|
|
| |
| |
Wanita Bekerja
|
| |
Oleh
Jacinta F. Rini
|
| |
Team
e-psikologi
Jakarta,
28 Mei 2002
|
|
|
Banyak
persoalan yang dialami oleh para wanita - ibu rumah
tangga yang bekerja di luar rumah, seperti bagaimana
mengatur waktu dengan suami dan anak hingga mengurus
tugas-tugas rumah tangga dengan baik. Ada yang bisa
menikmati peran ganda-nya, namun ada yang merasa
kesulitan hingga akhirnya persoalan-persoalan rumit kian
berkembang dalam hidup sehari-hari. Nah, jika dengan
bekerja – ternyata mendatangkan problem yang cukup
memusingkan, maka pertanyaannya, apakah manfaatnya jika
seorang ibu pergi bekerja mencari nafkah di luar rumah?
Artikel berikut ini akan mengupas masalah yang sering
dihadapi oleh para ibu yang bekerja, dengan tidak lupa
memberikan beberapa alternatif solusi yang dapat
diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
|
|
|
Sumber
Masalah
|
|
|
Sejak jaman dahulu hingga kini, persoalan yang dihadapi
oleh kaum ibu yang bekerja di luar rumah sepertinya
tidak jauh berbeda.
Berbagai hambatan dan kesulitan yang mereka alami
dari masa ke masa, berasal dari sumber-sumber yang sama.
Faktor-faktor yang biasanya menjadi sumber persoalan
bagi para ibu yang bekerja dapat diberdakan sebagai
berikut:
|
|
|
1.
Faktor Internal
|
|
|
|
Yang
dimaksud dengan faktor internal adalah persoalan yang
timbul dalam diri pribadi sang ibu tersebut. Ada di
antara para ibu yang lebih senang jika dirinya
benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga, yang
sehari-hari berkutat di rumah dan mengatur rumah tangga.
Namun, keadaan “menuntut” nya untuk bekerja, untuk
menyokong keuangan keluarga. Kondisi tersebut mudah
menimbulkan stress karena bekerja bukanlah timbul
dari keinginan diri namun seakan tidak punya pilihan
lain demi membantu ekonomi rumah tangga. Biasanya, para
ibu yang mengalami masalah demikian, cenderung merasa
sangat lelah (terutama secara psikis), karena seharian “memaksakan diri” untuk bertahan di tempat kerja.
|
|
|
|
Selain
itu ada pula tekanan yang timbul sebagai akibat dari
pelaksanaan peran ganda itu sendiri. Memang, kemampuan
“manajemen waktu dan rumah tangga” merupakan salah
satu kesulitan yang paling sering dihadapi oleh para ibu
bekerja. Mereka harus dapat memainkan peran mereka
sebaik mungkin baik di tempat kerja maupun di rumah.
Mereka sadar, mereka harus bisa menjadi ibu yang sabar
dan bijaksana untuk anak-anak – serta menjadi istri
yang baik bagi suami serta menjadi ibu ruman tangga yang
bertanggung jawab atas keperluan dan urusan rumah tangga.
Di tempat kerja, mereka pun mempunyai komitmen dan
tanggung jawab atas pekerjaan yang dipercayakan pada
mereka hingga mereka harus menunjukkan prestasi kerja
yang baik. Sementara itu, dari dalam diri mereka pun
sudah ada keinginan ideal untuk berhasil melaksanakan
kedua peran tersebut secara proporsional dan seimbang.
|
|
|
|
Namun
demikian kenyataan ideal tersebut cukup sulit untuk
dicapai karena beberapa faktor, misalnya pekerjaan di
kantor sangat berat, sedangkan suami di rumah kurang
bisa “bekerja sama” untuk ikut menyelesaikan
pekerjaan rumah, sementara anak-anak juga menuntut
perhatian dirinya. Akhirnya, sang ibu tersebut akan
merasa sangat lelah karena dirinya merasa dituntut untuk
terus memberi dan memenuhi kebutuhan orang lain. Belum
lagi, jika ternyata suami dan anak-anak merasa “kurang
mendapat perhatian”, tidak heran jika lama kelamaan
dirinya mulai dihinggapi depresi, karena merasa tidak
bisa membahagiakan keluarganya.
|
|
|
2.
