|
|
| |
| |
Pengaruh
Keluarga Asal Terhadap Perkawinan
|
| |
Oleh
Jacinta F. Rini
|
| |
Team
e-psikologi
|
|
|
Jakarta,
7 Juni 2002
|
|
|
Sebelum
menikah, saya sudah pacaran cukup lama lho dengan suami/istri
saya...Tapi kenapa, ya, kok setelah menikah sepertinya
sikapnya berubah dan tuntutannya pun sulit dipahami.
Sepertinya, apapun yang saya kerjakan selalu salah dan
tidak sesuai dengan keinginannya. Saya bingung...bagaimana
sih “standard” atau kriteria yang benar buat dia ?
|
|
|
|
|
|
Pertanyaan
tersebut sering muncul dalam sebuah kehidupan perkawinan,
tidak memandang usia perkawinan itu baru atau pun lama.
Kenapa hal itu bisa terjadi sedangkan masa pacaran
seakan dilewati tanpa masalah yang berarti?
|
|
|
Persatuan
Dua Pribadi
|
|
|
Menikah
dapat diartikan secara sederhana sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak
terdapat perbedaan yang muncul. Mengapa saat pacaran hal
itu tidak menjadi soal? Proses pacaran pada intinya
adalah mekanisme untuk mempelajari dan menganalisis
kepribadian pasangan serta belajar saling menyesuaikan
diri dengan perbedaan tersebut. Dalam pacaran, akan
dilihat, apakah perbedaan tersebut masih dapat ditolerir
atau tidak. Namun masalahnya, selama masa pacaran orang
sering mengabaikan realita sehingga kurang peka terhadap
permasalahan atau perbedaan yang ada – bahkan seringkali mereka memasang
harapan bahwa semua itu “akan berubah” setelah
menikah. Yang sering terjadi, banyak pasangan yang
kecewa karena harapan mereka tidak terwujud dan tidak
ada perubahan yang terjadi, bahkan setelah
bertahun-tahun menikah.
|
|
|
Satu
hal yang
sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bahwa
bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan yang sederhana.
Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan
punya latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah itu latar
belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal atau pun
pengalaman pribadinya selama ini.
|
|
|
Pengaruh
Keluarga Asal
|
|
|
Para ahli mengatakan
bahwa pola asuh orang tua atau pun kualitas hubungan
yang terjalin antara orang tua dengan anak, merupakan
faktor penting yang kelak mempengaruhi kualitas
perkawinan seseorang, menentukan pemilihan pasangan,
mempengaruhi pola interaksi/komunikasi antara
suami-istri dan dengan anak, mempengaruhi persepsi dan
sikap terhadap pasangan, dan mempengaruhi persepsi orang
tersebut terhadap perannya sendiri. Intinya, hubungan
orang tua-anak ikut mempengaruhi seseorang dalam
mengarungi kehidupan perkawinan di masa mendatang.
|
|
|
1. Hubungan orang tua-anak
|
|
|
|
Menurut
penelitian Henker (1983), segala sesuatu yang terjadi
dalam hubungan antara orang tua-anak (termasuk emosi,
reaksi dan sikap orang tua) akan membekas dan tertanam
secara tidak sadar dalam diri seseorang. Selanjutnya, apa yang
sudah tertanam akan termanifestasi kelak dalam hubungan
dengan keluarganya sendiri. Jika hubungan dengan orang
tuanya dulu memuaskan dan membahagiakan, maka kesan
emosi yang positif akan tertanam dalam memori dan
terbawa pada kehidupan perkawinannya sendiri. Orang
demikian, biasanya tidak mengalami masalah yang berarti
dalam kehidupan perkawinannya sendiri. Sebaliknya, dari
pengalaman emosional yang kurang menyenangkan bersama
orang tua, akan terekam dalam memori dan menimbulkan
stress (yang berkepanjangan, baik ringan maupun berat).
