Psychological Issues in Urban Living

Kategori Sosial
Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 17 April 2008

Kehidupan urban semakin menjamur seiring dengan perkembangan dunia saat ini. Jakarta, Surabaya, Medan menjadi sedikit contoh dari hiruk-pikuknya dinamika antara manusia dan pemenuhan kebutuhan hidup.

Kota metropolitan tidak hanya menghadirkan kehidupan kelap-kelip lampu di malam hari, menyaingi keindahan bintang di langit sana. Permasalahan yang mengemuka di antara sekian banyak tantangan adalah kemacetan lalu lintas, pelayanan transportasi publik. Satu fenomena yang masih menjadi bahan pembicaraan di Indonesia (Jakarta khususnya) adalah  Busway, sebagai nama generik dari armada bus Trans Jakarta hingga kini tetap menanggung harapan Jakarta sebagai terobosan kemacetan kota besar.

Anda yang tinggal di kota besar mungkin hanya bisa menggigit jari, mengangkat bahu, menggelengkan kepala, mengernyitkan dahi atau tertawa ketika diingatkan hal-hal tersebut. Jika dilanjutkan dengan pertanyaan, "Apa yang paling mengganggu di antara semua itu?" Mungkin anda akan semakin terpaku pada si penanya sementara sejuta benang memori di otak segera berdialog dan membentuk satu format jawaban. Detik selanjutnya, mungkin anda memilih untuk tersenyum sopan, membalik badan dan meninggalkan si penanya dengan pertanyaannya itu.

 

Psikologi lingkungan

Keselarasan antara kualitas lingkungan, harapan masyarakat, tujuan dan sistem nilai inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam penelitian psikologi yang selanjutnya dikenal sebagai psikologi lingkungan (ekologi).

Satu hal yang paling membedakan antara aktivitas manusia dan makhluk hidup lainnya adalah pencarian dan (kadang) penciptaan makna. Kita telah akrab dengan 'persepsi' suatu mekanisme unik yang membuat satu hal menjadi berjuta warna makna. Persepsi manusia diarahkan pada apa yang ada di sekitarnya, yakni lingkungan sekitar. Lingkunganlah yang menjadi stimulus bagi persepsi.

 

Kehidupan urban

Hingga saat ini tidak semua orang bisa mengerti misalnya, mengapa banyak orang berbondong tiap tahunnya ke kota besar, mengapa orang-orang masih menerima berdesakan di dalam kereta api listrik (KRL) seperti ikan sarden di dalam kaleng, mengapa orang-orang juga masih bisa tertawa di dalam satu metro mini (bus berukuran sedang di kota Jakarta) dengan gaya zig-zag dan ngebutnya si sopir.

Rentetan pertanyaan ini yang juga mungkin membuat sebagian dari kita tertawa, tersenyum simpul, tersenyum kecut atau dongkol dalam hati sebagai respon kita pada mereka yang melontarkan pertanyaan dengan ekspresi takjub.

Masyarakat urban juga tidak canggung lagi hidup di satu bangunan kotak-kotak yang menjulang tinggi hingga bertetangga dengan awan. Kesadaran akan sempitnya lahan di satu bumi ini telah menumbuhkan semangat lain untuk bisa mengubah pola pikir tentang rumah yang menapak tanah menjadi rumah yang menjangkau langit.

 

Keresahan masyarakat urban

Kehidupan di kota besar, baik sebagai pendatang tidak tetap namun sering melakukan perjalanan ke kota besar untuk jangka waktu tertentu, atau mendiami kota ini tidak jarang harus menerima gangguan simultan yang bersumber dari banyak faktor.

Teori stres mengacu pada proses penyelesaian masalah yang memediasi hubungan antara stimulus yang tidak dikehendaki (ditolak) dan reaksi individu, dalam kasus multi stresor, penyesuaian terhadap satu stresor mampu meningkatkan kerentaan terhadap stresor lain. Ini yang disebut dengan multi efek. Individu menjadi sensitif terhadap hal lain yang dipersepsikan terkait dengan stresor yang pernah dihadapi.

