Panduan Bijak Bagi Relawan

Kategori Sosial
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 20 Oktober 2009
Niat, Irodat, Dan Kodrat
Dari istilah yang dipakai, relawan itu adalah orang yang telah merelakan dirinya untuk berkorban bagi korban bencana, entah itu bencana alam, seperti Gempa Sumatera atau bencana manusia, seperti terhadap orang-orang yang menjadi korban nafsu peperangan. Relawan berbeda dengan penyumbang atau simpatisan. Relawan berkorban dengan jiwa (pikiran, perasaan, pengalaman, pengetahuan, dst) dan tenaganya.

Sekilas memang ada perbedaan antara relawan negara-negara maju dan negara yang belum maju, seperti kita. Kata seorang teman di Aceh, relawan negara maju itu memang sudah spesialist melalui recruitment, selection, dan placement yang sudah terstandar secara profesional. Gaji mereka untuk ukuran negara tujuan, seperti Indonesia, terbilang fantastis. Mungkin ini masih jarang terjadi di kita. 
 
Terlepas adanya perbedaan status dan perlakuan, menjadi relawan itu kalau dilihat dari motif umumnya, tentu sangat positif. Bahkan di dalam agama dimasukkan ke dalam indikator tinggi-rendahnya keimanan, menjadi kewajiban, atau dimasukkan ke dalam investasi jangka panjang. Orang yang peduli untuk meringankan beban saudaranya, maka Tuhan pun akan peduli untuk meringankan beban orang itu di sebuah masa yang tidak diketahui “kapan” nya.
 
Hanya karena kita sedang hidup di dunia, maka kita perlu sadar bahwa tidak semua motif yang baik itu akan menghasilkan efek yang baik pula, entah untuk kita atau untuk orang lain. Sampai-sampai ada ungkapan: “Kebaikan yang tidak dikelola dengan baik, akan dikalahkan oleh kejahatan yang dikelola dengan baik”.  Ya memang seperti inilah dunia ini. Hal yang tidak baik buat kita itu misalnya kita menjadi korban dari korban bencana. Kita yang datang dengan niat membantu, tapi malah merepotkan karena ada persoalan yang tidak terantisipasi dengan baik. Atau juga malah mengorbankan korban bencana. Misalnya kita mem-proposal-kan korban bencana untuk kepentingan pribadi atau kelompok yang bukan menjadi korban.
 
Intinya, sebelum memutuskan menjadi relawan atau menjalani tugas relawan, yang perlu dipikirkan adalah keseimbangan dan kelayakan di tingkat niat (motif), iradat (hasrat), dan kodrat (kapasitas). Misalnya perlu check-up kesehatan, perlu membekali kemampuan teknis, pengetahuan mengenai psikologi korban, dan lain-lain. 
 
 
Antara Problem Maker Atau Solution Maker   
Beberapa kali, saya ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang di daerah bencana setelah merasakan bagaiamana kinerja relawan, mau itu asing atau lokal. Dari pengalaman yang sangat nyata, mereka bisa menyimpulkan bahwa relawan itu ada yang menjadi problem maker (pembuat masalah) dan ada yang menjadi solution maker (pembuat solusi).
 
Umumnya, problem yang diciptakan relawan itu tidak langsung bisa dilihat sebagai problem. Bahkan bisa jadi kelihatannya itu solusi. Kalau kita membagi-bagi bantuan karena kasihan dan itu terus kita lakukan dengan alasan kasihan saja, maka yang sebenarnya terjadi, kita menciptakan problem jangka panjang sebab telah membuat orang tergantung pada kita atau mengharapkan belas kasihan kita.
 
Dari laporan media dan lapangan, alokasi dana bantuan bencana di negara kita masih kurang terkelola dengan baik ke sektor-sektor yang bisa memandirikan para korban bencana untuk jangan panjang. Dana bantuan lebih banyak tersedot untuk mendanai “belas kasihan”, yang akhirnya semakin melemahkan para korban. Dalam perspektif ketahanan nasional, pada akhirnya bencana dan penanganannya tidak menguatkan bangsa kita, malahan semakin melemahkan.
 
Problem juga akan muncul di kemudian hari ketika ada diskriminasi atau ada kelompok yang merasa didiskriminasikan. Kedatangan kita bisa menjadi benih kecemburuan sosial yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Karena itu, dalam agama diajarkan bahwa bila kita memberikan kebaikan, maka caranya pun harus baik. Jangan sampai menimbulkan perpecahan atau memancing kecemburuan atau malah membuat orang terlena, berlebihan.
 
