kurang.
|
| |
3.
|
Membuka
Diri |
|
|
|
Seperti
yang sudah kita singgung di muka bahwa pelajaran positif
yang ada di balik satu masalah, satu kenyataan buruk,
atau di balik peristiwa yang kita alami dalam praktek
hidup itu sangatlah tidak terbatas, tidak tunggal, tidak
mono, dan karena itu sering disebut petunjuk (hidayah).
Saking banyaknya itu, maka tidak mungkin ruangan milik
kita bisa sanggup menyerap seluruhnya dan sekaligus
sehingga yang dibutuhkan adalah membuka diri atas
berbagai pelajaran positif yang diwahyukan oleh
kesalahan kita, kesalahan orang lain yang kita lihat,
temuan ilmu pengetahuan, nasehat, dan seterusnya.
Cak
Nur pernah berpesan: “Sikap terbuka adalah sebagian
dari pada iman. Sebab seseorang tidak mungkin menerima
pencerahan dan kebenaran jika dia tidak
terbuka.” Sikap terbuka menurut Ajaran Kejawen (Javanese
Spiritual Doktrine) merupakan syarat untuk
mengarungi jagat “kaweruh” (sains, tehnologi, dst).
“Syarat utama bagi pelajar adalah memiliki kemampuan
dalam menghilangkan atau menyimpan untuk sementara waktu
pemahaman dogmatis yang telah dimiliki dan mempersiapkan
diri dengan keterbukaan hati-pikiran untuk merambah
jagat ilmu pengetahuan. Selamat menggunakan. (jp) |
| |
__________________________
|
|