Kategori Pendidikan
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 10 Juni 2010
Mengetahui definsi
pendidikan mungkin cukup kita ketahui sekali atau sekali-sekali. Tetapi,
menyadari peranan kita sebagai pendidik, butuh kita perbarui setiap kali. Sebab,
jika tidak, segera posisi kita bergeser, dari pencipta dalam proses pendidikan
menjadi sekedar alat. Ini karena jiwa kita akan sulit mengembangkan
proses-proses kreatif atau reflektif dengan hanya mengetahui saja, menjalani
saja, atau mengetahui dan menjalani saja. Jiwa kita butuh digunakan untuk
menyadari. Kesadaranlah yang mengubah tindakan. Mirip seperti ibadah,
katakanlah sholat atau puasa. Mestinya, setiap kali mau melakukannya, butuh
kesadaran baru. Sebab kalau tidak, jiwa dan raga kita hanya akan menjadi buruh
kewajiban, bukan menjadi kreator proses pencerahan. Karena itu, orang shalat
pun masih dibilang celaka bila jiwanya alpa.
Dua
Kesadaran Dalam Mendidik
Bila melihat berbagai
penjelasan tentang pendidikan, ada sedikitnya dua kesadaran yang perlu kita
ciptakan setiap kali mau pergi mengajar. Pertama, kita perlu menyadari pendidik itu mengeluarkan
apa yang dari dalam. Ini sesuai dengan arti education sendiri, yaitu e
= keluar (out) dan ducare = mengarahkan
atau membimbing.
Pada diri setiap
siswa itu pasti ada potensi yang tersembunyi. Ibarat tambang emas, emasnya
sendiri pasti tertimbun tanah, bebatuan dan pepohonan. Untuk mengeluarkan emas,
para penambang punya tradisi membersihkan jalan atau lingkaran tambang lebih
dulu, baru kemudian menambang.
Kedua, pendidikan itu menyalakan
cahaya. Ibarat energi dalam listrik, energi itu tidak mungkin menghasilkan
cahaya dengan hanya dirinya. Untuk menjadi cahaya, perlu ada pembangkit yang
mengolah energi dengan menciptakan gesekan, seperti korek api.
Dua kesadaran itulah
yang kerapkali menjadi pegangan para tokoh pendidikan yang hasilnya sudah
teruji oleh kenyataan. Bagi mereka, ukuran lembaga pendidikan itu bukan wah iklannya, wah administrasinya atau wah
kiprahnya di pamerah. Ukurannya adalah, alumninya
pada jadi apa di masyarakat?
Kalau alumninya
banyak yang bisa mengeluarkan potensi di dalam dirinya dan bisa mengeluarkan
cahaya bagi orang lain, berarti lembaga pendidikan atau para pendidiknya di
situ OK. Pendidikan di situ berhasil mengejewentahkan esensi pendidikan. Tapi
kalau ukurannya baru berapa yang masuk PT negeri, studi ke luar negeri, ranking UAN, dan semisalnya, standarnya
dianggap masih rendah. Pengujinya masih berstandarkan tulisan, belum kenyataan.
Lebih-lebih kalau menirukan keluhan wongcilik yang sering kita dengar: “Lha
wong yang gitu-gitu banyak yang bisa dibayar kok, ngapaian dijadikan
kebanggaan?â€Â
Jangan
Menjadi Birokrat Kurikulum
Tanpa pembaruan kesadaran,
bisa-bisa praktek kita malah membebani siswa, bukan mencerahkan mereka. Mungkin,
karena semakin banyak jumlah pendidik yang prakteknya membebani siswanya, di
kalangan pendidik sendiri muncul istilah Birokrat Kurikulum sebagai kritik.
