 |
Sistem
Manajemen SDM Berbasiskan Kompetensi
|
| |
Oleh:
Arbono Lasmahadi**
|
| |
Jakarta,
12 Desember 2002
|
| |
Raymond, seorang Manajer Sumber Daya Manusia di sebuah
perusahaan asing tampak serius mengamati laporan
pemeriksaan psikologis dari staffnya, Susan. Laporan ini
dia terima dari sebuah biro konsultasi psikologi
terkenal, beberapa bulan yang lalu, sebagai bagian dari
proses rekrutmen dan seleksi yang dilakukan terhadap
Susan. Ia masih tidak percaya bahwa hasil pemeriksaan
psikologis yang sangat baik dari Susan ternyata tidak
membuatnya menghasilkan kinerja yang superior seperti
yang diramalkan oleh hasil pengukuran psikologis
tersebut. Raymond merasa bahwa selama ini ia telah
memberikan cukup bimbingan, pelatihan dan fasilitas yang
diperlukan oleh Susan agar berhasil dalam pekerjaannya.
Namun kinerja yang diharapkannya tidak kunjung muncul
dari Susan. Berdasarkan pengalaman tersebut, muncul
pertanyaan dalam diri Raymond “Seandainya hasil
pemeriksaan psikologis yang memberikan rekomendasi
sangat baik tidak mampu memprediksikan keberhasilan
kinerja seseorang, lalu metode apakah yang secara
efektif dapat meramalkannya ?”
|
| |
Masalah yang dihadapi oleh Raymond di atas pada
dasarnya mirip dengan masalah yang terus-menerus
dihadapi oleh United States Information Agency (USIA),
saat melakukan proses seleksi calon pegawainya, pada
awal tahun 1970-an. Dari kajian yang dilakukan oleh
badan tersebut ternyata ditemukan bahwa nilai tinggi
yang diperoleh dari hasil pengukuran psikologis,
ternyata tidak memprediksikan keberhasilan dalam
pekerjaan. Hal ini yang mendorong David C McClelland,
Psikolog, pakar motivasi dan “achivement”, untuk memperkenalkan sebuah
pengukuran kepribadian yang dapat mengenali
sikap-sikap dan tingkah laku-tingkah laku yang
dimiliki oleh orang-orang yang prestasinya sangat baik.
(Lucia & Lepsinger, 1999). Pendekatan yang dipakai
oleh David C McClelland di atas kelak akan menjadi cikal
bakal pengembangan model-model kompetensi. Pengalaman penulis dalam melakukan proses rekrutmen dan
seleksi dengan menggunakan pendekatan
konvensional, yaitu dengan menggunakan pengukuran
psikologis yang terstandardisasi,
menunjukkan bahwa pendekatan ini tidaklah selalu
berhasil dengan baik dalam meramalkan keberhasilan calon
pekerja pada pekerjaannya kelak. Akibatnya bisa saja
calon pekerja yang diramalkan akan berhasil dengan baik
dalam pekerjaannya, ternyata belum tentu menampilkan
kinerja yang diharapkan ketika sudah diterima menjadi
pekerja, seperti kasus Susan di atas. Sedangkan di sisi
lain, calon pekerja yang hasil pengukuran psikologisnya
biasa-biasa saja, ternyata tidak selalu menjadi seorang
“mediocre” alias orang yang prestasinya biasa-biasa
saja. Masalah yang dihadapi Raymond, seperti halnya yang
dialami penulis, juga dialami oleh banyak perusahaan.
Mereka juga mengalami kesulitan dalam menentukan
kapasitas yang dimiliki oleh calon pekerja atau
pekerjanya yang
sangat diperlukan untuk mencapai kesuksesan dalam
pekerjaannya. Perilaku-perilaku yang diperlukan untuk
mencapai kinerja yang superior bervariasi dari satu
bisnis ke bisnis lainnya, dari satu peran ke peran
lainnya di dalam organisasi. Menghadap kesulitan
tersebut, sudah banyak organisasi, khususnya
perusahaan-perusahaan berskala besar yang telah mulai menggunakan model-model kompetensi (competency
models) untuk membantu mereka mengenali
ketrampilan-ketrampilan, pengetahuan dan karakteristik
pribadi yang sangat penting, yang dibutuhkan untuk
berhasil mencapai kinerja yang superior. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai
model-model kompetensi, aplikasinya
dan manfaatnya bagi sistem Manajemen Sumber Daya
Manusia dan cara pengembangannya di dalam perusahaan,
penulis mencoba memaparkannya dalam uraian
berikut ini.