Faktor Eksternal
|
|
|
|
a.
|
Dukungan
suami
|
|
|
|
|
Dukungan
suami dapat diterjemahkan sebagai sikap-sikap penuh
pengertian yang ditunjukkan dalam bentuk kerja sama yang
positif, ikut membantu
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, membantu
mengurus anak-anak serta memberikan dukungan moral dan
emosional terhadap karir atau pekerjaan istrinya. Di
Indonesia, iklim paternalistik dan otoritarian yang
sangat kuat, turut menjadi faktor yang membebani peran
ibu bekerja, karena masih terdapat pemahaman bahwa pria
tidak boleh mengerjakan pekerjaan wanita, apalagi ikut
mengurus masalah rumah tangga. Masalah rumah tangga
adalah kewajiban sepenuhnya seorang istri. Masalah yang
kemudian timbul akibat bekerjanya sang istri, sepenuhnya
merupakan kesalahan dari istri dan untuk itu ia harus
bertanggung jawab menyelesaikannya sendiri.
|
|
|
|
|
Keadaan
tersebut, akan menjadi sumber tekanan yang berat bagi
istri, sehingga ia pun akan sulit merasakan kepuasan
dalam bekerja. Kurangnya dukungan suami, membuat peran
sang ibu di rumah pun tidak optimal (karena terlalu
banyak yang masih harus dikerjakan sementara dirinya
juga merasa lelah sesudah bekerja) – akibatnya, timbul
rasa bersalah karena merasa diri bukan ibu dan istri
yang baik.
|
|
|
|
b.
|
Kehadiran
anak
|
|
|
|
|
Masalah
pengasuhan terhadap anak, biasanya dialami oleh para ibu
bekerja yang mempunyai anak kecil/balita/batita. Semakin
kecil usia anak, maka semakin besar tingkat stress
yang dirasakan. Rasa bersalah karena meninggalkan anak
untuk seharian bekerja, merupakan persoalan yang sering
dipendam oleh para ibu yang bekerja. Apalagi jika
pengasuh yang ada tidak dapat diandalkan/dipercaya,
sementara tidak ada famili lain yang dapat membantu.
|
|
|
|
c.
|
Masalah
pekerjaan
|
|
|
|
|
Pekerjaan,
bisa menjadi sumber ketegangan dan stress yang
besar bagi para ibu bekerja. Mulai dari peraturan kerja
yang kaku, bos yang tidak bijaksana, beban kerja yang
berat, ketidakadilan yang dirasakan di tempat kerja,
rekan-rekan yang sulit bekerja sama, waktu kerja yang
sangat panjang, atau pun ketidaknyamanan psikologis yang
dialami akibat dari problem sosial-politis di tempat
kerja. Situasi demikian akan membuat sang ibu menjadi
amat lelah, sementara kehadirannya masih sangat
dinantikan oleh keluarga di rumah. Kelelahan psikis dan
fisik itu lah yang sering membuat mereka sensitif dan
emosional, baik terhadap anak-anak maupun terhadap suami.
Keadaan ini biasanya makin intens, kala situasi di rumah
tidak mendukung – dalam arti, suami (terutama) dan
anak-anak (yang sudah besar) kurang bisa bekerja sama
untuk mau “gantian” melayani dan membantu sang ibu,
atau sekedar meringankan pekerjaan rumah tangga.
|
|
|
3.
Faktor Relasional
|
|
|
|
Dengan
bekerjanya suami dan istri, maka otomatis waktu untuk
keluarga menjadi terbagi. Memang, penanganan terhadap
pekerjaan rumah tangga bisa diselesaikan dengan
disediakannya pengasuh serta pembantu rumah tangga.
Namun demikian, ada hal-hal yang sulit dicari
substitusinya, seperti masalah kebersamaan bersama suami
dan anak-anak. Padahal, kebersamaan bersama suami dalam
suasana rileks, santai dan hangat merupakan kegiatan
penting yang tidak bisa diabaikan, untuk membina,
mempertahankan dan menjaga kedekatan relasi serta
keterbukaan komunikasi satu dengan yang lain.
|
|
|
|
Tidak
jarang, kurangnya waktu untuk keluarga, membuat seorang
ibu merasa dirinya tidak bisa berbicara secara terbuka
dengan suaminya, bertukar pikiran, mencurahkan pikiran
dan perasaan, atau merasa suaminya tidak lagi bisa
mengerti dirinya, dan akhirnya merasa asing dengan
pasangan sendiri sehingga mulai mencari orang lain yang
dianggap lebih bisa mengerti, dsb. Ini lah yang bisa
membuka peluang terhadap perselingkuhan di tempat kerja.
|
|
|
Motivasi
|
|
|
Apakah yang sebenarnya melandasi tindakan para ibu
tersebut untuk bekerja di luar rumah, atau motif-motif
apa saja yang mendasari kebutuhan mereka untuk bekerja
di luar rumah, hingga mereka mau menghadapi berbagai
resiko atau pun konsekuensi yang bakal dihadapi. Berikut
ini adalah beberapa diantaranya:
|
|
|
1.
