Paradok Dalam Keluarga
Apa tujuan kita berkeluarga? Kalau dibeberkan seluruhnya, tentu ini buuaanyak. Tetapi kalau diintikan, mungkin kalimatnya adalah: agar hidup kita lebih nikmat, agar nikmat yang kita miliki selama ini bertambah banyak. Nikmat di sini adalah nikmat dalam arti yang seluas-luasnya.
Meski sedemikian rupa tujuan kita, namun dalam perjalalanannya tak jarang kita temui "paradok". Ini misalnya kita menginginkan hidup kita bertambah nikmat tapi kenyataannya malah semakin tidak nikmat. Kita menginginkan adanya nikmat yang bertambah tetapi tak jarang malah berkurang.
Why? Yang jelas pasti ada problem. Menurut teori manajemen, kalau ada sebuah proses yang tidak efektif menghasilkan out-come seperti yang kita inginkan, pasti ada penyimpangan (deviasi). Penyimpangan inilah yang perlu kita cek. Penyimpangan itulah problem dan yang kerap memproduksi problem lainnya.
Apakah semua problem itu melahirkan paradok seperti di atas? Tentu belum pasti. Problem itu adalah pemicu (trigger), tetapi bukan penentu (determinant). Diterima atau tidak, yang menjadi penentu adalah kita. Karena itu, kita kerap mengatakan bahwa problem bagi keluarga itu bagaikan bumbu dalam sebuah masakan. Tanpa problem, seperti kata kita, keluarga itu hambar rasanya.
Dengan kata lain, yang selalu perlu diingat adalah jangan sampai kita membiarkan adanya problem di dalam diri kita (berproblem) supaya problem yang datang dari luar itu tidak sampai membuat kita merasakan paradok dalam berkeluarga. Setidak-tidaknya, kalau batin kita tidak berproblem, problem yang datang dari luar tidak sampai mengancam rasa nikmatnya dalam berkeluarga.
Terkadang kita perlu mengingat ucapan Emmet Fox. Katanya begini: "Anda bahagia bukan karena hidup anda sedang OK. Hidup anda OK karena anda bahagia. Anda tidak bermasalah karena ada masalah. Karena anda bermasalah maka hidup anda kedatangan masalah." Ajaran agama juga punya pesan yang sama. Kita tidak bersyukur karena nikmat. Nikmat itu datang karena kita bersyukur. Jadi, syukur adalah kartu undangan untuk mendatangkan nikmat, bukan sebaliknya.
Problem Internal
Di bawah ini ada beberapa problem internal (penentu) yang kerap memunculkan paradok sehingga mengurangi rasa nikmatnya berkeluarga. Ini antara lain:
Pertama, ketika masing-masing pihak masih berpikir sebagai bagian (spare-part) dari keluarga lama, bukan sebagai pemilik keluarga baru (owner). Tak jarang kita temui ada orang yang merasakan suami / istrinya hanya memikirkan keluarganya yang dulu. Apakah ini tidak boleh? Oh, tentu bukan itu maksudnya. Memikirkan keluarga yang dulu tentu ini boleh dan bahkan dianjurkan.
Yang menjadi masalah di sini bukan soal boleh dan tidaknya, melainkan setting pola pikir. Ketika kita masih berpikir hanya sebagai bagian (spare-part), tentu posisi mental kita tidak kuat. Namanya juga spare-part. Karena itu, ini sangat berpotensi memunculkan rasa ketidakadilan dan rentan goyang. Logikanya, mana ada orang yang bermental lemah bisa menciptakan rasa keadilan?
Karena itu, secara filosofi bisa dipahami bahwa ketika orang hendak menikah, maka sangat dianjurkan untuk dirayakan atau diselamati dengan mengundang beberapa orang. Perayaan ini sejatinya adalah proklamasi bahwa pada hari itu status kita bukan lagi spare-part. Kita adalah pemimpin (bukan pengikut), pemilik (bukan bagian), decision maker, direktur (bukan staff lagi). Dengan menjadi pemilik, maka rasa tanggung jawab kita makin besar dan alasan kita dalam mengambil keputusan makin jelas. Kemana kita melangkahkan kaki juga makin mantap.
