Membumikan Citra Seni Wayang Pada Generasi Muda

Kategori Sosial
Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 31 Agustus 2007

Kekayaan Bangsa

Identitas merupakan sesuatu yang krusial bagi kehidupan, karena identitas, manusia dari segala macam budaya dapat bersatu dalam harmoni, karena identitas pula genosida terjadi di belahan bumi ini. Jika sushi mengingatkan orang akan Negeri Sakura, panda pada  Negeri Tirai Bambu, bumerang pada benua Australia, bahkan racikan musik The Corrs menghadirkan nuansa Irlandia, apakah seni wayang juga menampilkan Negeri Katulistiwa ini? Sementara negeri tetangga Malaysia juga memiliki seni wayang, meski tidak banyak orang yang tahu. Jika seni wayang menjadi ciri atau identitas Indonesia, apakah sebagian besar masyarakat (terutama orang Jawa) akrab dengan seni ini, banggakah?

"Seni wayang sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan selayaknya sebuah karya besar dari suatu bangsa" Untaian kalimat indah ini mungkin sudah hampir tidak mungkin untuk dibantah, seni wayang sebagai karya besar nusantara, termasuk sebagai identitas bangsa. Namun dalam kenyataannya, apa yang disebut sebagai identitas adalah sesuatu yang mendarah-daging, setidaknya populer di banyak lapisan masyarakat, tidak sekedar terdengar tetapi tidak tahu wujudnya.

 

Tidak Populer

Sebagai karya kehidupan di nusantara, seni wayang masih menjadi identitas kalangan tertentu. Wayang adalah milik orang tua, orang Jawa, pengamat kebudayaan pecinta seni, dan kalangan sastrawan. Pamor wayang tidak bersinar di kalangan anak muda yang gandrung dengan berbagai gaya funky, misalnya, padahal di generasi muda inilah terletak nasib bangsa Indonesia kelak. Apakah mereka akan bangga memasang atribut wayang di kaos oblongnya, tas ransel sekolah, atau ikat kepala saat mejeng di mall? Tahukah mereka akan jalan cerita, tokoh atau pesan-pesan kehidupan yang diemban seni wayang?

Grup musik Dewa adalah satu diantara kelompok anak muda yang cukup gemar mengangkat atribut wayang dalam cover album atau judul lagunya, bahkan fans Dewa dikenal dengan sebutan Baladewa. Putu Wijaya dalam salah satu bukunya berjudul "Perang" mengangkat kisah wayang dalam gaya bahasa yang 'gaul' atau Seno Gumira Ajidarma dengan "Wisanggeni" –nya. Karya-karya ini merupakan salah satu perwujudan dari seni wayang yang seyogyanya bisa mengakrabkan wayang di masyarakat khususnya kalangan muda yang cenderung 'malas' dengan pakem-pakem yang rapi.

Mengapa wayang yang merupakan karya besar belum 'ditemukan' di kalangan  luas? Apakah sebutan sebagai karya besar, warisan leluhur, menjadi 'kendala' apresiasi masyarakat luas? Iwan Fals pernah digugat karena cover albumnya menampilkan Dewa Wisnu yang dianggap sebagian kalangan umat Hindu sebagai bentuk pelecehan. Peristiwa ini seharusnya menjadi cermin bahwa unsur-unsur yang terkandung dalam seni wayang, yang kadang tidak bisa dipisahkan dari agama Hindu telah menjadi milik bangsa Indonesia secara luas. Tidak hanya umat Hindu atau orang Bali yang akrab dengan Dewa Wisnu, buktinya banyak nama anak di Jawa yang menggunakan nama Wisnu, Yudhistira, Sinta, atau lainnya dengan harapan sang anak kelak mewarisi sifat-sifat luhur sesuai nama besar Wisnu atau Yudhistira.

 

Citra Wayang

            Mengapa terlihat susah sekali menjadi idola anak muda? Seni wayang mempunyai citra yang cukup 'seram'. Karena keluhurannya, orang awam jadi harus berhati-hati jika ingin membuat interpretasi dalam kehidupan nyata, meskipun banyak didengungkan bahwa seni wayang mencakup berbagai bahkan seluruh sendi kehidupan termasuk makna dari kehidupan itu sendiri. Tetapi, bobot keluhuran wayang itu sendiri yang dipagari oleh pakem-pakem ketat ternyata tidak populer apalagi merasuk di masyarakat awam. Coba tanyakan siapa itu Wisanggeni pada anak-anak sekolah setingkat SMU atau SD, pasti mereka akan lebih hafal tokoh-tokoh kartun Jepang yang merajai televisi.

            Memang telah berulangkali wayang diformat 'fun' lewat beberapa tayangan televisi dengan bentuk guyon atau parodi. Tetapi, kalau mau jujur, wayang belum menjadi ciri Indonesia seperti mestinya.

