Kategori Pendidikan
Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 10 Agustus 2010
Dunia pendidikan sering mendapatkan tuduhan
tidak menghadirkan realitas kehidupan, sehingga para lulusannya menjadi ‘mati
gaya’ ketika saatnya turun gunung.
Perguruan tinggi sering pula mendapatkan label ‘menara gading’. Kalimat
ini menggambarkan jauhnya realitas di kampus dengan realitas kehidupan di luar
kampus. Pengalaman sebagai pengajar di dua kampus swasta Jakarta memberi saya
pemahaman yang sedikit ‘berbeda’ dan memperlihatkan hal lain dari label di
atas. Label yang kemudian terasa menjadi ‘excuse’
masyarakat Indonesia, menguak isu kebiasaan kalau bukan disebut ‘budaya’ kita
yang lebih krusial.
‘Apa
ada yang kita pelajari di kelas yang digunakan sehari-hari?’ Apakah mempelajari
filsafat ada manfaatnya di pekerjaan? Apakah dalam interview kerja akan
ditanyakan pemikiran Socrates? Apakah teori dan jurnal sains itu dapat
digunakan kelak ketika bernegosiasi dengan klien atau menarik konsumen? Masih
banyak gurauan dan pernyataan sinis sekaligus miris yang akrab di percakapan
sehari-hari. Kita bisa menemui di kantin kampus hingga perkantoran. Jawabannya
tentu : TIDAK ADA.
Kampus
adalah realitas
Lebih dari sekali – dua kali saya mendapatkan
pertanyaan dengan wajah ‘memelas’, “Haruskah menggunakan textbook?” Mereka nampak kecewa mengetahui ‘pelarangan’ Om Google sebagai ‘handbook’ mata kuliah. Banyak mahasiswa juga yang masih keliru
menganggap mesin pencari ini sebagai ‘referensi’. Padahal telah banyak penerbit
Indonesia yang menerjemahkan textbook
sehingga jauh lebih terjangkau dan lebih mudah ditemukan dibandingkan sepuluh
tahun yang lalu.
Menggunakan di sini juga bermakna variatif,
mulai dari membeli, mengkopi beberapa bagian hingga meminjam di perpustakaan
atau teman (kakak tingkat). Hingga saya pernah mengajak mahasiswa untuk
mengingat scene-scene dalam film
Hollywood yang terkesan ‘hura-hura’. Dalam adegan sekolah atau kampus, mahasiswa
atau siswa dengan warna-warni penampilan (dari funky – sexy) tetap menenteng bertumpuk buku di tangannya.
Jika melukiskan ekspresi mahasiswa dengan
kartun, ada satu bubble sama di atas
kepala mereka, “Kuliah tidak sama dengan kerja kelak”; “Ini hanya teori”, dsb.
Citra ini yang sedikit banyak menjadi dorongan negatif untuk kurang atau tidak
bersungguh-sungguh menjalani kehidupan kampus. Padahal, kampus bagi mahasiswa
adalah dunia riil, sangat riil yang bisa menempati porsi utama pada masa
perkembangan kognitif mereka saat itu.
Kampus adalah miniatur kehidupan yang
memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengasah ketrampilan akademik, interaksi
sosial bahkan entrepreneurship. Soft
skill utama seorang lulusan perguruan tinggi adalah ketrampilan
menganalisa, menyusun logika, komunikasi aktif, kerjasama, bahkan kepemimpinan.
‘Berdialog’ dengan para ilmuan dari penjuru dunia melalui teori-teori mereka
adalah salah satu media mengasah mind. Membaca
textbook, membahas isu praktis dengan
analisa teoretik adalah hal riil untuk membentuk ketrampilan analisa logika.
Apresiasi terhadap nilai tinggi adalah apresiasi
pada usaha selama kehidupan riil di tahap tersebut, yakni belajar. Dalam proses
seleksi seperti metode assessment center, pewawancara akan melakukan pendalaman
konfirmatif – klarifikatif terhadap nilai-nilai tersebut. Bagian ini yang
sering luput dari pelamar kerja fresh-graduate
sehingga tidak sedikit yang terkaget apalagi mereka yang sebenarnya tidak
terlalu sungguh-sungguh menjalani pendidikan.
Sebagian besar masyarakat (mahasiswa yang lulus beserta keluarganya) dengan
cepat menyimpulkan untuk ucap ‘perpisahan’ tegas dengan dunia pendidikan.
Layaknya memutus jembatan di belakang dan menatap kehidupan baru yang sama
sekali tidak ada hubungannya.
