Dua Model Nasionalisme
Kalau melihat perkembangan di lapangan, semangat
nasionalisme yang muncul itu setidaknya bisa dikelompokkan menjadi dua.
Pertama, nasionalisme partisan. Nasionalisme seperti ini kita terima sebagai
paham politik, merek gerakan atau label identitas. Karena itu, sering kita
mendengar ada partai yang nasionalis dan ada partai yang agamis, ada figur yang
nasionalis dan ada figur yang agamis. Dikarenakan partisan, maka dia butuh
lawan, rival, atau pembanding agar eksis.
Nasionalisme model kedua adalah nasionalisme
yang kita pahami sebagai paradigma hidup yang menjunjung tinggi semangat /nilai
kegotong-royongan, sense of belonging, kepedulian, dan kemaslahatan
Indonesia sebagai kapal yang kita tumpangi bersama. Nasionalisme model ini
tidak mendatangkan lawan, melainkan malah mengundang kawan. Waktu zaman
penjajahan dulu, bangsa kita memunculkan naluri universal secara kimiawi untuk
membela bangsa dan negara yang kemudian
kita sebut nasionalisme model ini.
Kalau meminjam idiom dalam percintaan, nasionalisme model pertama adalah cinta
asmara yang egois atau demi kesenangan diri sendiri / kelompok. Seperti orang
pacaran, cinta asmara gampang ngambekan,
sensitive, cemburuan dan
kurang pangerten (understand).
Sementara, cinta kedua adalah cinta rahmat, cinta yang digambarkan seperti
cintanya seorang ibu terhadap bayi yang masih berada di rahimnya dimana
kepedulian menjadi di atas segala-galanya.
Pertanyaannya kemudian adalah nasionalisme
yang bagaimana yang kita butuhkan? Secara akal sehat atau secara naluri
universal manusia, yang kita butuhkan
adalah nasionalisme model kedua. Tidak berarti nasionalisme model pertama itu
salah total. Sebagai istilah, biarkanlah istilah itu menjadi istilah. Cuma, mau
pakai istilah nasionalis atau agamis, namanya
juga kita hidup bersama di atas satu kapal, tentunya perlu model nasionalimse
kedua. Kalau tidak, tentu kita sudah tahu jawabannya.
Jika menyimak suara-suara keresahan di
masyarakat, nampaknya ada suara yang semakin menggema bahwa nasionalisme orang
kita semakin tergerus oleh arus. Tentu yang dimaksudkan di situ bukan
nasionalisme partisan, melainkan nasionalisme model kedua itu. Apa benar
begitu? Bila melihat semakin tidak
kuatnya alasan seseorang untuk berpartisipasi dalam politik, melihat banyaknya
kekayaan negeri yang kurang berimbas kemakmurannya pada anak bangsa, melihat lemahnya
pendidikan dalam membentuk jatidiri bangsa, dll, bukan tidak mungkin jawabannya
akan lebih cenderung ke Yes.
Dari Core Nilai Ke Perilaku
Banyak orang yang membuat asumsi bahwa
berbagai persoalan yang melilit bangsa kini akarnya adalah melunturnya
nasionalisme. Sepintas, asumsi ini terkesan terlalu menyederhanakan persoalan.
Apa sih arti sebuah nasionalisme dibanding dengan ruwetnya persoalan bangsa?
Tapi, kalau dicoba dilihat ke bagaimana jiwa manusia bekerja, memang ada
benarnya walau mungkin bukan satu-satunya faktor.
Baik dalam literatur psikologi atau pendidikan, ada banyak penjelasan mengenai bagaimana manusia berperilaku atau darimana prilaku manusia itu dibentuk. Tidak terkecuali dalam Kitab Suci agama-agama. Salah satunya adalah penjelasan yang menjadikan core nilai sebagai akar perilaku, prinsip hidup sebagai batangnya, dan perilaku sebagai buahnya.
Kita bisa menerapkan ini pada misalnya
keresahan Bu Sri Mulyani, seperti dikutip Kompas (25/04/09), dimana watak para
bankir kita dalam mendukung UKM hanya kepentingan bisnis semata, bukan
kepedulian bagaimana supaya UKM itu terus maju secara bersinergi. Ketika UKM
sedang maju, bank beramai-ramai menawarkan kredit, hadiah, atau iming-iming.
