|
|
| |
| |
Perceraian
dan Kesiapan Mental Anak
|
| |
Oleh
Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
|
|
|
Jakarta,
18 April 2002
|
|
|
Mama….kenapa
kita sekarang tinggal bersama Kakek
dan Nenek?
Papa tinggal di mana, Ma? Kasihan ya Papa
tinggal sendirian, nggak sama kita lagi. Papa pasti
kesepian deh, Ma. Yuk kita tinggal bareng Papa
lagi, Adek
kangen...
deh
sama Papa.
|
|
|
|
|
|
Membaca
percakapan di atas, tentulah
kita sudah bisa membayangkan apa yang terjadi dalam
keluarga tersebut. Apalagi kalau bukan perceraian. Angka
perceraian di Indonesia mungkin tidak setinggi di Amerika
Serikat (66,6% perkawinan berakhir dengan perceraian)
ataupun di Inggris (50%), tapi kita tahu bahwa di
Indonesia pun banyak perkawinan berakhir dengan
perceraian, apalagi kalau melihat berita-berita tentang
perceraian selebritis Indonesia akhir-akhir ini.
|
|
|
Kesiapan
Anak Menghadapi Perceraian
|
|
|
Perceraian
seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang
terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak.
Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk
memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Menurut Holmes
dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling
tinggi, setelah kematian pasangan hidup.
|
|
|
Pada
umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap
menghadapi perceraian tersebut dibandingkan anak-anak
mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai
biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang
panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan
fisik. Tidak demikian halnya dengan anak, mereka
tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah
dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau
bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja
Papa tidak lagi pulang ke rumah atau Mama pergi dari
rumah atau tiba-tiba bersama Mama atau Papa pindah ke
rumah baru. Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin
hanyalah Mama dan Papa sering bertengkar, bahkan mungkin
ada anak yang tidak pernah melihat orangtuanya
bertengkar karena orangtuanya benar-benar rapi menutupi
ketegangan antara mereka berdua agar anak-anak tidak
takut.
|
|
|
Kadangkala,
perceraian adalah satu-satunya jalan bagi orangtua untuk
dapat terus menjalani kehidupan sesuai yang mereka
inginkan. Namun apapun alasannya, perceraian selalu
menimbulkan akibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus
tertentu perceraian dianggap merupakan alternatif
terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga
dengan kehidupan pernikahan yang buruk.
|
|
|
Jika
memang perceraian adalah satu-satunya jalan yang harus
ditempuh dan tak terhindarkan lagi, apa tindakan terbaik
yang harus dilakukan oleh orangtua (Mama dan Papa) untuk
mengurangi dampak negatif perceraian tersebut bagi
perkembangan mental anak-anak mereka. Dengan kata lain
bagaimana orangtua menyiapkan anak agar dapat
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akibat
perceraian.
|
|
|
Sebelum
Berpisah
|
|
|
Sebelum
perceraian terjadi, biasanya didahului dengan banyak
konflik dan pertengkaran. Kadang-kadang pertengkaran
tersebut masih bisa ditutup-tutupi sehingga anak tidak
tahu, namun tidak jarang anak bisa melihat dan mendengar
secara jelas pertengkaran tersebut. Pertengkaran
orangtua, apapun alasan dan bentuknya, akan membuat anak
merasa takut. Anak tidak pernah suka melihat orangtuanya
bertengkar, karena hal tersebut hanya membuatnya merasa
takut, sedih dan bingung. Kalau sudah terlalu sering
melihat dan mendengar pertengkaran orangtua, anak dapat
mulai menjadi pemurung. Oleh karena itu sangat penting
untuk tidak bertengkar di depan anak-anak.
|
|
|
Ketika
Akhirnya Berpisah
|
|
|
Masa
ketika perceraian terjadi merupakan masa yang kritis
buat anak, terutama menyangkut hubungan dengan orangtua
yang tidak tinggal bersama. Berbagai perasaan berkecamuk
di dalam bathin anak-anak. Pada masa ini anak juga harus
mulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru.
|
|
|
Hal-hal
yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtuanya
bercerai adalah:
|
|
|
-
tidak
aman (insecurity),
-
tidak
diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi,
-
sedih
dan kesepian,
-
marah,
-
kehilangan,
-
merasa
bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab
orangtua bercerai.
