Meminimalisir &
Mentransformasi
Dari
kecenderungan yang bisa dibaca di lapangan, gelombang PHK memang terus
berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda kapan berhenti. Kalau kita termasuk
salah satu dari mereka-mereka yang terkena PHK itu, mungkin kita termasuk orang
yang sangat berpotensi terkena stress. Jobless
termasuk salah satu stressor yang paling
umum di kita.
Stress akibat jobless itu ada yang datangnya jauh-jauh
hari menjelang keputusan PHK diberlakukan. Biasanya ada bisik-bisik atau rumor
yang beredar kalau PHK akan dijalankan perusahaan. Untuk orang yang merasa
prospek karirnya tidak bagus, keahliannya belum bisa "dijual", plus punya
tanggungan, misalnya kredit atau pasangan tidak bekerja, keputusan PHK ibarat
terkena sambaran petir.
Ada yang
datangnya saat PHK diumumkan. Misalnya saja kita merasa aman atau merasa tidak
termasuk orang yang terkena PHK, tetapi tiba-tiba kita seperti orang yang
terkena pukulan mendadak. Nama kita masuk, padahal kita secara mental belum siap.
Rasa pukulan yang tidak kita antisipasi itu mungkin
terasa lebih dalam menusuk sampai ulu hati.
Ada juga yang
datangnya itu ketika kita mengalami kenyataan bahwa ternyata mencari pekerjaan
lagi itu tidak mudah. Sudah puluhan lamaran kita
layangkan, tetapi tak satu pun jawaban datang. Jika ini masih ditambah lagi dengan terkikisnya uang pesangon dan rasa
malu, lama-lama bisa stress. Apalagi jika ditambah dengan konflik akibat
kesalahpahaman di dalam keluarga. Ini bisa membuat semakin tinggi kadar
stress-nya.
Apa ada sesuatu
yang masih bisa kita lakukan untuk menyiasati keadaan buruk ini? Tentu masih
ada. Hanya saja memang itu bukan pilihan yang ideal. Kalau melihat ke teorinya,
dalam keadaan seburuk apapun, pasti masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan
dan itu bermanfaat buat kita, entah untuk kehidupan sekarang atau untuk
kehidupan nanti. Ini antara lain:
Pertama, meminimalisir
kadar stress. Kenapa perlu diminimalisir? Secara teori, yang disebut stressor (sumber stress) itu memang
selalu faktor eksternal, misalnya jobless
akibat PHK itu. Stress adalah tekanan dari luar yang bisa membuat seseorang
merasa tertekan jiwanya (Canadian Centre for Occupational Health & Safety:
1997). Dengan pengertian ini berarti wajarlah kalau kita stress saat jobless.
Cuma, yang
menentukan kadar rendah-tingginya stress itu bukan faktor eksternal. Kitalah
yang menentukan itu. Karena itu, pada akhirnya Phillip L. Rice (1992)
menyimpulkan bahwa stress itu lebih merupakan produk dari proses kognitif di
dalam diri seseorang yang terkait dengan bagaimana seseorang menilai dan
mengevaluasi situasi. Artinya, semakin sering kita memunculkan penilaian
negatif terhadap situasi yang kita hadapi, maka kadar stress yang kita derita
akan cenderung semakin meninggi.
Stress yang
kadarnya meninggi itu biasa disebut depresi dan inilah yang perlu kita
antisipasi (minimalisir). Jangan sampai sudah jobless terkena depresi pula. Mengulangi apa yang sudah sering kita
bahas di sini, depresi adalah keadaan batin yang tertekan secara berkelanjutan.
Depresi adalah stress berat yang belum berhasil teratasi secara positif. Depresi
adalah gangguan mood, kondisi
emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan
dan berperilaku) seseorang (Phillip L. Rice: 1992)
BEBERAPA GEJALA UMUM DEPRESI*
*) Lihat beberapa
artikel ttg depresi di: www. e-psikologi.com
Kedua, mentransformasikannya
ke dalam berbagai keputusan dan tindakan yang kreatif. Ini memang yang
paling ideal, meskipun prosesnya harus melalui berbagai tahap. Banyak kita jumpai orang yang mendapatkan berkah berupa ide kreatif setelah
di PHK. Seorang ibu di Tangerang malah menjadi perusahaan rekanan yang sangat
diperhitungkan oleh perusahaan tempat dulu ia bekerja karena ide kreatifnya
dalam menggagas produk baru.
Ibu itu termasuk
orang yang mendapatkan berkah di balik musibah (blessing in disguise). Kalau melihat ke ajaran agamanya, di balik
semua musibah itu pasti ada hikmah dan berkah. Tetapi, hikmah dan berkah itu
tidak datang sendiri (given),
melainkan harus ditemukan dengan berbagai upaya (achieved). Transformsi termasuk upaya penting dalam menemukan
hikmah dan berkah itu.
