Perselingkuhan
karena Problem Pribadi di Masa Lalu
Perselingkuhan
yang terjadi antara suami istri sebenarnya tidak lepas
dari urusan pribadi masing-masing. Perlu disadari,
bahwa dalam perkawinan terdapat dua orang yang punya
karakter dan kepribadian yang sangat berbeda satu sama
lain sebagai hasil bentukan dari pola asuh orang tua
di masa lalu, pengaruh lingkungan dan juga unsur
genetika (keturunan).
Banyak dari kita yang belum menyadari, bahwa
ternyata diri kita sendiri sebenarnya merupakan
pangkal dari semua masalah akibat ketidakmatangan
emosi dan ketidakharmonisan (konflik) yang sedang
terjadi dalam hidup kita secara pribadi. Sayangnya,
kedua hal tersebut sering belum selesai bahkan sampai
memasuki dunia perkawinan. Memang di awal perkawinan
semua tampak manis dan harmonis karena keduanya masih
berusaha menampilkan diri sebaik-baiknya. Namun lama
kelamaan, ibarat orang menggunakan topeng terus-menerus
sehingga akhirnya kecapaian sendiri, maka sama saja
halnya dengan kehidupan suami istri. Lama-lama kita
akhirnya harus berhadapan tidak saja dengan realita
tentang pasangan, tetapi juga realita diri sendiri.
Kita tidak bisa berlama-lama sembunyi di balik
kepalsuan karena hal itu sangat menguras energi. Lama-
kelamaan, keluarlah keaslian diri kita yang tercermin
dalam sikap, perilaku dan pola pikir yang
termanifestasi setiap hari, seperti dalam memandang
dan menyelesaikan persoalan, mengambil keputusan,
mempersepsi suatu keadaan, nilai dan prinsip yang
dimilikinya, mekanisme pertahanan diri dalam
menghadapi tekanan, dalam berinteraksi dengan pasangan
dan orang lain, pola asuhnya terhadap keturunannya
sendiri, proses
penyesuaian diri, kesehatan mental, masalah kejiwaan
yang muncul di kemudian hari, bahkan mempengaruhi
pemilihan terhadap pasangan hidup.
Jadi, sebenarnya jangankan mengurus diri orang
lain, mengurus diri sendiri itu lah yang paling sulit
karena berhadapan dengan diri sendiri adalah situasi
yang sama sekali tidak menyenangkan bagi kebanyakan
orang. Lama-kelamaan, diri kita yang asli mulai
menuntut pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita
dan memperlakukan kita seperti yang kita inginkan.
Kalau kita pelajari secara mendalam, mungkin kita akan
temukan adanya benang merah antara bagaimana orang tua
kita dahulu memperlakukan kita dan memenuhi kebutuhan
(emosional dan fisiologis) kita dengan tuntutan kita
terhadap pasangan. Ketidakmatangan emosi yang mungkin
masih menjadi bagian dari diri kita pada dasarnya
merupakan akibat dari proses perkembangan psikologis
selama masa pertumbuhan; dan hal itu juga diwarnai
oleh pola asuh orang tua, terutama pada masa-masa awal
kehidupan seseorang.
Ambil saja contohnya, jika sejak kecil seorang
anak tidak memperoleh kasih sayang dan tidak mendapat
pemenuhan kebutuhan terutama kebutuhan emosional, maka
dalam perkembangan selanjutnya (jika selama proses
kehidupan selanjutnya situasi ini konstan dan tidak
ada perubahan yang positif), ia juga akan tumbuh
menjadi orang yang sulit untuk menunjukkan afeksi,
kasih sayang dan perhatian pada orang lain; bahkan
bisa saja muncul elemen ketidakmampuan untuk
mempercayai orang lain karena waktu masih kecil, tidak
ada satu orang pun yang bisa ia percayai (bahkan kedua
orang tuanya) yang secara konstan hadir baginya dan
mampu memberikan kasih sayang serta perhatian secara
konstan. Jadi, kelak pada saat ia mencari pasangan,
dalam alam bawah sadarnya tindakan ini dilandasi oleh
keinginan dan kebutuhan untuk selalu diperhatikan.
Agar ia dapat memastikan bahwa pasangannya itu selalu
ada setiap saat ia membutuhkan (tidak seperti orang
tuanya dahulu), maka biasanya akan muncul kemudian
sikap-sikap seperti kecemburuan yang berlebihan,
terlalu membatasi kegiatan pasangan, kecurigaan dan
kekhawatiran berlebihan terhadap kesetiaan pasangan,
keinginan untuk selalu diprioritaskan dalam setiap
perkara dan tuntutan untuk selalu diperhatikan dan
dipenuhi keinginannya. Jika sang pasangan punya sikap
dan tindakan yang di luar keinginannya, ia kemudian
merasa dikhianati, diacuhkan, merasa tidak
diperhatikan, merasa dirinya tidak penting lagi,
merasa dirinya tidak lagi dicintai, merasa pasangan
sudah tidak menaruh hormat lagi padanya, merasa diri
sudah tidak lagi menarik bagi pasangan, bahkan merasa
dirinya hendak disingkirkan secara perlahan-lahan.