Selain itu, potensi problem yang perlu kita pikirkan adalah ketika bantuan itu kita berikan tanpa konsep, tanpa sasaran jangka panjang, atau kita tidak mau pusing. Ini terjadi di salah satu daerah korban bencana di Indonesia. Sebuah lembaga asing memberikan bibit kacang untuk ditanam. Sudah bibitnya dibagikan, diberikan pula uang untuk biaya dari tanam sampai panen. Setelah urusan  bagi-bagi itu selesai, relawan meninggalkan daerah bencana.
 
Beberapa bulan kemudian, ketika dicek apa yang dilakukan masyarakat, ternyata hasilnya sangat menyedihkan. Masyarakat hanya menjual hasil panennya di luar kota dan tidak mau menanam kacang lagi karena menunggu di kasih bibit dan dikasih uang lagi. Dipikir-pikir, sikap masyarakat di tempat itu memang keterlaluan, tetapi sebagai relawan, kita harus berpikir bahwa justru karena di dalam masyarakat tersebut ada potensi ketergantungan yang tinggi, maka kita perlu menyiapkan cemeti program.
 
Intinya, menjadi relawan itu bukan sebatas berkorban, membagi kebaikan atau bantuan. Yang perlu dipikirkan adalah efek mental jangka panjang dari  bantuan yang kita berikan pada para korban bencana. Kita perlu ingat bahwa hanya orang yang kuatlah yang bisa menyelesaikan masalahnya. Supaya orang itu menjadi kuat, maka prosesnya adalah bagaimana seseorang menjadi kuat di depan dirinya sendiri lebih dulu.
 
 
Memfasilitasi Proses
Dari pengalaman akhirnya kita belajar bahwa bantuan itu perlu kita lihat sebagai rangkaian proses untuk mengantarkan orang menjadi lebih kuat di hadapan diri sendiri, terutama bagi korban bencana, bukan malah mengarahkan mereka untuk selalu mengharap dan mengandalkan.
 
Kenapa harus dilihat sebagai proses? Kata orang, terjadinya bencana itu mungkin hanya beberapa detik atau jam. Tapi efek mentalnya bisa sementara, bisa lama atau selamanya; dan ini tergantung pada proses yang ditempuh. Seperti apakah prosesnya? Ada banyak teori yang sudah berbicara mengenai proses ini. Misalnya ada orang yang mau tenggelam lalu berteriak minta tolong. Saat itu, proses yang dibutuhkan adalah menyelamatkannya dulu, tidak usah banyak bicara.
 
Tapi, untuk tahap berikutnya, tidak bisa lagi kita menggunakan analogi itu untuk korban bencana, sebab pada akhirnya mereka harus tetap menghadapi kenyataan hidup sebagai kenyataan; maka dari itu, diperlukan proses mental yang berjenjang, dari yang semula kalut, tidak bisa menerima kenyataan, sedih, ke mulai menerima kenyataan, lalu mengubah kenyataan, sampai menemukan makna positif di balik kenyataan.
 
Agar seseorang bisa menemukan makna itu, pasti prosesnya tak semudah membalik tangan. Oleh karena nyatanya proses ini sulit bagi sebagian besar orang, maka dibutuhkan peranan orang lain yang bisa membantu / mendampingi. Jika mengacu ke sejumlah petunjuk teoritisnya, bentuk peranan yang dibutuhkan adalah:
  • Membantu penyadaran diri: tahapan di mana seseorang menyadari keadaan hidupnya hari ini dan punya dorongan untuk MENGUBAH / BERUBAH
  • Membantu merumuskan / memunculkan sasaran hidup yang bermakna bagi korban, baik secara pribadi atau sosial. Sasaran itu perlu dipilih sebermakna mungkin, seperti cita-cita bagi anak-anak, target atau tujuan yang lebih baik bagi orang dewasa, dan seterusnya.
  • Membantu proses mengubah sikap dalam melihat realita, dari yang semula menolak ke mulai menerima, dari yang semula negatif ke positif, dari yang semula pasif ke progresif, dari yang semula reaktif ke antisipatif.
  • Pendampingan / bantuan menjalani komitmen dalam meraih sasaran yang bermakna itu melalui program yang sangat terarah. Untuk skala besar dan dalam jangka panjang, tentu hanya pemerintah yang mampu melakukannya, misalnya memajukan pertanian, fasilitas umum, menggali potensi penduduk, memperbaiki sekolah atau pengajaran
  • Melibatkan dukungan orang-orang setempat, terutama tokoh di daerah itu atau memafaatkan apa yang sudah ada di masyarakat itu, seperti tempat, budaya, dan lain-lain.

