Kekayaan Bangsa
Identitas merupakan sesuatu yang
krusial bagi kehidupan, karena identitas, manusia dari segala macam budaya
dapat bersatu dalam harmoni, karena identitas pula genosida terjadi di belahan
bumi ini. Jika sushi mengingatkan orang akan Negeri Sakura, panda
pada Negeri Tirai Bambu, bumerang pada benua Australia, bahkan racikan
musik The Corrs menghadirkan nuansa Irlandia, apakah seni wayang juga
menampilkan Negeri Katulistiwa ini? Sementara negeri tetangga Malaysia juga
memiliki seni wayang, meski tidak banyak orang yang tahu. Jika seni wayang
menjadi ciri atau identitas Indonesia, apakah sebagian besar masyarakat
(terutama orang Jawa) akrab dengan seni ini, banggakah?
"Seni wayang sebagai warisan
leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan selayaknya sebuah karya besar dari
suatu bangsa"
Untaian kalimat indah ini mungkin sudah hampir tidak mungkin untuk dibantah,
seni wayang sebagai karya besar nusantara, termasuk sebagai identitas bangsa.
Namun dalam kenyataannya, apa yang disebut sebagai identitas adalah sesuatu
yang mendarah-daging, setidaknya populer di banyak lapisan masyarakat, tidak
sekedar terdengar tetapi tidak tahu wujudnya.
Tidak Populer
Sebagai karya kehidupan di
nusantara, seni wayang masih menjadi identitas kalangan tertentu. Wayang adalah
milik orang tua, orang Jawa, pengamat kebudayaan pecinta seni, dan kalangan
sastrawan. Pamor wayang tidak bersinar di kalangan anak muda yang gandrung
dengan berbagai gaya funky, misalnya, padahal di generasi muda inilah
terletak nasib bangsa Indonesia kelak. Apakah mereka akan bangga memasang
atribut wayang di kaos oblongnya, tas ransel sekolah, atau ikat kepala saat
mejeng di mall? Tahukah mereka akan jalan cerita, tokoh atau pesan-pesan
kehidupan yang diemban seni wayang?
Grup musik Dewa adalah satu diantara
kelompok anak muda yang cukup gemar mengangkat atribut wayang dalam cover album
atau judul lagunya, bahkan fans Dewa dikenal dengan sebutan Baladewa. Putu
Wijaya dalam salah satu bukunya berjudul "Perang" mengangkat kisah
wayang dalam gaya bahasa yang 'gaul' atau Seno Gumira Ajidarma dengan
"Wisanggeni" –nya. Karya-karya ini merupakan salah satu perwujudan
dari seni wayang yang seyogyanya bisa mengakrabkan wayang di masyarakat
khususnya kalangan muda yang cenderung 'malas' dengan pakem-pakem yang rapi.
Mengapa wayang yang merupakan karya
besar belum 'ditemukan' di kalangan luas? Apakah sebutan sebagai karya
besar, warisan leluhur, menjadi 'kendala' apresiasi masyarakat luas? Iwan Fals
pernah digugat karena cover albumnya menampilkan Dewa Wisnu yang dianggap
sebagian kalangan umat Hindu sebagai bentuk pelecehan. Peristiwa ini seharusnya
menjadi cermin bahwa unsur-unsur yang terkandung dalam seni wayang, yang kadang
tidak bisa dipisahkan dari agama Hindu telah menjadi milik bangsa Indonesia
secara luas. Tidak hanya umat Hindu atau orang Bali yang akrab dengan Dewa
Wisnu, buktinya banyak nama anak di Jawa yang menggunakan nama Wisnu,
Yudhistira, Sinta, atau lainnya dengan harapan sang anak kelak mewarisi
sifat-sifat luhur sesuai nama besar Wisnu atau Yudhistira.
Citra Wayang
Mengapa terlihat susah sekali menjadi idola anak muda? Seni wayang mempunyai
citra yang cukup 'seram'. Karena keluhurannya, orang awam jadi harus
berhati-hati jika ingin membuat interpretasi dalam kehidupan nyata, meskipun
banyak didengungkan bahwa seni wayang mencakup berbagai bahkan seluruh sendi kehidupan
termasuk makna dari kehidupan itu sendiri. Tetapi, bobot keluhuran wayang itu
sendiri yang dipagari oleh pakem-pakem ketat ternyata tidak populer apalagi
merasuk di masyarakat awam. Coba tanyakan siapa itu Wisanggeni pada anak-anak
sekolah setingkat SMU atau SD, pasti mereka akan lebih hafal tokoh-tokoh kartun
Jepang yang merajai televisi.
Memang telah berulangkali wayang diformat 'fun' lewat beberapa tayangan
televisi dengan bentuk guyon atau parodi. Tetapi, kalau mau jujur,
wayang belum menjadi ciri Indonesia seperti mestinya.
