Jaman sekarang ini,
terutama di kota besar, di benak hampir setiap anak SMA tertanam rencana untuk
melanjutkan kuliah. Ada yang rencana melanjutkan kuliah di swasta, ada juga
yang ingin masuk Universitas Negeri. Ada yang ingin melanjutkan di dalam
negeri, tapi banyak juga yang berencana kuliah di luar negeri.
Ada fakta yang perlu
kita lihat bersama, yakni jumlah mahasiswa Indonesia di tahun 2011 ini
diperkirakan sebesar 4.8 juta atau 18.4% dari total populasi usia 19 s/d 24
tahun. Pemerintah melalui menteri pendidikan mentargetkan tahun 2014 angka itu
meningkat hingga 30% supaya menambah angka "kaum intelektual"dan diharapkan
bisa mendorong laju ekonomi dan sector lainnya. Fakta lain, data BPS di akhir tahun 2010
mengungkap tingkat pengangguran terbanyak di dominasi oleh sarjana dan
diploma (11,92% dan 12,78% dari 8.32 juta pengangguran di Indonesia). Dari seluruh angkatan kerja, lebih dari 50% adalah
mereka yang lulusan Sekolah Dasar. 66,94% dari jumlah itu merupakan pekerja
sektor informal, dan hanya 44% yang bekerja di sektor formal. Supaya tidak
menimbulkan kebingungan, maka gambaran yang tidak linear dan seolah tidak
berkaitan satu sama lain ini perlu di gabungkan dalam konteks yang lebih sederhana.
Bahwa hingga saat ini, ekonomi Indonesia masih tergantung pada angkatan kerja
lulusan Sekolah Dasar yang men-support pergerakan ekonomi negeri. Sementara
orang-orang yang diharapkan menjadi pilar ekonomi Indonesia, yakni para sarjana
dan diploma masih belum bisa sepenuhnya menyumbangkan keilmuan yang diperoleh
semasa tahun-tahun belajar di perguruan
tinggi lantaran banyak ketidakcocokan antara permintaan dengan penawaran, antara
kuantitas dengan kualitas, antara impian dan kenyataan. Impiannya siapa ?
Jika dilihat di berbagai
media massa, cetak maupun online,
tidak kurang-kurangnya banjir pengumuman lowongan kerja bagi sarjana maupun
diploma untuk menawarkan posisi yang menarik. Seandainya di pasangkan, maka ada
kemungkinan jumlah calon pekerja sarjana & diploma sesuai dengan jumlah
lapangan kerja yang tersedia. Namun realitanya, ketika hal itu di tanyakan pada
perusahaan user, pada umumnya mereka
bercerita bahwa sudah banyak pelamar yang di tes, namun sedikit yang memenuhi
kriteria; dengan kata lain, banyak yang di seleksi namun sangat sedikit yang
lolos. Pertanyaannya, mengapa demikian sulitnya? Apakah soal tes yang sulit,
kriteria kerja terlalu tinggi, atau kualitas calon pekerja yang tidak memenuhi
standard ?
Sudah banyak teori-teori
dan penjelasan di seputar masalah SDM yang menunjuk pada faktor-faktor tertentu
seperti kurangnya wawasan, pengetahuan, ketrampilan sang kandidat sehingga
tidak memenuhi standard kriteria perusahaan terkait. Atau, faktor
ketidakcocokan antara permintaan kandidat dengan penawaran perusahaan sehingga
antara keduanya tidak tercapai kesepakatan. Faktor kedua ini umumnya terjadi
pada level yang sudah strategis dan bukan di level pemula atau yang masih intermediate. Akhirnya banyak sarjana dan diploma yang tidak
kebagian kerja karena alasan ketidakcocokan
yang sementara itu tidak bisa di jembatani. Dalam artikel ini saya
ingin mengajak pembaca untuk melihat dan berpikir lebih dalam, tidak hanya
menyalahkan kondisi atau standard yang ada, supaya setiap orang pada akhirnya
bisa mengambil kendali atas kehidupan masing-masing.
Membedah
realita
Persoalan yang terjadi di dunia kerja, bukan semata persoalan instan,
melainkan hasil proses yang panjang. Artikel kali ini difokuskan pada sang
pencari kerja daripada sang pencari pekerja karena walau bagaimanapun juga,
pihak pencari pekerja punya kuasa dan kendali untuk menyeleksi serta menentukan
pilihan mereka.
Pernahkan terpikirkan
mengapa SDM kita dianggap kurang padahal jika ditilik ternyata latar belakang
sekolahnya keren dan ternama, mahal pula; baik itu di dalam maupun di luar
negeri; mau itu di kota kecil, kota besar maupun kota kabupaten. Ada yang ketika
di wawancara sangat baik, namun gagal ketika di psikotes. Ada yang sudah
diterima namun gagal dalam masa percobaan. Sebenarnya, terlepas dari kualitas
dan mutu sekolahnya, faktor apa yang membuat seseorang "berbeda" sehingga
dianggap layak untuk di pertimbangkan?