Tapi, giliran sektor riil lagi lesu, bank ramai-ramai menjauhi mereka dengan
memperketat persyaratan kredit, bahkan ada yang mengada-ada.
Kenapa perilaku demikian muncul? Kalau
dikembalikan pada formula di atas, maka urutannya menjadi jelas. Karena
kepedulian, kegotong-royongan, kesatuan belum menjadi core nilai yang
melekat di kepala kita, maka prinsip hidup yang muncul adalah bagaimana kita (person
atau kelompok partisan) mencari hidup. Soal bagaimana orang lain, itu urusan
mereka. Prinsip hidup yang demikian hampir bisa dipastikan akan mendekte perilaku
yang menunjung tinggi kepentingan egoisme, bukan kemaslahatan, lebih-lebih
komitmen untuk meraih kemajuan bersama yang sinergis.
Bisa juga kita terapkan pada bagaimana
rawannya persoalan perbedaan aliran dalam agama di Indonesia. Kebetulan agama
di Indonesia ini tidak hanya satu dan di dalam masing-masing agama dimungkinkan
ada perbedaan paham atau aliran. Jika tanpa ada core nilai yang peduli
pada nasib kita yang berlayar di atas satu kapal, maka prinsip hidup kita dalam
beragama adalah kalau perlu kapal ini kita bakar agar yang di dalamnya hanya
kita. Prinsip demikian sangat berpotensi mendekte perilaku yang mengalahkan,
menghancurkan, atau meniadakan.
Aristotle pernah berkesimpulan bahwa isi
pikiran (mind) melahirkan sikap. Sikap melahirkan model prilaku. Perilaku
melahirkan kebiasaan. Kebiasaan melahirkan karakter. Karakter membentuk siapa
diri kita. Atau juga ada yang memformulasikan bahwa filsafat hidup tertentu
yang kita anut akan melahirkan penyikapan tertentu. Penyikapan akan melahirkan aksi
tertentu. Aksi melahirkan hasil. Intinya, seperti yang ditulis Covey, aksi
manusia itu bermula (pada hekakatnya) dari inside-out.
“Core nilai sebagai akar perilaku,
prinsip hidup sebagai batangnya, dan perilaku sebagai buahnya.”
Berbagai Sebab yang Mungkin
Ada lagi penjelasan
mengenai perilaku manusia itu. Seperti yang ditulis James V. McConnell dalam
bukunya Understanding Human Behavior (1989), perilaku manusia itu ada
kalanya yang digerakkan oleh sistem biologis, ada juga terkadang yang
digerakkan oleh proses mental (intrapsychic),
dan ada juga yang digerakkan oleh pengaruh sosial yang melingkupi seseorang.
Misalnya saja
kita ingin mengetahui apa sih yang menjadi sebab lunturnya rasa nasionalisme
bangsa kita. Secara sistem biologis, jika sebagian besar rakyat merasakan hal-hal
di bawah ini, maka akan muncul perilaku untuk bereaksi, termasuk akan berpikir
untuk apa sih nasionalisme segala.
Beberapa yang dapat memunculkan antipati rakyat itu misalnya saja:
Sistem biologis
manusia biasanya akan bekerja seperti naluri hewaniah. Karena kita mendapatkan perlakuan
yang tidak baik, maka kita akan membalasnya dengan perlakuan yang sama. Karena
negara kurang peduli sama kita, untuk apa kita peduli sama negara. Kira-kira
begitulah penjelasannya.
Bila reaksi
masyarakat itu tidak mendapatkan bimbingan dan pengarahan tentang pentingnya
nasionalisme, misalnya ada pendidikan, pelatihan, penataran, dan seterusnya, maka
motif, pandangan, sikap hidup atau inner thought and feeling
masyarakat kita (intrapsychic), akan mengeluarkan prilaku yang menjadi
kelanjutan dorongan biologisnya. Lain soal kalau bimbingan dan pengarahannya
gencar dilakukan.
