Motif Pekerjaan Sampingan
Dalam terminologi dunia kerja kita ada
istilah pekerjaan sampingan (side job). Istilah ini berbeda dengan
pekerjaan tambahan atau tugas tambahan (double job). Pekerjaan sampingan lebih mengarah
pada pengertian adanya pekerjaan lain atau profesi lain yang kita tangani di
luar pekerjaan resmi di kantor.
Sedangkan pekerjaan tambahan itu
mengarah pada pengertian adanya penugasan tambahan atau peranan lain yang diberikan
oleh kantor. Misalnya Abdullah diberi tugas untuk menangani lalu lintas operasi
kendaraan di kantor selain tugas resminya sebagai kepala keuangan. Untuk
beberapa kantor di kita, praktek semacam ini lumrah.
Bahkan di dunia birokrasi kita, ada istilah
lain yang pengertiannya mirip pekerjaan sampingan. Istilah itu adalah "sabetan".
Ini sebetulnya pekerjaan sampingan juga, tetapi tool-nya dengan
menggunakan kekuasaan (power) atau
kewenangan. Sabetan seringkali punya konotasi negatif meskipun banyak diburu
orang.
Motif apa saja yang melatarbelakangi
seseorang menangani pekerjaan sampingan? Mungkin ini tidak bisa dijelaskan
secara definitif. Cuma, kalau melihat petunjuk di lapangan, motif yang menonjol
adalah untuk menambahkan penghasilan.
Motif lainnya adalah untuk menyalurkan
bakat atau kelebihan personal. Seperti yang dilakukan Rizki. Dari sejak lulus
S1, dia memang ingin menjadi penulis. Tapi, belum ada lowongan. Sambil bekerja
sebagai marketing staff di
dealer mobil, Rizki tetap berlatih
dan menyalurkan bakatnya itu. Jadi, selain untuk mendapatkan penghasilan tambahan,
juga untuk aktualisasi diri.
Menurut biografinya J.K. Rowling, dulu
penulis buku Harry Potter ini juga begitu. Sejak di bangku SMP dia memang ingin
menjadi penulis. Tapi, karena desakan ekonomi dan keadaan, akhirnya dia bekerja
sebagai guru, sekretaris, dan lain-lain. Sambil menjalankan pekerjaan yang ia
kurang suka itu, ia berlatih menulis sampai kemudian terbit karya besarnya.
Ada juga seseorang yang saya jumpai
menangani pekerjaan sampingan sebagai jawaban atas panggilan visi hidup
lanjutan atau untuk investasi. Misalnya saja seorang eselon satu di departemen
tertentu yang punya sampingan sebagai dosen, pengelola yayasan, atau kursus
ketrampilan.
Bisnis
Di Atas Bisnis
Apa ada pemilik kantor yang
mengizinkan atau mendiamkan kita mengelola pekerjaan sampingan? Secara umum,
hampir tidak ada. Ada alasan yang memang rasional dan ada yang karena
kekhawatiran.
Seorang pemilik usaha di Jakarta Timur
mengatakan ke saya bahwa syarat utama bekerja di kantornya adalah tidak
membawa-bawa pekerjaan sampingan. Kenapa? Dikhawatirkan si karyawan akan lebih
mementingkan urusan dirinya ketimbang organisasinya, menyalahgunakan kekuasaan,
atau menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi. "Padahal, bukankah saat
itu statusnya sebagai karyawan di kantor ini?", tegasnya.
Malah ada seorang pengusaha yang sudah
sampai pada keputusan "mengharamkan" si karyawan punya pekerjaan sampingan. Ini
berlaku apabila si karyawan itu melakukan bisnis di atas bisnis. Jika si karyawan memiliki harga lain dari
harga yang ditetapkan perusahaan, ini namanya bisinis di atas bisnis. Padahal,
bukankah dia sudah digaji? Lain soal kalau seandainya dia bekerja sebagai part timer
atau pun free lancer, yang bayarannya
juga berdasarkan
komisi penjualan atau berdasarkan penugasan.
Meski secara umum tidak ada yang
mengizinkan kita untuk melakukan pekerjaan sampingan, tetapi tidak berarti ini
tanpa pengecualian. Ada beberapa kondisi yang membuat orang bisa
dimaklumi atau ditoleransi melakukan pekerjaan sampingan.