You are what you do
Pertanyaan itu tidak mudah di jawab dengan cara melihat siapa diri kita
atau dia sekarang ini, dari cerita-cerita, status, maupun dari kata-kata yang
di cetak dalam Curriculum Vitae. Justru banyak orang terjebak karena CV yang
bagus dan cerita mengagumkan yang diungkapkan kandidat. Namun ketika
masuk dalam babak seleksi berikutnya, maka kesan yang dibangun mati-matian di
awal pertemuan terlihat tidak sama dan sebangun dengan perjalanan hidup yang senyatanya maupun kualitas diri yang
riil. Pertanyaannya, apa saja yang terjadi selama beberapa tahun belajar
dan kuliah; sejauh mana keseriusan mencari ilmu dan pengalaman jika setelah
lulus ternyata masih belum terlihat punya
pijakan atau akar yang jelas.
Jika ditarik jauh ke
belakang, dan jika ditanyakan kepada kandidat, apa sebenarnya motivasi
mengambil kuliah? Apakah karena ingin maju atau karena didorong secara otomatis
oleh keluarga (orangtua) untuk maju; apakah itu pilihan yang diambil atas
ketertarikan keilmuan & keahlian, ataukah karena jalur tersebut lebih cepat
dan menawarkan "kemudahan" dalam mencari uang. Selain itu, bagaimana mengelola
waktu yang ada, apakah semasa kuliah lebih banyak bermain, bersosialisasi dan
berhura-hura daripada proporsi belajar dan membangun karakter lewat kegiatan
konstruktif yang konsisten.
Mengapa hal itu menjadi
sangat penting, apa relevansinya ? Hubungannya berkaitan erat dengan pertanyaan
mendasar yang muncul dalam diri setiap orang : Apakah yang menjadi cita-citaku?
Sejauh mana aku mengusahakan untuk mewujudkan cita-citaku ? Karena dalam
prakteknya banyak lulusan sarjana maupun diploma yang ketika di wawancarai masih
bingung menyoal cita-citanya. Jika ditarik garis ke belakang secara linear,
para remaja yang masih SMA pun saat ini kerap bingung jika ditanya apa
cita-citanya dan apa yang menjadi pilihan studi-nya kelak. Kebingungan dan
ketidaktahuan atas diri sendiri ini, memainkan peran penting dalam kehidupannya
di masa mendatang, terutama saat memasuki dunia kerja. Karena setelah ditelusuri,
ternyata jurusan yang dipilih bukanlah yang diminati; namun pertimbangan
sekunder (kuliahnya cepat, keren,
banyak temannya, kota nya lebih asik, kuliahnya santai dan gampang, mudah
kerja, gaji besar) akhirnya mengalahkan minat sejati.
Pada akhirnya,
tahun-tahun kuliah dijalani secara datar, bahkan terkadang merasa berat karena
sulit menemukan kenikmatan dalam masa perkuliahan kecuali aspek bergaul dengan
teman. Hal ini terjadi karena terlalu takut untuk mengambil keputusan yang mungkin
sekali menjauhkan diri kita dari wilayah umum (common area) atau minimal
supporter. Yang ada kita enggan jika
harus berjuang sendiri dalam jalur yang menurut sebagian orang, dianggap
idealis. Akhirnya kita kuliah karena harus kuliah dan menyelesaikan kuliah
karena harus lulus kuliah dan cepat-cepat cari kerja dan dapat uang. Sikap
ini secara psikologis membuat kita tidak punya semangat dan ketekunan yang
tinggi, kurang punya daya juang serta keinginan untuk selalu mencari dan menghasilkan
yang terbaik. Dalam pemikiran kita, kalau kita tidak serius pun akhirnya lulus "jadi buat apa harus susah-susah"; apalagi jika kita punya keyakinan bahwa kalau
sudah selesai kuliah pun, tidak perlu khawatir tidak punya pekerjaan, karena
pekerjaan akan datang dengan sendirinya. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa
mekanisme demikian membuat kita kehilangan kendali atas hidup ini, karena tidak
punya banyak pilihan, dan bargaining
power kita pun tidak kuat karena kualitas diri yang pas-pasan.
Konsekuensi
pilihan sejati
Sikap berani memilih sesuai dengan minat dan panggilan jiwa, akan
membuat kita lebih termotivasi untuk bereksplorasi, terus menemukan jawaban
atas rasa ingin tahu supaya lebih bisa memegang kendali atas hidup ini.
Keberanian itu sendiri sudah membawa konsekuensi logis yakni keberanian untuk
menjaga komitmen. Berani memilih, berani bertanggung jawab. Pahit-pahitnya, jika nilainya tidak bagus kita sadar bahwa kita harus berusaha menjadi lebih baik meski awalnya demi
harga diri.
