|
|
 |
| |
Membina
Hubungan Menantu - Mertua
|
| |
|
|
|
Jakarta,18
November 2002
|
|
|
Bagi
sebagian pasangan, permasalahan hubungan antara menantu
dengan mertua seringkali menjadi pemicu timbulnya
konflik antara suami dengan istri atau sebaliknya.
Meksipun di masa kini sudah banyak pasangan yang tidak
lagi tinggal serumah dengan mertua (pondok mertua indah),
namun hal tersebut bukan berarti bahwa masalah menantu -mertua
tidak lagi terjadi. Hal ini mengingat bahwa
sebagai anggota dari suatu keluarga besar, maka mertua
dan menantu pasti akan sering bertemu dan saling
berinteraksi, misalnya pada saat perayaan ulang tahun,
hari raya atau ketika
menengok
cucu (bagi sang mertua) atau menengok nenek (bagi sang
cucu). Dalam
menyikapi masalah menantu dengan mertua, mungkin ada
yang berkata: “Ah, gua sich cuek aja!” atau “Enggak
gua pikirin tuh!” atau sikap tidak peduli lainnya.
Awalnya sikap-sikap tersebut mungkin bisa
berhasil atau mungkin dianggap sebagai hal yang biasa,
tetapi jika tidak segera disadari dan diambil tindakan
nyata, maka cepat atau lambat permasalahan ini tentu
akan memiliki dampak yang tidak menyenangkan baik bagi
mertua dan menantu maupun bagi seluruh anggota keluarga
besar. Mengapa
permasalahan seperti ini bisa terjadi dan bagaimana cara
menanganinya sehingga hubungan antara menantu dengan
mertua dapat berlangsung harmonis? Artikel ini ditulis
untuk memberikan gambaran mengapa masalah ini terjadi
dan diakhiri dengan beberapa saran untuk memperbaiki
hubungan yang mungkin sudah terlanjur
tidak harmonis.
|
|
|
Menantu
Perempuan vs Mertua Perempuan
|
|
|
Sub
judul diatas amat menarik untuk dicermati. Biasanya
pertanyaan yang muncul di benak pembaca adalah mengapa
yang menjadi sorotan hanya menantu perempuan dan mertua
perempuan. Jawabannya adalah karena kasus-kasus yang
sering terdengar biasanya lebih banyak melibatkan
menantu perempuan dan mertua perempuan. namun demikian,
hal ini tentu tidak bisa diartikan bahwa menantu lelaki
tidak pernah menghadapi masalah dengan mertua lelaki
maupun mertua perempuan atau antara menantu perempuan
dengan mertua lelaki.
|
|
|
Mengapa
jarang
terdengar (meskipun ada) masalah antara menantu lelaki
dengan mertua perempuan, atau menantu perempuan dengan
mertua lelaki, atau menantu lelaki dengan mertua lelaki?
Pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan argumentasi
klasik bahwa lelaki dan perempuan pada dasarnya memang
memiliki perbedaan.
Menurut John Gray dalam bukunya Men Are From
Mars, Women Are From Venus, perbedaan mendasar
antara lelaki dengan perempuan dapat digambarkan sebagai
berikut:
|
|
|
|
Lelaki
|
Perempuan
|
|
Sense of self dinilai dari prestasi
Lebih berorientasi pada tugas
Mandiri
Minta bantuan dapat diartikan sebagai lemah
|
Sense of self dinilai dari kemampuan
membina hubungan
Lebih berorientasi pada hubungan
Saling tergantung
Minta bantuan berart menghormati
orang yang dimintai bantuan
|
|
Fokus pada tujuan
|
Menikmati proses
|
|
Bersaing
|
Bekerjasama
|
|
Mengandalkan kemampuan
analisis
|
Mengandalkan kemampuan
intuisi
|
|
Cara pikir Linear: fokus pada
satu hal dalam satu waktu, dan terkotak-kotak
|
Multi-tasking: berkutat dengan hal-hal
kecil dalam satu waktu, dan sambung-menyambung (seperti
gulungan benang)
|
|
Bertindak
Merasa lebih baik dengan menyelesaikan masalahnya
|
Berbicara
Merasa lebih baik dengan membicarakan masalahnya
|
|
Saat stress: cenderung
menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan atau
menarik diri.
