Tak
Sama Dengan Mesin
Pada
dasarnya ada perbedaan antara perangkat yang dimiliki manusia dengan mesin. Kalau
mesin, semakin sering dipakai atau semakin lama dipakai, akan semakin mengalami
keausan atau rusak secara menyeluruh dan ini pasti sifatnya. Tetapi kalau manusia,
dimensinya luas. Ada yang bisa dipastikan dan ada yang tidak. Ada yang ausnya menyeluruh
dan ada yang tidak.
Ini
karena dimensi kapasitas manusia itu tak terbatas. Pak Bakri yang guru SD itu,
misalnya, mungkin saja kalah oleh murid-muridnya secara materi atau kedudukan.
Tetapi bisa jadi secara spiritualnya tidak kalah, secara emosinya lebih matang,
secara imannya lebih kuat, dan seterusnya. Karena Pak Bakri tetap mengasah
keunggulannya, maka dia tetap menjadi the best dari dirinya berdasarkan
pilihan, keadaan, dan komitmen pengembangannya.
Dalam
prakteknya, ada orang yang bisa kita sebut seperti mesin dan ada orang yang
tetap menyadari kapasitas dirinya sebagai manusia. Seperti mesin di sini maksudnya
menjadi semakin aus kapasitas yang dimilikinya secara keseluruhan seiring
dengan bertambah / berkurangnya usia. Sudah fisiknya mulai lemah,
intelektualnya juga lemah. Sudah fisiknya makin lemah, kapasitas spiritualnya
juga tidak bertambah. Sudah fisiknya makin lemah, kebijaksanaannya juga tak muncul.
Tapi
tidak sedikit juga jumlah orang yang semakin tua justru semakin menjadi (becoming). Walaupun ada keausan di
beberapa titik pada dimensi fisiknya, tetapi intelektualnya, emosionalnya,
spiritualnya, kebahagian dan kesejahteraan hidupnya dan berbagai kapasitas
batin lainnya justru makin bagus. "Menjadi tua itu pasti sifatnya. Tapi
menjadi matang, itu pilihan", kata sebuah iklan. Karena pilihan, maka
orang-orang seperti inilah yang pas kita pilih untuk ditiru.
"Jika
seseorang kehilangan kreativitas dan motivasi,
dia akan lemah, walaupun dia orang baik."
Usia
dan Keausan
Kalau
mau bicara dari sisi yang fatalisnya, kita bisa mengatakan bahwa apapun
perjuangan kita untuk bisa tetap menjadi the best dari diri kita itu
pada akhirnya tetap akan kalah oleh usia. Bahkan dalam agama ada penjelasan
bahwa sebagian dari kita itu ada yang akan dikembalikan seperti pada saat kita
kecil, alias pikun, kekanak-kanakan lagi atau tak berdaya lagi.
Dari
temuan psikologi pun diungkap beberapa korelasi antara usia dan keausan di
sejumlah titik yang bukan saja fisik. Ini bisa kita lihat misalnya dari
kesimpulannya Neugarten (1976), seperti dikutip dalam Psychology & Life
(Philip G.Zimbardo: 1979), yang antara lain adalah:
Dalam
perspektif yang agak lebih spesifik, Erikson (The Journey of Adulthood, Helen
Bee: 1996), misalnya mengungkapkan, usia 40 tahun itu masuk dalam kategori yang
disebutnya dengan Stage of Generativity Versus Stagnation. Generativity
di sini maksudnya: sudah memiliki keluarga, karya nyata, memikirkan masa depan
lebih matang, kematangan sikap mental, kekayaan pengalaman, hubungan
suami-istri yang semakin bagus, tingkat kepuasan kerja juga makin bagus.
Sementara,
dari sisi yang stagnan (mandek / aus) itu misalnya: pertumbuhan fisik,
munculnya tanda-tanda keloyoan, uban mulai tumbuh, kekebalan tubuh terhadap
penyakit mulai menurun, dan beberapa kapasitas kognitif mulai turun
kemampuannya. Untuk beberapa skill yang tidak dilatih, pada usia ini juga
mengalami kesulitan memunculkannya, tidak seperti sewaktu masih muda dulu.
Kalau
dilihat dari sini, memang pada akhirnya ada korelasi antara usia dan keausan di
beberapa kapasitan kita, baik jiwa dan raga. Cuma, sepertinya bukan itu yang
menjadi persoalan dan yang perlu kita persoalkan. Kenapa? Ini karena dalam setiap
tahap perkembangan usia manusia itu sudah dirancang oleh Tuhan adanya potensi
plus dan potensi minus yang bisa dikembangkan. Tentunya dalam berbagai bentuk.
Yang
perlu kita antisipasi adalah jangan sampai berkurangnya usia itu hanya
memberikan sederetan potensi minus semata pada kita, sementara potensi plusnya
tak kita dapatkan. Stagnan-nya kita dapatkan, tetapi generativity-nya
tidak kita miliki. Cepat lupanya kita dapatkan, tetapi kebijaksanaannya
tidak kita miliki. Sulit belajarnya kita alami, namun kematangan
kita di bidang yang selama ini kita geluti tak kita dapatkan.
Ada
contoh yang mungkin cocok untuk ditiru oleh sebagian kita. Suatu kali, saya
diajak jalan-jalan ke beberapa kota oleh seorang pengusaha muda yang sedang
giat-giatnya berekspansi, dari mulai membangun sekolah, membangun pasar, sampai
menangani suplai tenaga kerja di perhotelan. Iseng saya bertanya, kenapa
sedemikian berani Anda berekspansi.