Konsekuensi dari memilih
sesuatu yang bukan pilihan sejati, selain merasa datar-datar saja, kita pun
tidak mengeluarkan energi dan motivasi yang optimal (the best we can do). Bahkan tidak jarang kita lebih fokus pada
kegiatan non-akademik & non-formal untuk memperkaya dan memperamai CV kita
kelak. Sebetulnya tidak ada salahnya untuk aktif dalam kegiatan keorganisasian
maupun pertunjukan social. Semua pasti ada ilmu dan pengalaman yang bisa di
petik. Namun, alangkah nikmatnya jika kita mengambil kuliah yang sesuai dengan
panggilan kita, minat dan rasa ingin tahu kita, ditambah dengan kegiatan
kampus dan di luar kampus yang mengaktualisasikan kemampuan serta bakat kita.
Jadi bersifat complimentary.
Berbeda jika kita tidak
suka dengan pilihan kita, namun karena "wajib" kuliah, dan yang penting cepat
selesai dan cepat kerja, maka kita akan berusaha mencari kompensasi atas
kehampaan hidup dengan cara mencari wadah yang dianggap bisa menjawab kebutuhan
kita dalam menemukan makna diri. Masalahnya, wadah yang ada tidak cukup
komprehensif dan kompleks untuk bisa menghadirkan rasa diri yang utuh dan
realistik. Contohnya, kegiatan-kegiatan yang ada tidak mungkin cukup untuk
membangun rasa bangga atas prestasi dan pencapaian yang diraih oleh kita atau
seseorang karena bagaimana pun juga, pada umumnya kegiatan itu bersifat
kolektif (teamwork) dan sementara (short
term), semua hasil kerja bareng dan
tidak semua orang mengerjakan seluruh proses dari a - z. Namun kelak ketika wawancara, dengan bangganya menganggap
itu adalah karena jasa atau kehebatan kita.
Demikian pula dengan
lulusan baru yang masih ke sana kemari, keluar masuk kerja dan berusaha mencari
eksistensi. Kerap kali pengalaman keberhasilan di masa kerja sebelumnya
dianggap kredit pribadi sehingga hal
itu pula yang menjadi pertimbangan
dalam menuntut besarnya kompensasi dan
fasilitas. Inilah yang menyebabkan
kesenjangan antara CV dengan realita, antara citra yang berusaha di tampilkan
dengan kemampuan sejati dan kesiapan pribadi. Mengapa hal ini terjadi ? jawabannya, karena tidak
ada akar yang kuat menancap pada kenyataan. Baik itu keahlian, pengalaman, ketrampilan
maupun jati diri. Ada pepatah, tong kosong nyaring bunyinya, makin kosong makin
nyaring suaranya. Makin kosong diri kita, makin kita berusaha menutupinya dengan hal-hal yang menyilaukan
mata.
Semua berawal dari
pilihan hidup, apakah yang menjadi motivasi belajar, kuliah, sekolah, apakah
hanya karena keharusan dan gaya hidup, ataukah karena mencari sesuatu yang bisa
memperkuat fondasi diri. Jika kita mengawali
perjalanan hidup kita sendiri dengan mengingkari diri, selanjutnya kita
harus terus berjalan dalam kebohongan dan kepalsuan itu. Dalam kepalsuan, tidak
ada akar, yang ada hanya ada bayang-bayang ilusi, baik ilusi kesuksesan, ilusi
kebahagiaan, ilusi ketenaran, dsb. Apa jadinya jika kita mengajukan "potret
diri" yang sebenarnya adalah ilusi. Inilah yang menyumbang terbentuknya keraguan
yang selalu berusaha di kompensasi (ditutupi) lewat berbagai cara.
Artikel kali ini sengaja
di rancang untuk menjadi bahan refleksi kritis bagi setiap pembacanya, baik itu
calon sarjana, calon mahasiswa, calon pelamar kerja. Apakah kita tahu apa yang
kita tuju dalam hidup ini dan sudahkah kita berjuang untuk berjalan menuju
tujuan kita yang tidak lain adalah panggilan kita, sudahkah kita menentukan apa
peran kita di bumi ini. Bagaimana bentuk partisipasi kita untuk mengubah
kehidupan orang-orang menjadi semakin hari semakin baik? Pertanyaan-pertanyaan
itu yang akan menuntun kita untuk waspada pada pilihan kita, entah memilih
untuk mendengarkan panggilan ataupun memilih untuk tidak memilih bahkan
memilih pilihan orang lain, semua ada konsekuensinya. Namun, memilih sesuai
dengan panggilan hidup dan minat sejati, membuat kita lebih sering dan lebih berani memilih kuliah dan kegiatan
yang bermanfaat dan selaras dengan tujuan kita meski menghadapi banyak resiko; dan kelak itu semua menjadi hal yang membedakan antara diri kita dengan orang
lain. The courage to be.
Kesadaran
ini lah yang harus di bangun sebelum dan selama menuntut ilmu agar masa-masa
kuliah maupun internship, tidak
berlalu sia-sia sebagai sebuah kewajiban semata atau senang-senang belaka. Masa
kuliah, adalah masa krusial tahap lanjut dalam membentuk kepribadian &
profesionalisme yang meski tidak tercetak dalam CV, namun terlihat dalam hasil psikotes.