Berarti, ada the unfinished business dari masa lalu yang
terbawa hingga kehidupan berikutnya, termasuk kehidupan
perkawinan. Segala emosi negatif dari masa lalu, terbawa
dan mempengaruhi emosi, persepsi/pola pikir dan sikap
orang tersebut di masa kini, baik terhadap diri sendiri,
terhadap pasangan dan terhadap makna perkawinan itu
sendiri.
|
|
|
2.
Sikap penolakan orang tua
|
|
|
|
Kurangnya
perhatian orang tua yang konsisten, stabil dan tulus,
seringkali menjadi penyebab kurang terpenuhinya
kebutuhan anak akan kasih sayang, rasa aman, dan
perhatian. Anak harus bersusah payah dan berusaha
mendapatkan perhatian dan penerimaan orang tua – namun
seringkali orang tua tetap tidak memberikan respon
seperti yang diharapkan. Sikap penolakan yang dialami
seorang anak pada masa kecilnya, akan menimbulkan
perasaan rendah diri, rasa diabaikan, rasa disingkirkan
dan rasa tidak berharga. Perasaan itu akan terus
terbawa hingga dewasa, sehingga mempengaruhi motivasi dan
sikapnya dalam menjalin relasi dengan orang lain. Pada
saat menikah, bisa jadi seorang istri menikahi suaminya
karena merindukan figur ayah yang melindungi dan
mencurahkan perhatian dan kasih sayang – seperti yang
tidak pernah didapatnya dahulu. Atau, bisa jadi seorang
pria mencari wanita yang dapat menjadi substitusi dari
ibunya dahulu, yang sangat ia dambakan cinta dan
perhatiannya.
Masalahnya,
anak yang tumbuh dengan kondisi deprivasi emosional (kurang
terpenuhinya kebutuhan emosional), di masa dewasanya,
cenderung mentransferkan kebutuhan akan perhatian, cinta,
penghargaan, penerimaan dan rasa aman kepada pasangannya.
Mereka menuntut pasangannya untuk men-supply kebutuhan
emosional mereka yang tidak terpenuhi
waktu kecil. Biasanya, orang demikian menjadi
sangat demanding, terlalu tergantung pada
pasangannya, tidak mandiri, cari perhatian dan sangat
manja.
|
|
|
3. Identifikasi figur orang tua
|
|
|
|
Seringkali
tanpa sadar seseorang mencari pasangan yang seperti
ibunya atau ayahnya. Mereka mengharapkan agar
pasangannya memperlakukan dia seperti perlakuan ayah dan
ibu terhadapnya. Harapan tersebut pada dasarnya tidaklah
realistis dan sering mendatangkan persoalan yang besar.
Ucapan “saya bukanlah ayahmu/ibumu, jadi berhentilah
berharap saya akan menjadi seperti dia !”. Pernyataan
ini merupakan cermin adanya tuntutan dan keinginan
seseorang untuk menjadikan pasangannya seperti ayah/ibunya.
|
|
|
4. Ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua
|
|
|
|
Kelekatan
yang berlebihan dan tidak sehat terhadap salah satu
orang tua (biasanya terhadap orang tua lawan jenis) di
masa kanak-kanak, jika tidak berubah/mengalami
perkembangan – dan jika setelah menikah masih tetap
lengket dengan orang tuanya – maka hal ini akan
menimbulkan persoalan besar dengan pasangan. Pasangan
akan merasa diabaikan dan disingkirkan, sehingga timbul
perasaan marah, kesal, iri, cemburu serta emosi negatif
lainnya. Ketergantungan
tersebut sering membuat pasangan jengkel karena hal-hal
kecil sekali pun ditanyakan kepada orang tua dan
tergantung pada respon atau pilihan orang tua. Tentu
saja pasangan merasa tidak dihargai karena selalu berada
di bawah bayang-bayang mertuanya. Pasangan merasa
posisinya hanya sebagai pelengkap yang tidak signifikan
dalam menentukan arah kehidupan keluarga.