Kedua, ketika masing-masing pihak masih mendominasikan "ego-pribadinya" ketimbang kepentingan keluarganya. Ketika orang menikah, saat itu juga sebutannya bertambah. Pengantin pria menjadi suami atau ayah, sedangkan penganting wanita menjadi ibu atau istri. Artinya, saat itu juga kita diperintahkan untuk melihat persoalan bukan hanya dari perspektif ego pribadi, melainkan perlu juga mempertimbangan kepentingan predikat / posisi kita: suami-istri atau ayah-ibu.
Meminjam istilahnya Covey, mestinya bertambahnya status itu perlu diiringi dengan perubahan paradigma berpikir (new paradigm). Kalau seorang suami / istri lebih berpikir sebagai ego-pribadinya, ini berpotensi tabrakan (clash). Tabrakan ini bisa berbentuk dari hal-hal yang sesepele memilih program televisi kesayangan sampai ke soal mendidik anak dan harta warisan. Tapi bila keduanya menaiki tangga kepentingan yang lebih atas (memikirkan posisinya sebagai pemilik keluarga yang harus menjaga), maka akan beda rasanya dan out-putnya.
Ketiga, pandangan yang terlalu sempit terhadap rizki. Rizki itu tidak selalu identik dengan uang atau materi, meski kita selalu mengidentikkannya dengan uang, materi atau kekayaan. Rizki adalah sesuatu yang bisa menghasilkan solusi. Seperti apa pandangan yang sempit itu? Ini misalnya ketika suami / istri berkesimpulan pasangannya sebagai orang yang "numpang hidup" atau dirinya sebagai sumber rizki tunggal.
Suami yang berpikir sebagai sumber rizki tunggal akan berpotensi punya pandangan yang merendahkan si istri (hubungan subordinatif). Begitu juga kalau si istri kerja dan suaminya lagi nganggur atau punya penghasilan lebih sedikit. Pandangan yang sempit akan berpotensi memunculkan pandangan sebelah mata dan ini mengurangi rasa nikmatnya berkeluarga.
Karena itu, kalau pakai pendekatan agama, kita dianjurkan untuk berpikir sebagai rizki keluarga dan dianjurkan untuk saling memberdayakan (mutual-empowerment) berdasarkan keadaan dan kesepakatan. Meski sah-sah juga kita punya pandangan apapun terhadap rizki, tapi kalau bicara soal rasa, nampaknya pendekatan agama ini perlu dilirik. Ini bisa dilakukan kalau mentalitas kita adalah pemimpin, ber-paradigma sebagai suam-istri atau ayah-ibu. Sebaliknya, ini akan sulit kalau kepala kita isinya hanya kepentingan kita sebagai individu atau pribadi.
Keempat, kekosongan emosi (kesadaran dan keseimbangan). Kekosongan emosi dapat membuat hubungan keluarga menjadi hambar atau tidak terasa nikmatnya. Bentuk kekosongan itu misalnya: tidak peduli apa baiknya dalam sebuah keluarga, kurang memikirkan masa depan keluarga, rasa tanggung jawab yang rendah, hanya mementingkan satu aspek kepentingan secara ekstrim, dan lain-lain.
Perlu kita sadari bahwa persoalan kekosongan emosi ini tidak terkait dengan pekerjaan, profesi, kedudukan, atau kegiatan. Banyak ibu yang bekerja dan masih tetap bisa peduli. Banyak pemimpin yang menangani urusan orang banyak tetapi masih tetap bisa peduli dengan keluarganya. Kekosongan emosi terkait dengan soal manajemen batin.
Kelima, model komunikasi. Banyak orang yang bisa berkomunikasi secara asertif, sopan dan dialogis dengan orang lain, tetapi tidak dengan pasangannya atau dengan anaknya. Asal sudah bicara serius sedikit, yang muncul adalah naluri berdebat, bertengkar, pertahanan argumentasi atau penolakan. Karena itu, jangan heran kalau ada orang yang jago entertain tetapi tidak jago meng-entertain keluarganya. Jangan heran kalau ada orang yang bisa memimpin massa tetapi tidak bisa memimpin keluarga. Jangan heran jika ada orang yang jago PR-nya tetapi buntu menghadapi keluarga.