Pikiran-pikiran negatif tersebut akhirnya
berputar-putar dalam benaknya sehingga secara tidak
sadar ia jadi terlalu sensitif dalam menanggapi
kejadian yang sebenarnya masih normal dan wajar.
Misalnya, ketika suami harus pergi ke acara sendirian
(karena sifatnya yang formal), istrinya kemudian
berpikir dirinya sengaja tidak diajak karena suaminya
ingin mengajak wanita lain, atau merasa suaminya malu
membawa dirinya yang dirasa sudah tidak menarik lagi,
atau karena tingkat pendidikannya tidak sebanding
dengan suami atau rekan kerjanya sehingga takut
obrolannya tidak nyambung.
Karena sering terjadi hal-hal demikian, maka
dapat dipastikan akan timbul kejengkelan dan salah paham
yang tidak ada ujung pangkalnya karena masing-masing
bersikukuh pada pendapat dan keyakinannya sendiri.
Akibatnya, pihak yang tadinya tidak punya maksud
apa-apa, jadi kesal, marah dan merasa lelah akan sikap
pasangannya. Lantas, yang tadinya memang pulang larut
malam karena tuntutan pekerjaan, akhirnya sering
pulang malam mencari hiburan untuk melepaskan diri
dari stress di rumah. Dan karena setiap orang pada
suatu saat perlu seseorang yang dapat menjadi curahan
emosi, terbukalah jalan baginya untuk mencari
substitusi dari pasangan yang sudah tidak bisa lagi
menjadi teman bicara yang enak. Kalau ternyata ada
seseorang yang mampu memberikan perhatian dan
pengertian yang selama ini tidak ditemukan dalam diri
pasangannya yang kerjanya di rumah hanya marah-marah,
maka terbukalah kesempatan untuk menciptakan
hubungan yang melibatkan faktor emosi, Jika sudah
demikian, terjadilah perselingkuhan yang selama ini
ditakuti atau pun
menjadi bahan kecurigaan istri. Hal ini lah yang
diistilahkan dalam psikologi sebagai self-fulfilling
prophecy.
Pola Yang
Berulang
Tanpa sadar, ada sebagian dari diri kita yang
juga ada pada diri kedua orang tua kita dan akhirnya
mewarnai hubungan kita baik dengan istri atau suami
dan dengan anak-anak. Coba saja kita bayangkan. Apakah
cara kita mengasuh anak-anak ada kemiripan dengan cara
kita dahulu diasuh dan dididik oleh ayah dan ibu kita
? Atau apakah cara kita berkomunikasi atau
berinteraksi dengan istri/suami hampir sama atau ada
hal-hal yang sama dengan cara orang tua kita dahulu
berinteraksi satu sama lain ? Yang lebih ekstrim lagi,
kita coba memperhatikan, apakah sikap dan perilaku
anak kita ada kemiripan dengan sikap dan perilaku kita
dahulu (coba saja tanya pada orang tua kita) ?
Dari situ kita bisa menyimpulkan, bahwa apa yang
dialami oleh diri kita dan perkawinan kita saat ini,
bukanlah merupakan kasus tunggal yang terjadi begitu
saja. Semua itu ada hubungan sebab akibatnya dengan
masa lampau. Jadi, semua problem psikologis, termasuk
ketidakmatangan emosional maupun konflik-konflik dalam
diri sendiri pada dasarnya punya akar di masa lalu.
Kita memang tidak boleh begitu saja menyalahkan kedua
orang tua kita yang sudah susah payah mendidik dan
membesarkan kita dengan tulus hati, karena bagaimana
pun juga hal itu bukanlah kesalahan mereka sepenuhnya,
dan lagi mereka juga tidak melakukannya dengan
kesadaran karena pola yang mereka terapkan pada diri
kita, juga mereka terima dari kedua orang tua mereka
di masa lalu.
Selama kedua pihak masih bisa berpikir jernih,
dan mau memeriksa diri, maka kemungkinan besar masih
bisa mengendalikan diri untuk mencegah terjadinya
konflik yang berkepanjangan baik itu yang terpendam
maupun secara terbuka. Namun, jika salah satu pihak
atau bahkan keduanya sudah menutup diri terhadap
penyelesaian masalah karena merasa diri yang paling
benar dan pasangan kita yang salah, maka hal itu tidak
hanya akan mengakibatkan memburuknya hubungan
perkawinan, namun bahkan yang lebih serius, tidak
membuat masing-masing bertumbuh dalam pribadi yang
lebih dewasa dan matang setelah mampu menerima dan
kemudian mengolah elemen-elemen negatif diri sendiri
untuk kemudian mentransformasikannya menjadi sesuatu
yang positif bagi pertumbuhan jiwa yang sehat.
Kegagalan untuk mempertumbuhkan diri sendiri inilah
yang akhirnya akan membawa pada kegagalan selanjutnya
meskipun misalnya orang tersebut menikah lagi. Oleh
karena itu, sering kita mendengar ada orang-orang yang
berulang kali kawin-cerai dan selalu karena masalah
yang kurang lebih sama sifatnya. Masalah itu bukan
hanya terletak pada orang lain, tapi justru
kemungkinan besar terletak pada diri sendiri yang
tampaknya sudah waktunya untuk menjalani transformasi.
_____________________________