Kartun Jepang baik berupa komik atau film telah mewarnai kehidupan anak muda
hingga mereka mulai akrab dengan nama-nama makanan atau mungkin budaya yang
berlaku sehari-hari. Satu benang merah yang patut membuat iri adalah, dalam
seluruh komik atau film kartun Jepang, selalu termuat budaya keseharian rakyat
Jepang, seperti Festifal Tanabata, upacara Hanami (melihat bunga
sakura), permainan benang dengan tangan yang dapat membentuk beragam bentuk
seperti bunga, menara, dsb., berdoa di kuil dengan melempar koin, pergi di kuil
dengan melemparkan uang pada halaman kuil setiap tahun baru datang,... dan
masih banyak lagi sendi-sendi kehidupan yang diangkat dengan santai namun cukup
memberi gambaran apa itu Jepang, bagi masyarakat di luar Negeri Matahari Terbit
itu.
Pelajaran yang bisa dipetik adalah,
betapa Jepang sangat bangga dengan budayanya dan tidak sungkan-sungkan untuk
menuangkan berbagai renik kehidupan dalam format yang banyak mendapat ejekan,
yaitu komik. Namanya juga komik, maka gambar yang tercipta tidaklah 'sempurna'
karena memang untuk melemaskan otot yang tegang dan memancing tawa. Penulis
tidak bisa membayangkan, apakah mereka yang mengaku dan merasa sangat memahami
seni wayang akan rela jika ada anak muda yang kreatif, memahami dan menggemari
seni wayang lalu mengangkatnya dalam komik dengan ilustrasi 'konyol'. Bukankah
komik bisa dibaca oleh siapa saja, kecuali orang-orang yang menganggap itu
hanya untuk anak TK.
Secuil Solusi...
Tulisan ini mungkin merupakan gayung bersambut dari penawaran terbuka untuk
berbagi rasa apa itu wayang, namun diakui juga sebagai unek-unek atas kekaguman
dan ke-iri-an budaya luar yang semakin populer di masyarakat, khususnya pada
generasi muda. Fokus utama untuk lebih membumikan kekayaan nusantara tidak
hanya pada kulit, namun bagaimana agar seni wayang bisa menjadi kebanggaan
orang Indonesia dalam arti dalam adalah Pengubahan Citra.
Citra seni wayang adalah citra yang berat, sementara dunia kini adalah dunia
internet yang dinamis yang fun. Ilustrasi yang diangkat penulis di
atas tentang komik Jepang adalah suatu pelajaran yang tidak perlu gengsi untuk
ditiru. Komik Jepang, yang dikenal dengan manga, mempunyai ciri yang
berbeda dari komik negara lain. Selain bentuknya yang tidak menampilkan manusia
utuh, ekspresi yang ditampilkan juga sering nyleneh.
Seni wayang yang banyak mengandung nilai-nilai kehidupan akan sulit langsung
diterima oleh masyarakat awam jika hanya disajikan dalam format tradisional.
Bukankah akan semakin membanggakan jika generasi muda dapat memahami seni
wayang berikut cerita dan kandungannya sekaligus? Pengubahan citra di sini
bukan berarti merombak seni wayang sama sekali keluar dari pakem. Setidaknya
ada dua hal besar yang menjadi kajian utama, yaitu:
1. Kontemporer.
Metode ini ditujukan untuk memecah pekerjaan besar membumikan seni wayang di
masyarakat menjadi kepingan-kepingan kecil dan ringan. Cara ini masih bisa
dipecah lagi menjadi dua, yakni sasaran untuk generasi muda (anak-anak dan
remaja) dan orang dewasa awam. Hendaknya perlu diingat bahwa generasi muda
tidak selalu identik dengan dunia hura-hura tetapi tetap kurang cocok dengan
sesuatu yang statis, maka format yang penulis usulkan adalah komik, cerpen,
kumpulan cerpen, sinetron, lomba resensi buku seni wayang, dan sebagainya.
Diharapkan, ketertarikan yang telah dipancing dalam jalan kontemporer dapat
menggiring masyarakat Indonesia pada pencarian informasi tantang seni wayang
ini lebih lanjut dan salah satu media yang harus tetap dijalankan adalah cara
konvensional atau tradisional.
2. Konvensional.
Media konvensional atau tradisional tetap dibutuhkan hingga kapanpun karena
merupakan mata rantai sejarah seni wayang itu sendiri. Keberadaannya akan
sangat berguna guna menunjukkan bagaimana sejatinya seni wayang itu dalam
format 'asli'nya.
Kekayaan suatu bangsa hendaknya
tidak menjadi simbol semata, melainkan dapat di-ejawantah-kan dalam
masyarakat bangsa itu sendiri. Bayangkan seorang turis dari negeri seberang
melihat ilustrasi seni wayang di pinggir jalan atau media massa, adalah wajar
jika kemudian ia menanyakan lebih lanjut pada orang setempat yang ditemui, bisa
penjual koran, pelajar atau siapa saja yang terlihat sebagai pribumi dan
dianggarp memiliki hak waris atas karya besar tersebut. Semoga seni wayang
dapat benar-benar menjadi kebanggaan nasional oleh berbagai lapisan masyarakat
dan menyiratkan aura Indoneia tercinta, amien.