            Kartun Jepang baik berupa komik atau film telah mewarnai kehidupan anak muda hingga mereka mulai akrab dengan nama-nama makanan atau mungkin budaya yang berlaku sehari-hari. Satu benang merah yang patut membuat iri adalah, dalam seluruh komik atau film kartun Jepang, selalu termuat budaya keseharian rakyat Jepang, seperti Festifal Tanabata, upacara Hanami (melihat bunga sakura), permainan benang dengan tangan yang dapat membentuk beragam bentuk seperti bunga, menara, dsb., berdoa di kuil dengan melempar koin, pergi di kuil dengan melemparkan uang pada halaman kuil setiap tahun baru datang,... dan masih banyak lagi sendi-sendi kehidupan yang diangkat dengan santai namun cukup memberi gambaran apa itu Jepang, bagi masyarakat di luar Negeri Matahari Terbit itu.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, betapa Jepang sangat bangga dengan budayanya dan tidak sungkan-sungkan untuk menuangkan berbagai renik kehidupan dalam format yang banyak mendapat ejekan, yaitu komik. Namanya juga komik, maka gambar yang tercipta tidaklah 'sempurna' karena memang untuk melemaskan otot yang tegang dan memancing tawa. Penulis tidak bisa membayangkan, apakah mereka yang mengaku dan merasa sangat memahami seni wayang akan rela jika ada anak muda yang kreatif, memahami dan menggemari seni wayang lalu mengangkatnya dalam komik dengan ilustrasi 'konyol'. Bukankah komik bisa dibaca oleh siapa saja, kecuali orang-orang yang menganggap itu hanya untuk anak TK.

 

Secuil Solusi...

            Tulisan ini mungkin merupakan gayung bersambut dari penawaran terbuka untuk berbagi rasa apa itu wayang, namun diakui juga sebagai unek-unek atas kekaguman dan ke-iri-an budaya luar yang semakin populer di masyarakat, khususnya pada generasi muda. Fokus utama untuk lebih membumikan kekayaan nusantara tidak hanya pada kulit, namun bagaimana agar seni wayang bisa menjadi kebanggaan orang Indonesia dalam arti dalam adalah Pengubahan Citra.

            Citra seni wayang adalah citra yang berat, sementara dunia kini adalah dunia internet yang dinamis yang  fun. Ilustrasi yang diangkat penulis di atas tentang komik Jepang adalah suatu pelajaran yang tidak perlu gengsi untuk ditiru. Komik Jepang, yang dikenal dengan manga, mempunyai ciri yang berbeda dari komik negara lain. Selain bentuknya yang tidak menampilkan manusia utuh, ekspresi yang ditampilkan juga sering nyleneh.

            Seni wayang yang banyak mengandung nilai-nilai kehidupan akan sulit langsung diterima oleh masyarakat awam jika hanya disajikan dalam format tradisional. Bukankah akan semakin membanggakan jika generasi muda dapat memahami seni wayang berikut cerita dan kandungannya sekaligus? Pengubahan citra di sini bukan berarti merombak seni wayang sama sekali keluar dari pakem. Setidaknya ada dua hal besar yang menjadi kajian utama, yaitu:

1.      Kontemporer. Metode ini ditujukan untuk memecah pekerjaan besar membumikan seni wayang di masyarakat menjadi kepingan-kepingan kecil dan ringan. Cara ini masih bisa dipecah lagi menjadi dua, yakni sasaran untuk generasi muda (anak-anak dan remaja) dan orang dewasa awam. Hendaknya perlu diingat bahwa generasi muda tidak selalu identik dengan dunia hura-hura tetapi tetap kurang cocok dengan sesuatu yang statis, maka format yang penulis usulkan adalah komik, cerpen, kumpulan cerpen, sinetron, lomba resensi buku seni wayang, dan sebagainya. Diharapkan, ketertarikan yang telah dipancing dalam jalan kontemporer dapat menggiring masyarakat Indonesia pada pencarian informasi tantang seni wayang ini lebih lanjut dan salah satu media yang harus tetap dijalankan adalah cara konvensional atau tradisional.

2.      Konvensional. Media konvensional atau tradisional tetap dibutuhkan hingga kapanpun karena merupakan mata rantai sejarah seni wayang itu sendiri. Keberadaannya akan sangat berguna guna menunjukkan bagaimana sejatinya seni wayang itu dalam format 'asli'nya.

 

Kekayaan suatu bangsa hendaknya tidak menjadi simbol semata, melainkan dapat di-ejawantah-kan dalam masyarakat bangsa itu sendiri. Bayangkan seorang turis dari negeri seberang melihat ilustrasi seni wayang di pinggir jalan atau media massa, adalah wajar jika kemudian ia menanyakan lebih lanjut pada orang setempat yang ditemui, bisa penjual koran, pelajar atau siapa saja yang terlihat sebagai pribumi dan dianggarp memiliki hak waris atas karya besar tersebut. Semoga seni wayang dapat benar-benar menjadi kebanggaan nasional oleh berbagai lapisan masyarakat dan menyiratkan aura Indoneia tercinta, amien.

  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar (0)