Pekerjaan Sampingan
  Kategori Organisasi Industri
  Oleh : Ubaydillah, AN
  Jakarta, 11/13/2008
  

Motif Pekerjaan Sampingan

Dalam terminologi dunia kerja kita ada istilah pekerjaan sampingan (side job). Istilah ini berbeda dengan pekerjaan tambahan atau tugas tambahan (double job). Pekerjaan sampingan lebih mengarah pada pengertian adanya pekerjaan lain atau profesi lain yang kita tangani di luar pekerjaan resmi di kantor.

 

Sedangkan pekerjaan tambahan itu mengarah pada pengertian adanya penugasan tambahan atau peranan lain yang diberikan oleh kantor. Misalnya Abdullah diberi tugas untuk menangani lalu lintas operasi kendaraan di kantor selain tugas resminya sebagai kepala keuangan. Untuk beberapa kantor di kita, praktek semacam ini lumrah.    

 

Bahkan di dunia birokrasi kita, ada istilah lain yang pengertiannya mirip   pekerjaan sampingan. Istilah itu adalah "sabetan". Ini sebetulnya pekerjaan sampingan juga, tetapi tool-nya dengan menggunakan kekuasaan (power) atau kewenangan. Sabetan seringkali punya konotasi negatif meskipun banyak diburu orang.

 

Motif apa saja yang melatarbelakangi seseorang menangani pekerjaan sampingan? Mungkin ini tidak bisa dijelaskan secara definitif. Cuma, kalau melihat petunjuk di lapangan, motif yang menonjol adalah untuk menambahkan penghasilan.

 

Motif lainnya adalah untuk menyalurkan bakat atau kelebihan personal. Seperti yang dilakukan Rizki. Dari sejak lulus S1, dia memang ingin menjadi penulis. Tapi, belum ada lowongan. Sambil bekerja sebagai marketing staff di dealer mobil, Rizki tetap berlatih dan menyalurkan bakatnya itu. Jadi, selain untuk mendapatkan penghasilan tambahan, juga untuk aktualisasi diri.

 

Menurut biografinya J.K. Rowling, dulu penulis buku Harry Potter ini juga begitu. Sejak di bangku SMP dia memang ingin menjadi penulis. Tapi, karena desakan ekonomi dan keadaan, akhirnya dia bekerja sebagai guru, sekretaris, dan lain-lain. Sambil menjalankan pekerjaan yang ia kurang suka itu, ia berlatih menulis sampai kemudian terbit karya besarnya.

 

Ada juga seseorang yang saya jumpai menangani pekerjaan sampingan sebagai jawaban atas panggilan visi hidup lanjutan atau untuk investasi. Misalnya saja seorang eselon satu di departemen tertentu yang punya sampingan sebagai dosen, pengelola yayasan, atau kursus ketrampilan.

 

 

Bisnis Di Atas Bisnis

Apa ada pemilik kantor yang mengizinkan atau mendiamkan kita mengelola pekerjaan sampingan? Secara umum, hampir tidak ada. Ada alasan yang memang rasional dan ada yang karena kekhawatiran.

 

Seorang pemilik usaha di Jakarta Timur mengatakan ke saya bahwa syarat utama bekerja di kantornya adalah tidak membawa-bawa pekerjaan sampingan. Kenapa? Dikhawatirkan si karyawan akan lebih mementingkan urusan dirinya ketimbang organisasinya, menyalahgunakan kekuasaan, atau menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi. "Padahal, bukankah saat itu statusnya sebagai karyawan di kantor ini?", tegasnya.

 

Malah ada seorang pengusaha yang sudah sampai pada keputusan "mengharamkan" si karyawan punya pekerjaan sampingan. Ini berlaku apabila si karyawan itu melakukan bisnis di atas bisnis.  Jika si karyawan memiliki harga lain dari harga yang ditetapkan perusahaan, ini namanya bisinis di atas bisnis. Padahal, bukankah dia sudah digaji? Lain soal kalau seandainya dia bekerja sebagai part timer atau pun free lancer, yang bayarannya juga berdasarkan komisi penjualan atau berdasarkan penugasan.