|
|
|
Perasaan-perasaan
tersebut di atas oleh anak dapat termanifestasi dalam
bentuk perilaku:
|
|
|
-
suka
mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif
lainnya,
-
menjadi
pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul,
-
sulit
berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah
sehingga prestasi di sekolah cenderung menurun,
-
suka
melamun, terutama mengkhayalkan orangtuanya akan
bersatu lagi.
|
|
|
Proses
adaptasi pada umumnya membutuhkan waktu. Pada
awalnya anak akan sulit menerima kenyataan bahwa
orangtuanya tidak lagi bersama. Meski banyak anak yang
dapat beradaptasi dengan baik, tapi banyak juga yang
tetap bermasalah bahkan setelah bertahun-tahun
terjadinya perceraian. Anak yang berhasil dalam proses
adaptasi, tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika
meneruskan kehidupannya ke masa perkembangan selanjutnya,
tetapi bagi anak yang gagal beradaptasi, maka ia akan
membawa hingga dewasa perasaan ditolak, tidak berharga
dan tidak dicintai. Perasaan-perasaan ini dapat
menyebabkan anak tersebut, setelah dewasa menjadi takut
gagal dan takut menjalin hubungan yang dekat dengan
orang lain atau lawan jenis.
|
|
|
Beberapa
indikator bahwa anak telah beradaptasi adalah:
|
|
|
-
menyadari
dan mengerti bahwa orangtuanya sudah tidak lagi
bersama dan tidak lagi berfantasi akan persatuan
kedua orangtua,
-
dapat
menerima rasa kehilangan,
-
tidak
marah pada orangtua dan tidak menyalahkan diri
sendiri,
-
menjadi
dirinya sendiri lagi.
|
|
|
Apa
yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
|
|
|
Berhasil
atau tidaknya seorang anak dalam beradaptasi terhadap
perubahan hidupnya ditentukan oleh daya tahan dalam
dirinya sendiri, pandangannya terhadap perceraian, cara
orangtua menghadapi perceraian, pola asuh dari si
orangtua tunggal dan terjalinnya hubungan baik dengan
kedua orangtuanya. Bagi orangtua yang bercerai, mungkin
sulit untuk melakukan intervensi pada daya tahan anak
karena hal tersebut tergantung pada pribadi
masing-masing anak, tetapi sebagai orangtua mereka dapat
membantu anak untuk membuatnya memiliki pandangan yang
tidak buruk tentang perceraian yang terjadi dan tetap
punya hubungan baik dengan kedua orangtuanya. Di bawah
ini adalah beberapa saran yang sebaiknya dilakukan
orangtua agar anak sukses beradaptasi, jika perpisahan
atau perceraian terpaksa dilakukan:
|
|
|
-
Begitu
perceraian sudah menjadi rencana orangtua, segeralah
memberi tahu anak bahwa akan terjadi perubahan dalam
hidupnya, bahwa nanti anak tidak lagi tinggal
bersama Mama dan Papa, tapi hanya dengan salah
satunya.
-
Sebelum
berpisah ajaklah anak untuk melihat tempat tinggal
yang baru (jika harus pindah rumah). Kalau
anak akan tinggal bersama kakek dan nenek, maka
kunjungan ke kakek dan nenek mulai dipersering.
Kalau ayah/ibu keluar dari rumah dan tinggal sendiri,
anak juga bisa mulai diajak untuk melihat calon
rumah baru ayah/ibunya.
-
Di
luar perubahan yang terjadi karena perceraian,
usahakan agar sisi-sisi lain
dan kegiatan rutin sehari-hari si anak tidak
berubah. Misalnya: tetap mengantar anak ke sekolah
atau mengajak pergi jalan-jalan.
-
Jelaskan
kepada anak tentang perceraian tersebut. Jangan
menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak tahu
apa-apa, jelaskan dengan menggunakan bahasa
sederhana. Penjelasan ini mungkin perlu diulang
ketika anak bertambah besar.
-
Jelaskan
kepada anak bahwa perceraian yang terjadi bukan
salah si anak.
-
Anak
perlu selalu diyakinkan bahwa sekalipun orangtua
bercerai tapi mereka tetap mencintai anak. Ini sangat
penting dilakukan terutama dari orangtua yang pergi,
dengan cara: berkunjung, menelpon, mengirim surat
atau kartu. Buatlah si anak tahu bahwa dirinya
selalu diingat dan ada di hati orangtuanya.
-
Orangtua
yang pergi, meyakinkan anak kalau ia menyetujui anak
tinggal dengan orangtua yang tinggal, dan
menyemangati anak agar menyukai tinggal bersama
orangtuanya itu.