|
|
|
Definisi
|
| |
Menurut Kamus Kompetensi LOMA (1998), kompetensi didefinisikan sebagai aspek-aspek pribadi
dari seorang pekerja yang memungkinkan dia untuk
mencapai kinerja yang superior. Aspek-aspek pribadi ini
termasuk sifat, motif-motif, sistem nilai, sikap ,
pengetahuan, dan ketrampilan. Kompetensi-kompetensi akan
mengarahkan tingkah laku. Sedangkan tingkah laku akan
menghasilkan kinerja.
Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua aspek-aspek pribadi dari
seseorang pekerja itu merupakan kompetensi. Hanya
aspek-aspek pribadi yang mendorong dirinya untuk
mencapai kinerja yang superiorlah yang merupakan
kompetensi yang dimilikinya. Selain itu, juga dapat
disimpulkan bahwa kompetensi akan selalu terkait dengan
kinerja yang superior.
Model kompetensi didefinisikan sebagai suatu rangkaian
kompetensi yang penting bagi kinerja yang superior dari
sebuah pekerjaan atau sekelompok pekerjaan. Model
kompetensi ini memberikan sebuah peta yang membantu
seseorang memahami cara terbaik mencapai keberhasilan
dalam pekerjaan atau memahami cara mengatasi suatu situasi tertentu (LOMA,s
Competency Dictionary,
1998).
|
|
|
Aplikasi
|
|
|
Menurut Kamus Kompetensi LOMA ( 1998) aplikasi dari
model kompetensi pada sistem Manajemen Sumber Daya
Manusia muncul pada area-area berikut :
|
|
|
Staffing
|
|
|
Strategi-strategi rekrutmen dan tes-tes yang digunakan
untuk seleksi didasarkan atas kompetensi-kompetesi
kritikal dari pekerjaan
|
|
|
Evaluasi Kinerja
|
|
|
Penilaian kinerja dari pekerja didasarkan atas
kompetensi-kompetensi yang dikaitkan dengan target
–target yang penting dari organisasi
|
|
|
Pelatihan
|
|
|
Program-program pelatihan dirancang untuk menjembatani
kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki pekerja dan
kompetensi yang diharapkan dimiliki pekerja
|
|
|
Pengembangan
|
|
|
Para pekerja pertama kali diukur untuk mengenali
kesenjangan kompetensinya; kemudian mereka dibimbing
untuk membuat rencana-rencana pengambangan untuk
menutupi kesenjangan yang ada
|
|
|
Reward
& Recognition
|
|
|
Para pekerja diberikan kompensasi untuk
prestasi-prestasi dan tingkah laku-tingkah laku yang
mencerminkan tingkat ketrampilan mereka pada
kompetensi-kompetensi kunci.
|
|
|
Hal tersebut di atas sejalan dengan pendapat dari
Michael Amstrong dalam Handbook of Human Resources
Management Practice (2001) yang mengemukakan bahwa
penerapan kompetensi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
dilakukan dalam proses rekrutmen dan seleksi, assessment
centres, manajemen kinerja, pengembangan SDM, dan
manajemen imbal jasa.
|
|
|
Manfaat
|
|
|
Aplikasi dari model-model kompetensi di perusahaan
dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan sistem Manajemen Sumber Daya Manusia yang ada di dalam
perusahaan, seperti yang diungkapkan oleh Lucia dan
Lepsinger ( 1999) berikut :
|
|
|
Seleksi
|
|
|
-
Memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai
persyaratan-persayaratan jabatan
-
Meningkatkan kemungkinan untuk merekrut pekerja yang akan
berhasil di dalam pekerjaannya.
-
Meminimalkan investasi (baik waktu dan uang) pada pekerja
yang mungkin tidak memenuhi harapan perusahaan.
