Kehidupan urban semakin menjamur
seiring dengan perkembangan dunia saat ini. Jakarta, Surabaya, Medan menjadi
sedikit contoh dari hiruk-pikuknya dinamika antara manusia dan pemenuhan
kebutuhan hidup.
Kota metropolitan tidak hanya
menghadirkan kehidupan kelap-kelip lampu di malam hari, menyaingi keindahan
bintang di langit sana. Permasalahan yang
mengemuka di antara sekian banyak tantangan adalah kemacetan lalu lintas,
pelayanan transportasi publik. Satu fenomena yang masih menjadi bahan
pembicaraan di Indonesia (Jakarta khususnya) adalah Busway,
sebagai nama generik dari armada bus Trans Jakarta hingga kini tetap menanggung
harapan Jakarta sebagai terobosan kemacetan kota besar.
Anda yang tinggal di kota besar mungkin hanya bisa menggigit jari,
mengangkat bahu, menggelengkan kepala, mengernyitkan dahi atau tertawa ketika
diingatkan hal-hal tersebut. Jika dilanjutkan dengan pertanyaan, "Apa yang paling mengganggu di antara semua
itu?" Mungkin anda akan semakin terpaku pada si penanya sementara sejuta
benang memori di otak segera berdialog dan membentuk satu format jawaban. Detik
selanjutnya, mungkin anda memilih untuk tersenyum sopan, membalik badan dan
meninggalkan si penanya dengan pertanyaannya itu.
Psikologi lingkungan
Keselarasan antara kualitas lingkungan, harapan masyarakat, tujuan dan
sistem nilai inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam penelitian
psikologi yang selanjutnya dikenal sebagai psikologi lingkungan (ekologi).
Satu hal yang paling membedakan antara aktivitas manusia dan makhluk hidup
lainnya adalah pencarian dan (kadang) penciptaan makna. Kita telah akrab dengan 'persepsi' suatu mekanisme unik yang membuat satu hal menjadi berjuta warna
makna. Persepsi manusia diarahkan pada apa yang ada di sekitarnya, yakni
lingkungan sekitar. Lingkunganlah yang menjadi stimulus bagi persepsi.
Kehidupan urban
Hingga saat ini tidak semua orang bisa mengerti misalnya, mengapa banyak
orang berbondong tiap tahunnya ke kota besar, mengapa orang-orang masih
menerima berdesakan di dalam kereta api listrik (KRL) seperti ikan sarden di
dalam kaleng, mengapa orang-orang juga masih bisa tertawa di dalam satu metro
mini (bus berukuran sedang di kota Jakarta) dengan gaya zig-zag dan ngebutnya si
sopir.
Rentetan pertanyaan ini yang juga mungkin membuat sebagian dari kita
tertawa, tersenyum simpul, tersenyum kecut atau dongkol dalam hati sebagai
respon kita pada mereka yang melontarkan pertanyaan dengan ekspresi takjub.
Masyarakat urban juga tidak canggung lagi hidup di satu bangunan
kotak-kotak yang menjulang tinggi hingga bertetangga dengan awan. Kesadaran
akan sempitnya lahan di satu bumi ini telah menumbuhkan semangat lain untuk
bisa mengubah pola pikir tentang rumah yang menapak tanah menjadi rumah yang
menjangkau langit.
Keresahan masyarakat urban
Kehidupan di kota besar, baik sebagai pendatang tidak tetap namun sering
melakukan perjalanan ke kota besar untuk jangka waktu tertentu, atau mendiami
kota ini tidak jarang harus menerima gangguan simultan yang bersumber dari
banyak faktor.
Teori stres mengacu pada proses
penyelesaian masalah yang memediasi hubungan antara stimulus yang tidak
dikehendaki (ditolak) dan reaksi individu, dalam kasus multi stresor,
penyesuaian terhadap satu stresor mampu meningkatkan kerentaan terhadap stresor
lain. Ini yang disebut dengan multi efek. Individu menjadi sensitif terhadap
hal lain yang dipersepsikan terkait dengan stresor yang pernah dihadapi.
Misalnya, ketika bus umum/publik
menjadi satu transportasi yang saya hindari karena seringkali terjebak di
kemacetan dan tidak bisa menngambil jalan alternatif karena bentuknya yang
paling besar, saya tidak akan begitu saja merasa nyaman ketika harus
menggunakan Trans Jakarta, meskipun bus publik ini memiliki jalur khusus
terpisah dari kendaran lain.