Pada
beberapa kasus, ketergantungan tersebut bersifat dua
arah. Artinya, anak menjadi sumber sense of self
dari orang tua (karena keberadaan anak membuat dirinya
merasa berguna, dibutuhkan, berarti), sehingga orang tua
ingin terus berperan sebagai orang tua yang menentukan
kehidupan sang anak meskipun sang anak telah dewasa dan
berkeluarga. Bisa jadi, orang tua itu pun sejak anaknya
masih kecil, menanamkan pengertian dan sikap-sikap yang
menstimulasi ketergantungan anak terhadap orang tua.
Salah satunya, orang tua yang over-protective dan
terlalu dominan, malah menimbulkan rasa kurang
percaya diri dan kemandirian pada anak. Anak akan
memandang bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa
tanpa orang tua, dan anak bukan siapa-siapa tanpa orang
tuanya.
|
|
|
Kenali
Diri Sendiri
|
|
|
Melihat
hal-hal di atas, maka amatlah disarankan bagi mereka
yang akan menikah, untuk benar-benar mempelajari
dinamika yang terjadi pada diri sendiri, kepribadian
diri, sifat, karakter, kecenderungan positif maupun
negatif, motivasi dalam mencari suami/istri, prioritas dan
kebutuhan dalam hidup. Pelajarilah hubungan antara diri
sendiri dengan orang tua, dan temukan – manakah dari
hubungan dengan orang tua yang tidak ingin diulangi/terulang
dalam kehidupan perkawinan di masa mendatang. Pelajari
kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang tanpa sadar
dilakukan orang tua di masa yang lalu, baik dalam
memelihara kehidupan perkawinan, maupun dalam mengasuh
dan membesarkan anak. Seringkali orang baru menyadari
setelah bertahun-tahun, bahwa ternyata kehidupan
perkawinannya hampir sama dengan kehidupan perkawinan
orang tuanya. Dan, pasangan yang dipilih, mempunyai
kesamaan karakteristik dengan salah satu figur orang
tuanya. Jika hal ini berakibat positif – tentunya
tidak menjadi masalah. Namun, yang lebih sering terjadi
justru yang sebaliknya. Oleh sebab itu, orang merasa
hidup dalam “kesusahan dan penderitaan” yang tiada
akhir; padahal, semua itu dimulai oleh dirinya serta
berdasarkan pilihan dan tindakan dirinya sendiri.
Bagi
Anda yang akan maupun sudah menikah: mempelajari dan
meneliti diri sendiri, memang lebih sulit dari meneliti
orang lain. Namun, jika sudah mampu melihat kenyataan
diri, maka orang akan lebih mampu bersikap bijaksana terhadap
orang lain, termasuk pada pasangan. Ia akan melihat,
mengapa dan bagaimana keadaan internal dalam dirinya
bisa berpengaruh terhadap pasangan dan terhadap hubungan
antara keduanya. Jadi, jika terjadi masalah, tidak
langsung menyalahkan pasangan, melainkan introspeksi ke
dalam dulu. Jika seseorang merasa pasangannya kurang
memperhatikan, cobalah telaah, apakah keadaan itu riil
atau kah cermin dari adanya kebutuhan dan kehausan akan
perhatian? Apakah ada bentuk ketergantungan yang
bersifat kekanak-kanakan, yang diharapkan dapat dipenuh
oleh pasangan? Apakah tuntutan yang ada realistis, atau
karena merasa ketakutan dan tidak aman terhadap hubungan
itu sendiri (takut pasangan tidak setia, takut
ditinggalkan, takut diabaikan, takut tidak diperhatikan).
Melalui mekanisme tersebut, maka sebuah perkawinan dapat
bertumbuh dengan lebih sehat – karena kedua belah
pihak, mau melepaskan diri dari masa lalu dan belajar
dari kesalahan untuk membangun kehidupan dan keluarga
yang mandiri di masa sekarang ini.
Sebagai penutup, ada
satu hal yang tidak kalah pentingnya, seperti yang
dikatakan oleh Rice, penulis buku "Intimate
Relationship, Marriages and Families" (1990):
|
|
|
After
marriage, the primary loyalty of a husband and wife
should be to one another, rather than to parents, or
else the primary relationship is weakened by conflicting
loyalties and by the interference of parents
|
| |
______________________________
|
| |
|
|