-
Memastikan proses wawancara yang lebih sistematis.
-
Membantu
membedakan kompetensi-kompetensi yang dapat
dilatihkan dan kompetensi-kompetensi yang sulit
untuk dikembangkan.
|
|
|
Pelatihan dan Pengembangan
|
|
|
-
Memungkinkan pekerja untuk memusatkan perhatian pada
ketrampilan, pengetahuan, dan
karakteristik-karakteristik yang mempunyai dampak
terbesar terhadap efektifitasnya
-
Memastikan bahwa kesempatan-kesempatan untuk melakukan
pelatihan dan pengembangan berjalan selaras
dengan sistem nilai dan strategi-strategi organisasi
-
Memaksimalkan efektifitas dari waktu dan dana yang
digunakan untuk melakukan pelatihan dan pengembangan
-
Memberikan sebuah kerangka untuk melakukan proses
bimbingan dan pemberian umpan balik yang
berkelanjutan
|
|
|
Penilaian Kinerja
|
|
|
-
Memberikan pemahaman bersama tentang hal-hal yang akan
dimonitor dan diukur
-
Memusatkan perhatian dan mendorong proses diskusi
tentang penilaian kinerja
-
Memusatkan perhatian dalam mendapatkan informasi
tentang tingkah laku pekerja dalam pekerjaan
|
|
|
Perencanaan Karir/suksesi
|
|
|
-
Menjelaskan tentang ketrampilan-ketrampilan,
pengetahuan dan karakteristik-karakteristik yang
diperlukan oleh suatu pekerjaan/peran
-
Memberikan metode untuk mengukur kesiapan dari calon
pemegang jabatan atas peran yang akan dipegangnya
-
Memusatkan perhatian dari rencana pelatihan dan
pengembangan pada kompetensi-kompetensi yang belum
dimiliki oleh calon
pemegang jabatan
-
Memungkinkan organisasi untuk melakukan pembandingan (benchmark)
diantara sejumlah karyawan potensial yang
prestasinya sangat baik
|
|
|
Langkah-langkah
Pengembangan Model Kompetensi
|
|
|
Dalam kamus Kompetensi dari LOMA (1998) dipaparkan
langkah-langkah untuk mengembangkan model-model
kompetensi. Langkah-langkah tersebut adalah:
|
|
|
1.
|
Kenali sasaran-sasaran organisasi
yang akan menjadi dasar bagi pengembangan model
kompetensi
|
|
|
|
Untuk berhasil mencapai hasil yang baik dalam penerapan
model kompetensi, maka perusahaan harus mempunyai alasan
yang dari sisi bisnis memaksa perusahaan untuk
menerapkan model ini. Alasan-alasan yang mengarahkan
organisasi untuk menerapkan model ini perlu dikenali
dengan baik. Dengan demikian ketika model ini diterapkan
akan membantu perusahaan dalam mencapai
sasaran-sasarannya. Ada beberapa langkah yang harus
dilakukan dalam tahap ini, yaitu :
|
|
|
|
|
|
|
|
Sebuah Model kompetensi akan efektif bila diselaraskan
dengan strategi, sistem nilai, dan sasaran-sasaran dari
organisasi. Untuk itulah, sebelum membuat keputusan yang
berkaitan dengan pengembangan model kompetensi, maka
para perancang model kompetensi harus secara mendalam
melakukan kajian terhadap strategi, sistem nilai, dan
juga sasaran-sasaran dari perusahaan.
|
|
|
|
|
|
|
|
Pada langkah ini, para perancang model kompetensi harus
melakukan evaluasi terhadap segala kemungkinan
penggunaan model kompetensi di dalam organisasi dan
menetapkan aplikasi-aplikasi yang mempunyai potensi
terbesar, misalnya untuk proses rekrutmen dan seleksi
atau pelatihan dan pengembangan. Untuk aplikasi pertama,
sebaiknya dipilih aplikasi model kompetensi yang akan
memenuhi kebutuhan mendasar dari organisasi, mudah
dilaksanakan, dan yang dapat menunjukkan hasil yang
cepat.