Kebutuhan finansial
|
|
|
|
Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan
mendesak, membuat suami dan istri
harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan
sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak
punya pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di
luar rumah, meskipun “hati” nya tidak ingin bekerja.
|
|
|
2.
Kebutuhan sosial-relasional
|
|
|
|
Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja,
karena mempunyai kebutuhan sosial-relasional yang tinggi,
dan tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan
mereka tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu
kebutuhan akan penerimaan sosial, akan adanya identitas
sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul
dengan rekan-rekan di kantor, menjadi agenda yang lebih
menyenangkan dari pada tinggal di rumah. Faktor
psikologis seseorang serta keadaan internal keluarga,
turut mempengaruhi seorang ibu untuk tetap
mempertahankan pekerjaannya.
|
|
|
3.
Kebutuhan aktualisasi diri
|
|
|
|
Abraham
Maslow pada tahun 1960 mengembangkan teori hirarki
kebutuhan, yang salah satunya mengungkapkan bahwa
manusia mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri, dan
menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang
dijalaninya. Bekerja adalah salah satu sarana atau jalan
yang dapat dipergunakan oleh manusia dalam menemukan
makna hidupnya. Dengan berkarya, berkreasi, mencipta,
mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain,
membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu,
menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan,
penerimaan, prestasi – adalah bagian dari proses
penemuan dan pencapaian kepenuhan diri. Kebutuhan akan
aktualiasai diri melalui profesi atau pun karir,
merupakan salah satu pilihan yang banyak diambil oleh
para wanita di jaman sekarang ini – terutama dengan
makin terbukanya kesempatan yang sama pada wanita untuk
meraih jenjang karir yang tinggi.
|
|
|
|
Bagi wanita yang sejak sebelum menikah sudah bekerja
karena dilandasi oleh kebutuhan aktualisasi diri yang
tinggi, maka ia akan cenderung kembali bekerja setelah
menikah dan mempunyai anak. Mereka merasa bekerja dan
pekerjaan adalah hal yang sangat bermanfaat untuk
memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, menyokong sense
of self dan kebanggaan diri – selain mendapatkan
kemandirian secara finansial.
|
|
|
4.
Lain-lain
|
|
|
|
Pada beberapa kasus, ada pula ibu bekerja yang memang
jauh lebih menyukai dunia kerja ketimbang hidup dalam
keluarga. Mereka merasa lebih rileks dan nyaman jika
sedang bekerja dari pada di rumah sendiri. Dan pada
kenyataannya, mereka bekerja agar dapat pergi dan
menghindar dari keluarga.
Kasus ini memang dilandasi oleh persoalan
psikologis yang lebih mendalam, baik terjadi di dalam
diri orang yang bersangkutan maupun dalam hubungan
antara anggota keluarga.
|
|
|
Manfaat
Bekerja Bagi Wanita
|
|
|
Bagaimana pun juga, kerja mempunyai manfaat positif
baik bagi sang ibu bekerja maupun bagi keluarga.
Beberapa segi positifnya adalah :
|
|
|
1.
Mendukung ekonomi rumah tangga
|
|
|
|
Dengan bekerja nya sang ibu, berarti sumber pemasukan
keluarga tidak hanya satu, melainkan dua. Dengan
demikian, pasangan tersebut dapat mengupayakan kualitas
hidup yang lebih baik untuk keluarga, seperti dalam hal
: gizi, pendidikan, tempat tinggal, sandang, liburan dan
hiburan, serta fasilitas kesehatan
|
|
|
2.
Meningkatnya harga diri dan pemantapan identitas
|
|
|
|
Bekerja, memungkinkan seorang wanita mengekspresikan
dirinya sendiri, dengan cara yang kreatif dan produktif,
untuk menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kebanggaan
terhadap diri sendiri, terutama jika prestasinya
tersebut mendapatkan penghargaan dan umpan balik yang
positif. Melalui bekerja, wanita berusaha menemukan arti
dan identitas dirinya; dan pencapaian tersebut
mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan.
|
|
|
3.