Biasanya ini berlaku apabila secara fakta, misalnya pekerja
harian atau buruh pabrik yang hidupnya sangat pas-pasan sementara orang itu
harus menanggung anak istri atau anak dan suami. Biasanya mereka lantas titip
jualan gorengan atau panganan kecil di warung, di kantin, dsb. Kalau sudah
seperti ini, pekerjaan
sampingan itu bersifat sangat darurat.
Understanding
The Limit
Dengan memahami persoalan seperti di
atas, tidak berarti kita harus menghentikan berbagai inisiatif untuk mengelola
pekerjaan sampingan. Selain karena untuk kepentingan finansial atau kepentingan
lain, ini perlu kita pahami sebagai proses kreatif. Orang kreatif adalah orang
yang selalu ingin menemukan nilai yang lebih dari hal-hal yang dianggap biasa.
Tapi, ini perlu didukung dengan
kemampuan yang menurut saya sangat krusial. Kemampuan itu adalah kemampuan
untuk memahami batasan (understanding the limit), entah itu yang
tertulis, ternyatakan, atau yang tidak tertulis dan tidak ternyatakan. Batasan
apa yang perlu kita pahami? Khusus untuk konteks pekerjaan sampingan, ada sedikitnya tiga batasan yang perlu kita
pahami.
Pertama, perlu
memahami batasan kebenaran yang sudah mutlak menurut akal sehat manusia. Kalau
kita menangani pekerjaan sampingan di jam-jam kantor, lebih-lebih memakai
fasilitas kantor, apalagi mengajak orang lain yang sekantor untuk melakukan hal
yang sama, ini namanya melanggar kebenaran yang sudah tidak diperdebatkan lagi.
Entah kebenaran itu tertulis atau tidak, hendaknya batasan ini kita jauhi karena kesalahannya
sangat jelas.
Kedua, perlu
memahami batasan kebaikan (untuk diri sendiri, orang lain dan iklim kerja di
kantor itu). Memang, batasan kebaikan ini ada yang sudah bisa terdefinisikan
oleh logika dan ada yang tidak. Ada yang hanya bisa dirasakan pakai perasaan.
Ada yang bisa ditulis dan ada yang tidak. Ada yang sudah jelas dan ada yang
masih abu-abu.
Apapun bentuk kebaikan itu, hendaknya
pertimbangan ini kita miliki. Maksudnya, jangan sampai kita melakukan sesuatu
hanya baik untuk kita tetapi tidak baik untuk orang
sekitar. Mbak Sri memilih untuk dagang kue
kering dengan pertimbangan tidak conflict
of interest dengan bank tempatnya bekerja; dan tidak perlu menggunakan
fasilitas kantor dan tidak mengambil "kavling" orang lain yang juga punya
pekerjaan sampingan. Tapi, yang tidak diperhitungkan Mbak Sri, selama di kantor
dia tidak fresh, ngantukan, jadi sering lupa, dan teledor, bahkan sering
sakit-sakitan. Tidak
semua yang tidak melanggar itu tidak merugikan.
Ketiga, perlu
memahami batas kemampuan. Ini yang paling penting. Karena status kita masih
resmi sebagai karyawan di kantor anu, jangan sampai kita menerima pekerjaan
sampingan yang butuh kapasitas penanganan melebihi kapasitas yang kita miliki.
Kenapa? Kalau sudah bicara kemampuan, tidak ada penyiasatannya.
Maksud saya, walaupun sebetulnya kita tidak
ingin melanggar waktu kerja resmi, tetapi kalau kapasitas kita tidak mampu,
pasti kita akan melanggar. Kita akan ijin dulu tidak masuk kantor untuk
menangani pekerjaan sampingan. Kata orang bijak, keinginan manusia itu tidak
ada batasnya, tapi kemampuan dan kesempatannya (waktu) selalu terbatas. Ini
yang perlu kita pertimbankan.
Komitmen
Berorganisai
Satu hal yang sulit
terpikir ketika kita tidak berusaha memikirkan, bahwa setiap bulan perusahaan berkomitmen
memenuhi kewajiban membayar gaji kita sesuai dengan kesepakatan awal maupun progress karir selanjutnya. Pertanyaannya, apakah kita
juga sudah memberikan 100% apa yang menjadi hak perusahaan ? Nah, kalau sudah bicara ukuran, ini memang
repot karena masing-masing bisa meng-klaim kalau usahanya sudah 110% bahkan
mengklaim balik bahwa perusahaan yang berhutang padanya. Ini terkadang jadi
alasan dan rasionalisasi bahwa sah-sah saja punya usaha sampingan. Terlepas dari benar salahnya
perhitungan kita sebagai karyawan, komitmen pada organisasi itu merupakan hal
yang tidak bisa di lepaskan.
