Agama & Spiritualitas
Umumnya kita sudah terlanjur menyamakan antara spiritualitas dengan ritualitas atau formalitas agama. Kalau ada orang yang masih rajin membaca kitab suci di tengah-tengah istirahat jam makan siang atau masih menghadiri ceramah agama sehabis jam kerja, atau kerap mengucapkan firman agama ketika menghadapi sesuatu di kantor, itu semua kita identikkan dengan spiritual.
Sesungguhnya pemahaman dan peng-identik-kan semacam itu memang punya alasan. Salah satu yang pernah saya dengar adalah, ajaran agama itu memang bisa dijadikan "jalan" untuk perbaikan spiritualitas seseorang. Jalan di sini maksudnya adalah ketika seseorang menjadikan ritualitas agamanya sebagai media, perantara, atau instrumen, untuk mencerahkan batinnya. Jalan di sini adalah ketika seseorang menyadari dirinya sebagai pihak yang harus aktif melakukan penghayatan, aktulisasi, dan realisasi pesan agama ke dalam praktek hidup sehari-hari.
Yang dimaksudkan dengan jalan lagi di sini adalah ketika seseorang tidak menjadikan ajaran agamanya sebagai tujuan hidup. Ini misalnya kita sudah merasa cukup dengan menjalankan ritualitas agama atau sudah merasa punya kartu surga dengan memeluk agama tertentu di KTP atau sudah merasa paling benar dengan agama yang kita pilih untuk melegitimasi perasaan bahwa agama yang dipeluk orang lain itu salah total.
Dalam berbagai kasus yang sering kita jumpai, masih banyak orang yang menjadikan agama atau ritualitas agamanya sebagai tujuan akhir (ritualitas untuk ritualitas), bukan sebagai jalan untuk mencerahkan batinnya, spiritualnya atau hidupnya. Karena itu, tidak mengherankan jika ada orang yang secara ritualitas atau formalitas agama itu baik, namun praktek hidupnya masih sangat jauh dari hal-hal yang menandai kematangan spiritual. Kesalehan ritual kerap tidak menjadi indikator adanya kesalehan spiritual.
Oleh sebab itu, perintah agama kepada manusia yang paling esensial adalah membuka pikiran (membaca) untuk melihat realitas. Alasannya sangat logis. Ketika pikiran ini terbuka, batin kita akan ada gerakan yang menginginkan sesuatu untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Pikiran yang terbuka akan membuka pintu transformasi, refleksi, koreksi dan aktualisasi. Spiritualitas kita membaik seiring dengan membaiknya ritualitas dan formalitas agama asalkan dibarengi dengan proses membaca itu.
Ini agak beda dengan ketika kita menerima dan menjalankan ajaran agama itu dengan pikiran yang tertutup (menolak membaca). Selain kita kerap merasa sudah paling final benarnya, spiritualitas kita pun biasanya cenderung mengalami stagnasi. Di samping itu, agama yang diterima dengan pikiran tertutup kerap berubah fungsi: dari yang semula untuk mencerahkan menjadi menggelapkan, dari yang semula untuk mengaktifkan menjadi mempasifkan, dari yang semula untuk menghadapi realitas menjadi alat untuk lari dari realitas.
Pengertian Spiritualitas
Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa kata "spiritual" itu diambil dari bahasa Latin, Spiritus, yang berarti sesuatu yang memberikan kehidupan atau vitalitas. Dengan vitalitas itu maka hidup kita menjadi lebih "hidup", kira-kira begitu. Spiritus ini bukan merupakan label atau identitas seseorang yang diterima dari / diberikan oleh pihak luar, seperti agama, melainkan lebih merupakan kapasitas bawaan dalam otak manusia.
Artinya, semua manusia yang lahir ke dunia ini sudah dibekali kapasitas tertentu di dalam otaknya untuk mengakses sesuatu yang paling fundamental dalam hidupnya. Jika kapasitas itu digunakan / diaktifkan, maka yang bersangkutan akan memiliki vitalitas hidup yang lebih bagus. Kapasitas dalam otak yang berfungsi untuk mengakses sesuatu yang paling fundamental itulah yang kemudian mendapatkan sebutan ilmiyah, seperti misalnya: Kecerdasan Spiritual (SQ), Kecerdasan Hati (Heart Intelligence), Kecerdasan Transendental, dan lain-lain.