Relasi yang sehat dan positif dengan keluarga
|
|
|
|
Wanita yang bekerja, cenderung mempunyai ruang lingkup
yang lebih luas dan bervariasi, sehingga cenderung
mempunyai pola pikir yang lebih terbuka, lebih energik,
mempunyai wawasan yang luas dan lebih dinamis. Dengan
demikian, keberadaan istri bisa menjadi partner bagi
suami, untuk menjadi teman bertukar pikiran, serta
saling membagi harapan, pandangan dan tanggung jawab.
|
|
|
4.
Pemenuhan kebutuhan sosial
|
|
|
|
Setiap manusia, termasuk para ibu, mempunyai kebutuhan
untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain. Dengan
bekerja, seorang wanita juga dapat memenuhi kebutuhan
akan “kebersamaan” dan untuk menjadi bagian dari
suatu komunitas. Bagaimana pun juga, sosialisasi penting
bagi setiap orang untuk mempunyai wawasan dan cara
berpikir yang luas, untuk meningkatkan kemampuan empati
dan kepekaan sosial – dan yang terpenting, untuk dapat
menjadi tempat pengalihan energi secara positif, dari
berbagai masalah yang menimbulkan tekanan/stress,
entah masalah yang sedang dialami dengan suami,
anak-anak maupun dalam pekerjaan. Dengan sejenak bertemu
dengan rekan-rekan, mereka dapat saling sharing,
berbagi perasaan, pandangan dan solusi.
|
|
|
5.
Peningkatan skill dan kompetensi
|
|
|
|
Dengan bekerja, maka seorang wanita harus bisa
menyesuaikan diri dengan tuntutan, baik tuntutan
tanggung jawab maupun tuntutan skill dan
kompetensi. Untuk itu, seorang wanita dituntut untuk
secara kreatif menemukan segi-segi yang bisa
dikembangkan demi kemajuan dirinya. Peningkatan skill
dan kompetensi yang terus menerus akan mendatangkan
“nilai lebih” pada dirinya sebagai seorang karyawan,
selain rasa percaya diri yang mantap.
|
|
|
Beberapa
Hasil Penelitian
|
|
|
Di bawah ini akan diungkapkan beberapa hasil penelitian
menyangkut situasi-situasi keluarga yang keduanya (suami
dan istri) sama-sama bekerja
|
|
|
1.
Kepuasan Hidup
|
|
|
|
Studi tentang kepuasan hidup wanita bekerja yang pernah
dilakukan oleh Ferree (1976) menunjukkan, bahwa wanita
yang bekerja menunjukkan tingkat kepuasan hidup sedikit
lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak
bekerja, meski ada beberapa faktor lain yang ikut
menentukan.
|
|
|
2.
Kebahagiaan Perkawinan
|
|
|
|
Hasil penelitian Freudiger, P. (1983), yang dimuat
dalam Journal of Marriage and the Family, 45, 213 –
219 – tentang ukuran kebahagiaan hidup wanita yang
sudah menikah, ditinjau dari 3 kategori : wanita bekerja,
wanita pernah bekerja dan wanita yang belum pernah
bekerja, menunjukkan bahwa bagi para istri dan ibu
bekerja, kebahagiaan perkawinan adalah tetap menjadi hal
yang utama, dibandingkan dengan kepuasan kerja.
|
|
|
|
Studi lain masih menyangkut kebahagiaan kehidupan para
ibu bekerja, yang dilakukan oleh Walters dan McKenry
(1985) menunjukkan, bahwa mereka cenderung merasa
bahagia selama para ibu bekerja tersebut dapat
mengintegrasikan kehidupan keluarga dan kehidupan kerja
secara harmonis. Jadi, adanya konflik peran yang dialami
oleh ibu bekerja, akan menghambat kepuasan dalam
hidupnya. Perasaan bersalah (meninggalkan perannya
sementara waktu sebagai ibu rumah tangga) yang tersimpan,
membuat sang ibu tersebut tidak dapat menikmati
peran-nya dalam dunia kerja.
|
|
|
3.
Dukungan Suami
|
|
|
|
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jones dan Jones
(1980) terungkap bahwa sikap suami merupakan faktor yang
penting dalam menentukan keberhasilan dual-career
marriage. Suami yang merasa terancam, tersaingi dan
cemburu dengan status “bekerja” istrinya, tidak bisa
bersikap toleran terhadap keberadaan istri yang bekerja.
Ada pula suami yang tidak menganggap pekerjaan istri
menjadi masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi
dan melayani kebutuhan suami. Namun ada pula suami yang
justru mendukung karir istrinya, dan ikut bekerja sama
dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga sehari-hari.