|
|
|
|
|
|
|
|
Sebuah model kompetensi dapat dikembangkan untuk sebuah
pekerjaan, sekelompok pekerjaan, sebuah unit bisnis atau
untuk keseluruhan organisasi. Para perancang model
kompetensi harus menetapkan cakupan dari pengembangan
model kompetensi di dalam organisasi. Beberapa organisasi
mengembangkan “Core Competency Model” berdasarkan
sasaran-sasaran organisasi yang berlaku bagi semua
jabatan atau sebagian besar porsi dari pekerjaan dan
kemudian menambahkan “Job Specific Competencies”
pada sekelompok kecil pekerjaan
|
|
|
2.
|
Merancang
Rencana Untuk Membuat Model
|
|
|
|
Pada tahap
ini, para perancang model kompetensi akan mengambil
langkah-langkah awal untuk mengembangkan
kompetensi-kompetensi yang akan dimasukkan dalam model
yang akan diaplikasikan di dalam organisasi.
Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
|
|
|
|
|
|
|
|
Melibatkan orang-orang yang tepat dalam mengembangkan
model merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Pada
umumnya orang-orang
yang membantu pengembangan model adalah mereka-mereka
yang pada akhirnya menggunakan model kompetensi dengan
sukses. Pertimbangkanlah untuk melibatkan pihak-pihak
berikut ini dalam proses pengembangan model kompetensi
di perusahaan: pimpinan puncak perusahaan, para manajer
yang terkait , para pemegang jabatan yang mempunyai
prestasi yang sangat baik, staf Departemen SDM, dan
ahli-ahli kompetensi.
|
|
|
|
|
|
|
|
Ada beberapa pendekatan atau
metode yang dapat dipakai untuk mengenali Core
Competencies atau Job Specific Competencies.
-
Untuk mengenali core competencies, metode yang paling efektif adalah
dengan melakukan pertemuan dengan para pimpinan
puncak perusahaan. Dalam pertemuan ini terutama
dibahas secara mendalam tantangan-tantangan yang
dihadapi organisasi, misi, dan juga sasaran-sasaran
organisasi dan kompetensi-kompetensi inti
yang diperlukan untuk menghadapi
tantangan-tantangan, untuk mencapai
misi dan sasaran-sasaran tersebut.
-
Untuk mengenali job specific competencies, dapat digunakan beberapa metode
seperti : Focus Group Discussion dan
survey dengan para job expert atau Behavioral
Event Interview dengan para pemegang jababan ,
baik yang prestasinya
sedang-sedang saja, maupun yang prestasinya
superior.
|
|
|
3.
|
Melakukan
Pengumpulan Data
|
|
|
|
Setelah menetapkan pihak-pihak yang akan terlibat dalam
pengembangan model kompetensi, sumber data atau
informasi dan metode pengumpulan data, maka langkah selanjutnya yang harus
dilakukan oleh para perancang model kompetensi adalah
mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan Core
Competencies (kompetensi inti) dan Job
Specific Competencies (kompetensi khusus untuk
pekerjaan tertentu).
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan adalah sebagai
berikut :
|
|
|
|
|
|
|
|
Sebelum memulai pertemuan dengan para pimpinan puncak
perusahaan (atau orang-orang yang mereka nominasikan),
sebaiknya para perancang model kompetensi memberikan
informasi yang tepat mengenai tujuan dan sasaran yang
ingin dicapai dari pertemuan, dan pihak yang
memfasilitasi pertemuan. Agenda yang dibicarakan dalam
pertemuan sebaiknya mencakup hal-hal berikut ini:
-
Proses yang akan dilalui oleh para pimpinan puncak
perusahaan dalam
mengenali Core Competencies,
cara pengenalan job specific competencies
oleh job expert, dan kaitan penggunaan Job Specific
Competencies dan Core Competencies.
-
Keputusan-keputusan tentang jenis-jenis jabatan yang
harus memiliki core competencies (mis : semua
pekerjaan di bawah level manajemen)
dan cara aplikasi model kompetensi (mis :
pengembangan karir, pelatihan, dsb-nya).
-
Kaitan antara Core Competencies dan
tantangan-tantangan , misi, dan sasaran-sasaran
organisasi
-
Konsensus tentang rangkaian Core Competencies
yang akan diaplikasikan di perusahaan dan dukungan
yang diperlukan untuk menerapkannya.
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Focus Group Discussion (FGD). Dalam
proses ini data atau informasi yang luas mengenai
tantangan-tantangan dan persyaratan-persyaratan
jabatan dikumpulkan melalui proses diskusi yang
terstruktur dengan para job expert. Dari hasil FGD
ini, maka kompetensi-kompetensi yang secara jelas
tidak kritikal untuk pekerjaan dapat dihilangkan
lebih awal sebelum diproses lebih lanjut. Alternatif
yang lain, munculnya tambahan-tambahan kompetensi,
khususnya kompetensi yang sifatnya teknis.
-
Survey. Berdasarkan hasil Focus Group
Discussion, sebuah survey dapat dirancang untuk
disebarkan kepada sejumlah besar job expert. Isi
dari survey adalah kompetensi-komptensi yang dipilih
di dalam FGD. Hasil dari survey kemudian
disimpulkan dan dianggap sebagai persepsi dari para
pekerja tentang kompetensi-kompetensi yang
dibutuhkan bagi pekerjaan yang sedang dinilai.
-
Behavioral Event Interview (BEI).
Proses pengumpulan data dilakukan
dengan cara wawancara secara mendalam dengan
sejumlah pemegang jabatan yang mempunyai prestasi
kerja rata-rata dan superior. Tujuan dari wawancara
ini adalah untuk mendapatkan informasi yang lengkap
mengenai cara mereka menangani situasi-situasi
kritis di dalam pekerjaan mereka. Mengingat
pendekatan ini memerlukan waktu yang cukup lama dan
biaya yang cukup besar, maka sebaiknya digunakan
hanya bila pekerjaan yang akan dibuat model
kompetensinya relatif sedikit, dan organisasi dapat
memperoleh interviewer yang terlatih.
|
|
|
4.
|
Menganalisis
Data dan Membuat Kesimpulan
|
|
|
|
Untuk melakukan analisis terhadap data-data yang
diperoleh dari survey, maka para perancang model
kompetensi perlu melakukan langkah-langkah berikut ini:
|
|
|
|
-
Hitunglah respon-respon yang masuk dari masing-masing
kelompok pekerjaan yang model kompetensinya akan
dibuat secara terpisah
-
Buatlah nilai rata-rata, nilai minimum, dan nilai
maksimum dari tingkat
kepentingan dan tingkat ketrampilan yang diperlukan
dari masing-masing kompetensi
-
Buatlah urutan tingkat kepentingan dan tingkat
ketrampilan yang dibutuhkan dari masing-masing
kompetensi dari yang paling tinggi hingga paling
rendah
|
|
|
|
Buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut di atas,
dalam sebuah format yang dapat dipresentasikan kepada
para job expert, sebagai bahan kajian dan diskusi.
Pastikan bahwa dalam kesimpulan tercakup hal-hal berikut:
|
|
|
|
-
Hitunglah respon-respon yang masuk dari masing-masing
kelompok pekerjaan yang model kompetensinya akan
dibuat secara terpisah
-
Buatlah nilai rata-rata, nilai minimum, dan nilai
maksimum dari tingkat
kepentingan dan tingkat ketrampilan yang diperlukan
dari masing-masing kompetensi
-
Buatlah urutan tingkat kepentingan dan tingkat
ketrampilan yang dibutuhkan dari masing-masing
kompetensi mulai dari yang paling tinggi hingga paling
rendah
|
|
|
5.
|
Mendiskusikan
dan Memfinalisasikan Model Kompetensi
|
|
|
|
Pada
tahap ini langkah-langkah yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut:
|
|
|
|
|
|
|
|
Presentasikan hasil survey kepada para pengambil
keputusan
penting di dalam organisasi. Para pengambil
keputusan penting ini adalah meliputi orang-orang
yang tersebut di
bawah ini :
-
Para pimpinan puncak perusahaan
-
Manajer dan staf departemen SDM yang akan
mengaplikasikan model kompetensi ini
-
Para manajer yang akan menjadi pengguna model
kompetensi ini
|
|
|
|
|