Reputasi adalah bunyi pendapat umum (baca: orang lain) tentang karakter atau kualitas kita. Dilihat dari sini reputasi adalah akibat yang diciptakan oleh sebab. Kita tidak bisa mengontrol pendapat orang lain tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita lakukan yang akan menjadi bahan kesimpulan pendapat orang lain. Keharuman reputasi (baca: fame) diperlukan selama apa yang ingin kita realisasikan membutuhkan keterlibatan orang lain. Keharuman reputasi merupakan bagian dari resource yang bisa menciptakan kredibilitas dari orang lain kepada kita. Resource itu bisa digunakan atau akan berguna sebagai bagian dari solusi hidup yang dibutuhkan sekarang atau nanti.
Memanipulasi pendapat berangkat dari tesis berpikir bahwa keharuman reputasi perlu diciptakan dengan mengubah / mengontrol pendapat orang lain. Tesis demikian jelas tidak rasional. Meskipun iklan bisa kita bikin tetapi keputusan tentang bunyi pendapat tetaplah merupakan wilayah yang di luar kontrol. Selain itu, memanipulasi sama dengan mengangkat kedudukan orang lain sebagai penyebab atas diri kita sementara posisi kita bergeser menjadi akibat. Pergeseran posisi ini bisa menghambat proses perkembangan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih maju.
Menjaga reputasi menuntut kreasi sebab yang dapat kita kontrol dari mulai tahap kreasi mental (muatan pikiran, perasaan, keyakinan) dan kreasi fisik (tindakan, pembicaraan, sikap). Orang lain akan membunyikan pendapatnya berdasarkan kesimpulan dari kreasi fisik sementara hukum alam akan bekerja dari sejak kreasi mental dibuat terlepas kita mengakui atau tidak. Beberapa langkah berikut mungkin bisa kita ciptakan untuk menjaga keharuman reputasi:
Karakter Moral
Menciptakan sebab keharuman reputasi menuntut kepemilikan karakter moral yang bersumber pada keyakinan atas kebenaran nilai yang bersifat mutlak. Keyakinan berperan sebagai soko guru mengingat kebenaran nilai itu tidak bisa dilihat (invisible) atau sering dijuluki dengan nilai-nilai gaib. Sepintas watak kebenaran nilai ini kontradiktif sebab pikiran kita tidak bisa bekerja kecuali kalau disodorkan materi yang visible (clear-cut objects). Kontradiksi itu baru bisa diselesaikan apabila kita mampu menggunakan pikiran khusus atau keyakinan mendalam yang oleh Napoleon Hill disebut dengan Infinitive Intelligence (penglihatan pikiran khusus). Hanya pikiran khusus yang dapat melihat bahwa kejujuran itu akan membawa keharuman reputasi. Pikiran umum melihat kejujuran itu tidak menguntungkan sama sekali.
Kompetensi
Kompetensi dibutuhkan untuk menciptakan sebab keharuman reputasi dan dibutuhkan juga untuk menjaga keutuhan karakter seperti yang disebut di atas. Sumber kompetensi ini adalah karakter mental yang akan kita gunakan untuk menyelesaikan tantangan melalui aplikasi keahlian. Semakin besar keahlian kita menyelesaikan tantangan besar semakin harum reputasi kita di mata orang lain. Kalau karakter mental kita sudah kalah dengan tantangan kecil, tentu tidak akan ada orang lain yang berpendapat good walaupun kita sudah mengiklankan diri kemana-mana karena hukum alam pada akhirnya tidak mengizinkan praktek memanipulasi kompetensi alias tidak bisa dibuat-buat.
Kreasi Opini
Keharuman reputasi menuntut kreasi opini untuk menciptakan pengertian orang lain yang lebih benar tentang kita berdasarkan apa yang sebenarnya. Dunia bisnis sering menggunakan seni kreasi opini sebagai metode untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau iklan. Aplikasi seni berkomunikasi ini dibutuhkan karena kesalahpahaman orang lain bisa menjadi sumber fitnah yang bisa mencederai keharuman reputasi. Pepatah bilang: “Tak kenal maka tak sayang”. Hanya saja perlu diakui bahwa perbedaan yang memisahkan antara kreasi opini (the art of communication) dengan memanipulasi opini secara permukaan masih subyektif. Tidak mudah membedakan antara iklan yang menipu dan iklan yang benar-benar iklan.
Namun demikian, kita bisa menciptakan perbedaan dari sudut tahapan kreasi (sebab-akibat). Perbedaan pertama berupa perbedaan sebab (essential) yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali diri kita dan Hukum Alam karena terjadi di alam niat internal, semangat dan motivasi. Perbedaan kedua berupa perbedaan akibat yang diketahui oleh orang lain. Kalau sebabnya memanipulasi maka akibat yang diciptakan oleh hukum alam berupa manipulasi. Demikian juga kalau sebabnya berupa kreasi. Hanya saja dengan cara kerja hukum alam yang halus, kesimpulan akhir, dan tidak dramatis itu maka persoalannya adalah, benarkah kita meyakini dengan benar bahwa yang kita yakini itu benar?. Tidak ada orang yang mampu mengajarkan keyakinan kepada kita selama kita memilih tidak yakin. Semoga berguna.