Birokrat Kurikulum
(BK) adalah sindirian untuk menyebut pendidik yang cara berpikirnya menganut
paham “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?â€Â, mirip seperti budaya
birokrasi kita zaman duluâ€â€ruwetnya minta
ampun tetapi ringkihnya juga minta ampun. BK lebih kerap tampil sebagai sosok
yang otaknya ruwet oleh prosedur, metode, dan teknik, sementara visinya,
keyakinanya, dan spiritnya miris. BK tidak mau meniru tradisi para penambang
yang mendapatkan cara-cara menambang dari alam dengan membersihkan lebih
dahulu.
Sebagian pendidik
kerap melakukan pengeboran paksa untuk bisa memasukkan materi kurikulum, tanpa
berupa membersihkan areal tambang. Padahal, banyak fakta mengungkap bahwa pendidikan
di dunia yang lebih banyak berhasil adalah yang menomersatukan pembersihan
konsep diri yang kurang atau yang salah, sebelum kurikulum atau buku paket. BK juga kerap menggunakan senjata
indoktrinasi sebagai senjata kesayangan, dengan mengingkari fakta kemanusiaan
para murid. Mereka dipaksa harus menjadi manusia berinsting malaikat (positifnya)
dengan disuruh membuang kejelekannya.
Padahal, hukum cahaya
mengatakan bahwa cahaya itu baru keluar setelah ada gesekan plus dan minus
dengan cara yang terdidik. Indoktrinasi mempersempit ruang untuk learning,
eksperimentasi, dan eksplorasi. Akibatnya apa? Seperti yang sering kita
saksikan, pendidikan lebih sering melahirkan orang yang berwacana tentang
kenyataan atau melakukan judgment terhadap kenyataan, tetapi kurang
mengeluarkan cahaya. Pendidikan lebih pinter menghasilkan para petarung
perdebatan ketimbang penggagas dialog, sinergi, dan kebersamaan.
Itulah kenapa pada
dinamika lain ada fakta yang membuktikan bahwa orang-orang yang telah berhasil
mengeluarkan cahayanya itu justru diawali dengan keberaniannya menerobos,
menentang, atau menafsirkan lain SOP pendidikan melalui berbagai gesekan, internally
and externally.
Arah
Konsentrasi Guru
Berdasarkan praktek
yang sudah kita jalankan sebagai pendidik, sebetulanya ada alat sederhana untuk
mengaudit seberapa jauh kita sanggup memerankan fungsi pendidik yang searah
dengan esensi pendidikan. Alat sederhana itu kita sebut saja arah konsentrasi. Kemana
konsentrasi itu kita arahkan selama ini, akan bisa kita jadikan ukuran apakah
selama ini kita hanya pendidik BK atau pendidik yang mendidik. Secara umum,
konsentrasi pendidik dapat dikelompokkan seperti berikut ini:
Pertama, ada guru yang
sebagian besar konsentrasinya mengarah pada pengembangan dan kepentingan murid atau lembaga
pendidikan. Mereka mengembangkan dirinya untuk bisa mengembangkan siswanya.
Mereka mendefinisikan muridnya sebagai calon aset pembangunan yang luar biasa,
bukan sebagai sebagai pengguna jasa.
Menurut
sunnatullahnya, guru seperti inilah yang kerap menghasilkan output yang bagus. Guru seperti ini yang
biasanya mampu menghasilkan murid-murid yang jauh lebih pintar dari dirinya.
Guru seperti inilah yang murid-muridnya tetap tidak mampu merasa lebih unggul
dari gurunya, walau pun sudah sekolah kemana-mana.
Kedua, ada guru yang
sebagian konsentrasinya mengarah pada kepentingan dirinya, pangkatnya,
kariernya, politiknya, dan seterusnya. Banyak kampus atau sekolah yang
murid-muridnya ditinggal oleh dosennya ke kota untuk mengejar beasiswa atau gelar
akademik yang lebih tinggi supaya nanti bisa naik pangkat.
Sejauh itu diatur
oleh sistem dan komitmen untuk mengembangkan lembaga dan siswa dalam jangka
panjangnya, itu sangat bagus. Tapi, kalau hanya untuk kepentingan karier
pribadi semata, atau hanya untuk pindah ke tempat yang lebih enak, hubungan
kita dengan siswa menjadi hubungan manipulatif.
Ketiga, ada guru yang mengarahkan
sebagian besar konsentrasinya untuk mengurusi pekerjaan sebagai pengajar.
Meminjam ungkapannya Edison, guru seperti ini tenggelam dalam kesibukan
jabatan, tetapi tidak menyadari apa tujuan dari kesibukannya. Yang penting
mengajar, absen beres, honor beres, dan selesai. Jika kita terlalu sibuk
mengurusi hal-hal teknis, tanpa didukung dengan visi dan imajinasi, serta
keyakinan, kita akan sulit berkembang dari kenyataan. Kenyataan akan mengubur
kita, mirip seperti truk yang berjalan di atas tanah berlumpur. Langkah kita
terpendam oleh lumpur kenyataan.
Keempat, ada guru yang
mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk bisa selamat dari tuntutan
sistem yang makin mengikat. Biasanya, ini terjadi di sekolah yang berbiaya
tinggi. Tuntutan kepada guru tidak saja datang dari kepala sekolah, tapi juga
dari yayasan, wali murid, kepsek, murid, media, dan lain-lain. Bagi guru yang
kurang waspada (alert),
konsentrasinya bisa salah arah. Konsentrasi yang untuk pengembangan murid,
supaya potensinya keluar atau supaya cahayanya keluar, menjadi berkurang. Konsentrasinya
terkuras untuk kepentingan orang dewasa yang menjadi stakeholder dan shareholder
sekolah.
Semua guru memang
harus memikirkan muridnya, dirinya, keluarganya, politiknya, pekerjaannya, atau
lembaganya. Tetapi yang kemudian membedakan adalah kesadaran manakah yang
paling mendominan. Sejauh bukan didominasi
oleh kesadaran untuk meng-educate murid, sepertinya kita telah memilih
jalan yang salah. Sebelum kesalahannya jauh,
mari kita putar arah.
Merealisasikan
Kesadaran
Untuk bisa menjadi
pendidik yang mencerahkan, pastinya tidak cukup hanya berhenti di kesadaran.
Harus kita lanjutkan pada terbentuknya paradigma dan pendekatan yang lebih
mencerahkan terhadap berbagai isu-isu pendidikan yang sehari-hari kita hadapi.
BOX
BERBAGAI ISU YANG BUTUH PARADIGMA
DAN PENDEKATAN BARU YANG MENCERAHKAN DALAM PENDIDIKAN
ISU
PARADIGMA
PENDEKATAN
Sosok Guru
Bukan lagi menjadi sosok yang sangat berwibawa
sehingga sulit disentuh, tetapi menjadi partner bagi murid untuk mengungkap
potensi dan mengeluarkan cahaya
Terkadang di depan, di belakang, di tengah,
bersama, atau juga mengakui perbedaan secara sehat, termasuk ketika
berkonfrontasi.
Aktivitas Di Kelas
Bukan lagi
menempatkan siswa secara pasif (kerancang kosong), tetapi murid yang sama-sama
aktif dalam menggali dan menguasi materi, dengan berbagai konteks-nya
Menggunakan otoritas guru untuk mendorong siswa
memanfaatkan kemajuan zaman, saling bertukar kelEbihan, gentle mengakui
kekurangan dan keterbatasan
Pandangan
terhadap dunia dan lingkungan
Bukan lagi melihat dunia dengan judgment
hitam-putih, dengan menonjolkan egonya, tetapi lebih ke arah bagaimana
menyikapi kenyataan dengan pola-pola yang mendukung keharmonisan, kemajuan, dan
kemaslahatan banyak orang
Menjadi diri sendiri, namun tetap demokratis,
terbuka, dan universal, bukan semata tukang mengkhotbahkan demokrasi,
keterbukaan, dan keuniversalan, lebih-lebih menjadi dewa agung.
