Nasionalisme

Kategori Sosial
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 18 Agustus 2009

Dua Model Nasionalisme

Kalau melihat perkembangan di lapangan, semangat nasionalisme yang muncul itu setidaknya bisa dikelompokkan menjadi dua. Pertama, nasionalisme partisan. Nasionalisme seperti ini kita terima sebagai paham politik, merek gerakan atau label identitas. Karena itu, sering kita mendengar ada partai yang nasionalis dan ada partai yang agamis, ada figur yang nasionalis dan ada figur yang agamis. Dikarenakan partisan, maka dia butuh lawan, rival, atau pembanding agar eksis.

 

Nasionalisme model kedua adalah nasionalisme yang kita pahami sebagai paradigma hidup yang menjunjung tinggi semangat /nilai kegotong-royongan, sense of belonging, kepedulian, dan kemaslahatan Indonesia sebagai kapal yang kita tumpangi bersama. Nasionalisme model ini tidak mendatangkan lawan, melainkan malah mengundang kawan. Waktu zaman penjajahan dulu, bangsa kita memunculkan naluri universal secara kimiawi untuk membela bangsa dan negara  yang kemudian kita sebut nasionalisme model ini.

 

Kalau meminjam idiom dalam percintaan, nasionalisme model pertama adalah cinta asmara yang egois atau demi kesenangan diri sendiri / kelompok. Seperti orang pacaran, cinta asmara gampang ngambekan, sensitive, cemburuan dan kurang pangerten (understand). Sementara, cinta kedua adalah cinta rahmat, cinta yang digambarkan seperti cintanya seorang ibu terhadap bayi yang masih berada di rahimnya dimana kepedulian menjadi di atas segala-galanya. 

 

Pertanyaannya kemudian adalah nasionalisme yang bagaimana yang kita butuhkan? Secara akal sehat atau secara naluri universal manusia, yang kita  butuhkan adalah nasionalisme model kedua. Tidak berarti nasionalisme model pertama itu salah total. Sebagai istilah, biarkanlah istilah itu menjadi istilah. Cuma, mau pakai istilah nasionalis atau agamis,  namanya juga kita hidup bersama di atas satu kapal, tentunya perlu model nasionalimse kedua. Kalau tidak, tentu kita sudah tahu jawabannya.

 

Jika menyimak suara-suara keresahan di masyarakat, nampaknya ada suara yang semakin menggema bahwa nasionalisme orang kita semakin tergerus oleh arus. Tentu yang dimaksudkan di situ bukan nasionalisme partisan, melainkan nasionalisme model kedua itu. Apa benar begitu?  Bila melihat semakin tidak kuatnya alasan seseorang untuk berpartisipasi dalam politik, melihat banyaknya kekayaan negeri yang kurang berimbas kemakmurannya pada anak bangsa, melihat lemahnya pendidikan dalam membentuk jatidiri bangsa, dll, bukan tidak mungkin jawabannya akan lebih cenderung ke Yes.

 

 

Dari Core Nilai Ke Perilaku 

Banyak orang yang membuat asumsi bahwa berbagai persoalan yang melilit bangsa kini akarnya adalah melunturnya nasionalisme. Sepintas, asumsi ini terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Apa sih arti sebuah nasionalisme dibanding dengan ruwetnya persoalan bangsa? Tapi, kalau dicoba dilihat ke bagaimana jiwa manusia bekerja, memang ada benarnya walau mungkin bukan satu-satunya faktor.

 

Baik dalam literatur psikologi atau pendidikan, ada banyak penjelasan mengenai bagaimana manusia berperilaku atau darimana prilaku manusia itu dibentuk. Tidak terkecuali dalam Kitab Suci agama-agama. Salah satunya adalah penjelasan yang menjadikan core nilai sebagai akar perilaku, prinsip hidup sebagai batangnya, dan perilaku sebagai buahnya.


Kita bisa menerapkan ini pada misalnya keresahan Bu Sri Mulyani, seperti dikutip Kompas (25/04/09), dimana watak para bankir kita dalam mendukung UKM hanya kepentingan bisnis semata, bukan kepedulian bagaimana supaya UKM itu terus maju secara bersinergi. Ketika UKM sedang maju, bank beramai-ramai menawarkan kredit, hadiah, atau iming-iming. Tapi, giliran sektor riil lagi lesu, bank ramai-ramai menjauhi mereka dengan memperketat persyaratan kredit, bahkan ada yang mengada-ada.

