Kategori Pendidikan
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 01 Februari 2010
Rasa-rasanya sudah semakin biasa kita menyaksikan perilaku agresi massa.
Menurut definisinya, seperti ditulis Danelson R. Forsyth (Social Psychology: 1987), perilaku massa
dapat disebut agresi (penyerangan) apabila sudah menimbulkan kerugian atau
kerusakan bagi orang lain melalui cara-cara yang memang sudah diniatkan. Bahasa yang kerap dipakai di media-media kita adalah ”amuk massa”. Jika
mengamati pemberitaan media sejak Reformasi, massa di kita sepertinya mudah
sekali mengamuk. Sebab-sebabnya ada yang riil, misalnya penggusuran oleh
pemerintah, eksekusi lahan yang sudah ditempati bertahun-tahun, atau pengadilan
yang tidak adil menurut persepsi pihak-pihak tertentu.
Ada lagi yang karena interpretasi, terlepas itu salah atau benar. Ini bisa
kita lihat betapa seringnya rumah makan asing atau tempat yang dikonotasikan
berasal dari asing yang menjadi sasaran amuk massa, seperti yang terjadi di Sulawesi. Massa
yang semula ingin demo antikorupsi, tetapi kemudian berubah menjadi amuk sehingga
merusak rumah makan.
Ada juga yang karena reaksi emosional spontan, seperti perilaku yang
langsung muncul, seperti yang terjadi di salah satu sekolah tinggi di Indonesia
Timur baru-baru ini. Sekelompok mahasiswa yang ingin mendemo kebijakan
rektornya tiba-tiba menjadi amuk massa karena ada salah seorang mahasiswa yang
bentrok dengan personil keamanan di kampus itu. Bahkan ada yang karena kekesalan semata, yang tidak jelas kesal sama siapa.
Kalau dicari-cari pembenarnya, tentu yang paling enak adalah kesal dengan pemerintah.
Misalnya rekrutmen pegawai negeri yang harus ngantri panjang, lalu karena
persoalan kecil yang sepele, massa kemudian mengamuk di kantor pemerintah itu.
Jika meminjam istilah para ahli psikologi, agresi massa di kita sudah
sampai pada tingkat yang pantas disebut gejala de-individuasi massa (mass deindividuation) atau massa yang
telah kehilangan kesadaran identitas dirinya.
Anggota dewan yang terhormat bisa mengamuk, para guru bisa mengamuk,
para mahasiswa bisa mengamuk. Mengamuk bukan lagi label untuk pekerja kasar
yang sekolahnya rendah, hidupnya susah, dan status sosialnya marjinal.
Konflik Diri &
Agresi
Seperti yang sudah sering kita bahas di sini, konflik diri adalah keadaan dis-harmony
yang terjadi di dalam diri seseorang. Bisa karena gap antara harapan dan
kenyataan, antara keinginan dan paksaan, atau antara idealita dan realita.
Intinya, konflik-diri timbul dari dua sebab yang sangat sinergis, yaitu
ketidakmampuan internal (penentu) dan kondisi eksternal (pemicu).
Sebagian keadaan yang diizinkan Tuhan untuk terjadi, tentu konflik itu memiliki
kegunaan. Soal kita gunakan untuk yang positif atau yang negatif, ini kita yang
dipersilahkan untuk memilih. Jika kita berhasil memilih penggunaan yang
positif, hasilnya berupa dinamika, kemajuan, dan pencapaian. Bayangkan kalau
kita tidak dikasih konflik diri? Pasti dinamika tidak ada. Ilmu pengetahuan dan
teknologi terhenti perkembangannya. Industri pun akan mati.
Tapi jika kita memilih membiarkan, mengabaikan, atau melampiaskannya dalam kemarahan,
entah terhadap diri sendiri, orang lain, atau keadaan, maka tidak menutup
kemungkinan konflik itu dapat membangun rentetan gangguan, dari mulai stress, depresi,
sampai ke disorder (kekacauan sistemik dalam jiwa). Ibarat mesin, gangguan
itu merupakan kotoran yang menganggu kinerja atau bisa merusaknya. Jika menelaah paparan para ahli mengenai apa saja gejala buruk dari
gangguan jiwa itu, maka secara globalnya bisa disimpulkan dua hal berikut, yang
variannya bermacam-macam:
Membuat orang menjadi terlalu pasif: acuh tak acuh, memendam kebencian dan
kedendaman, antisosial, tak peduli tarhadap rangsangan positif, suka mengkhayalkan
datangnya keajaiban tanpa usaha, dan seterusnya
Membuat orang terlalu agresif: komunikasinya mengancam, keputusannya
ngawur, mudah tersulut untuk melakukan tindakan di luar batas, egonya terlalu
tinggi, dan seterusnya.
