|
 |
Analisis
Kebutuhan Pelatihan
|
| |
Oleh: Johanes Papu
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
12 November 2002
|
| |
Pertanyaan-pertanyaan
yang biasanya kami ajukan kepada pihak perusahaan (manajemen)
atau calon klien kami ketika diminta untuk menyusun suatu program pelatihan
bagi mereka adalah: mengapa pihak perusahaan merasa
bahwa pelatihan merupakan jalan keluar dari persoalan
yang sedang dihadapi? Bagaimana pelatihan bisa
memberikan kontribusi terhadap rencana strategic perusahaan?
Siapa saja yang menjadi target pelatihan? Pelatihan
apa saja yang pernah dilakukan dan apa hasilnya? Dan
masih ada beberapa pertanyaan lain.
|
| |
Apa
yang ingin diketahui dari beberapa pertanyaan seperti
tersebut diatas sebenarnya amat sederhana, yaitu
ingin mengetahui sejauhmana perusahaan telah melakukan
analisis kebutuhan pelatihan. Hal ini begitu
penting untuk diketahui sebab tanpa analisis kebutuhan
yang sungguh-sungguh maka dapat
dipastikan bahwa program pelatihan yang dirancang hanya akan berlangsung sukses di ruang kelas
atau tempat pelaksanaan pelatihan semata.
Artinya pelaksanaan pelatihan mungkin berjalan dengan
sangat baik, tetapi pada saat partisipan (peserta
pelatihan) kembali ke tempat kerja masing-masing mereka
menjadi tidak tahu atau bingung bagaimana menerapkan apa
yang telah mereka pelajari dari pelatihan. Kondisi
seperti ini tidak jarang memberikan citra yang negatif
bagi pihak penyelenggara pelatihan (HRD Internal atau
pun HR Consultant dari luar perusahaan) karena dinilai
tidak dapat memberikan kontribusi yang signifikan kepada
partisipan. Oleh karena itu, perusahaan konsultan yang
sungguh-sungguh peduli terhadap hasil pelatihan pasti akan sangat berhati-hati jika diminta untuk menyusun
program pelatihan. Inilah salah satu penyebab
mengapa banyak perusahaan konsultan SDM tidak memiliki
program pelatihan yang bersifat generic (berlaku
umum). Meskipun
harus diakui bahwa kegagalan partisipan untuk dapat
menerapkan apa yang telah dipelajarinya selama pelatihan
ke dalam pekerjaan sehari-hari dipengaruhi oleh berbagai
faktor, namun tak bisa dipungkiri bahwa salah satu
penyebab kegagalan tersebut adalah karena tidak adanya
sinkronisasi antara pelatihan dengan kebutuhan atau
masalah yang dihadapi. Dengan kata lain keputusan untuk
melaksanakan pelatihan tidak didukung oleh data atau
informasi yang memadai dan akurat. Data atau informasi
tersebut misalnya mengapa perusahaan perlu mengadakan
pelatihan, apa jenis pelatihan dan metode yang cocok, siapa peserta yang
harus ikut, hal-hal apa yang harus diajarkan, dan
sebagainya. Data dan informasi
seperti inilah yang harus diperoleh pada tahap
analisis kebutuhan pelatihan (training needs
analysis).
|
|
|
Definisi
|
| |
Secara
umum analisis kebutuhan pelatihan didefinisikan sebagai
suatu proses pengumpulan dan analisis data dalam
rangka mengidentifikasi bidang-bidang atau faktor-faktor
apa saja yang ada di dalam perusahaan yang perlu
ditingkatkan atau diperbaiki agar kinerja pegawai dan
produktivitas perusahaan menjadi meningkat. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk memperoleh data akurat tentang
apakah ada kebutuhan untuk menyelenggarakan pelatihan.
Mengingat
bahwa pelatihan pada dasarnya diselenggarakan
sebagai sarana untuk menghilangkan atau setidaknya
mengurangi gap (kesenjangan)
antara kinerja yang ada saat ini dengan kinerja
standard atau yang diharapkan untuk dilakukan oleh si
pegawai, maka dalam hal ini analisis
kebutuhan pelatihan merupakan alat untuk
mengidentifikasi gap-gap yang ada tersebut dan
melakukan analisis apakah gap-gap tersebut dapat
dikurangi atau dihilangkan melalui suatu pelatihan. Selain
itu dengan analisis kebutuhan pelatihan maka pihak
penyelenggara pelatihan (HRD atau Divisi Training) dapat memperkirakan
manfaat-manfaat apa saja yang bisa didapatkan dari suatu
pelatihan, baik bagi partisipan sebagai individu maupun
bagi perusahaan.