Jadi, kalau bicara “yang mestinya kita lakukan”, bencana itu jangan sampai hanya dilewati, dirasakan, dan dihadapi dengan cara hidup yang sama. Justru perlu kita jadikan ruang untuk memperkuat, menjadi lebih bijak, atau menjadi lebih maju dan rukun. Menirukan ucapan Albert Camus, jika ada bencana yang tidak membuat orang mati sekaligus, berarti itu bisa membuat orang lebih kuat.
 
 
Lebih Reflektif Atau Lebih Progresif
Di prakteknya, jalan yang akhirnya membuka kesempatan kita untuk menjadi relawan itu beragam. Mungkin karena program dari sekolah, ajakan teman, program pemerintah atau organisasi. Tapi, secara spiritualnya, kita perlu meyakini itu semua bukan kebetulan, melainkan ada ”maksud” yang perlu digali. Wong daun jatuh saja tidak terjadi secara kebetulan.    
 
Maksud itu apa? Ini dia yang tidak terjabarkan karena bisa jadi setiap orang harus menerjemahkan maksud itu menurut keadaan dirinya. Bencana itu termasuk ayat-ayat Tuhan. Satu ayat Tuhan mampu menampung sekian maksud untuk sekian orang yang berbeda. Pendeknya, jika akhirnya kita berangkat menjadi relawan, berarti ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri kita. Artinya, selain kita perlu memasang niat untuk membantu orang lain yang sedang lemah, kita pun perlu membuka diri terhadap adanya sesuatu yang akan memperbaiki diri kita. Cara membukanya adalah dengan merencanakan perubahan, entah itu ke arah yang lebih reflektif atau lebih progresif. Kalau bisa, jangan sampai oleh-oleh kita dari daerah bencana hanya kasihan semata.
 
Menjadi lebih reflektif artinya kita menjadi orang yang lebih matang, lebih menggunakan Super Ego dalam berpikir (paduan antara olah nalar dan keimanan)  atau lebih bisa merasa kecil di depan Tuhan. Salah seorang yang saya kenal mendapatkan transformasi  yang luar biasa saat melihat bencana di Aceh. Dari yang semula sombong, terlalu merasa beruntung, terlalu serba nalar logis, ke menjadi semakin rendah hati, bijak, dan empatik.



Atau juga kita menjadi orang yang progresif melalui proses pembelajaran sosial. Misalnya kita melihat cara kerja relawan asing yang bagus lalu kita menerapkannya. Atau juga kita mengenal beberapa orang yang kemudian menjadi network kita, memperbaiki Bahasa Inggris, memperbaiki kemampuan teknis, dan seterusnya. Intinya, kita harus menjadi orang yang lebih maju di bidang yang kita nilai sangat penting dalam hidup. Lebih-lebih bisa memajukan orang lain.
 
 

Semua Ada Sebab
Semua bencana memang ada sebabnya. Cuma, jangan sampai kita terkecoh lalu membuat generalisasi opini yang gegabah dan menyinggung. Ada sebab yang visible (bisa dinalar langsung) dan ada yang invisible (tak cukup hanya dinalar). Ada bencana yang memang prosesnya sudah tertulis (maktub) dan ada yang prosesnya muncul karena ulah tangan manusia.
 
Sementara ini, banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa gempa itu maktub dan bisa di-hampir-pastikan. Kecuali kapannya yang tidak bisa. Karena ada sekian sebab itu, makanya ada istilah siksa dan ujian. Siksa adalah bencana yang muncul karena ulah tangan manusia. Ujian adalah musibah yang terjadi untuk menguji kehebatan seseorang.
 
Siapakah yang berhak menilai? Tentu hanya Tuhan. Tugas manusia adalah mengantisipasi atau menghindari untuk bencana yang memang masih bisa dihindari dan diantisipasi. Atau bersabar sekaligus menjadikannya pelajaran yang baik untuk perubahan ketika itu sudah tidak bisa dihindari dan diantisipasti, seperti halnya gempa dasyat yang pernah terjadi di berbagai wilayah di Nusantara.
 
Semoga bermanfaat
 
  
 
  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar (0)