Visi
pendidikan
Targetnya bukan semata memaksa murid mendapatkan
nilai 10, masuk sekolah internasional, dan semisalnya, tetapi menginspirasi
murid untuk membangun imajinasi peranannya di masyarakat melalui motivasi dan
nilai
Bukan semata menyuruh murid untuk meniru
dirinya, tetapi mengajak murid untuk menuju ke yang lebih baik bersama-sama,
kalau perlu mendorong murid untuk lebih besar dari dirinya
Kemampuan Murid
Bukan semata mengikuti pandangan diknas atau
masyarakat mengenai anak pintar-bodoh, tetapi melihat semua anak memiliki
kemampuan di hal yang berbeda. Standar
diknas bukan standar tunggal
Ikut terlibat dalam menggali potensi / kelebihan
yang berbeda untuk anak yang berbeda.
Kesalahan Murid
Bukan lagi disikapi untuk dilarang, dihukum,
diberi nilai merah, atau dianggap pendosa, lalu titik, tetapi disikapi sebagai
proses belajar, termasuk ketika harus di-DO.
Membantu murid menemukan evaluative action
melalui proses belajarnya, yang pasti ada salahnya, nyimpangnya, atau
melanggarnya sehingga bisa mengeluarkan cahaya
Budaya Belajar
Bukan lagi menciptakan persaingan individual
yang saling mengalahkan, diskriminasi anak pintar-bodoh, tetapi persaingan yang memotivasi kompetensi
dan prestasi
Memberikan kesempatan yang adil bagi semua murid
untuk mengaktualisasikan dirinya, tidak hanya menyayangi anak pintar dan
menjauhi mereka yang bodoh versi diknas.
Hubungan
Hubungan dengan siswa, sekolah, dan wali murid
bukan semata hubungan industrial, birokratik, atau politis-manipulatis, tetapi hubungan
yang saling tolong-menolong dan mengembangkan, berpikir untuk memberi (giving).
Tidak datang hanya untuk mengajar lalu pergi,
tetapi sering berdialog, mengajak membangun keakraban profesional yang
mendukung kemajuan dan saling mendoakan
Pengembangan
Tidak lagi
membatasi diri dengan fakultas di masa kuliah, tanggung jawab yang minimalis,
profesional yang sempit, career path yang stagnan, tetapi
fokus pada tujuan perjuangan / pengabdian, tanggap terhadap masalah yang
relevan, lalu dinamis meresponi perubahan
Menempuh
berbagai cara yang sehat untuk mengembangkan diri, dari berbagai aspek,
sehingga kiprah bertambah dan nasibnya developing
Jangan
Minta Digugu Dan Ditiru
Ketika murid-murid
kita saat ini nanti menjadi dewasa, kita mungkin sudah tua atau meninggal
dunia. Bayangkan jika misalnya kita meminta mereka untuk menggugu dan meniru
kita, apa jadinya? Mereka mungkin menjadi orang yang terbelakang di zamannya
karena referensinya kita yang sudah tua. So,
jangan meminta digugu dan ditiru.
Ungkapan itu hanya
perlu kita pahami sebagai motivasi pribadi untuk terus berusaha menjadi orang
yang kredibel dan bisa dipercaya secara komitmen dan moral. Atau, kita terima
sebagai penghargaan sosial yang perlu kita hargai. Selebihnya, hubungan kita
dengan murid adalah hubungan yang membuka, mendorong, menyalakan, atau
mengeluarkan (mencerahkan). Dan yang lebih penting lagi, kita memaafkan masyarakat,
pemerintah, dan yayasan yang masih kalah dengan negera Thailand, Philipine,
Malaysia, Vietnam, dan Brunei dalam menggaji guru. Sebab, jika tidak memaafkan, jiwa ini akan
terbebani dan sangat mungkin kita menjadi pendidik yang membebani. Semoga
bermanfaat.