| |
Bagaimana
pun juga, bentuk hubungan yang abusive sudah tentu
membawa dampak negatif pada diri dan kehidupan pasangan.
Pihak pasangan tidak hanya menderita secara fisik,
tetapi juga mengalami tekanan mental yang berat sehingga
menghancurkan harga diri dan rasa percaya diri secara
perlahan-lahan namun pasti. Tidak hanya itu, tekanan
yang dialami oleh pasangan menyebabkan dirinya merasa
terperangkap, terjebak dan tidak ada jalan keluar selain
menerima “nasib” dengan cara melayani sebaik-baiknya
pasangan yang menyiksa (dengan harapan tidak akan
menyiksanya jika dilayani lebih baik lagi) serta lebih
“mengorbankan” diri lagi dari hari ke hari.
Dampak
psikis yang berpotensi timbul selanjutnya adalah
munculnya depresi, keinginan / usaha bunuh diri, dan
bahkan ketergantungan yang kronis dengan pasangan yang
menyiksa (karena harga diri yang sudah lemah sehingga
muncul persepsi bahwa mereka layak untuk mendapatkan
siksaan/perlakuan demikian).
Oleh
sebab itu, masalah ini haruslah ditangani segera oleh
ahlinya karena jika terlambat, maka dampaknya akan jauh
lebih dasyat lagi, baik itu terhadap keluarga, pasangan
dan terlebih anak-anaknya. Agar diketahui, anak-anak
adalah pihak yang paling rentan terkena dampak yang
paling buruk dan bersifat jangka panjang....dan apa yang
terjadi dalam kehidupan perkawian orang tua mereka,
berpotensi terulang kembali pada kehidupan perkawinan
mereka kelak di masa dewasa....... bagaimana tidak,
mereka tidak hanya menjadi penonton, namun juga menjadi
peserta atau pelengkap penderita yang juga merasakan
semua emosi-emosi yang beredar dalam keluarga.
Mereka bertumbuh dengan mencontoh sikap dan
perilaku orang tua mereka...dan mereka juga belajar
bagaimana memperlakukan orang lain dari orang tua mereka......Jadi,
tidaklah mengherankan jika mereka menjadi orang yang
hampir serupa dengan orang tua...karena dalam dirinya
ada elemen-elemen yang mereka internalisasi dan akhirnya
menjadi bagian dari diri mereka pula......tanpa mereka
sadari dan kehendaki......(jr)
|