|
Saat stress: semakin terlibat
dengan orang lain, lebih banyak berbicara agar
dapat
didengarkan dan dimengerti
|
|
Kebutuhan utama: dihormati
(dipercaya, diterima, dihargai, dikagumi,
diteguhkan, didukung).
|
Kebutuhan utama: di-ayom-i
(diperhatikan secara lembut, dimengerti, dihormati,
dilindungi, diteguhkan, penghiburan).
|
|
Kata-kata digunakan untuk
menyampaikan fakta dan informasi
|
Kata-kata merupakan sesuatu
yang alami, sama halnya seperti bernafas
|
Dengan
melihat beberapa perbedaan diatas, tentunya dapat
dimengerti mengapa masalah menantu–mertua kebanyakan
terjadi diantara kaum perempuan. Permasalahan yang
terjadi seringkali cukup sulit diatasi,
bahkan bagi mereka yang terlalu larut didalam
masalah ini hubungannya dengan suami bisa menjadi rusak
dan tidak mesra lagi.
Apalagi jika suami tidak bisa menjadi pendamai
karena merasa terjepit ditengah-tengah istri dan
orangtua.
|
|
|
Apa
yang Sebaiknya Anda Lakukan
|
|
|
Pada
dasarnya penyelesaian suatu masalah pasti akan sangat
tergantung pada diri individu itu sendiri. Dialah yang
bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah yang sedang
dihadapinya. Jika harus menunggu pihak lain maka tentu
akan sulit mencari suatu penyelesaian. Bagi anda yang
mungkin mengalami masalah dengan mertua atau menantu,
ada baiknya anda mempertimbangkan beberapa saran berikut
ini:
|
|
|
1.
|
Mulailah
berdamai dengan diri sendiri
|
|
|
Berdamai
dengan diri sendiri artinya menciptakan suasana tenang
dalam diri sendiri dan membuang berbagai pikiran negatif
yang muncul. Adapun cara-cara yang bisa dilakukan adalah:
|
|
|
-
Ambil
jarak dengan cara mengurangi jumlah pertemuan atau
bila perlu tidak bertemu sama sekali untuk sementara
waktu
-
Alihkan
pikiran secara total pada hal-hal lain yang lebih
positif , misalnya urusan anak/cucu, suami, rumah,
pekerjaan, dan terutama ibadat (mendekatkan diri
pada Tuhan).
|
|
|
2.
|
Interospeksi
Diri
|
|
|
Setelah
suasana hati menjadi lebih tenang dan dapat berpikir
dengan lebih jernih, mulailah memeriksa diri mengapa
masing-masing (mertua dan menantu) bersikap saling
menyebalkan – terlepas dari apa yang dipermasalahkan.
Tanyakan pada diri anda sendiri apakah selama ini anda
selalu mencari pembenaran atas segala tindakan yang anda
lakukan terhadap mertua/menantu daripada melihat suatu
masalah secara obyektif? Tidak adakah hal-hal positif
atau masa-masa indah yang telah dilalui bersama-sama?
Apakah untung ruginya jika terus-terusan
bermasalah dengan mertua/menantu?
Lakukan
introspeksi diri secara mendalam. Ingatlah bahwa setiap
perselisihan
pasti melibatkan lebih dari satu orang dan dalam hal ini
tidak ada yang tidak bersalah. Oleh karena itu, jika
sebelumnya anda cenderung
memikirkan setiap hal secara negatif dan selalu
menyalahkan orang lain, cobalah sekarang belajar sedikit
demi sedikit melihat permasalahan secara obyektif.
Mulailah dengan mengubah pola pikir anda.
Ingatlah
ungkapan yang mengatakan: "change your thoughts
and you change your world". Selain itu cobalah belajar
untuk tidak menghakimi atau menilai orang lain dengan
nilai-nilai yang ada dalam diri sendiri.
Sebab
jika cara seperti itu yang anda gunakan maka akan
sulit bagi anda untuk memulai inisiatif penyelesaian
masalah dengan mertua/menantu. Mother
Teresa pernah mengatakan “If you judge people, you
have no time to love them”
|
|
|
3.
|
Mulailah
belajar untuk memahami beberapa hal seperti:
|
|
|
-
Setiap
keluarga mempunyai budayanya sendiri-sendiri, begitu
juga antara menantu dan mertua memiliki budaya
keluarga yang berbeda atau bertolak belakang.