Selain permasalahan transortasi publik, masyarakat urban juga dihadapkan
dengan waktu. Masih terkait dengan pelayanan publik transportasi, kita harus
benar-benar mengatur waktu ketika akan pergi ke suatu tempat. Estimasi waktu
tidak sekedar untuk mencapai dari satu titik ke titik berbeda, melainkan juga
menyediakan waktu tambahan untuk kemacetan, menunggu bus, termasuk salah naik
transportasi alias nyasar.
Studi kehidupan urban
Robin, Matheau-Police dan Couty (2007)
mencoba menguak gangguan dan keresahan yang dialami oleh masyarakat urban di
Perancis. Apa yang dimaksud dengan gangguan di sini tidak pada kondisi fisik
lingkungan melainkan pada apa yang dipersepsikan mengganggu oleh masyarakat
urban dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Menggunakan analisa faktor, mereka mendapatkan tujuh faktor yang dianggap
mengganggu yakni; (a) perasaan tidak aman; (b) ketidaknyamanan terkait dengan
transportasi publik; (c) gangguan lingkungan secara global; (d) kurangnya kendali
waktu terkait dengan penggunaan mobil; (e) sikap kurang menghargai orang lain
dalam berbagi sarana publik; (f) inefisiensi akibat kepadatan penduduk; (g)
perasaan tidak aman terkait dengan lingkungan tinggal.
Perasaan tidak aman, menggambarkan;
Gangguan lingkungan secara global,
menggambarkan;
Kurangnya kendali waktu terkait
dengan penggunaan mobil, menggambarkan;
Sikap
kurang menghargai orang lain dalam berbagi sarana publik, menggambarkan;
Inefisiensi akibat kepadatan
penduduk, menggambarkan;
Perasaan tidak aman terkait dengan
lingkungan tinggal, menggambarkan;
Kekuatan kita sebagai diri
Ternyata keresahan yang dialami masyarakat urban di Perancis tidak jauh
berbeda dengan gambaran di Indonesia, dan kemungkinan besar juga di kota-kota
besar lain di dunia. Satu pertanyaan yang cukup menggelitik penulis adalah,
jika di satu negara maju seperti Perancis, di mana infrastruktur publik
termasuk regulasi yang meliputinya telah berjalan jauh lebih baik dibandingkan
di Indonesia, keresahan yang dialami seperti dalam studi di atas, bagaimana di
negara Nusantara ini?
Mungkin ada di antara pembaca yang telah melakukan studi serupa, atau
kalaupun belum, penulis melihat studi di atas bisa menjadi referensi yang kuat
dan menarik guna mencari solusi tepat.
Kembali pada teori persepsi, bahwa apa yang dipersepsikan mengganggu bagi
satu masyarakat atau individu, bukan jaminan akan berlaku sama bagi masyarakat
atau individu lain. Manusia sendiri memiliki mekanisme tubuh dan diri (jiwa)
dalam menghadapi permasalahan di lingkungannya, salah satu fungsi yang bisa
diandalkan di sini adalah pencarian/penciptaan makna terhadap sekitar. Fungsi
ini menjadi salah satu kekuatan manusia untuk mengubah distres (stres negatif)
menjadi eustres (stres positif), sehingga stres menjadi pendorong ke arah
perbaikan, bukan desruksi.
Mekanisme lain adalah apa yang diterangkan oleh teori lokus kontrol. Setiap
diri kita memiliki pilihan dan kecenderungan untuk meletakan kendali pada
interanal diri atau eksternal diri. Kita memiliki senjata untuk bermain dan
menjadi pelaku di alam semesta, tidak sekedar menjadi objek.
Literatur
Heft,
Harry (2007) Ecological Psychology in Context; Revisiting Gibson, Barker, and
James' Radical Empiricism-And Rethinking Environment and Environmental Experience.
Journal of Environmental Psychology 27
(2007) 1-13.www.elsevier.com/locate/jep
Robin, Monique.,
Matheau-Police,Annie., Couty, Caroline (2007) Development of a scale of
perceived environmental annoyances in urban settings. Journal of Environmental Psychology 27 (2007) 55-68