Ternyata
jawabnya simpel. "Kalau boleh minta pada Tuhan, lebih baik saya salah
menjalankan usaha pada usia muda seperti sekarang ini, ketimbang nanti
usia saya sudah tua. Jika saya rugi, saya masih punya semangat untuk bangkit.
Tapi, misalnya saya rugi pada usia tua, 'kan sudah sulit saya bangkit?",
katanya begitu.
Pemercepat
Keausan
Untuk
beberapa kapasitas batin yang sifatnya hasil pengembangan, banyak fakta yang membuktikan
bahwa usia bukan faktor yang terpenting peranannya dalam proses pengausan.
Kemampuan kita menghafal bisa jadi turun, tetapi kemampuan kita memaknai dan
menghayati bisa jadi makin bagus. Kemampuan bergerak kita mungkin turun, tetapi
kemampuan untuk berdiam mungkin makin bagus.
Lain
soal untuk orang yang pikun atau terserang penyakit. Bahkan pada orang
tertentu, serangan penyakit fisik tak menghancurkan kapasitas batinnya secara
total. Konon, sebelum terkena stroke, Gus Dur mampu mengingat secara alami (unconsciously memorized) 5000 nomor
telepon. Setelah terserang stroke berkali-kali, kapasitas itu tetap masih ada
walau berkurang banyak.
Justru
yang paling berperan dalam pengausan ternyata bukan usia, melainkan bagaimana
kita menggunakan usia kita saat ini. Dari berbagai rujukan, kita bisa mengingatkan
diri kita bahwa buruknya penanganan terhadap stress yang kita lakukan selama
ini dapat menjadi faktor keausan. Ini misalnya dikatakan, stress dan depresi
dapat melemahkan memori atau logika. Bahkan dapat mengganggu produktivitas dan
kreativitas.
Stress
itu pasti tak bisa kita hindari, lebih-lebih di usia muda yang banyak kegiatan.
Yang menjadi persoalan seringkali bukan stress-nya, melainkan penanganannya.
Kalau kita lebih sering menempuh penanganan secara negatif, bukan tak mungkin
stress dapat berubah menjadi depresi. Tapi kalau penangananya positif, stress
dapat berubah menjadi dorongan berprestasi.
Kebiasaan
hidup juga berperan penting. Ketika Kick Andy (Metro
TV) menampilkan sejumlah orangtua (usianya), namun jiwa dan raganya masih
seperti anak muda, mereka memberi kesaksian bahwa kebiasaan bersyukur sangat
berperan penting dalam membentuk hidupnya. Ini juga diperkuat oleh pernyataan
ilmiah, misalnya dalam www.brainconnection.com,
bahwa berpikir positif (menciptakan opini positif, sikap
positif, tindakan positif, dan tujuan positif) sangat berperan dalam
menyuburkan fungsi otak. Artinya, jika kita sering memiliki kebiasaan berpikir
negatif, dengan berbagai turunannya, ini juga dapat berpotensi mempercepat
keausan kapasitas jiwa dan raga kita.
Proses
pengembangan yang mandek juga sangat berperan. Dari sejumlah bukti yang dapat kita lihat, ada
petunjuk di sana. Dengan terus konsisten untuk menggunakan
pikiran bernalar dan belajar, akan memperbaiki kesuburan otak. Dengan menjalankan pola hidup yang baik, kerja pada waktunya, tidur pada waktunya
dan istirahat pada waktunya, akan memperbaiki kualitas jiwa.
Bahkan ada yang mengatakan, dengan terus melakukan interaksi sosial yang baik, dapat menghindarkan orang dari
kepikunan yang parah. Artinya, jika kita kurang memiliki greget untuk
mengembangkan diri, dengan cara belajar yang pas untuk kita, akan sangat
mungkin otak dan berbagai kapasitas jiwa kita itu melemah seiring dengan
berkurangnya usia.
Secara umum, kalau melihat berbagai teori pembelajaran,
sepertinya ada perbedaan mengenai cara belajar yang pas untuk orang yang tua
dengan orang yang masih muda (anak-anak sampai dewasa). Untuk orang yang tua, cara belajar yang
paling bagus adalah dari praktek ke teori atau dari teori yang bisa
dipraktekkan atau berdasarkan persolan hidup. Tapi kalau masih muda, cara
apapun biasanya bisa ditempuh dengan hasil yang optimal.
Melatih
Kematangan
Agenda
hidup yang sangat penting untuk kita jalankan seiring dengan bertambahnya usia
adalah meningkatkan kematangan. Kalau melihat
literatur psikologi, misalnya milik Gordon Allport (1961), seperti
ditulis oleh James W. Vander Zanden
(Human Development:1989), kematangan itu hanya bisa diraih dengan proses untuk
mematangkan diri secara terus menerus sesuai dengan keadaan kita. Tanda-tanda
kematangan itu antara lain:
Atau
dengan kata lain, menjadi lebih matang itu juga berarti memiliki kapasitas yang
lebih bagus dalam menyikapi konflik. Hidup ini penuh konflik. Antara kenyataan
dan harapan ada konflik. Antara kita dengan orang lain ada konflik. Antara kita
dengan diri kita ada konflik. Antara kebenaran kitab Suci dengan kenyataan ada
konflik. Membaiknya kapasitas kita dalam menyikapi konflik itu antara lain
ditandai dengan munculnya kebijaksanaan. Kebijaksanaan sendiri artinya adalah kemampuan
memilih yang paling banyak mengandung kebaikan untuk hal-hal yang sifatnya
pilihan.
Menjadi
Semakin Utuh