 

Meski secara umum tidak ada yang mengizinkan kita untuk melakukan pekerjaan sampingan, tetapi tidak berarti ini tanpa pengecualian. Ada beberapa kondisi yang membuat orang bisa dimaklumi atau ditoleransi melakukan pekerjaan sampingan. Biasanya ini berlaku apabila secara fakta, misalnya pekerja harian atau buruh pabrik yang hidupnya sangat pas-pasan sementara orang itu harus menanggung anak istri atau anak dan suami. Biasanya mereka lantas titip jualan gorengan atau panganan kecil di warung, di kantin, dsb. Kalau sudah seperti ini, pekerjaan sampingan itu bersifat sangat darurat.

 

 

Understanding The Limit

Dengan memahami persoalan seperti di atas, tidak berarti kita harus menghentikan berbagai inisiatif untuk mengelola pekerjaan sampingan. Selain karena untuk kepentingan finansial atau kepentingan lain, ini perlu kita pahami sebagai proses kreatif. Orang kreatif adalah orang yang selalu ingin menemukan nilai yang lebih dari hal-hal yang dianggap biasa.

 

Tapi, ini perlu didukung dengan kemampuan yang menurut saya sangat krusial. Kemampuan itu adalah kemampuan untuk memahami batasan (understanding the limit), entah itu yang tertulis, ternyatakan, atau yang tidak tertulis dan tidak ternyatakan. Batasan apa yang perlu kita pahami? Khusus untuk konteks pekerjaan sampingan,  ada sedikitnya tiga batasan yang perlu kita pahami.

 

Pertama, perlu memahami batasan kebenaran yang sudah mutlak menurut akal sehat manusia. Kalau kita menangani pekerjaan sampingan di jam-jam kantor, lebih-lebih memakai fasilitas kantor, apalagi mengajak orang lain yang sekantor untuk melakukan hal yang sama, ini namanya melanggar kebenaran yang sudah tidak diperdebatkan lagi. Entah kebenaran itu tertulis atau tidak, hendaknya  batasan ini kita jauhi karena kesalahannya sangat jelas.

 

Kedua, perlu memahami batasan kebaikan (untuk diri sendiri, orang lain dan iklim kerja di kantor itu). Memang, batasan kebaikan ini ada yang sudah bisa terdefinisikan oleh logika dan ada yang tidak. Ada yang hanya bisa dirasakan pakai perasaan. Ada yang bisa ditulis dan ada yang tidak. Ada yang sudah jelas dan ada yang masih abu-abu.

 

Apapun bentuk kebaikan itu, hendaknya pertimbangan ini kita miliki. Maksudnya, jangan sampai kita melakukan sesuatu hanya baik untuk kita tetapi tidak baik untuk orang sekitar. Mbak Sri memilih untuk dagang kue kering dengan pertimbangan tidak conflict of interest dengan bank tempatnya bekerja; dan tidak perlu menggunakan fasilitas kantor dan tidak mengambil "kavling" orang lain yang juga punya pekerjaan sampingan. Tapi, yang tidak diperhitungkan Mbak Sri, selama di kantor dia tidak fresh, ngantukan, jadi sering lupa, dan teledor, bahkan sering sakit-sakitan. Tidak semua yang tidak melanggar itu tidak merugikan.

 

Ketiga, perlu memahami batas kemampuan. Ini yang paling penting. Karena status kita masih resmi sebagai karyawan di kantor anu, jangan sampai kita menerima pekerjaan sampingan yang butuh kapasitas penanganan melebihi kapasitas yang kita miliki. Kenapa? Kalau sudah bicara kemampuan, tidak ada penyiasatannya.

 

Maksud saya, walaupun sebetulnya kita tidak ingin melanggar waktu kerja resmi, tetapi kalau kapasitas kita tidak mampu, pasti kita akan melanggar. Kita akan ijin dulu tidak masuk kantor untuk menangani pekerjaan sampingan. Kata orang bijak, keinginan manusia itu tidak ada batasnya, tapi kemampuan dan kesempatannya (waktu) selalu terbatas. Ini yang perlu kita pertimbankan.

 

 

Komitmen Berorganisai 

Satu hal yang sulit terpikir ketika kita tidak berusaha memikirkan, bahwa setiap bulan perusahaan berkomitmen memenuhi kewajiban membayar gaji kita sesuai dengan kesepakatan awal maupun progress  karir selanjutnya. Pertanyaannya, apakah kita juga sudah memberikan 100% apa yang menjadi hak perusahaan ?  Nah, kalau sudah bicara ukuran, ini memang repot karena masing-masing bisa meng-klaim kalau usahanya sudah 110% bahkan mengklaim balik bahwa perusahaan yang berhutang padanya. Ini terkadang jadi alasan dan rasionalisasi bahwa sah-sah saja punya  usaha sampingan. Terlepas dari benar salahnya perhitungan kita sebagai karyawan, komitmen pada organisasi itu merupakan hal yang tidak bisa di lepaskan.  