Mindset Pendidik
& Kampus
Ada excuse
lain yang saya tangkap baik kampus secara institusi maupun para pendidik. Beberapa
pemakluman yang sepertinya tampak ‘baik’ untuk mahasiswa yang secara implisit
terkandung dalam pandangan; “Mahasiswa semester awal, yah.. masih seperti SMA lah,
maunya disuapi, masih susah untuk membaca, terlebih textbook.” Atau, “Ini kan bukan mahasiswa psikologi (untuk
mahasiswa non-psikologi), jadi tidak wajib memiliki textbook lah..” Saya yakin,
hal ini juga ditemui oleh dosen lain ketika mengajar di kelas non disiplin
utamanya.
Pandangan ini sebenarnya konsisten dengan
keluhan rendahnya kemampuan membaca di Indonesia. Sebagian pendidik pun
memperlakukan sumber ilmu secara praktis, hanya karena bukan disiplin utamanya,
maka tidak perlu membaca handbook-nya.
Pada sisi lain, mahasiswa menjadi melihat ‘kurang signifikannya’ sumber bacaan
dalam mata kuliah tersebut. Makna lainnya, adalah dosen masih diminta untuk
menjadi audiobook. Pada saat yang
sama, pembelajaran mandiri sedang digalakkan di mana posisi dosen lebih untuk
pengantar dan berdiskusi. Seharusnya pendidik memberikan kepercayaan pada
mahasiswa tingkat bawah untuk membedah isi buku dan berdiskusi lebih lanjut di
kelas maupun luar kelas. Implementasi dari memberi kepercayaan di sini adalah
‘mendorong’ bahkan ‘memaksa’ mereka untuk mempelajari buku-buku utama, bukan
sekedar copy-paste untuk tugas essay.
Ada hal lain yang masih perlu dikaji, namun
memberikan satu pertanyaan di benak saya tentang hebohnya ujian nasional di
negeri ini. Selain ketrampilan membaca di atas, ada strategi belajar lain yang
nampaknya masih asing bagi mahasiswa yakni teamwork.
Ketika diminta membentuk kelompok-kelompok kecil di kelas untuk menjawab sekian
soal menggunakan textbook, sebagian
besar nampak panik melihat banyaknya soal dan waktu yang tersedia. Tugas ini
menjadi sangat menekan dan tidak realistis. Pada akhirnya mereka perlu
diingatkan bahwa mereka adalah tim yang terdiri dari beberapa orang. Pola
kerjasama satu soal dikeroyok lima orang tentu akan memakan waktu satu hari
untuk menyelesaikan lima soal, bukan 25 menit. Kecuali mereka semua telah membaca
materi kuliah sebelum masuk kelas.
Pola kerjasama tim dengan pembagian tugas dan
delegasi yang tampaknya ‘asing’ ini menjadi paradoks dengan budaya kolektif
kita. Tidak heran jika siswa dan sekolah menjadi sangat tertekan dengan materi
ujian nasional, jika strategi belajarnya masih konvensional. Saya tidak berani
menggeneralisir semua sekolah di Indonesia, namun kecurigaan ini yang perlu
dikaji kembali. Pertanyaan yang lebih dalam, apa pemahaman kerja tim di
kalangan siswa – mahasiswa kita? Apakah satu pemimpin dan sisanya pengikut
pasif? Apakah ini yang membuat mahasiswa enggan menjadi pemimpin atau
koordinator kelas karena ia lah yang harus bekerja keras, sementara yang lain
tinggal terima beres?
Pendelegasian materi untuk kemudian
masing-masing memberikan presentasi menjadi salah satu alternatif belajar yang
efektif. Salah satu kompetensi dasar dalam seleksi kerja pada freshgraduate adalah problem solving dan planning
organizing. Bagaimana individu mampu mengidentifikasi masalah, membuat
prioritas dan mengoptimalkan sumber daya yang ada (rekan kerja – materi kerja).
Ini seharusnya menjadi kompetensi dasar yang dimiliki mereka yang menyandang
title sarjana.
Ketrampilan lain yang juga perlu mendapat perhatian
adalah menulis dan presentasi. Hampir semua pekerjaan menuntut adanya laporan
tertulis, komunikasi tertulis baik yang terkonsep atau langsung seperti
membalas e-mail rekanan/ klien dalam
kerjasama proyek yang intensif. Hanya penguasaan materi lah yang membuat
seorang mahasiswa bisa lebih mengembangkan ketrampilan presentasinya di kelas.
Materi kuliah adalah realitas, se-realitas- proposal kerjasama sebuah
perusahaan kelak di dunia kerja.
Berbagai mozaik ini seluruhnya berseru “Kampus adalah realitas, bukan mimpi atau hotel
singgah.”