Jika
ditelaah secara lebih lanjut, maka analisis
kebutuhan pelatihan memiliki beberapa tujuan,
diantaranya adalah:
-
memastikan
bahwa pelatihan memang merupakan salah satu solusi
untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja pegawai
dan produktivitas perusahaan
-
memastikan
bahwa para partisipan yang mengikuti pelatihan
benar-benar orang-orang yang tepat
-
memastikan
bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan
selama pelatihan benar-benar sesuai dengan
elemen-elemen kerja yang dituntut dalam suatu
jabatan tertentu
-
mengidentifikasi
bahwa jenis pelatihan dan metode yang dipilih sesuai
dengan tema atau materi pelatihan
-
memastikan
bahwa penurunan kinerja atau pun masalah yang ada
adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan,
ketrampilan dan sikap-sikap kerja; bukan oleh
alasan-alasan lain yang tidak bisa diselesaikan
melalui pelatihan
-
memperhitungkan
untung-ruginya melaksanakan pelatihan
mengingat bahwa sebuah pelatihan pasti membutuhkan
sejumlah dana.
|
|
|
Beberapa
Faktor
|
|
|
Mengingat
bahwa data dan informasi yang harus dikumpulkan dan
dianalisis menyangkut manusia (adanya gap antara
pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang ada dengan yang diharapkan) dan
organisasi/perusahaan (rencana dan tujuan perusahaan, SAP, manfaat
pelatihan, dsb) maka analisis kebutuhan pelatihan
seyogyanya mencakup kedua area tersebut. Oleh
karena itu data yang harus dikumpulkan mencakup beberapa
faktor sebagai berikut:
|
|
|
Alasan
|
|
|
Perusahaan
adalah suatu sistem. Artinya di dalam perusahaan
terdapat beberapa divisi atau bagian yang saling
berhubungan satu dengan yang lain. Dengan adanya
berbagai divisi tersebut maka kebutuhan akan pelatihan
dapat berbeda-beda antara divisi yang satu dengan yang
lain. Oleh karena itu, pada tahapan ini perancang
program pelatihan (baca: Training Manager/Officer
yang mewakili HRD atau Divisi Training) dituntut untuk benar-benar jeli dalam
melihat kebutuhan yang ada. Ia harus meluangkan banyak
waktu untuk mendengarkan pendapat dari berbagai pihak,
mengetahui dengan pasti siapa yang berwenang memutuskan
adanya pelatihan, dan apa kaitan pelatihan yang akan
dirancang dengan rencana strategic perusahaan. Dalam
banyak kasus kebutuhan pelatihan mungkin diajukan atau
diminta oleh manager atau supervisor dari divisi
tertentu yang ada dalam perusahaan. Selain itu ada juga
pelatihan yang bersifat menyeluruh, dalam arti bahwa
pelatihan tersebut merupakan suatu policy dari
pihak manajemen untuk mensosialisasikan visi, misi, dan
tujuan perusahaan, termasuk rencana strategic yang akan
dijalankan. Meski kedua hal tersebut sebenarnya telah
mengindikasikan adanya kebutuhan pelatihan, namun
perancang pelatihan harus dapat menggali lebih dalam
lagi sejauhmana kebutuhan tersebut dapat direalisasikan.
Ia harus bisa menggali informasi-informasi seperti:
apakah program pelatihan serupa pernah dilaksanakan dan
apa hasilnya? Apakah pelatihan tersebut benar-benar akan
bermanfaat bagi divisi tertentu dan secara langsung
ataupun tidak langsung akan memberikan dampak positif
bagi kinerja semua divisi yang ada dalam perusahaan?
Kondisi atau situasi seperti apa sebenarnya yang
mendorong dilakukannya pelatihan tersebut? Lalu
apa sebenarnya yang diharapkan dari pelatihan tersebut?
|
|
|
Peserta
|
|
|
Satu
hal yang sangat krusial dalam suatu pelatihan adalah
menentukan siapa yang menjadi peserta pelatihan tersebut. Peserta
yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah mencakup partisipan dan
juga trainer/facilitator dari pelatihan tersebut.
Mengapa hal ini dikategorikan sebagai hal yang krusial
tidak lain adalah karena peserta akan sangat menentukan
format pelatihan. Selain itu para partisipan adalah
individu-individu yang akan membawa apa yang diperoleh
dalam pelatihan ke dalam pekerjaan mereka sehari-hari
sehingga akan memiliki dampak pada perusahaan. Dengan mengetahui peserta pelatihan perancang
program pelatihan dapat menentukan format yang tepat;
apakah akan menggunakan format ruang kelas (classroom
setting), belajar sendiri (self-study
or self-journey), belajar dari pengalaman (experiential
learning or learning by doing), atau
menggunakan beberapa format sekaligus. Selain
itu, dengan mengetahui siapa peserta pelatihan maka perancang
program pelatihan akan dapat menggali lebih jauh
berbagai informasi seperti:
-
apa
saja persyaratan minimal (pendidikan, pengalaman dan
ketrampilan) yang harus dipenuhi oleh partisipan
untuk dapat mengikuti pelatihan?
