Dalam prakteknya, persahabatan itu kita
bedakan dengan pertemanan. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada
intensitas keterlibatan emosi dan komitmen. Karena itu, terkadang tidak cukup kita
mengatakan "friend" untuk menyebut seorang sahabat, tetapi masih kita tambah
dengan kata sifat "close friend".
Kalau mengacu ke teori hubungan antar pribadi menurut Verderber & Verderber
(Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, 1996) persahabatan itu mungkin istilahnya
adalah Deep Friendship. Berdasarkan skala intimasi dan komitmen yang
muncul, hubungan antar pribadi itu dikelompokkan menjadi seperti berikut ini:
Dari bukti-bukti di lapangan ditemukan bahwa
persahabatan yang bagus itu punya banyak manfaat. Salah satunya adalah bisa
mencegah hipertensi (Reardom, Interpersonal Communication: Where Minds Meet,
1987). Secara kesehatan dijelaskan bahwa hipertensi adalah tekanan darah atau
denyut jantung yang lebih tinggi dari yang normal karena ada penyempitan
pembuluh darah atau karena sebab lain. Bisa juga berguna untuk menurunkan dan
mengurangi potensi stress atau depresi.
Misalnya saja Anda saat ini sedang belajar di
lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tegas. Namanya disiplin, pasti
maksudnya baik. Cuma, dalam eksekusi di lapangannya, pasti juga ada kemungkinan
munculnya penyimpangan prosedur oleh individu yang tak jarang menimbulkan
tekanan, ketegangan, atau himpitan. Dengan memiliki cantolan klub, forum, atau kelompok
yang tingkat persahabatannya bagus, itu akan bisa membuat kita lebih sabar dan
terhibur.
Kalau melihat temuan Maslow, ternyata salah
satu karakteristik self-actualized person itu adalah punya sahabat atau
kenalan yang jumlahnya sedikit namun berbobot intimasi dan kualitasnya (Human
Development, Vander Zender, 1989). Ini mungkin bisa kita tafsirkan bahwa mereka
itu punya sahabat atau orang dekat. Tafsiran ini memang seringkali sinkron
dengan realitas yang kerap kita temui di lapangan. Banyak 'kan kita mengenal
sejumlah tokoh atau orang-orang tertentu yang berprestasi di bidangnya (di
semua level) yang ternyata dulu mereka bersahabat dengan orang-orang tertentu
dan persahabatan itu berlangsung sampai sekarang.
Bahkan, kata orang, Tuhan itu kalau mengangkat
derajat seseorang jarang secara individu. Tuhan itu mengangkat derajat
seseorang sekaligus dengan kelompoknya. Ini tentu refleksi personal yang subyektif.
Tapi memang secara rasional, ungkapan itu ada rujukannya. Karena mereka yang
bersahabat itu membangun kedekatan lahir dan batin, sudah barang tentu mereka
punya mindset yang sama, kultur hidup yang sama, atau karakter yang
sama. Logikanya, ketika orang sudah
dibentuk oleh prinsip-prinsip yang sama, maka sangat mungkin mereka mendapatkan
nasib yang sama.
"Isi pikiranmu membentuk tindakanmu,
tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu, karaktermu
membentuk nasibmu."
(Aristotle)
Jadi, yang menyebabkan mereka punya kesamaan
nasib, bukan kesamaan kelompoknya, melainkan kesamaan isi pikiran, tindaan,
kebiasaan, dan karakter.
Kapan
Kendor & Kapan Pecah
Dalam prakteknya,
persahabatan itu bisa kendor dan bisa pula pecah. Secara umum, kendornya
intimasi persahabatan itu mulai muncul ketika masing-masing atau salah seorangnya
sudah punya kepentingan dan kebutuhan yang ditandai dengan berubahnya status.
Misalnya saja dari mahasiswa ke pekerja atau dari bujangan ke ber-rumahtangga,
dari orang biasa ke orang penting.
Kalau menurut
ucapannya Sigmund Freud, orang dewasa itu isi pikirannya yang paling dominan
hanya dua: to love and to work. Mereka berkonsentrasi pada keluarga (to love) dan kerjaannya (to work). Kohesi persahabatan yang terjadi
pada kehidupan orang dewasa biasanya adalah lanjutan dari persahabatan
sebelumnya atau karena kepentingan dan kondisi yang dirasakan sangat spesifik
(benar-benar senasib).
Ini kerap terjadi
pada tenaga kerja atau pelajar di luar negeri. Karena sama-sama senasib,
sama-sama dari Indonesia, sama-sama punya kepentingan yang sama, dan merasakan
keadaan yang relatif sama, maka persahabatan terbentuk. Tapi, menurut
kebiasaan, persahabatan yang terbentuk ketika usia seseorang sudah banyak
kepentingan, memang rasanya beda dengan ketika seseorang masih di usia remaja
atau dewasa muda.