Menurut Ian dan Danah Zohar, kapasitas spiritual di dalam diri kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Ini antara lain misalnya: Mengapa saya dilahirkan? Apa makna hidup saya? Mengapa saya mencurahkan hidup saya pada hubungan ini atau pekerjaan ini atau persoalan ini? Apa yang sungguh-sungguh ingin saya capai dengan proyek ini atau dengan hidup saya? Yang spiritual di dalam diri kita selalu mendorong untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam, nilai-nilai fundamental yang lebih bermanfaat, kesadaran akan adanya tujuan hidup yang lebih panjang, dan peran yang dimainkan oleh makna, nilai, dan tujuan itu dalam tindakan, strategi dan proses berpikir.
Nah, sekarang mungkin ada pertanyaan, sejauhmana spiritualitas itu berguna di tempat kerja? Sejauh spiritualitas itu kita artikan sebagai kapasitas di dalam otak yang berguna untuk mengakses sesuatu yang paling fundamental atau kematangan dan kesalehan batin, tentu saja ini sangat kita butuhkan. Alasannya antara lain:
Pertama, agar kita punya kemampuan membedakan sesuatu yang berguna dan yang tidak berguna. Seperti yang kita alami, aktivitas di tempat kerja itu terkadang cenderung liar / tidak terkontrol. Ini membuat kita lupa membedakan mana yang benar-benar bermanfaat dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana yang hanya merugikan orang lain dan mana yang tidak.
Dengan menyimak dialog fundamental di dalam pikiran yang mempertanyakan apa gunanya / apa manfaatnya ini semua bagi kita, maka ini akan membuka peluang untuk membedakan atau menghindari hal-hal yang menurut kita kurang berguna. Coba kalau kita mengabaikan isi dialog fundamental itu? Mungkin hidup kita akan rentan dipenuhi aktivitas yang tidak jelas manfaatnya. Jadi, menyimak dialog fundamental akan membuat kita cepat sadar tentang apa manfaat dari yang kita lakukan.
Kedua, agar kita punya kemampuan yang lebih bagus dalam "memberdayakan" penderitaan. Semua orang pernah menderita terlepas apa sebabnya atau apa bentunya, apalagi di tempat kerja. Bedanya, kalau kita tetap menyimak dialog fundamental yang mempertanyakan tentang hikmah apa yang bisa diambil, perubahan apa yang bisa dilakukan, atau pelajaran apa yang bisa diterapkan, maka sangat mungkin sekali kita akan mendapatkan pencerahan dari penderitaan itu. Coba kalau misalnya kita mengabaikan dialog fundamental itu pada saat menderita? Setan pasti akan mudah menggoda kita. Realitas ini pasti mudah menggelapkan batin kita.
Ketiga, agar kita punya kualitas hidup yang bersumber dari visi masa depan dan nilai-nilai kebenaran yang lebih kokoh. Persaingan, tuntutan hidup, perubahan trend, standar glamorisme dan semisalnya kerap membuat banyak orang hanya berkonsentrasi pada "material-gains". Istilah agamanya sering disebut cinta dunia. Yang menjadi masalah bukan soal materinya, uangnya, atau dunianya, melainkan cinta yang berlebihan (cinta buta) sehingga melupakan kaidah "how to gain" yang tidak melanggar / tidak merugikan pihak lain.
Nah, di tengah budaya yang menuhankan glamorisme itu, kalau kita sampai melupakan dialog fundemental di pikiran, mungkin kita akan terjebak pada reaksi-reaksi sesaat yang melelahkan. Dengan menyimak dialog fundamental itu akan membuat kita terbimbing untuk meresponi trend, perubahan dan tuntutan hidup berdasarkan nilai-nilai yang kita pegang dan visi masa depan yang kita buat, bukan reaksi sesaat.