Kenapa hal yang aneh ini bisa muncul? Salah satunya adalah karena sudah ada yang disebut "permusuhan batin". Permusuhan batin ini muncul karena sudah ada yang disebut kehilangan perspektif positif terhadap pasangan atau anak. Bisa kita bayangkan, kalau yang kita temukan dari pasangan itu itu jeleknya saja setiap hari, maka lama kelamaan ini akan menggunung. Hilangnya perspektif positif akan membuat hubungan menjadi hambar, termasuk dalam hubungan seks, hubungan emosional, hubungan fungsional, dan lain-lain.
Karena itu, menurut acuan idealnya, setiap hari kita perlu berusaha mengeksplorasi kelebihan pasangan atau anak agar tercipta perspektif yang positif. Perspektif yang positif akan menghangatkan hubungan. Perspektif akan menentukan model pendekatan dalam berkomunikasi dan perlakuan. Acuan ideal ini sangat perlu kita miliki. Soal sampainya di mana, ini urusan proses dalam praktek. Toh kita juga sama-sama tahu tidak ada pribadi yang sempurna di dunia ini.
Learning Family
Seperti apa Learning Family itu? Kata para orangtua, membangun keluarga itu tidak bisa belajar dari yang benar karena belum terjadi. Yang benar adalah belajar dari kekurangan, kesalahan, masalah, kepahitan, bahkan juga terkadang harus belajar dari perceraian. Persis seperti katan Carl Jung, "pengetahuan itu tidak selamanya harus bersumber pada tindakan yang benar tetapi bisa bersumber dari tindakan yang salah."
Learning Family adalah keluarga yang orang-orangnya sadar atas pentingnya menjalankan proses learning. Learning sendiri, seperti yang sudah sering saya tulis, adalah proses mengubah pola pikir, pola rasa, pola sikap, pola kebiasaan, pola budaya hidup menuju ke arah yang lebih bagus berdasarkan praktek. Praktek ini entah praktek yang salah atau praktek yang benar. Learning adalah change in behavior.
Pertanyaannya adalah, bagaimana atau darimana Learning Family ini kita bangun? Kalau mengacu ke sejumlah teori Learning yang ada, ini bisa kita mulai dari langkah-langkah berikut:
Pertama, menyepakati sasaran bersama yang terus diperjuangkan realisasinya. Soal bentuknya seperti apa, ini bisa kita buat berdasarkan keadaan dan kesepakatan. Bisa dalam bentuk keinginan untuk "memilik" (rumah, kendaraan, anak, tabungan kuliah anak, tabungan antisipasi penyakit, dan lain-lain) atau "menjadi" (mencalonkan bupati, merintis usaha baru, bekerja di tempat yang baru, dan lain-lain). Sifat sasaran itu pun bisa kita pilih sesuka kita: jangka pendek, jangan menengah, sasaran perantara, atau jangka panjang.
Punya sasaran bersama yang kita perjuangkan bersama adalah syarat utama untuk menjalankan learning family. Kenapa? Kalau sasaran sudah hilang, batin kita akan mandek. Kalau sasaran sudah tidak ada, gairah kita untuk memperbaiki diri (change in behavior) menjadi kurang. Selain itu, sasaran juga akan menjauhkan kita dari kekosongan emosi dalam berkeluarga. Bisa dibayangkan kalau kita dan pasangan sama-sama tidak memiliki sasaran yang kita perjuangkan bersama. Sedikit-banyaknya akan kurang terasa kuat kohesi emosionalnya. Menurut teori learning, inilah yang disebut dengan share vision dan team building.
Kedua, memperbaiki cara penanganan terhadap masalah atau problem. Problem yang dihadapi keluarga itu mungkin kurang lebihnya sama seperti yang dihadapi organisasi. Ada problem yang disebut kesulitan. Kita tahu maksud kita tetapi resource kita terbatas. Ada problem yang disebut puzzle, teka-teki. Kita tahu jawaban untuk menyelesaikan masalah tetapi belum kita ketahui jawaban yang paling tepat untuk masalah yang spesifik, misalnya saja anak yang malas belajar. Sebab-sebabnya banyak dan jawabannya juga banyak. Tapi untuk mengetahui yang tepat, ini perlu try and error.Ada juga problem yang disebut dilema: pilihan-pilihan yang sepertinya sama-sama benar atau sama-sama enak tapi harus kita pilih salah satunya. Ada juga yang disebut misteri: problem yang belum diketahui sebabnya, solusinya atau caranya, seperti misalnya penyakit yang belum sembuh padahal sudah kita carikan obatnya kemana-kemana.
