X adalah seseorang
yang selalu tidak dapat menahan diri untuk berbelanja baju dan sepatu ketika
memiliki uang padahal baju dan sepatunya sudah banyak, meskipun X tahu kalau
uang itu untuk membayar kuliahnya. X tetap membelanjakan uang tersebut. Namun,
setelah selesai berbelanja dan menghabiskan uangnya, X menyesal kenapa dirinya
tidak mampu untuk menahan keinginannya untuk berbelanja. X merasa tersiksa
dengan perilaku belanjanya ini. Selain itu, X selalu mempersepsi orang lain
berdasarkan banyaknya kepemilikan harta karena baginya, orang lain akan
menghormati dan menghargai jika dirinya memiliki banyak barang.
Pada
saat ini, di kota-kota besar banyak didirikan mall yang menawarkan berbagai produk-produk fashion terbaru.
Hal ini akhirnya, membuat sebagian besar masyarakat sering berkunjung ke mall,
apalagi bagi orang-orang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk
berbelanja. Sebelumnya, saya ingin bertanya pada Anda "Mengapa Anda membeli begitu banyak pasang sepatu dan baju namun tidak
mengenakannya? Apa Anda akan mengatakan bahwa sepatu dan baju itu tampak begitu
menarik tetapi sesudah membeilnya, Anda merasa kurang menyukainya?"
Apakah
Anda termasuk orang yang tidak mampu menahan keinginan untuk berbelanja
meskipun Anda sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut? Apabila
Anda membuka almari pakaian dan sepatu Anda
maka akan Anda akan dihadapkan pada setumpuk pakaian dan sepatu dengan
berbagai merek. Mungkin seringkali Anda termasuk orang yang mudah terjebak oleh
keinginan Anda sendiri untuk mengkonsumsi produk-produk fashion terbaru
agar tidak ketinggalan tren yang berlaku. Apalagi, pada saat ini konsumerisme
dan gaya hidup hedonis telah menjamur dimana-mana sehingga menyebabkan sebagian
besar orang berlomba-lomba mengumpulkan barang-barang sebanyak-banyaknya hanya
karena ingin dihormati, dihargai dan agar terlihat percaya diri. Padahal kenyataannya,
produk-produk fashion yang ditawarkan selalu berubah-ubah modenya
sehingga Anda akan merasa tidak puas dengan apa yang Anda miliki sehingga hal
ini dapat membuat Anda terjebak dalam shopaholic.
Definisi Shopaholic
Apa
shopaholic itu? Shopaholic
berasal dari kata shop yang artinya
belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari ataupun
tidak. Menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008) dikemukakan bahwa shopaholic adalah seseorang yang tidak
mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan
begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang
dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Mungkin muncul pertanyaan dihati Anda,
bagaimana gejala-gejala seseorang yang mengalami shopaholic?
Gejala-gejala Shopaholic
Perlu
diketahui bahwa tidak semua orang yang suka berbelanja atau pergi ke mall dapat
dikatakan shopaholic. Menurut Klinik
Servo (2007), seseorang dapat dikatakan mengalami shopaholic jika
menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
Dampak Shopaholic
Shopaholic dapat mengakibatkan berbagai dampak yang
merugikan yaitu:
Siapa yang berpotensi mengalami Shopaholic?
Menurut
penelitian dikemukakan bahwa 90% penderita shopaholic
adalah perempuan, namun laki-laki juga mengalami shopaholic. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stanford University mengatakan bahwa
laki-laki juga mengalami shopaholic.
Dengan demikian, perempuan dan laki-laki dapat menderita shopaholic. Barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh
perempuan dan laki-laki yang mengalami shopaholic?
Perempuan yang mengalami shopaholic
akan lebih suka untuk membeli pakaian, make-up, perhiasan, sedangkan laki-laki
akan lebih suka membeli barang elektronik seperti HP, MP3 Player, dll (www.rasensi,nl).
Penyebab Shopaholic
Mungkin
saat ini, Anda sedang bertanya-tanya apa penyebab seseorang mengalami shopaholic? Menurut Klinikservo (2007),
ada beberapa penyebab seseorang mengalami shopaholic, yaitu:
Gejala-gejala Gangguan Obsesi
Kompulsif
Menurut
e-media (2007), seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif akan
menunjukkan beberapa gejala-gejala yaitu merasa tertekan oleh pikiran-pikiran
obsesi yang muncul dari dalam dirinya, melakukan perilaku kompulsif secara
berulang-ulang untuk meredakan rasa tidak nyaman yang dirasakannya, selalu
merasa cemas, dll.
Solusi
Mengatasi Shopaholic
Shopaholic dapat diatasi dengan
CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan terapi relaksasi. CBT akan membantu
penderita untuk mengatasi pikiran dan perilakunya yang tidak rasional dan
mencegah penderita untuk melakukan kebiasaan belanja secara terus-menerus. Selain
itu, terapi relaksasi berguna untuk membantu mengurangi kecemasan dan membantu
penderita untuk rileks dalam menghadapi pikiran-pikiran obsesinya yang muncul.
Penderita Shopaholic juga perlu
dilatih untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan sehingga hal dapat
mulai mengontrol kebisaan belanjanya yang tidak rasional.
Solusi
Untuk Mencegah Seseorang Menderita Shopaholic
Agar Anda tidak mengalami Shopaholic maka sebaiknya sesegera mungkin Anda mengontrol diri
Anda pada saat berbelanja dan mengatasi stres dengan cara yang positif. Anda
dapat melakukan perencanaan pengeluaran Anda ketika akan pergi ke mall
sehingga hal dapat mengontrol perilaku belanja Anda yang tidak terkontrol. Namun,
Anda juga harus komitmen hanya membeli barang yang benar-benar Anda butuhkan
bukan karena godaan sesaat. Selain itu, Anda perlu pembukukan
pengeluaran-pengeluaran yang telah Anda lakukan dan mencatat barang-barang
kebutuhan pokok apa saja yang memang perlu untuk dibeli sehingga Anda dapat
mengontrol perilaku belanja.