Keempat, agar kita lebih sadar untuk saling menolong antarsesama melalui proses aktualisasi-diri. Untuk orang yang bekerja, mungkin ungkapan Jim Rohn ini tepat untuk diingat. Katanya, jangan mengabaikan spiritualitas anda. Sebab, itulah yang membedakan anda dengan binatang. Sepintas ini kelihatan agak pedas, tapi memang kita ini terkadang suka terlena.
Kalau kita perhatikan, yang menonjol dari binatang adalah mencari makanan dan memakan makanan itu untuk dirinya dan anak-anaknya. Sebagian binatang diberi tabiat dasar harus membunuh untuk bisa makan (killer instinct). Binatang tidak dibekali kapasitas yang mempertanyakan apakah saya ini hidup untuk mengumpulkan makanan atau saya makan untuk hidup (aktualisasi-diri).
Karena manusia dibekali kapasitas yang mempertanyakan hal-hal fundamental seperti di atas, maka seandainya itu disimak, tentunya akan menghasilkan dorongan (drive dan motives) yang lebih manusiawi (bukan hewani). Studi di bidang karir menemukan, orang yang motif kerjanya mengakar pada hal-hal yang lebih fundamental, misalnya aktualisasi-diri, dia lebih kreatif, lebih tahan banting, dan lebih kuat motivasinya.
Kelima, agar kita lebih sanggup menemukan hubungan yang lebih menyatukan di antara sekian hal. Kalau menyimak pesan inti kitab suci agama-agama, memang Tuhan-lah yang telah mendesain adanya perbedaan itu. Ini misalnya perbedaan warna kulit, perbedaan agama, perbedaan suku bangsa, bahasa, konstruksi wilayah, dan lain-lain. Perbedaan itu dimaksudkan agar terjadi proses yang disebut saling meingkatkan kompetensi (berlomba-lomba memberikan yang terbaik). Tidak mungkinlah Tuhan punya desain yang maksudnya merugikan manusia.
Sayangnya, karena sebagian besar manusia itu enggan mendengarkan isi dialog fundamental itu di dalam otaknya, maka yang sering muncul adalah permusuhan atas nama perbedaan. Orang bermusuhan karena beda agama - misalnya begitu - padahal pesan agama sendiri adalah menghapuskan permusuhan di antara manusia. Orang mempersepsikan dirinya sebagai makhluk yang terpisah dengan makhluk Tuhan lain, misalnya lingkungan atau alam, padahal tidak ada hubungan (connection) yang terpisah di antara sekian makhluk Tuhan itu.
Nah, dengan meningkatnya kesanggupan untuk menemukan hubungan yang saling menyatukan di antara sekian makhluk Tuhan, entah itu manusia atau non-manusia, kira-kira yang akan muncul adalah perasaan bahwa kita ini merupakan keluarga besar yang menghuni satu tempat dan akan kembali pada Yang Satu juga. Ini akan membuat kita lebih bijak dalam menyikapi perbedaan.
Meningkatkan Spiritualitas
Apa saja yang bisa kita lakukan untuk lebih menajamkan pengaksesan kita pada hal-hal yang spiritual itu? Di bawah ini ada sebagian dari sekian hal yang bisa kita lakukan. Ini antara lain:
Pertama, perkuat dorongan atau inisiatif untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik. Hari ini perlu diusahakan lebih baik dari yang kemarin dan hari depan perlu diusahakan lebih baik dari hari ini. Tentu saja menurut ukuran kita masing-masing. Ini adalah kunci perbaikan manusia atas dirinya. Jangan merasa sudah puas atau merasa sudah paling baik. Even the best can be improved.