 

Kenapa perilaku demikian muncul? Kalau dikembalikan pada formula di atas, maka urutannya menjadi jelas. Karena kepedulian, kegotong-royongan, kesatuan belum menjadi core nilai yang melekat di kepala kita, maka prinsip hidup yang muncul adalah bagaimana kita (person atau kelompok partisan) mencari hidup. Soal bagaimana orang lain, itu urusan mereka. Prinsip hidup yang demikian hampir bisa dipastikan akan mendekte perilaku yang menunjung tinggi kepentingan egoisme, bukan kemaslahatan, lebih-lebih komitmen untuk meraih kemajuan bersama yang sinergis.

 

Bisa juga kita terapkan pada bagaimana rawannya persoalan perbedaan aliran dalam agama di Indonesia. Kebetulan agama di Indonesia ini tidak hanya satu dan di dalam masing-masing agama dimungkinkan ada perbedaan paham atau aliran. Jika tanpa ada core nilai yang peduli pada nasib kita yang berlayar di atas satu kapal, maka prinsip hidup kita dalam beragama adalah kalau perlu kapal ini kita bakar agar yang di dalamnya hanya kita. Prinsip demikian sangat berpotensi mendekte perilaku yang mengalahkan, menghancurkan, atau meniadakan.

 

Aristotle pernah berkesimpulan bahwa isi pikiran (mind) melahirkan sikap. Sikap melahirkan model prilaku. Perilaku melahirkan kebiasaan. Kebiasaan melahirkan karakter. Karakter membentuk siapa diri kita. Atau juga ada yang memformulasikan bahwa filsafat hidup tertentu yang kita anut akan melahirkan penyikapan tertentu. Penyikapan akan melahirkan aksi tertentu. Aksi melahirkan hasil. Intinya, seperti yang ditulis Covey, aksi manusia itu bermula (pada hekakatnya) dari inside-out.

 

“Core nilai sebagai akar perilaku, prinsip hidup sebagai batangnya, dan perilaku sebagai buahnya.”

 

 

Berbagai Sebab yang Mungkin

Ada lagi penjelasan mengenai perilaku manusia itu. Seperti yang ditulis James V. McConnell dalam bukunya Understanding Human Behavior (1989), perilaku manusia itu ada kalanya yang digerakkan oleh sistem biologis, ada juga terkadang yang digerakkan oleh proses mental (intrapsychic), dan ada juga yang digerakkan oleh pengaruh sosial yang melingkupi seseorang.

 

Misalnya saja kita ingin mengetahui apa sih yang menjadi sebab lunturnya rasa nasionalisme bangsa kita. Secara sistem biologis, jika sebagian besar rakyat merasakan hal-hal di bawah ini, maka akan muncul perilaku untuk bereaksi, termasuk akan berpikir untuk apa sih nasionalisme segala. Beberapa yang dapat memunculkan antipati rakyat itu misalnya saja:

  1. Ketidakadilan dalam penegakan hukum atau terjadinya jual-beli perkara hukum
  2. Peranan pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat dirasakan sangat minim; masyarakat hanya dimanfaatkan untuk Pemilu
  3. Peranan pemerintah dalam memberikan akses kemajuan terhadap anak bangsa kurang adil; yang kaya makin hebat, sementara yang miskin makin terjepit
  4. Perlakuan birokrasi terhadap rakyatnya sendiri kurang melindungi
  5. Syiar politik yang hanya janji-janji tanpa bukti
  6. Dan lain-lain dan seterusnya

 

Sistem biologis manusia biasanya akan bekerja seperti naluri hewaniah. Karena kita mendapatkan perlakuan yang tidak baik, maka kita akan membalasnya dengan perlakuan yang sama. Karena negara kurang peduli sama kita, untuk apa kita peduli sama negara. Kira-kira begitulah penjelasannya.

 

Bila reaksi masyarakat itu tidak mendapatkan bimbingan dan pengarahan tentang pentingnya nasionalisme, misalnya ada pendidikan, pelatihan, penataran, dan seterusnya, maka motif, pandangan, sikap hidup atau inner thought and feeling masyarakat kita (intrapsychic), akan mengeluarkan prilaku yang menjadi kelanjutan dorongan biologisnya. Lain soal kalau bimbingan dan pengarahannya gencar dilakukan.