Yang dimaksud dengan budaya keluarga disini
adalah aturan, didikan, kebiasaan-kebiasaan, dan
nilai-nilai yang berlaku dalam suatu keluarga.
Semua itu tentu saja membentuk karakter,
sikap, dan pembawaan individu dalam kesehariannya
dan dalam menghadapi masalah. (lihat juga artikel: Pengaruh
Keluarga Asal Terhadap Perkawinan)
-
Meski
dalam masyarakat kita ada pendapat
bahwa bila sudah menikah dengan anaknya maka seorang
menantu dianggap sebagai anak oleh sang mertua dan
bila menikah dengan seseorang berarti menikah juga
dengan keluarganya,
namun hal itu tidak boleh dilihat secara mutlak dan
terjadi secara instant. Dalam kenyataan, komunikasi
antara menantu–mertua mungkin tidak akan sebebas
antara anak–orangtua. Artinya ada hal-hal yang
harus tetap dijaga oleh pihak menantu
dalam berinteraksi dengan mertua dan sebaliknya. Dengan
demikian kedua pihak tidak boleh saling memaksakan
kehendak untuk diakui sebagai anak (bagi menantu)
atau pun dianggap sebagai orangtua (bagi mertua).
Haruslah disadari bahwa untuk sampai pada tahap
seperti itu pasti dibutuhkan waktu untuk saling
menyesuaikan diri dan saling memahami.
-
Sebagai
individu yang tentu memiliki berbagai kekurangan,
maka seorang menantu atau mertua tentu pernah
melakukan kehilafan atau kesalahan dalam proses
berinteraksi. Hal tersebut tentu tidak serta merta
harus dilihat sebagai suatu ancaman atau serangan.
Tindakan atau sikap yang salah tersebut jika
ditelaah secara obyektif mungkin juga pernah
ditunjukkan oleh orang tua sendiri (bagi menantu)
atau anak sendiri (bagi mertua). Oleh karena itu,
seorang menantu atau mertua harus mampu melihat dan
memahami permasalahan secara obyektif.
|
|
|
4.
|
Jangan
mudah terpancing dengan informasi atau gosip yang
diberikan oleh pihak ketiga.
Jika mendapat pengaduan dari pihak ketiga
mengenai sang mertua/menantu – terlepas dari
kepentingan si pihak ketiga – ingatlah bahwa besar
kemungkinan ada kata-kata yang hilang atau ditambahkan
yang menyebabkan sebuah informasi jadi melenceng dari
maksud aslinya. Dalam menyikapi hal seperti ini maka
alangkah baiknya jika informasi yang diterima langsung
dikonfirmasikan ke pihak yang bersangkutan.
|
|
|
5.
|
Jika
anda membutuhkan orang lain untuk "curhat",
maka pastikan orang tersebut benar-benar dapat dipercaya.
Jangan sampai apa yang anda sampaikan pada orang
tersebut justru menyebar ke pihak lain. Jika memang anda
tidak yakin untuk bisa mempercayai kerabat atau pun
teman anda, maka carilah orang-orang yang memang
memiliki kompetensi dalam membantu penyelesaian masalah
anda. Orang-orang tersebut misalnya konselor perkawinan,
psikolog maupun psikiater. Dengan melakukan curhat atau
konsultasi pada orang-orang tersebut, maka semua rahasia
anda pasti akan terjaga dengan baik. Selain itu anda pun
akan dibantu dalam mencarikan solusi atas permasalahan
yang sedang dihadapi.
|
|
|
Akhir
kata… "when it is impossible to change others,
you must change yourself" (Jika tidak mungkin
mengubah orang lain, Anda harus mengubah diri sendiri),
tentu saja dalam konotasi positif.
Namun perlu diingat bahwa dibutuhkan kerendahan
hati dan kesabaran untuk menyadari, mengakui, dan
menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri, serta
mengerti dan menerima kekurangan-kekurangan orang lain.
Yang pasti, semua proses ini membutuhkan waktu
yang tidak sebentar.
Semoga sukses. (jp)
|
| |
______________________________
|
| |
|
|