Kalau melihat literatur CBHRM, misalnya
Competence At Work, Models for Superior Performance (1993), komitmen
berorganisasi ini termasuk kompetensi dan karenanya ada skala. Sebagai
acuan pribadi, kita bisa melihat ukuran-abstraktif skala itu melalui penjelasan
di bawah ini:
|
SKALA |
PENJELASAN |
|
0 |
Terbiasa membangkang (terang-terangan atau sembunyi)
aturan, norma, etika, kultur kantor |
|
1 |
Hanya melakukan upaya minimal agar tetap dapat bekerja |
|
2 |
Sudah melakukan upaya secara aktif untuk menyesuaikan
diri dan menghormati aturan main di kantor itu |
|
3 |
Sudah bisa berprilaku sebagaimana “model warga kantor”
yang diharapkan, menunjukkan kesetiaan, kesadaran untuk menolong kolega,
menghormati keinginan pemegang kekuasaan atau pengambil keputusan. |
|
4 |
Sudah mengerti dan mendukung misi dan tujuan organisasi, mampu menyelaraskan kebutuhan pribadi dengan
kebutuhan organisasi, mengerti kebutuhan kerjasama untuk mencapai hasil yang
lebih besar |
|
5 |
Sudah bisa memberikan kontribusi atau rela berkorban
(bukan menjadi korban) untuk organisasi. Bisa menempatkan kepentingan
organisasi di atas kepentingan dan keinginan pribadi. |
|
6 |
Berani dan matang membuat keputusan yang tidak populer
demi kebaikan kantor walaupun terkesan kontroversial |
|
7 |
Berjiwa besar mengorbankan kepentingan unit demi kebaikan
kantor, rela mengorbankan kepentingan
yang berjangka pendek atau sesaat demi kelangsungan kantor yang berjangka
panjang, dan mampu menggerakkan orang lain untuk rela berkorban demi
kepentingan kantor yang lebih luas dan yang lebih berjangka panjang. |
Intinya, kalau kita
terpaksa punya pekerjaan sampingan, komitmen
organisasi kita jangan sampe memble apalagi kalah jauh dengan orang
sekitar, lebih mementingkan sampingan atau sabetan ketimbang pekerjaan
kantor.
Jangan
Bermain Api Terus
Kalau boleh mengatakan, mengelola
pekerjaan sampingan itu mirip seperti bermain-main dengan api. Jika masih kecil
dan penanganannya benar, api itu masih bisa bersahabat dengan kita. Tapi bila
sudah besar atau salah sedikit saja penanganannya, si api bisa melukai kita.
Karena itu, baiknya, kita perlu
berpikir keras untuk tidak menjadikan pekerjaan sampingan ini sebagai tujuan
akhir dari karir kita maupun jadi solusi dari tiap krisis yang dihadapi. Bagaimana bisa tentram dan puas dengan bermain api terus?.
Jadikanlah pekerjaan sampingan ini sebagai tujuan perantara atau alat untuk
mencapai tujun yang lebih besar. Apa tujuan yang lebih besarnya?
Salah satu tujuan yang
lebih besar itu misalnya memiliki kantor / usaha sendiri.
Setidak-tidaknya perlu memiliki visi menjadi self-employer dan
menyerahkan pekerjaan kita di kantor itu pada orang yang lebih membutuhkan. Dan
yang paling penting lagi, kita secara perlahan akan
bebas dari ideologi bahwa untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup itu
harus bermain-main dengan api yang berpotensi memunculkan praktek merugikan
orang lain atau kantor. Ini termasuk sikap
yang fair. "Ah, punya usaha sendiri
atau jadi self-employer itu kan nggak
gampang, Mas?". Betul sekali, karena begitu kita menjadi employer, mungkin baru berasa betapa tinggi
nilai dan arti komitmen itu. Mungkin sooner
or later, kita menghadapi bagaimana mengelola karyawan kita yang punya
usaha sampingan. Maka dari itu ada peribahasa, segala sesuatu ada waktunya, ada
musimnya. Ada waktunya belajar berkomitmen 100% pada pekerjaan kita, supaya
kelak pada waktunya nanti ketika jadi self-employer,
kita pun bisa berkomitmen 100% pada usaha kita dan termasuk pada karyawan kita.
Semoga
bermanfaat!