-
Orangtua
yang tinggal bersama anak, memperbolehkan anak
bertemu dengan orangtua yang pergi, meyakinkan anak
bahwa dia menyetujui pertemuan tersebut dan
menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut.
-
Kedua
orangtua, merancang rencana pertemuan yang rutin,
pasti, terprediksi
dan konsisten antara anak dan orangtua yang
pergi. Kalau anak sudah mulai beradaptasi dengan
perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat dengan
fleksibel. Penting
buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua
orangtuanya. Tetap bertemu dengan kedua orangtua
membuat anak percaya bahwa ia dikasihi dan inginkan.
Kebanyakan anak yang membawa hingga dewasa
perasaan-perasaan ditolak dan tidak berharga adalah
akibat kehilangan kontak dengan orangtua yang pergi.
-
Tidak
saling mengkritik atau menjelekkan salah satu pihak
orangtua di depan anak.
-
Tidak
menempatkan anak di tengah-tengah konflik. Misalnya
dengan menjadikan anak sebagai pembawa pesan antar
kedua orangtua, menyuruh anak berbohong kepada salah
satu orangtua, menyuruh anak untuk memihak pada satu
orangtua saja. Anak menyayangi kedua orangtuanya,
menempatkannya di tengah konflik akan membuatnya
bingung, cemas dan mengalami konflik kesetiaan.
-
Tidak
menjadikan anak sebagai senjata untuk menekan pihak
lain demi membela dan mempertahankan diri sendiri.
Misalnya mengancam pihak yang pergi untuk tidak
boleh lagi bertemu dengan anak kalau tidak
memberikan tunjangan; atau tidak diperbolehkan untuk
bertemu dengan anak supaya pihak yang pergi merasa
sakit hati, sebagai usaha membalas dendam.
-
Tetap
mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan
perselisihan.
-
Memperkenankan
anak untuk mengekspresikan emosinya. Beresponlah
terhadap emosi anak dengan kasih sayang, bukan
dengan kemarahan atau celaan. Anak mungkin bingung
dan bertanya, biarkan mereka bertanya, jawablah
pertanyaan tersebut baik-baik, dan bukan mengatakan
"anak kecil mau tahu saja urusan Mama
Papa".
|
|
|
Dari
saran-saran di atas terlihat jelas betapa pentingnya
kerja sama orangtua agar anak dapat beradaptasi dengan
sukses dan betapa penting arti keberadaan orangtua bagi
sang anak. Saran-saran di atas bukanlah hal yang mudah
dilakukan, apalagi jika perceraian diakhiri dengan
perselisihan, ketegangan dan kebencian satu sama lain.
Keinginan untuk menarik anak ke salah satu pihak dan
menentang pihak yang lain akan sangat menonjol pada
model perceraian tersebut. Tapi jika itu dilakukan,
berarti orangtua sungguh-sungguh merupakan individu
egois yang hanya memikirkan diri sendiri, dan tidak
memikirkan kesejahteraan dan masa depan anak. Mungkin
ada yang berpikir "Anak saya baik-baik saja kok,
dia tidak apa-apa meskipun tidak ada ibunya/ayahnya.
Lihat dia ceria-ceria saja, badannya sehat, sekolahnya
juga rajin". Tapi tahukah Anda apa sebenarnya yang
ada dalam hati sang anak?
|
|
|
Kalau
perceraian memang tak terhindari lagi, maka mari membuat
perceraian tersebut menjadi perceraian yang tidak
merugikan anak. Suami-istri memang bercerai, tapi jangan
sampai anak dan orangtua ikut juga bercerai. Anak-anak
sangat membutuhkan cinta dari kedua orangtua dan
menginginkan kedua orangtuanya menjadi bagian dalam
hidup mereka. Bagi anak, rasa percaya diri, rasa
diterima dan bangga pada dirinya sendiri bergantung pada
ekspresi cinta kedua orangtuanya. Bagi Anda yang akan,
sedang atau telah bercerai, cobalah untuk selalu
mengingat hal tersebut dan masa depan anak-anak Anda.
Perhatian berupa materi memang perlu, namun itu saja
sangat tidak memadai untuk membuat anak mampu
beradaptasi dengan baik. Jangan lagi menjadikan negeri ini
semakin carut marut dengan membiarkan anak-anak kita
yang tidak berdosa menjadi terlantar. (jp)
|
| |
______________________________
|
| |
|
|