Dalam kondisi yang terakhir ini, pada umumnya sang istri
akan lebih dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan
dalam hidup, keluarga dan karirnya
|
|
|
|
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Scanzoni
(1980) diungkapkan bahwa perkawinan dual-career
dikatakan berhasil jika di antara kedua belah pihak (suami
dan istri) saling memperlakukan pasangannya sebagai partner
yang setara. Pada umumnya, mereka tidak hanya akan
berbagi dalam hal income, namun tidak segan-segan
berbagi dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak.
|
|
|
Beberapa
Kiat
|
|
|
1.
Manajemen
Waktu
|
|
|
|
Manajemen waktu adalah strategi penting yang perlu
diterapkan oleh para ibu bekerja untuk dapat
mengoptimalkan perannya sebagai ibu rumah tangga, istri
dan sekaligus karyawati. Untuk itu ada beberapa anjuran
yang bisa dipraktekkan :
|
|
|
|
a.
|
Tentukan dan tetapkan tujuan Anda dalam bekerja.
|
|
|
|
|
Apakah yang menjadi motivasi dan tujuan Anda dalam
bekerja? Apakah untuk mendapatkan income atau
lebih berorientasi pada karir. Lanjutkan dengan hal-hal
yang menjadi konsekuensi dari tujuan Anda bekerja,
misalnya : seberapa jauhkah Anda ingin melibatkan diri
pada pekerjaan dan berapa lama waktunya? apakah Anda
tetap menginginkan akhir minggu bersama keluarga ?
Pekerjaan macam apakah yang Anda inginkan, full-time
atau part-time? Sesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan Anda beserta keluarga.
|
|
|
|
b.
|
Tetapkan prioritas Anda
|
|
|
|
|
Dengan menetapkan prioritas Anda, Anda dapat mulai
menentukan jenis dan porsi aktivitas untuk masing-masing
peran (sebagai istri, ibu dan karyawan). Misalnya, Anda
dapat menetapkan jadwal kegiatan Anda mulai dari pagi
hingga malam dan sambil memberi fokus pada hal-hal
tertentu yang menjadi target prioritas Anda dalam hidup.
Misalnya, meskipun Anda bekerja, namun sepulang kerja
Anda harus menyediakan waktu yang berkualitas baik untuk
anak maupun suami. Susun agenda agar Anda dapat mengatur
kegiatan secara lebih sistematis dan efisien.
|
|
|
|
c.
|
Delegasikan beberapa tugas (baik tugas kantor maupun
tugas rumah) kepada orang lain.
|
|
|
|
|
Delegasikan
beberapa pekerjaan pada orang lain, untuk dapat
mengefisienkan pekerjaan Anda dan membuat Anda dapat
meluangkan lebih banyak waktu untuk keluarga.
Pendelegasian pekerjaan, membuat Anda akan merasa lebih
rileks dan dapat memfokuskan diri pada pekerjaan yang
betul-betul harus Anda sendiri yang mengerjakan. Jika
pekerjaan terlalu padat, pastikan Anda mendelegasikan
pekerjaan rumah tangga secara rinci pada pembantu rumah
tangga. Pastikan pula, bahwa anak Anda berada dalam
pengasuhan orang yang dapat dipercaya dan diandalkan,
misalnya menitipkan pada orang tua.
Pendelegasian
beberapa pekerjaan rumah tangga pun bermanfaat bagi Anda
agar Anda tidak terlalu lelah dibebani pekerjaan
sehari-hari sehingga kurang dapat menyediakan waktu yang
berkualitas untuk anak dan suami (terlalu sibuk
membereskan pekerjaan rumah)
|
|
|
2.
Manajemen Keluarga
|
|
|
|
Berperan ganda, membutuhkan komitmen yang tinggi baik
sebagai karyawan/profesional maupun sebagai ibu. Jika di
rumah, seorang ibu akan dituntut komitmennya untuk
memberikan perhatian pada anggota yang lain, seperti
suami dan anak sementara tidak melupakan pula tanggung
jawab rumah tangga. Untuk itu, mempekerjakan pembantu
rumah tangga akan sangat membantu meringankan pekerjaan
rutin Anda. Dengan demikian, sepulang kerja atau pun
waktu libur Anda dapat lebih rileks, punya waktu untuk
bersantai bersama keluarga dan bahkan berkomunikasi
secara intensif dengan suami dan anak-anak.
Bagi pasangan yang mempunyai anak relatif lebih besar,
dapat ditanamkan pengertian pada mereka untuk ikut
membantu mengelola tugas rumah tangga sehari-hari.