Apabila jumlah
orang yang punya pandangan seperti itu mendominasi masyarakat, dari mulai
pemerintahan, tokoh masyarakat, dan masyarakatnya, maka lingkungan sosial yang
demikian akan mendukung munculnya perilaku
yang merupakan lanjutan dari reaksi biologis dan hasil kerja proses mental yang
ada di dalam diri seseorang (individu atau masyarakat).
Intinya, jika pemerintah / negara menciptakan
sentuhan yang tidak mendukung untuk memunculkan kohesi bangsa yang bernama
nasionalisme, ditambah lagi dengan minimnya kepedulian dari tokoh masyarakat
untuk menanamkan rasa nasionalisme, maka iklim dan kultur sosial kita akan
me-masa-bodoh-kan segala yang terkait dengan nasionalisme.
Saringan Alami
Ternyata, nasionalisme dalam arti peduli pada
nasib bangsa, tidak saja berguna untuk memajukan pembangunan bangsa, baik
ekonomi, pendidikan, atau politik. Ia juga berguna untuk menyaring pengaruh
luar berpotensi yang destruktif atau
yang sudah jelas-jelas merusak. Sebut saja misalnya aksi pengeboman. Dulu, aksi
pengeboman itu masih relevan dikaitkan dengan soal bagaimana ajaran agama
dipahami. Tapi, semakin ke sini, kaitannya tidak hanya itu.
Kaitannya sudah melebar dan meluas dan salah
satunya adalah ke nasionalisme. Kita bisa berpikir bahwa seandainya nasionalisme
itu mengayomi kepala orang-orang kita, maka apa yang dikatakakn para pembesar
kepolisian itu akan benar adanya. Maksudnya, aktor di balik aksi pengeboman itu
akan mudah ditangkap karena tidak ada orang lokal yang melindungi. Namun
kenyataannya lain. Aktornya mendapatkan perlindungan yang nyaman dari bangsa
kita. Apa coba namanya kalau bukan nasionalisme yang telah terkoyak?
Begitu juga dengan rumah-rumah mewah yang
sering dikontrak oleh para bos narkoba. Andaikan kepedulian itu masih
benar-benar kuat, mana mungkin ada rumah yang mau dikontrak oleh orang-orang
tak dikenal untuk dipakai sebagai tempat memproduksi narkoba? Seperti yang
ditemukan polisi di Depok, Tangerang atau daerah lain di Jawa Tengah, rumah
yang ditemukan dipakai untuk merusak bangsa ini adanya di tengah-tengah
penduduk, dekat dengan kantor polisi, atau dekat dengan tempat ibadah.
Jadi, karena nasionalisme bangsa kita
cenderung meluntur, maka saringan terhadap pengaruh luar menjadi semakin lebar
sehingga sampah apapun yang dari luar bisa masuk. Ini yang ikut menyumbang
kenapa posisi kita di hal-hal yang jelek semakin naik di antara bangsa-bangsa
di dunia, sementara posisi kita di
hal-hal yang baik semakin turun. Misalnya kalau kita membaca indeks prestasi
bangsa maju di dunia di bidang kehutanan. Mereka cenderung semakin bagus dalam
mengelola hutannya. Tapi kita justru semakin tidak bagus dengan maraknya illegal logging.
Hanya Simbol, Seremonial, dan Kampanye
Indonesia termasuk negara yang punya tanggal
merah lumayan banyak. Sebagian tanggal merah itu kita gunakan untuk
memperingati “hari-hari Tuhan”. Maksudnya adalah hari atau moment dimana
kita benar-benar merasakan kekuasaan Tuhan itu nyata di depan kita, seperti 17
Agustusan, Kebangkitan Nasional, dan
lain-lain.
Hanya, yang sering kita saksikan adalah
sepertinya peringatan itu tidak berlanjut pada komitmen kolektif yang terpimpin
untuk menumbuhkan rasa nasionalisme demi kemajuan bangsa dan demi memperkuat
saringan sampah dari luar, tetapi seringkali hanya sebatas sebagai acara
simbolik, seremonial, atau bahkan dilakoni untuk kampanye atau konsumsi berita
televisi. Padahal, membangun nasionalisme itu butuh keteladanan dan komitmen.
Semoga
bermanfaat.