-
apa
dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan yang telah
dimiliki partisipan, termasuk pelatihan apa saja
yang pernah diikuti sebelumnya?
-
apa
saja persyaratan yang harus dipenuhi oleh trainer/facilitator
untuk dapat menyelenggarkan pelatihan? apakah akan
menggunakan trainer dari dalam perusahaan atau
menggunakan trainer dari luar?
-
bagaimana
data demography para partisipan?
|
|
|
Pekerjaan
|
|
|
Data
atau informasi yang berhubungan dengan aspek pekerjaan
yang harus dikumpulkan dan dianalisis mencakup hal-hal
seperti: jenis pekerjaan (jabatan) apa yang sedang di review dan
apa fungsi utama pekerjan (jabatan) tersebut, apa saja kompetensi
yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan secara optimal, apa standard kinerja yang harus
dipenuhi oleh pegawai, apakah pegawai sudah memenuhi
standard kinerja yang diharapkan, dsb. Pada intinya
analisis kebutuhan pelatihan yang mencakup aspek
pekerjaan bertujuan mengumpulkan informasi seputar
fungsi dan tanggung jawab jabatan, tingkat kinerja yang
diharapkan, dan kemampuan serta ketrampilan apa saja
yang harus dimiliki oleh individu atau kelompok (divisi) untuk dapat memenuhi
standard kinerja yang diharapkan. Bagi
perusahaan-perusahaan yang telah memiliki uraian jabatan
mungkin akan lebih mudah bagi si perancang program untuk
memperoleh data. Namun bagi perusahaan yang belum
memiliki uraian jabatan maka si perancang program akan
membutuhkan banyak waktu untuk melakukan analisis
jabatan.
|
|
|
Materi
|
|
|
Bagi
perusahaan-perusahaan yang sudah terbiasa melakukan
pelatihan, materi pelatihan mungkin sudah tersedia untuk
berbagai jabatan. Meski demikian hal ini tidaklah
berarti bahwa materi tersebut selalu cocok untuk setiap
peserta dan setiap situasi. Materi pelatihan yang baik
harus selalu diperbaharui sesuai dengan kondisi yang ada
supaya isi (content) dari pelatihan benar-benar
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan si partisipan. Hal
yang mendasar untuk diketahui dalam menentukan materi
yang akan dirancang dalam sebuah program pelatihan
adalah apakah materi yang akan diberikan merupakan suatu
hal yang bersifat essential atau tidak. Jika ya,
maka materi tersebut harus dimasukkan dalam pelatihan.
Jika hal ini sudah ditentukan, maka selanjutnya baru
dipilih topik-topik penting yang perlu diajarkan dalam
pelatihan, bagaimana mengajarkannya dan hal-hal apa saja
yang perlu dijelaskan lebih lanjut supaya lebih
memudahkan partisipan dalam memahami materi tersebut.
|
|
|
Dukungan
|
|
|
Mengingat
bahwa hal-hal yang mempengaruhi kinerja pegawai maupun
perusahaan secara keseluruhan tidak hanya ditentukan
oleh pelatihan, maka si perancang pelatihan harus
benar-benar dapat memastikan bahwa ia mendapatkan
dukungan dari berbagai pihak di dalam perusahaan. Dukungan
tersebut adalah berupa komitmen dari para manager
atau supervisor untuk menciptakan suasana yang kondusif
bagi para partisipan untuk dapat menerapkan apa yang
telah mereka pelajari dalam pelatihan. Suasana kondusif
tersebut misalnya: menempatkan pegawai pada jabatan yang
sesuai dengan kompetensinya, memberikan feedback
tentang kinerja pegawai secara periodik, mendengarkan
keluhan dan masalah yang dihadapi pegawai dalam
menerapkan apa yang telah dipelajari, memberikan reward
atau recognition bagi pegawai yang berhasil
memenuhi standard kinerja yang diharapkan, menegur atau
memberikan sanksi kepada pegawai yang tidak menunjukkan
kinerja yang optimal, dsb. Komitmen
tersebut amat penting diperoleh mengingat bahwa
pelatihan bukanlah sarana yang tepat untuk mengendalikan
hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan pengetahuan
dan ketrampilan. Dengan perkataan lain pelatihan
hanyalah merupakan sarana yang berguna untuk
menghilangkan atau mengurangi adanya kesenjangan antara
pengetahuan dan ketrampilan yang ada dengan yang
diharapkan. Pelatihan tidak bisa dengan mudah
dianggap sebagai sarana untuk mengurangi tingkat
ketidakhadiran pegawai, mengatasi PHk atau perampingan
perusahaan, meningkatkan gaji dan menciptakan motivasi
kerja pegawai di lapangan. Pelatihan juga tidak akan
serta merta melahirkan standard kinerja yang diharapkan
jika di tempat kerja sehari-hari tidak ada kriteria
penilaian tentang standard kinerja tersebut. Selain itu
pelatihan tidak bisa menggantikan peran manager ataupun
supervisor dalam memberikan feedback kepada bawahannya.