 

Kalau melihat literatur CBHRM, misalnya Competence At Work, Models for Superior Performance (1993), komitmen berorganisasi ini termasuk kompetensi dan karenanya  ada skala. Sebagai acuan pribadi, kita bisa melihat ukuran-abstraktif skala itu melalui penjelasan di bawah ini:


SKALA

PENJELASAN

0

Terbiasa membangkang (terang-terangan atau sembunyi) aturan, norma, etika, kultur kantor

1

Hanya melakukan upaya minimal agar tetap dapat bekerja

2

Sudah melakukan upaya secara aktif untuk menyesuaikan diri dan menghormati aturan main di kantor itu 

3

Sudah bisa berprilaku sebagaimana “model warga kantor” yang diharapkan, menunjukkan kesetiaan, kesadaran untuk menolong kolega, menghormati keinginan pemegang kekuasaan atau pengambil keputusan.

4

Sudah mengerti dan mendukung misi dan tujuan organisasi,  mampu menyelaraskan kebutuhan pribadi dengan kebutuhan organisasi, mengerti kebutuhan kerjasama untuk mencapai hasil yang lebih besar

5

Sudah bisa memberikan kontribusi atau rela berkorban (bukan menjadi korban) untuk organisasi. Bisa menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan dan keinginan pribadi.

6

Berani dan matang membuat keputusan yang tidak populer demi kebaikan kantor walaupun terkesan kontroversial

7

Berjiwa besar mengorbankan kepentingan unit demi kebaikan kantor,  rela mengorbankan kepentingan yang berjangka pendek atau sesaat demi kelangsungan kantor yang berjangka panjang, dan mampu menggerakkan orang lain untuk rela berkorban demi kepentingan kantor yang lebih luas dan yang lebih berjangka panjang.


Intinya, kalau kita terpaksa punya pekerjaan sampingan, komitmen organisasi kita jangan sampe memble apalagi kalah jauh dengan orang sekitar, lebih mementingkan sampingan atau sabetan ketimbang pekerjaan kantor. 

 

 

Jangan Bermain Api Terus

Kalau boleh mengatakan, mengelola pekerjaan sampingan itu mirip seperti bermain-main dengan api. Jika masih kecil dan penanganannya benar, api itu masih bisa bersahabat dengan kita. Tapi bila sudah besar atau salah sedikit saja penanganannya, si api bisa melukai kita.

 

Karena itu, baiknya, kita perlu berpikir keras untuk tidak menjadikan pekerjaan sampingan ini sebagai tujuan akhir dari karir kita maupun jadi solusi dari tiap krisis yang dihadapi. Bagaimana bisa tentram dan puas dengan bermain api terus?. Jadikanlah pekerjaan sampingan ini sebagai tujuan perantara atau alat untuk mencapai tujun yang lebih besar. Apa tujuan yang lebih besarnya?

 

Salah satu tujuan yang lebih besar itu misalnya memiliki kantor / usaha sendiri. Setidak-tidaknya perlu memiliki visi menjadi self-employer dan menyerahkan pekerjaan kita di kantor itu pada orang yang lebih membutuhkan. Dan yang paling penting lagi, kita secara perlahan akan bebas dari ideologi bahwa untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup itu harus bermain-main dengan api yang berpotensi memunculkan praktek merugikan orang lain atau kantor. Ini termasuk sikap yang fair. "Ah, punya usaha sendiri atau jadi self-employer itu kan nggak gampang, Mas?". Betul sekali, karena begitu kita menjadi employer, mungkin baru berasa betapa tinggi nilai dan arti komitmen itu. Mungkin sooner or later, kita menghadapi bagaimana mengelola karyawan kita yang punya usaha sampingan. Maka dari itu ada peribahasa, segala sesuatu ada waktunya, ada musimnya. Ada waktunya belajar berkomitmen 100% pada pekerjaan kita, supaya kelak pada waktunya nanti ketika jadi self-employer, kita pun bisa berkomitmen 100% pada usaha kita dan termasuk pada karyawan kita. Semoga bermanfaat!

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar