Ketidakpuasan
dalam Kehidupan
Perkawinan Karena Harapan dan Impian akan Romantisme
“Harapan yang terlalu tinggi terhadap
pasangan dan terhadap kehidupan perkawinan itu sendiri
dapat menjadi bumerang bagi kelangsungan hidup
perkawinan seseorang”
Banyak
orang terlalu cepat merasa tidak puas dalam kehidupan
perkawinan yang mungkin baru saja dijalani beberapa
saat. Seringkali mereka tidak sadar, bahwa mereka
sendiri lah yang membuka peluang bagi ketidakpuasan
tersebut karena sejak awal mereka sudah menaruh
harapan dan impian yang terlalu tinggi baik terhadap
pasangan maupun terhadap kehidupan perkawinan itu
sendiri. Setelah mereka menghadapi kenyataan hidup
yang sebenarnya, mereka lantas merasa kecewa dan mulai
menyalahkan pasangannya.
Seringkali
mereka lupa, bahwa ketidakmatangan pribadi mereka
sendiri lah yang ikut mempengaruhi dinamika yang
terjadi dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga.
Lama kelamaan, karena masing-masing tidak berusaha
untuk memperbaiki diri malah mencari hiburan dan
kompensasinya sendiri, maka cinta yang menjadi
pengikat di antara mereka semakin pudar. Bagaimana pun
juga, jika dalam sebuah keluarga atau pun perkawinan
sudah tidak diwarnai oleh perasaan cinta dan afeksi
terhadap pasangan, mudah sekali timbul kebosanan di
antara mereka. Jika kebosanan itu tidak segera
ditanggulangi, maka lambat laun akan
mempengaruhi sikap dan perilaku interaksi serta
komunikasi antara pasangan tersebut. Sikap apatis,
pasif atau bahkan pasif-agresif bisa menjadi indikasi
adanya masalah dalam kehidupan perkawinan seseorang. Emotional
divorce banyak dialami oleh keluarga-keluarga
mulai dari keluarga baru hingga keluarga yang sudah
bertahun-tahun lamanya sehingga cinta kasih yang
menggebu pada akhirnya padam dan menjadi dingin.
Meskipun secara fisik pasangan suami istri tersebut
tidak hidup secara terpisah (masih tinggal serumah),
namun secara emosional sudah terdapat jarak yang
membentang. Dengan pudarnya cinta di antara mereka,
semakin longgarlah ikatan dan komunikasi di antara
suami istri tersebut sehingga mendorong salah satu
atau keduanya untuk mencari seseorang yang dapat
memenuhi kebutuhan, entah itu kebutuhan emosional
maupun kebutuhan fisik seperti kebutuhan seksual.
_____________________________