Oleh karena itu, dalam analisis kebutuhan pelatihan si
perancang program harus dapat memastikan bahwa pelatihan
tidak akan disalahgunakan oleh pihak manajemen atau pun
para manager/supervisor untuk melepaskan tanggungjawab
atas ketidakberhasilan mereka dalam mengatasi permasalahan yang ada.
Sebaliknya pelatihan harus dipandang sebagai sarana
pendukung bagi keberhasilan pihak manajemen atau para
manager/supervisor dalam melaksanakan tugas dan
tanggungjawab mereka. Tanpa adanya komitmen yang
sungguh-sungguh dari pihak manajemen atau para
manager/supervisor maka dapat dipastikan bahwa pelatihan
hanya akan berjalan sukses di ruang kelas atau tempat
pelaksanaan pelatihan saja.
|
|
|
Biaya
|
|
|
Sekecil
apapun kegiatan pelatihan pasti membutuhkan dana. Oleh
karena itu amat penting untuk menghitung untung rugi
dari pelaksanaan suatu pelatihan. Dalam hal ini si
perancang program pelatihan harus mengumpulkan berbagai
informasi yang menyangkut hal-hal seperti: biaya apa
saja yang harus dikeluarkan untuk partisipan maupun trainer, apa keuntungan yang akan diperoleh dari
pelatihan tersebut dan berapa lama hal itu bisa dicapai,
apakah biaya pelatihan masih sesuai dengan budget yang
ada, dsb. Salah satu cara yang cukup populer untuk
menghitung untung rugi suatu pelatihan adalah dengan
mengukur ROI.
|
|
|
Memilih Metode
|
| |
Sebelum
menentukan metode yang akan digunakan dalam pengumpulan
data, maka perlu dipikirkan sumber-sumber data yang
bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan
pelatihan. Sumber-sumber data tersebut diantaranya
adalah:
-
Riset
atau survey (critical incidents research, working
climate survey, customer service survey, dsb)
-
Penilaian
kinerja (performance appraisal)
-
Perencanaan
karir pegawai
-
Perubahan
prosedur kerja dan perkembangan teknologi
-
Perencanaan
SDM
Jika
faktor-faktor yang akan dianalisis sudah diketahui dan
sumber-sumber data dapat ditentukan maka perancang
program pelatihan dapat memilih beberapa metode
pengumpulan data sebagai berikut:
|
|
|
-
Kuestioner
-
Obervasi
-
Wawancara
-
Focus
group
-
Regular
meeting
-
Mempelajari
data perusahaan
-
Mempelajari
uraian jabatan
-
Membentuk
kelompok pakar/penasehat
|
|
|
Dengan
memperhatikan hal-hal yang telah saya uraikan diatas,
besar harapan saya bahwa program pelatihan yang
akan anda susun dapat berlangsung sukses baik dalam
pelaksanaannya maupun pada saat para partisipan kembali
ke tempat kerja untuk menerapkan pengetahuan dan
ketrampilan yang di peroleh ke dalam pekerjaan mereka
sehari-hari. Meskipun mungkin tidak semua faktor diatas
harus dianalisis (ada pelatihan tertentu yang tidak
perlu menganalisis semua faktor), namun semakin banyak data dan informasi yang bisa
dikumpulkan dalam analisis kebutuhan pelatihan maka akan
semakin mudah bagi si perancang program pelatihan untuk
menggambarkan persyaratan-peryaratan yang diinginkan
oleh perusahaan, kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki
pegawai, kesenjangan antara pengetahuan, ketrampilan dan
kemampuan yang ada dengan yang diharapkan dan bagaimana
cara terbaik untuk menghilangkan kesenjangan tersebut.
Dengan melakukan analisis kebutuhan pelatihan secara
sungguh-sungguh maka niscaya program pelatihan yang
dirancang akan dapat dilaksanakan secara efisien dan
efektif. Selamat mencoba. Semoga berguna untuk meningkatkan
kemampuan dan ketrampilan para pekerja kita. (jp)
|
| |
__________________________
|
|