Jika itu terjadi hanya pada satu orang, karena ada pemicu riilnya, dan
sifatnya temporer (reaktif sesaat), tentu masih dapat dikontrol. Tapi jika itu
sudah meng-umum, dipicu oleh sketsa yang sudah kacau, dan berlangsung lama
(membudaya di masyarakat), maka peradaban sebuah bangsa akan terancam. Akan
semakin banyak orang Indonesia yang malu untuk mengatakan bangsa kita suka
damai, tenang, dan toleran, karena faktanya tidak begitu.
Pada titik inilah kita punya landasan yang bisa menjembatani rententan
kesimpulan bahwa konflik-diri itu memiliki keterkaitan dengan seringnya terjadi
agresi massa di kita. Bahwa ada keterkaitan yang nantinya disebut causatif (sebab
langsung) atau correlative (sebab tidak langsung), ini mungkin bisa dibedakan
berdasarkan keadaan dan kasus.
Teori di Balik Agresi
Di tahun 2000, saya dilibatkan dalam tim untuk mengundang pelamar yang akan
diseleksi untuk mengisi beberapa lowongan kerja di kapal pesiar di Eropa.
Mereka yang minimal berpendidikan D3, berpengalaman di bidangnya, bisa
berbahasa asing minimal Inggris, dan seterusnya, kita undang lewat koran, yang
tentunya suka rela dan free.
Karena harus diseleksi tingkat elektabilitasnya, emploibilitasnya, dan
dokumennya, maka mau tak mau harus ngantri sesuai dengan urutan dan posisi yang
ingin dilamar. Tak lama setelah antrian berjalan, tiba-tiba ada sekelompok
orang yang bikin gaduh dengan membawa protes agresif yang isinya kira-kira
begini: ”Pak, saya ke sini ini sudah ijin kerja, tidak bisa saya nunggu lama-lama
di sini, saya harus diseleksi sekarang, pokoknya!” Tentu protesnya tidak bisa dipenuhi karena proses seleksi harus berjalan
sesuai dengan antrian. Kawan saya yang berusaha ”memasukkan ke hati”
mengatakan protes semacam itu tidak
waras. ”Kita tidak mau asal terima orang, kita mengundangnya suka rela, kenapa
mereka memaksa?”, dan masih panjang lagi komentarnya.
Setelah kita sering melihat sidang DPR ditayangkan langsung di TV, ternyata
protes agresif semacam itu kita jumpai juga di sidang yang terhormat. Untuk
urusan jam makan, waktu sholat, atau interupsi, orang bisa berdebat panjang
lebar hingga terlontar kata-kata yang sudah keluar konteks. Padahal, di sidang
yang terhormat itu pasti sudah ada aturan bakunya.
Pertanyaannya, sudah pantaskah kita menyebut protes agresif itu sebagai perilaku
yang tidak logis? Jika kita hanya melihat tindakannya semata, mungkin saja
orang bisa mengatakan kurang logis, tetapi kalau dilihat apa yang
melatarbelakanginya, mungkin saja itu akibat kausatif yang wajar, alias memang
seperti itu konsekuensi yang harus diterima. Kalau membaca teori-teori yang
membahas agresi sosial, sedikitnya ada dua sumber yang bisa menjelaskan kenapa massa
itu mudah agresif, yaitu:
Pertama, learned mass agression—materinya
sudah diproses lama dalam jiwa sejumlah individu yang disebut massa. Ini
misalnya orang sudah berpikir kalau tidak pakai kekerasan, usaha untuk
didengar akan gagal, sudah lama ditekan sehingga saatnya memuntahkannya,
pelampiasan kekecewaan, tayangan, dst.
Kedua, unlearned mass agression—terjadi secara
spontan karena ikut-ikutan, karena naluri untuk mempertahankan diri atau
untuk menciptakan keamanan, misalnya diserang oleh kelompok, dihakimi
secara tidak adil, menjumpai maling yang tertangkap basah, dst.
Dari yang bisa kita amati terhadap agresi massa yang kerap terjadi, ada
banyak bukti yang bisa untuk mengatakan bahwa the unlearned mass agression
tidak terlalu berperan banyak dalam meng-anjlok-kan kualitas peradaban sebuah
bangsa. Di banyak kasus, agresi ini tidak memiliki sebab-sebab yang berantai dan secara umum masih terbilang manusiawi,
meski tidak bisa dibenarkan. Tapi, untuk yang the learned mass agression, ini kerapkali sudah
ruwet karena ada dua pihak yang telah sama-sama membangun sebab-sebab berantai.
Misalnya tayangan televisi. Secara sepihak, kita bisa mengatakan stasiun TV-nya
yang salah, kenapa agresi ditampilkan. Tapi, kalau melihat alasan dari pihak stasiun
TV-nya, mungkin bukan itu logikanya.
Logika yang sering dipakai dunia industri, termasuk media televisi, adalah
karena masyarakat kita menikmati tayangan sensasi dan ini terkait dengan rating. Rating itu ada kaitannya dengan iklan, dan iklan itu terkait dengan
hidup-matinya stasiun TV. Apakah kita mau kembali ke model TVRI tempo doeloe? Ini
hanya contoh yang sepele.
Pendidikan Berorientasi
Kematangan
Sama sekali bukan sebuah harapan yang tepat untuk mengandalkan lembaga
pendidikan agar dapat berperan full mengatasi agresi massa. Pendidikan
punya masalah internal dan eksternal. Pendidikan sudah berbuat banyak, meski
hasilnya belum banyak.Tapi, kira-kira, hanya kepada pendidikanlah kita bisa lebih banyak
berharap. Mau kita mengharapkan keluarga atau masyarakat, kini sudah semakin
banyak orangtua yang harus bekerja di luar rumah, bukan untuk kaya, tetapi
untuk sekedar survive mengimbangi semakin tidak berdayanya penghasilan
rupiah dengan inflasi, serbuan barang konsumsi, dan budaya serba uang.
Dilihat dari apa yang masih bisa dilakukan oleh pendidikan terkait dengan
agresi, maka salah satu yang penting adalah menjalankan proses pendidikan yang
berorientasi pada kematangan jiwa (mental dan moral skill), bukan semata job /
academic skill. Ini antara lain dapat ditempuh dengan menanamkan sikap yang
co-operative dan mekanisme kreatif dalam menyikapi perbedaan yang sudah
tidak bisa disamakan atau dalam mengelola gap.
Sebagai contoh, sampai nanti kiamat, agama Tuhan di bumi ini tidak satu dan
berbeda luarnya, meski esensinya sama. Jika kita masih menanamkan sikap
konfrontatif agar agama itu harus satu dan sama, berarti kita telah menitipkan
kebencian dan mengajarkan mekanisme yang depresif pada generasi. Sudah nyari
kerjaan susah, masih juga kita bebani untuk saling membenci.
Selain perlu ada nilai yang mendasari sikap co-operative dan
mekanisme kreatif itu, perlu juga metode pengajaran yang meng-explore,
bukan men-depresi, memberi tantangan, bukan memberi tekanan. Misalnya,
untuk supaya bisa dibilang hebat oleh wali murid, kita menggenjot siswa dengan
PR atau ekstrakurikuler yang tidak kita barengi dengan upaya mematangkan
mentalnya. Siswa menderita stress kerja karena incompatible antara
kematangan dan pekerjaaan.Yang juga sangat penting adalah kualitas attachment antara guru dan
murid. Hubungan guru dan murid akan kering apabila hanya didasari transaksi,
profesi, atau materi. Perlu hubungan yang didasari oleh nilai, kedekatan
personal yang sangat human sehingga memunculkan secure attachment,
kedekatan yang memberi support dan comfort.
Hasil riset psikologi, seperti dikutip Judith R. Harris (The Child: 1991), memberikan
petunjuk, anak yang kurang mendapat secure attachment dari orang dewasa
di sekitarnya akan cenderung agresif, kurang kompeten dalam menghadapi
kemalangan, auranya kurang periang, gampang ngamuk
menyikapi perbedaan. Mungkin, sekolah yang kultur dan iklimnya kurang
bersahabat, dapat memicu gaya hidup siswa yang agresif juga.
Melihat Berbagai Dimensi
Agresi massa yang kata pengamat semakin cenderung meningkat di kita,
sepertinya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi dan dimensi. Bagi negara,
ini harus dilihat sebagai koreksi, kenapa bangsa saya gampang ngamuk dan mudah disuruh bunuh diri
dengan iming-iming surga? Bagi masyarakat, tekanan eksternal harus kita sikapi
dengan meningkatkan mekanisme internal supaya lebih tertantang untuk maju,
bukan selalu memuntahkannya keluar. Semoga bisa kita jalankan.