Nah, lalu kapan persahabatan akan terancam
bubar? Masalah yang melatarbelakangi bubarnya persahabatan itu pasti
bermacam-macam. Menurut Duck (1985), biasanya fase-fase bubarnya hubungan (disolusi)
itu diawali dari proses di bawah ini:
Bisa juga disolusi itu terjadi sesuai dengan
urutan yang ditemukan Hawk Williams (The essence of
managing group & teams, 1996) berikut ini:
Dalam organisasi kepemudaan yang rata-rata kita
lihat mereka bersahabat, urutan di atas kerap terjadi. Si A dipandang telah
sering melakukan tindakan yang melanggar prinsip dasar organisasi. Karena
bersahabat, mereka tidak langsung menegur atau mengingatkan secara
terang-terangan. Si A sendiri tidak sensitif menangkap gelagat ketidaksetujuan
para sahabatnya. Proses ini terus berlanjut dan masing-masing pihak menyimpan
bara api ketidaksetujuan dan ketidakpedulian di dadanya. Hingga pada puncaknya,
Si A dipecat dari organisasi itu. Jika Si A tidak terima, terjadilah upaya
saling menjatuhkan dimana masing-masing orang kehilangan perspektif
persahabatannya.
"Hindarilah bersahabat dengan orang
yang membohongimu,
hindarilah bersahabat dengan orang
yang memanfaatkanmu,
dan hindarilah bersahabat dengan orang
menjerumuskanmu"
(Ali bin Abu Thalib)
Beberapa
Cara Mempertahankan Persahabatan
Untuk persahabatan yang tengah kendor
intimasinya karena ada perbedaan dan perubahan, hal-hal yang bisa kita lakukan
adalah:
Pertama, menjaga ritme dan frekuensi hubungan.
Jangan terlalu sering atau jangan sama sekali putus hubungan. Aturlah ritme dan
frekuensinya. Kenapa? Jika Anda terlalu sering, padahal status dan peranan
sahabat Anda itu sudah tidak seperti dulu lagi, akan lain tafsirannya. Tapi
jika hubungan itu terputus sama sekali, ini juga tidak tepat.
Jika kebetulan nasib kita ternyata lebih di
atas, akan lebih bagus kalau kita yang
berinisiatif memulai memelihara persahabatan itu. Kalau memungkinkan dan itu
dibutuhkan, yang perlu kita lakukan bukan semata 'say hello' atau
sekedar bernostalgia, melainkan juga perlu merambah ke gagasan-gagasan
pemberdayaan, entah untuk sahabat kita yang lain atau untuk orang lain.
Kedua, hormati privasinya. Dengan peranan dan
status yang sudah tidak seperti dulu lagi, tentu sahabat kita ini memiliki
aturan hidup yang baru, entah itu terkait dengan keluarganya atau pekerjaannya.
Agar persahabatan tetap terjaga, yang perlu kita lakukan adalah menghormati
privasinya. Bahkan juga tidak saja perlu menghormati dia semata, tetapi juga orang-orang
penting di sekitarnya, misalnya saja suami-istri, atasan-bawahan, dan
lain-lain.
Apabila kita berada di posisi yang sebaliknya
(orang yang dicari), yang perlu kita hindari adalah curiga duluan kalau sahabat
kita ini pasti membawa masalah atau mau minta bantuan, hanya memberi nasehat
dengan cara merendahkan, hanya memamerkan kekayaan (unjuk-diri), atau
memperlakukannya terlalu formal dan menunjukkan kesan terlalu menjaga wibawa.
Ketiga, hindari meminta bantuan dengan nada dan
gaya menuntut (demanding) kecuali
memang ada suasana psikologis yang mendukung dan itu tidak melibatkan orang
lain selain sahabat Anda. Lebih-lebih, karena tuntutan kita tak terpenuhi, kita
kemudian menyebarkan gosip tak sedap, misalnya sahabat kita ini sekarang
orangnya sudah lain, makin sombong, angkuh, tak peduli, dan lain-lain. Akan
lebih sip kalau kita menempuh cara-cara profesional yang tetap mengedepankan
etika dan strategi.
Bila kita berada di posisi sebaliknya,
hindari mengeluarkan pernyataan semacam tidak bisa, itu sulit, atau itu tidak
mungkin dan semisalnya dengan nada untuk menutup berbagai kemungkinan. Kalau
kita tidak bisa membantu langsung, kita bisa membantu secara tidak langsung.
Kalau kita tidak bisa membantu keinginannya, kita bisa membantu kebutuhannya.
Intinya, munculkan semangat untuk membantu.
Itu semua bisa kita lakukan ketika persahabatan
kita dulu adalah persahabatan dalam hal-hal yang positif. Untuk persahabatan
yang negatif, tinggalkanlah dengan cara yang baik. Misalnya dulu kita punya
geng yang suka narkoba. Karena kita sudah tobat, kita perlu memutus hubungan dengan
sahabat-sahabat yang masih terlibat. Tujuannya adalah agar kita tidak terlibat
lagi.
Adapun untuk kita yang masih dalam tahap
sedang asyik-asyiknya menjalani hidup dengan persahabatan, beberapa hal yang
perlu kita ingat adalah:
"Sahabatmu adalah orang yang sudah
tahu banyak tentang dirimu
dan tetap bersahabat denganmu"