"Stress
itu sifatnya sementara, tetapi yang membuatnya abadi adalah kegagalan kita
menanganinya secara positif."
1. Preventive (Mencegah)
Untuk cara preventif ini bisa dilakukan
dengan berbagai tehnik, antara lain adalah adaptasi dengan keadaan (avoiding by adjustment). Kita mulai menyadari dan menerima kenyataan secara
konstruktif. Atau bisa juga dilakukan dengan cara mengurangi biaya kebutuhan
hidup yang menurut kita perlu dipangkas menurut keadaan dan kemampuan kita (adjusting demand level). Teknik lain
adalah dengan menciptakan sumber solusi baru atau menambah jumlah sumber solusi
(avoiding by developing resources).
Sumber solusi ini bentuknya mungkin ada yang
sifatnya sosial, psikologis, agama, atau finansial. Anda bergabung dengan salah
satu forum, klub, atau kelompok kajian, menjadi member lembaga pelayanan
masyarakat, dan lain-lain termasuk solusi sosial. Anda membikin kesepakatan
dengan pasangan untuk menghadapi keadaan yang sulit ini termasuk solusi
psikologis. Anda menggunakan uang pesangon untuk membeli outlet di pusat perbelanjaan termasuk solusi finansial. Anda aktif
di beberapa kegiatan keagamaan termasuk solusi agama.
Intinya, cara preventif adalah berbagai
penyiasatan yang kita lakukan agar kita tidak kedatangan stress atau agar
stress yang sudah datang ke kita itu tidak membesar skalanya menjadi depresi.
Menurut teori dasarnya, semua manusia sudah dibekali kapasitas untuk
mengantisipasi apapun yang berpotensi membahayakan dirinya asalkan tidak kalah
oleh nafsu (egoisme pribadi) atau kalah oleh godaan setan.
2. Combative (Melawan)
Cara yang combative
ini bisa ditempuh dengan teknik menyelesaikan masalah riil yang kita hadapi (problem solving), baik dalam bentuk
mental atau fisik, baik itu melibatkan diri sendiri saja atau dengan melibatkan
orang lain. Yang bentuknya mental itu misalnya kita menghentikan berbagai
opini, emosi, atau unek-unek batin yang negatif.
Sedangkan yang bentuknya fisik itu misalnya
kita melakukan pekerjaan kecil-kecil yang sifatnya fun, membaca artikel atau
buku yang relevan, mengurus uang pesongon, melakukan unjuk rasa, membikin
kesepakatan dengan orang lain secara asertif, mengajukan surat lamaran ke
berbagai perusahaan, mulai merintis usaha sendiri berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman, dan lain-lain.
Atau bisa juga dilakukan dengan teknik
relaksasi dan meditasi. Tehnik ini bisa diakukan dengan instruktur atau tanpa
instruktur. Dasar relaksasi atau meditasi adalah kita membebaskan diri dari
berbagai ancaman dan tekanan yang kita rasakan. Kita berupaya menciptakan jarak
antara diri kita, kita, dan masalah yang kita hadapi. Dengan tehnik ini, kita
merasakan diri kita bebas, kosong, dan rileks. Idealnya, teknik ini dilakukan
di tempat yang sepi dari keramian atau dalam suasana yang sepi, katakanlah misalnya
saja tengah malam di rumah.
Teknik ini bisa juga dilakukan dengan
beribadah atau berdoa atau berbagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Secara jiwa, begitu kita memiliki rasa dekat dengan Tuhan (kebersamaan dengan
Tuhan), rasa itu akan memunculkan kekuatan baru yang memungkinkan kita untuk
berkesimpulan bahwa kita akan sanggup melawan stress, kita berada di bawah
lindungan-Nya, kita dekat dengan pertolongan-Nya.
Sejauh rasa dekat dengan Tuhan itu digunakan
secara positif, pasti itu bagus. Misalnya kita merasa dekat dengan Tuhan dan
rasa itu kita gunakan untuk mempertebal keyakinan dalam bertindak, tidak takut
terhadap realitas, atau tidak merasa kosong (feeling of empty). Tetapi jika hanya berhenti pada merasakan
perasaan itu, apalagi kalau hanya kita gunakan untuk membangun arogansi ke
luar, pasti manfaatnya terlalu kecil dan lebih sering membahayakan. Jadi,
ledakkan energi spiritual itu ke dalam.
"Tiga cara
sederhana menghadapi stress adalah: jangan bernafsu mengubah sesuatu yang sudah
tidak mungkin diubah, ubahlah sesuatu yang masih bisa diubah, dan hindari
hal-hal yang berpotensi mendatangkan stress"
(Jim Rohn)
Sembilan "Jangan"
Kalau melihat bagaimana tabiat dunia ini
bekerja, ada beberapa hal yang nampaknya perlu kita hindari. Ini antara lain;
"Cara untuk menemukan ide yang
bagus adalah memunculkan ide sebanyak mungkin" (Edison)
Semoga bermanfaat