 

Apabila jumlah orang yang punya pandangan seperti itu mendominasi masyarakat, dari mulai pemerintahan, tokoh masyarakat, dan masyarakatnya, maka lingkungan sosial yang demikian akan mendukung munculnya  perilaku yang merupakan lanjutan dari reaksi biologis dan hasil kerja proses mental yang ada di dalam diri seseorang (individu atau masyarakat).

 

Intinya, jika pemerintah / negara menciptakan sentuhan yang tidak mendukung untuk memunculkan kohesi bangsa yang bernama nasionalisme, ditambah lagi dengan minimnya kepedulian dari tokoh masyarakat untuk menanamkan rasa nasionalisme, maka iklim dan kultur sosial kita akan me-masa-bodoh-kan segala yang terkait dengan nasionalisme.

 

 

Saringan Alami

Ternyata, nasionalisme dalam arti peduli pada nasib bangsa, tidak saja berguna untuk memajukan pembangunan bangsa, baik ekonomi, pendidikan, atau politik. Ia juga berguna untuk menyaring pengaruh luar berpotensi  yang destruktif atau yang sudah jelas-jelas merusak. Sebut saja misalnya aksi pengeboman. Dulu, aksi pengeboman itu masih relevan dikaitkan dengan soal bagaimana ajaran agama dipahami. Tapi, semakin ke sini, kaitannya tidak hanya itu.

 

Kaitannya sudah melebar dan meluas dan salah satunya adalah ke nasionalisme. Kita bisa berpikir bahwa seandainya nasionalisme itu mengayomi kepala orang-orang kita, maka apa yang dikatakakn para pembesar kepolisian itu akan benar adanya. Maksudnya, aktor di balik aksi pengeboman itu akan mudah ditangkap karena tidak ada orang lokal yang melindungi. Namun kenyataannya lain. Aktornya mendapatkan perlindungan yang nyaman dari bangsa kita. Apa coba namanya kalau bukan nasionalisme yang telah terkoyak?

 

Begitu juga dengan rumah-rumah mewah yang sering dikontrak oleh para bos narkoba. Andaikan kepedulian itu masih benar-benar kuat, mana mungkin ada rumah yang mau dikontrak oleh orang-orang tak dikenal untuk dipakai sebagai tempat memproduksi narkoba? Seperti yang ditemukan polisi di Depok, Tangerang atau daerah lain di Jawa Tengah, rumah yang ditemukan dipakai untuk merusak bangsa ini adanya di tengah-tengah penduduk, dekat dengan kantor polisi, atau dekat dengan tempat ibadah.

 

Jadi, karena nasionalisme bangsa kita cenderung meluntur, maka saringan terhadap pengaruh luar menjadi semakin lebar sehingga sampah apapun yang dari luar bisa masuk. Ini yang ikut menyumbang kenapa posisi kita di hal-hal yang jelek semakin naik di antara bangsa-bangsa di dunia,  sementara posisi kita di hal-hal yang baik semakin turun. Misalnya kalau kita membaca indeks prestasi bangsa maju di dunia di bidang kehutanan. Mereka cenderung semakin bagus dalam mengelola hutannya. Tapi kita justru semakin tidak bagus dengan maraknya illegal logging.

 

 

Hanya Simbol, Seremonial, dan Kampanye

Indonesia termasuk negara yang punya tanggal merah lumayan banyak. Sebagian tanggal merah itu kita gunakan untuk memperingati “hari-hari Tuhan”. Maksudnya adalah hari atau moment dimana kita benar-benar merasakan kekuasaan Tuhan itu nyata di depan kita, seperti 17 Agustusan,  Kebangkitan Nasional, dan lain-lain.

 

Hanya, yang sering kita saksikan adalah sepertinya peringatan itu tidak berlanjut pada komitmen kolektif yang terpimpin untuk menumbuhkan rasa nasionalisme demi kemajuan bangsa dan demi memperkuat saringan sampah dari luar, tetapi seringkali hanya sebatas sebagai acara simbolik, seremonial, atau bahkan dilakoni untuk kampanye atau konsumsi berita televisi. Padahal, membangun nasionalisme itu butuh keteladanan dan komitmen.

 

Semoga  bermanfaat.


 

  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar (0)