Ajarkan prinsip kerja sama dan tanggung jawab sejak dini
pada anak, agar ia terbiasa bersikap mandiri,
berinisiatif dan dapat diandalkan.
Jika anak masih kecil, upayakan untuk menyediakan
pengasuh yang baik, bertanggung jawab dan dapat
dipercaya oleh Anda dalam mengasuh anak ketika Anda
pergi bekerja. Alangkah baiknya jika ada anggota
keluarga lain seperti orang tua, adik atau kakak yang
dapat dimintai pertolongan menjaga, mengawasi dan
menemani anak Anda. Mekanisme tersebut tidak ada
salahnya digunakan, terutama karena Anda sendiri pada
waktu-waktu tertentu membutuhkan quality time
bersama suami, entah sekedar makan malam berdua atau
pergi jalan-jalan – agar antara Anda dengan suami,
meskipun sama-sama sibuk, tetap dapat mendekatkan hati
demi memelihara dan mempertahankan keharmonisan
perkawinan.
|
|
|
3.
Manajemen Pekerjaan
|
|
|
|
Untuk mengusahakan quality time bersama keluarga,
Anda perlu bersikap lebih efisien dan produktif dalam
pekerjaan. Makin Anda tidak efisien dan produktif, makin
banyak pekerjaan yang tertunda dan makin Anda malas
untuk menyelesaikannya, hingga menghambat hubungan Anda
dengan keluarga. Meskipun sudah di rumah, pikiran Anda
melayang ke kantor/pekerjaan dan Anda jadi tegang terus
mengingat deadline yang sudah dekat. Akibatnya,
Anda stress dan sensitif terhadap anak-anak dan suami.
Jadi, manajemen keluarga yang baik, dipengaruhi pula
oleh manajemen waktu dan produktivitas yang baik di
tempat kerja. Seperti yang telah diungkap sebelumnya,
jika mungkin, delegasikan beberapa pekerjaan yang dapat
Anda berikan pada orang lain agar waktu kerja Anda lebih
efisien dan produktivitas Anda pun maksmimal.
|
|
|
4.
Manajemen Diri
|
|
|
|
Untuk bisa mengatur diri sendiri, Anda perlu mengenali
diri sendiri. Kenalilah, seberapa tinggi tingkat
toleransi Anda terhadap stress dan hal-hal apa saja yang
dapat membuat Anda stress. Hindarkan
tindakan-tindakan atau kegiatan yang hanya akan menambah
persoalan, dan rubahlah cara berpikir irrasional yang
mengganggu kenyamanan hidup Anda. Dari pada memikirkan
hal-hal yang negatif, mengkhawatirkan hal-hal yang belum
pasti, lebih baik jika Anda sudah mulai stress
karena overload atau kelelahan, istirahatlah
sejenak ! Ambillah waktu bersantai, untuk melakukan
kegiatan dan hobi yang Anda suka, misalnya berenang,
membaca buku, bersantai di rumah, mengunjungi teman
lama, pergi ke tempat wisata – intinya, menimba energi
baru. Dengan tersedianya energi baru, maka Anda akan
lebih mempunyai daya tahan yang kuat menghadapi tekanan
yang datang dari masalah-masalah di tempat kerja maupun
di rumah.
Ciptakan suasana rileks dalam hati Anda dan berpikirlah
positif, agar Anda tidak terlalu tegang dan mudah
reaktif terhadap orang lain. Sering-sering bercanda (humor)
dengan keluarga dan teman-teman, sangat bermanfaat untuk
melepaskan kejenuhan, ketegangan dan kebosanan.
|
|
|
5.
Memelihara Dukungan Sosial
|
|
|
|
Memelihara hubungan baik dengan rekan-rekan di
sekeliling Anda serta atasan, sangatlah penting untuk
mencegah timbulnya masalah yang tidak perlu. Bahkan,
dukungan moril dan emosional dari rekan-rekan dan atasan,
dapat membuat Anda lebih bersemangat kerja. Keberadaan
mereka, juga dapat berperan dalam membantu Anda saat
menghadapi masalah keluarga. Pengertian dan perhatian
mereka, membuat Anda merasa lebih nyaman saat Anda harus
meninggalkan kantor atau menunda pekerjaan karena
masalah-masalah berat dan penting di keluarga.
Keberadaan rekan-rekan, akan membantu Anda dalam
mendelegasikan beberapa pekerjaan. (jp)
|
| |
______________________________
|
| |
|
|