Sekilas memang ada perbedaan antara relawan
negara-negara maju dan negara yang belum maju, seperti kita. Kata seorang teman
di Aceh, relawan negara maju itu memang sudah
yang sudah terstandar secara profesional.
Gaji mereka untuk ukuran negara tujuan, seperti Indonesia, terbilang fantastis.
Mungkin ini masih jarang terjadi di kita.
Terlepas adanya perbedaan status dan
perlakuan, menjadi relawan itu kalau dilihat dari motif umumnya, tentu sangat
positif. Bahkan di dalam agama dimasukkan ke dalam indikator tinggi-rendahnya
keimanan, menjadi kewajiban, atau dimasukkan ke dalam investasi jangka panjang.
Orang yang peduli untuk meringankan beban saudaranya, maka Tuhan pun akan
peduli untuk meringankan beban orang itu di sebuah masa yang tidak diketahui “kapan”
nya.
Hanya karena kita sedang hidup di dunia, maka
kita perlu sadar bahwa tidak semua motif yang baik itu akan menghasilkan efek
yang baik pula, entah untuk kita atau untuk orang lain. Sampai-sampai ada
ungkapan: “Kebaikan yang tidak dikelola dengan baik, akan dikalahkan oleh
kejahatan yang dikelola dengan baik”. Ya
memang seperti inilah dunia ini. Hal yang tidak baik buat kita itu misalnya kita
menjadi korban dari korban bencana. Kita yang datang dengan niat membantu, tapi
malah merepotkan karena ada persoalan yang tidak terantisipasi dengan baik.
Atau juga malah mengorbankan korban bencana. Misalnya kita mem-proposal-kan
korban bencana untuk kepentingan pribadi atau kelompok yang bukan menjadi
korban.
Intinya, sebelum memutuskan menjadi relawan
atau menjalani tugas relawan, yang perlu dipikirkan adalah keseimbangan dan
kelayakan di tingkat niat (motif), iradat
(hasrat), dan kodrat (kapasitas). Misalnya perlu check-up kesehatan, perlu membekali kemampuan teknis, pengetahuan
mengenai psikologi korban, dan lain-lain.
Antara Problem Maker Atau Solution
Maker
Beberapa kali, saya ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang di daerah bencana setelah
merasakan bagaiamana kinerja relawan, mau itu asing atau lokal. Dari pengalaman
yang sangat nyata, mereka bisa menyimpulkan bahwa relawan itu ada yang menjadi problem
maker (pembuat masalah) dan ada yang menjadi solution maker (pembuat
solusi).
Umumnya, problem yang diciptakan relawan itu
tidak langsung bisa dilihat sebagai problem. Bahkan bisa jadi kelihatannya itu
solusi. Kalau kita membagi-bagi bantuan karena kasihan dan itu terus kita lakukan
dengan alasan kasihan saja, maka yang sebenarnya terjadi, kita menciptakan
problem jangka panjang sebab telah membuat orang tergantung pada kita atau
mengharapkan belas kasihan kita.
Dari laporan media dan lapangan, alokasi dana
bantuan bencana di negara kita masih kurang terkelola dengan baik ke
sektor-sektor yang bisa memandirikan para korban bencana untuk jangan panjang.
Dana bantuan lebih banyak tersedot untuk mendanai “belas kasihan”, yang
akhirnya semakin melemahkan para korban. Dalam perspektif ketahanan nasional,
pada akhirnya bencana dan penanganannya tidak menguatkan bangsa kita, malahan semakin
melemahkan.
Problem juga akan muncul di kemudian hari
ketika ada diskriminasi atau ada kelompok yang merasa didiskriminasikan.
Kedatangan kita bisa menjadi benih kecemburuan sosial yang berpotensi
menimbulkan perpecahan. Karena itu, dalam agama diajarkan bahwa bila kita
memberikan kebaikan, maka caranya pun harus baik. Jangan sampai menimbulkan
perpecahan atau memancing kecemburuan atau malah membuat orang terlena,
berlebihan.
Selain itu, potensi problem yang perlu kita
pikirkan adalah ketika bantuan itu kita berikan tanpa konsep, tanpa sasaran
jangka panjang, atau kita tidak mau pusing. Ini terjadi di salah satu daerah
korban bencana di Indonesia. Sebuah lembaga asing memberikan bibit kacang untuk
ditanam. Sudah bibitnya dibagikan, diberikan pula uang untuk biaya dari tanam
sampai panen. Setelah urusan bagi-bagi
itu selesai, relawan meninggalkan daerah bencana.
Beberapa bulan kemudian, ketika dicek apa
yang dilakukan masyarakat, ternyata hasilnya sangat menyedihkan. Masyarakat
hanya menjual hasil panennya di luar kota dan tidak mau menanam kacang lagi
karena menunggu di kasih bibit dan dikasih uang lagi. Dipikir-pikir, sikap
masyarakat di tempat itu memang keterlaluan, tetapi sebagai relawan, kita harus
berpikir bahwa justru karena di dalam masyarakat tersebut ada potensi ketergantungan
yang tinggi, maka kita perlu menyiapkan cemeti program.
Intinya, menjadi relawan itu bukan sebatas
berkorban, membagi kebaikan atau bantuan. Yang perlu dipikirkan adalah efek
mental jangka panjang dari bantuan yang
kita berikan pada para korban bencana. Kita perlu ingat bahwa hanya orang yang kuatlah
yang bisa menyelesaikan masalahnya. Supaya orang itu menjadi kuat, maka
prosesnya adalah bagaimana seseorang menjadi kuat di depan dirinya sendiri
lebih dulu.
Memfasilitasi Proses
Dari pengalaman akhirnya kita belajar bahwa
bantuan itu perlu kita lihat sebagai rangkaian proses untuk mengantarkan orang
menjadi lebih kuat di hadapan diri sendiri, terutama bagi korban bencana, bukan
malah mengarahkan mereka untuk selalu mengharap dan mengandalkan.
Kenapa harus dilihat sebagai proses? Kata
orang, terjadinya bencana itu mungkin hanya beberapa detik atau jam. Tapi efek
mentalnya bisa sementara, bisa lama atau selamanya; dan ini tergantung pada
proses yang ditempuh. Seperti apakah prosesnya? Ada banyak teori yang sudah
berbicara mengenai proses ini. Misalnya ada orang yang mau tenggelam lalu
berteriak minta tolong. Saat itu, proses yang dibutuhkan adalah
menyelamatkannya dulu, tidak usah banyak bicara.
Tapi, untuk tahap berikutnya, tidak bisa lagi
kita menggunakan analogi itu untuk korban bencana, sebab pada akhirnya mereka
harus tetap menghadapi kenyataan hidup sebagai kenyataan; maka dari itu,
diperlukan proses mental yang berjenjang, dari yang semula kalut, tidak bisa
menerima kenyataan, sedih, ke mulai menerima kenyataan, lalu mengubah
kenyataan, sampai menemukan makna positif di balik kenyataan.
Agar seseorang bisa menemukan makna itu, pasti
prosesnya tak semudah membalik tangan. Oleh karena nyatanya proses ini sulit bagi
sebagian besar orang, maka dibutuhkan peranan orang lain yang bisa membantu /
mendampingi. Jika mengacu ke sejumlah petunjuk teoritisnya, bentuk peranan yang
dibutuhkan adalah: