Beberapa waktu lalu, atlet-atlet kita berjuang untuk memperebutkan piala Thomas dan Uber
Cup. Sayangnya tim Thomas dan Uber kita belum berhasil. Tentunya, kegagalan ini menyisakan kekecewaan dan tanda tanya pada sebagian
besar masyarakat kita, mengapa team
andalan kita kalah. Namun di setiap kejadian pasti ada hikmahnya, karena kita
harus belajar dan menganalisa di mana letak kelemahan yang perlu dikelola dan
diperbaiki.
Keberhasilan seorang atlet ditentukan oleh kesiapan fisik dan mental. Kondisi
psikis atau mental akan mempengaruhi performance
atlet baik
saat latihan maupun saat bertanding. Coba Anda
bayangkan, jika sebelum bertanding sang atlet mengalami cek cok berat dengan
keluarganya, amat mungkin jika situasi itu mempengaruhi kestabilan emosi, daya
konsentrasi dan menguras energi. Contoh lain, jika sebelum bertanding sang atlet
kurang memiliki kesiapan mental menghadapi lawan yang berat sehingga timbul
keraguan yang besar dan rasa tidak percaya diri yang menghalangi kemampuannya
untuk tampil optimal.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika sejak dini, soal membina kesiapan
mental atlet menjadi porsi yang penting agar masalah kepribadian dan
konflik-konflik sang atlet dapat dikelola dengan baik sehingga ia tetap tampil
optimum.
Pentingnya Kesiapan
Mental Bagi Atlet
Stress sebelum bertanding adalah hal yang lumrah, namun mampu mengelola
stress atau tidak adalah sebuah kemampuan yang harus ditumbuhkan. Stress bisa
jadi pemicu semangat dan motivasi untuk maju, namun stress berlebihan bisa
berdampak negatif. Tanpa kesiapan mental, sang atlet akan sulit mengubah
energi negative (misal, yang dihasilkan dari keraguan penonton terhadap
kemampuan sang atlet) menjadi energi positif (motivasi untuk berprestasi) sehingga
akan menurunkan performancenya (dengan gejala-gejala sulit berkonsentrasi,
tegang, cemas akan hasil pertandingan, mengeluarkan keringat dingin, dll).
Bahkan sangat mungkin jika sang atlet terpengaruh oleh energi negatif para
penonton.
Faktor penentu
Urusan energi dan emosi begitu signifikan dampaknya bagi prestasi dan penampilan sang
atlet, sementara kita tidak bisa mensterilkan atlet dari masalah yang datang
dan pergi dalam kehidupannya. Namun jika ditelaah, rupanya menurut Nasution
(2007) ada beberapa faktor yang menentukan mudah tidaknya seorang atlet terpengaruh oleh masalah.
1. Berpikir
positif
Bisa atau tidaknya
seorang atlet berpikir positif, bisa mempengaruhi mentalitasnya di lapangan.
Kemampuan menemukan makna dari tiap peluang, event, situasi, serta orang yang dihadapi adalah cara untuk
menimbulkan pikiran positif. Sering terdengar bahwa pemain A atau B tidak
terduga bisa memenangkan pertandingan padahal targetnya adalah berusaha main
sebaik mungkin. Alasannya, karena lawannya bagus dan pertandingan ini jadi
moment penting untuk meng up gradeĀ kualitas
diri dan permainannya. Artinya, sang
atlet mampu melihat sisi lain yang membuat dirinya tidak terbebani ambisi.
Pikiran rileks dan focus pada permainan berkualitas akhirnya mempengaruhi sikap
atlet tersebut saat bertanding dimana ia jadi berhati-hati dan cermat dalam
proses, dan tidak grasah grusuh ingin
cepat-cepat mencetak skor.
Jadi, pikiran positif
bisa menggerakkan motivasi yang tepat, sehingga mengeluarkan besaran energi dan
tekanan yang tepat untuk menghasilkan tindakan konstruktif. Dampaknya bisa
beragam, bisa kerja sama yang baik, performance
yang optimum, atau pun kemenangan.
2. Motivasi
Tingkat motivasi dan
sumber motivasi atlet akan mempengaruhi daya juangnya. Kalau kurang
termotivasi, otomatis daya juangnya pun kurang. Kalau highly motivated, maka daya
juangnya juga tinggi. Kalau sumber
motivasi ada di luar (ekstrinsik), maka kuat lemahnya daya juang sang atlet pun
sangat situasional, tergantung kuat lemah pengaruh stimulus. Contoh, makin besar
hadiahnya, makin kuat daya juangnya. Makin kecil hadiahnya, makin kecil
usahanya.
Yang paling baik jika
sumber motivasi ada di dalam diri, tidak terpengaruh cuaca apalagi iming-iming
hadiah. Atlet yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, maka sejak
awal berlatih dia sudah secara konsisten dan persisten mengusahakan yang
terbaik. Kepuasannya terletak pada keberhasilannya untuk mencapai yang terbaik
di setiap tahap proses latihan, bukan hanya saat bertanding. Masalah yang ada
pasti punya pengaruh, namun selama motivasi internalnya kuat, atlet tersebut
mampu untuk sementara waktu menyingkirkan beban emosi yang dirasa memperberat
gerakannya.
3. Sasaran yang jelas
Mengetahui sejauh
mana dan setinggi apa sasaran yang harus dicapai, mempengaruhi tingkat daya
juang, usaha dan kualitas tempur atlet. Sementara, ketidakpastian bisa
melemahkan motivasi. Ketidakpastian ini bentuknya beragam. Kalau tidak jelas
siapa musuhnya, sasarannya, medan perangnya, tingkat kesulitannya, targetnya,
waktunya, akan membuat sang atlet kebingungan dan energi nya juga tidak fokus,
strategi nya pun tidak spesifik dan standar kualitas nya jadi tidak bisa
ditentukan, bisa terlalu rendah bisa juga terlalu tinggi. Dalam keadaan
membingungkan seperti ini, atlet jadi sangat rentan terhadap masalah.
4. Pengendalian emosi
Ketidakmampuan
mengendalikan emosi bisa mengganggu konsentrasi dan keseimbangan
fisiologis. Pengendalian emosi tidak
bisa muncul dalam semalam, karena sudah menjadi bagian dari kepribadian atlet.
Hal ini bukan berarti tak bisa dirubah, namun perlu proses untuk mengembangkan
kemampuan mengelola emosi dengan proporsional. Jadi, kalau atlet tersebut masih
punya masalah dalam pengendalian emosi, maka dia lebih mudah terstimulasi oleh
berbagai masalah apapun bentuknya, entah itu kelakuan penonton / supporter,
sikap pelatih, tindakan teman-temannya, dsb.
5. Daya tahan terhadap stress
Jika tingkat stres berada di atas ambang kemampuan sang atlet dalam memanage
stresnya maka akan mengakibatkan prestasi atlet menurun, namun jika tingkat
stres berada dibawah ambang maka atlet tidak akan termotivasi untuk
berprestasi. Jika tingkat stres berada pada level toleransi kemampuannya maka
atlet akan mampu berprestasi.
5. Rasa percaya diri
Kurangnya rasa
percaya diri akan mempengaruhi keyakinan dan daya juang sang atlet. Masalah
yang muncul saat berlatih maupun bertanding bisa saja memperlemah rasa percaya
dirinya, meski sang atlet sudah berlatih dengan baik. Apalagi jika masalah yang
dihadapi berkaitan dengan konsep dirinya. Misalnya, sang atlet selalu memandang
dirinya kurang baik, kurang sempurna, maka seruan "uuuuuu" penonton bisa
dianggap konfirmasi atas kekurangan dirinya, meskipun pada kenyataannya atlet
tersebut tergolong berprestasi.
6. Daya
konsentrasi
Atlet yang punya kemampuan
konsentrasi tinggi, cenderung mampu mempertahankan performance meski ada gangguan, interupsi atau masalah. Kalau daya
konsetrasi atlet rendah, maka ia mudah melakukan kesalahan jikalau terjadi
interupsi baik saat latihan maupun pertandingan.
7. Kemampuan evaluasi diri
Kemampuan evaluasi
ini juga diperlukan untuk melihat hubungan antara masalah dengan
performance-nya. Tanpa kemampuan untuk melihat ke dalam, atlet akan terjebak
dalam masalah dan kesalahan yang berulang.
8. Minat
Jika si atlet memang memiliki minat yang tinggi pada cabang olahraga yang
dipilihnya maka ia akan melakukan olahraga tersebut sebagai suatu kesenangan
bukan sebagai beban.
9. Kecerdasan
(emosional dan intelektual)
Kecerdasan emosional
dan intelektual merupakan elemen yang dapat memproduksi kemampuan berpikir
logis, obyektif, rasional serta memampukannya mengambil hikmah yang bijak atas
peristiwa apapun yang dialami atau siapapun yang dihadapi.
Faktor-faktor
tersebut di atas menjadi PR bagi setiap atlet dan bukan semata-mata PR pelatih
karena justru faktor tersebut berkaitan erat dengan dunia internal sang
atlet. Keberadaan pelatih sangat
penting, namun kemauan dan usaha keras pihak atlet lebih menentukan tingkat
keberhasilan maupun prestasinya. Inisiatif untuk memperbaiki diri atau
mengembangkan sikap mental positif lebih terletak pada atlet dari pada pelatih.
Bagaimana pun juga, perubahan yang dipaksakan dari luar, hasilnya tidak
efektif, malah bisa menimbulkan problem serius.
Peran pelatih dalam membina kesiapan mental atlet
Tidak ada jalan
pintas untuk membina kesiapan mental seseorang termasuk atlet, dan tidak ada
jalan pintas bagi atlet untuk sampai pada prestasi puncak. Perlu kerja sama
yang baik antara atlet dengan Pembina atau pelatihnya. Menurut Karyono (2006), pelatih diharapkan
menjadi konselor yang mampu memahami karakter atlet asuhannya dan bisa
memberikan bimbingan yang konstruktif terutama untuk membangun kesiapan dan
kekuatan mental. Beberapa hal yang
dibutuhkan oleh atlet:
1.
Giving encouragement
than criticism
Sikap dan kata-kata
pelatih most likely akan didengar dan dipercaya oleh atlet
asuhannya. Jika pelatih mengatakan atletnya buruk, lemah, payah, bisa ditunggu
dalam beberapa waktu kemudian kemungkinan atlet tersebut akan lemah dan payah.
Meski pelatih dituntut untuk tetap jujur dalam memberikan opini dan penilaian,
namun hendaknya opini dan penilaian tersebut sifatnya obyektif dan rasional,
bukan emosional. Kata-kata kasar yang bersifat melecehkan atau menghina, lebih
menjatuhkan moral daripada menggugah semangat.
2. Respect
Relasi yang sehat
antara pelatih dan atlet jika di antara keduanya ada sikap saling menghargai.
Pelatih memotivasi, menempa mental dan skill
ke arah pengembangan diri atlet. Kemampuan untuk menghargai, membuat hubungan
antara keduanya tidak bersifat manipulative,
saling memanfaatkan. Terkadang tanpa sadar, atlet memanfaatkan pelatih maupun
bakatnya sendiri untuk ambisi yang keliru dan pelatih juga menggunakan atlet
sebagai extension of her/his image. True respect, mendorong pelatih untuk
tahu apa kebutuhan sang atlet; dan mendorong atlet untuk menghargai eksistensi pelatih sebagai orang yang
mendukungnya mencapai aktualisasi diri.
3.
Realistic Goal
Sasaran realistik harus
ditentukan dari awal supaya baik pelatih dan atlet, bisa menyusun break down planning
& target. Sasaran harus menantang
tapi realistis untuk dicapai. Sasaran yang tidak realistik bisa membuat atlet minder, inferior, atau jadi
terlalu percaya diri, overestimate self karena terlalu yakin dirinya
sanggup dan pantas untuk jadi juara.
4.
Problem Solving
Siapapun bisa terkena
masalah, baik pelatih maupun atletnya. Pelatih yang bijak mampu mendeteksi
perubahan sekecil apapun dari atlet asuhannya yang bisa mempengaruhi kestabilan
emosi, konsentrasi dan prestasi. Perlu pendekatan yang tulus untuk membicarakan
kendala atau problem yang dialami atlet supaya bisa menemukan sumber masalah
dan mencari penyelesaian yang logis. Jika sang atlet punya masalah dalam
mengendalikan kecemasan sebelum bertanding, maka pelatih bisa mengajaknya
menemukan sumber kecemasan dan mengajarkan untuk berpikir logis dan rasional. Pelatih
bisa memotivasi atlet mengingat momen-momen paling berkesan yang
dialaminya
dan me review proses yang mendorong
keberhasilan di masa lalu. Selain itu, relaksasi progresif (relaksasi otot) dan latihan pernafasan juga bermanfaat menurunkan ketegangan.
5.
Self awareness
Atlet perlu dibekali
cara-cara pengendalian emosi yang sehat supaya ia bisa me-manage kesuksesan maupun kegagalan secara rasional dan
proporsional. Ketidakmampuan me-manage
kesuksesan bisa membuat atlet lupa daratan karena self esteemnya melambung, sementara kegagalan bisa membuat atlet
depresi karena melupakan kemampuan aktualnya. Oleh sebab itu, atlet juga perlu didorong
untuk mengenal siapa dirinya, mengetahui dimana kelemahan dan kelebihannya
secara realistik, dan memahami di mana titik rentan diri yang perlu di kelola
dengan baik. Jika atlet punya pengenalan diri yang proporsional, ia cenderung
lebih aware dan prepare terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
6.
Managing stress and emotion
Managing emotion juga
terkait erat dengan pengenalan diri. Atlet
yang bisa mengenal dirinya, akan tahu kecenderungan reaksinya dan dampak dari
emosinya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, pelatih perlu berdiskusi bersama atletnya, hal-hal apa saja yang membuat atlet-atletnya merasa senang, marah, sedih,
cemas, dll dan
mengenalkan alternative pengendalian emosi. Pengendalian emosi yang sehat, akan
mengembangkan ketahanan terhadap stress karena tidak ada penumpukan emosi yang
membebani diri dan membuat energy bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif.
6. Good
interpersonal relation
Hubungan baik dan
tulus, jujur dan terbuka antara atlet dan pelatih, bisa memotivasi atlet secara
positif. Rasa tidak percaya, tidak mau terbuka, jaim (jaga image), akan mendorong hubungan kearah yang tidak sehat
di antara kedua belah pihak. Sikap
terbuka dan jujur ini hendaknya sejak awal di tunjukkan oleh pelatih sebagai
role model bagi para atlet binaannya. Mengkomunikasikan tujuan, harapan,
kritikan (konstruktif), masukan, perasaan, pendapat, kendala bahkan terbuka terhadap
kekurangan dan kelebihan diri sendiri akhirnya bisa jadi budaya positif yang
membantu para atlet membangun sikap mental positif.
Bagaimana pun juga, menang atau kalah merupakan hal yang biasa dalam sebuah pertandingan. Oleh karenanya,
setiap pelatih perlu mentransfer tidak hanya keahlian dan ketrampilan namun
juga sikap mental yang benar. Punya keahlian namun tidak didukung sikap mental
yang dewasa salah-salah bisa membawa dampak yang tidak diharapkan. Semoga dengan pembahasan ini, baik dari pihak atlet maupun pelatih sama-sama melihat pentingnya
membangun sikap mental yang kuat untuk mendukung prestasi atlet di lapangan,
maupun dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Mari kita beri
support atlet-atlet kita! Semoga bermafaat. Maju terus atlet Indonesia!
Daftar Pustaka
Karyono, 2006. Sang Juara Harus Dicetak. Majalah Psikologi Plus, Edisi Juli
2006.
Nasution, Y. (2007)
Latihan Mental Bagi Atlet