Saking banyaknya varian problem dalam keluarga itu, maka yang penting di sini adalah mengembangkan kemampuan dalam menangani masalah dan memperbaiki penyikapan terhadap masalah. Dalam teori learning, ini biasanya disebut mental model. Kalau selama ini kita cenderung melihat setiap masalah sebagai tekanan, ancaman atau kesalahan dan solusinya selalu menyalahkan pasangan, maka saatnya kita perlu memperbaikinya secara bertahap. Ini misalnya kita mulai belajar melihat masalah sebagai tantangan atau bagian dari tanggung jawab bersama, bukan langusng menyalahkan atau memarahi, ngambek, dan lain-lain.
Ketiga, membuka pintu dialog. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, dialog adalah instrumen untuk mencerahkan spiritual. Dalam keluarga, tradisi dialog ini penting. Dialog akan memecahkan kebuntuan, akan memperkaya dan mempositifkan perspektif. Dialog akan membuat kita sama-sama saling belajar. Kalau membaca tulisan Danah Zohar dan Ian Marshall (2004) atau tulisan Mark Gerzon (2006), ciri-ciri dialog itu antara lain:
§ Kita beranggapan semua orang punya kebenaran atau punya sebagian kebenaran
§ Kita memposisikan orang lain sebagai mitra untuk menciptakan kesepahaman
§ Kita berbicara tentang bagaimana mengeksplorasi yang terbaik
§ Kita mendengarkan untuk memahami atau untuk mencapai kesepakatan
§ Kita menyatakan opini untuk dievaluasi atau disempurnakan
§ Kita melihat semua pihak (mempertimbangkan berbagai perspektif)
§ Kita sadar bahwa masing-masing bisa saling melengkapi
§ Kita berusaha menemukan kelebihan dari masing-masing
§ Kita berusaha menemukan solusi, opsi, atau alternatif baru
Yang perlu kita lawan bersama adalah debat. Apalagi debat kusir. Selain bisa membuat rasa nikmat itu hilang, ini juga kerapkali tidak mendatangkan solusi.
Keempat, sama-sama meningkatkan kemajuan dengan kelebihan & kekurangan masing-masing (personal mastery). Kenapa? Ini terkait, pertama, dengan masalah komunikasi dan perspektif di atas. Kalau kita saja yang bertambah ilmunya, sementara pasangan kita tidak, lama kelamaan akan tidak serasi atau "njomplang". Ini juga mempengaruhi kualitas komunikasi dan perspektif terhadap pasangan. Kedua, ini terkait dengan soal mentalitas (leadership atau ownership) seperti yang kita bahas di muka pada poin pertama, kedua dan ketiga.
Kelima, menyemarakkan kegiatan religius dalam keluarga. Tapi, religius di sini pengertiannya lebih pada pencerahan batin, kedekatan batin pada hal-hal positif, atau pemihakan yang kuat terhadap prilaku dan nilai-nilai yang benar, yang baik dan yang bermanfaat ("Tuhan-I"). Yang saya baca dari tulisan F. Philip Rice tentang hubungan keluarga yang berkualitas tinggi, di sana dimasukkan prilaku religius sebagai salah satu indikatornya.
Kaitannya dengan learning family adalah untuk membentuk miliu, suasana atau budaya yang kondusif dengan keinginan kita dalam membangun keluarga. Selain itu, ini juga bisa menambah rasa nikmatnya berkeluarga. Agama (dalam arti pencerahan batin), adalah nikmat penyempurna nikmat-nikmat yang lain. Kalau kita sedang berkuasa, ekonomi makmur, dan sehat-sehat, tetapi tanpa agama, nikmatnya masih ada yang kurang. Lebih kurang lagi kalau sudah tidak makmur tanpa agama pula.
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana kalau hanya saya saja yang menjalankan learning, sementara pasangan saya tidak? Apa artinya bagi keluarga? Di muka sudah saya katakan bahwa ini butuh keberanian. Berani di sini maksudnya berani memulai lebih dulu. Semoga bermanfaat.