Misalnya, ketika bus umum/publik menjadi satu transportasi yang saya hindari karena seringkali terjebak di kemacetan dan tidak bisa menngambil jalan alternatif karena bentuknya yang paling besar, saya tidak akan begitu saja merasa nyaman ketika harus menggunakan Trans Jakarta, meskipun bus publik ini memiliki jalur khusus terpisah dari kendaran lain.

Selain permasalahan transortasi publik, masyarakat urban juga dihadapkan dengan waktu. Masih terkait dengan pelayanan publik transportasi, kita harus benar-benar mengatur waktu ketika akan pergi ke suatu tempat. Estimasi waktu tidak sekedar untuk mencapai dari satu titik ke titik berbeda, melainkan juga menyediakan waktu tambahan untuk kemacetan, menunggu bus, termasuk salah naik transportasi alias nyasar.

 

Studi kehidupan urban

Robin, Matheau-Police dan Couty (2007) mencoba menguak gangguan dan keresahan yang dialami oleh masyarakat urban di Perancis. Apa yang dimaksud dengan gangguan di sini tidak pada kondisi fisik lingkungan melainkan pada apa yang dipersepsikan mengganggu oleh masyarakat urban dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Menggunakan analisa faktor, mereka mendapatkan tujuh faktor yang dianggap mengganggu yakni; (a) perasaan tidak aman; (b) ketidaknyamanan terkait dengan transportasi publik; (c) gangguan lingkungan secara global; (d) kurangnya kendali waktu terkait dengan penggunaan mobil; (e) sikap kurang menghargai orang lain dalam berbagi sarana publik; (f) inefisiensi akibat kepadatan penduduk; (g) perasaan tidak aman terkait dengan lingkungan tinggal.

Perasaan tidak aman, menggambarkan;

  • pemikiran bahwa seseorang mungkin mendapatkan tindakan agresif di dalam transportasi publik atau pertokoan (mall),  di lingkungan tempat tinggal (apartemen, rumah);
  • pemikiran bahwa seseorang mungkin menjadi korban kejahatan di  area publik;
  • pulang ke tempat tinggal dalam kondisi sendiri;
  • perasaan harus selalu siaga;
  • kemungkinan menemui orang yang akan mengganggu di area publik.

Ketidaknyamanan terkait dengan transportasi publik, menggambarkan;

  • harus meluangkan waktu untuk menunggu transportasi publik
  • menghadapi perubahan waktu atau penundaan transportasi publik
  • frekuensi transportasi publik yang kurang mencukupi
  • keramaian yang melewati batas dalam transportasi
  • banyaknya perubahan rute dan atau bentuk transportasi
  • harus berjuang untuk mendapatkan transportasi publik
  • tidak memiliki alternatif ketika terjadi masalah dengan transportasi publik yang biasa digunakan
  • terlambat ke tempat tujuan karena insiden yang dialami transportasi publik
  • aroma yang kurang menyenangkan dalam transportasi publik

Gangguan lingkungan secara global, menggambarkan;

  • meningkatnya polusi yang dihasilkan alat transportasi
  • udara yang tidak sehat di jalanan
  • meningkatnya polusi industri
  • meningkatnya jumlah kendaraan di jalan
  • berkurangnya area hijau di sekitar lingkungan tinggal
  • kebisingan di jalanan
  • bahaya (kurangnya) jalur sepeda
  • meningkatnya kemiskinan di perkotaan
  • kebisingan yang ditimbulkan oleh mobil dan armada transportasi lain (sirene, klakson, teriakan pengguna di jalan)

Kurangnya kendali waktu terkait dengan penggunaan mobil, menggambarkan;

  • terlambat karena kemacetan
  • terjebak di kemacetan dan tidak mampu berbuat apa-apa
  • berputar-putar mencari area parkir
  • kehilangan waktu karena kemacetan atau perjalanan secara keseluruhan

Sikap kurang menghargai orang lain dalam berbagi sarana publik, menggambarkan;

  • susah memarkir mobil
  • pemakai roller-blade atau pengendara sepeda yang tidak memperhatikan pengguna jalan lain
  • pengendara mobil atau kendaraan lain yang tidak menghargai pejalan kaki dan pengendara sepeda
  • penggunaan telepon selular dan walkman di area publik
  • sulit untuk bebas berjalan-jalan dengan kereta dorong (biasanya kereta bayi), membawa beberapa barang bawaan di jalanan beraspal
  • sikap agresi di antara pengemudi
  • orang-orang yang tidak sopan, grogi atau agresif di area publik
  • orang yang seenaknya membuang sampah atau potongan kertas di jalan
  • orang yang membiarkan anjingnya berkeliaran
  • kesulitan yang dihadapi orang lanjut usia atau cacat di area publik

Inefisiensi akibat kepadatan penduduk, menggambarkan;

  • kepadatan di supermarket pada hari-hari sibuk dan jam-jam tertentu
  • mengantri untuk mendapatkan pelayanan administrasi seperti di kantor pemerintahan
  • orang yang berjalan teralalu lambat di area publik
  • terjebak di keramaian

Perasaan tidak aman terkait dengan lingkungan tinggal, menggambarkan;

  • kondisi apartemen yang kurang baik seperti kacah jendela pecah, coretan grafiti, dsb.
  • sekelompok anak muda yang bergerombol di tangga, gang masuk atau area parkir apartemen
  • apartemen dengan perawatan yang kurang
  • kurangnya kebersihan di area publik
  • sikap anak muda tertentu di tempat publik
  • unit perumahan yang saling berjajar langsung
  • penerangan jalan yang buruk
  • penghuni perumahan (apartemen) yang membuat keributan (kebisingan) dan tidak mempedulikan sekitar (penghuni lain)

 

Kekuatan kita sebagai diri

Ternyata keresahan yang dialami masyarakat urban di Perancis tidak jauh berbeda dengan gambaran di Indonesia, dan kemungkinan besar juga di kota-kota besar lain di dunia. Satu pertanyaan yang cukup menggelitik penulis adalah, jika di satu negara maju seperti Perancis, di mana infrastruktur publik termasuk regulasi yang meliputinya telah berjalan jauh lebih baik dibandingkan di Indonesia, keresahan yang dialami seperti dalam studi di atas, bagaimana di negara Nusantara ini?

Mungkin ada di antara pembaca yang telah melakukan studi serupa, atau kalaupun belum, penulis melihat studi di atas bisa menjadi referensi yang kuat dan menarik guna mencari solusi tepat.

Kembali pada teori persepsi, bahwa apa yang dipersepsikan mengganggu bagi satu masyarakat atau individu, bukan jaminan akan berlaku sama bagi masyarakat atau individu lain. Manusia sendiri memiliki mekanisme tubuh dan diri (jiwa) dalam menghadapi permasalahan di lingkungannya, salah satu fungsi yang bisa diandalkan di sini adalah pencarian/penciptaan makna terhadap sekitar. Fungsi ini menjadi salah satu kekuatan manusia untuk mengubah distres (stres negatif) menjadi eustres (stres positif), sehingga stres menjadi pendorong ke arah perbaikan, bukan desruksi.

Mekanisme lain adalah apa yang diterangkan oleh teori lokus kontrol. Setiap diri kita memiliki pilihan dan kecenderungan untuk meletakan kendali pada interanal diri atau eksternal diri. Kita memiliki senjata untuk bermain dan menjadi pelaku di alam semesta, tidak sekedar menjadi objek.

 

 

Literatur

Heft, Harry (2007) Ecological Psychology in Context; Revisiting Gibson, Barker, and James' Radical Empiricism-And Rethinking Environment and Environmental Experience. Journal of Environmental Psychology 27 (2007) 1-13.www.elsevier.com/locate/jep

 

Robin, Monique., Matheau-Police,Annie., Couty, Caroline (2007) Development of a scale of perceived environmental annoyances in urban settings. Journal of Environmental Psychology 27 (2007) 55-68

  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar (0)