Jika dorongan dan inisiatif itu ada, maka ini membuka peluang untuk mendengarkan dialog-dialog fundamental itu di dalam diri. Kata seorang trainer SDM yang pernah saya ajak dialog, seluruh training, pendidikan atau pengetahuan baru itu kurang ada manfaatnya kalau tidak didasari oleh dorongan atau inisiatif untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Kedua, agar dorongan dan inisiatif itu hanya semangat yang sporadis, parsial dan "angot-angotan", tentukan sasaran yang lebih jelas, lebih besar dan lebih luas. Inipun perlu kita sesuaikan ukurannya dengan keadaan kita. Kenapa harus pakai sasaran segala? Selain karena alasan efektivitas hasil, ini juga terkait dengan pembahasan di atas. Jika kita memiliki sasaran yang lebih jelas, lebih besar dan lebih luas, maka kemampuan kita untuk bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak itu semakin bagus.
Kalau mau pakai ajaran agama, kita diperintahkan untuk selalu mengingat visi fundamental dalam hidup. Visi itu adalah merealisasikan kehidupan dunia yang baik dan kehidupan akhirat yang baik. Menurut saran Ian Marshall dan Danah Zohar, untuk meningkatkan SQ itu bisa dilakukan dengan menyadari di mana saat ini kita berada dan selalu ingat kemana arah yang kita tuju. Menyadari "dimana" dan "kemana" ini akan mendorong kita untuk selalu berubah dan, yang paling penting lagi adalah, kita tidak hanyut pada realitas hari ini.
Ketiga, perkuat komitmen untuk memilih "jalan yang lurus" dalam merealisasikan sasaran dan menjalankan agenda perubahan itu. Seperti apa jalan yang lurus itu? Jalan yang lurus adalah jalan atau cara usaha yang didasari oleh pengetahuan dan pengamalan atas apa yang kita tahu (ilmu dan amal). Jalan yang lurus itu diibaratkan seperti jalan tol. Kalau kita menggunakan jalan tol, perjalanan kita akan lebih cepat dan relatif lebih sedikit hambatannya.
Begitu juga dalam hidup. Kalau kita ingin melakukan sesuatu, kita tahu konsepnya, tahu know-how-nya, tahu apa yang benar dan yang tidak benar, dan lalu itu kita jalankan, maka langkah kita akan sama seperti orang yang berjalan di jalan tol. Tapi kalau kita hanya tahu namun tidak dikerjakan atau mengerjakan namun tidak tahu, ya mungkin tersesat atau lamban.
Keempat, usahakan selalu pemecahan masalah yang lebih baik, lebih positif, atau lebih mendasar. Syaratnya adalah, menurut saran Ian dan Zohar, meyakini adanya jalan pemecahan yang tidak tunggal. Istilahnya kreatiflah. Ini juga menjadi pesan utama ajaran agama. Agama menyuruh manusia agar terus mengharapkan rahmat Tuhan. Sebagian bentuk rahmat itu adalah mendapatkan solusi hidup yang lebih bagus. Orang yang sudah putus asa terhadap rahmat Tuhan, oleh ajaran agama, digolongkan orang yang sesat.
Kelima, tingkatkan kualitas beragama. Ajaran agama itu mirip seperti kue. Kalau yang kita makan itu kulitnya atau bungkusnya, memang sih bikin kita kenyang juga. Tapi efeknya bagi kesehatan dan kenyamanan, tentu tidak sebagus kalau yang kita makan itu isinya. Setiap ritual yang digariskan ajaran agama itu dibungkus dengan kulit (praktek fisik), di dalamnya ada isi dan di dalamnya lagi ada esensi fundamental. Isi dan esensi fundamental itu kalau disatukan dalam sebuah penjelasan adalah terwujudnya hubungan yang harmonis antara seseorang dengan dirinya, dengan realitas hidupnya, dengan orang lain, dengan alam, dengan lingkungan dan dengan Tuhan.
Nah, meningkatkan kualitas beragama itu maksudnya adalah kita menjadikan ritual atau praktek agama itu sebagai materi atau jalan untuk memperbaiki hubungan-hubungan itu. Tentu di sini dibutuhkan apa yang disebut pemaknaan, penghayatan, transformasi, refleksi, pembelajaran dan pelaksanaan.
Mudah-mudahan ini bermanfaat.