Dalam bukunya "Only The Paranoid Survive" (Currency New York :1996), Andy Grove menceritakan banyak hal tentang lingkungan bisnis, keputusan dan eksekusi yang dijalankan dengan posisinya sebagai CEO Intel. Langkah Grove mengubah core business dari chip memory ke microprocessor dinilai banyak pihak sebagai kesuksesan bertindak. Sebelumnya, Intel dihadapkan pada banyak dilemma menghadapi serangan produk Jepang yang telah lebih dulu menguasai pasar chip memory di samping juga dilihat dari resource usaha,
manufaktur Jepang itu lebih kuat. Saat itu Grove menghadapi tiga pilihan yang sama-sama tidak mudah.
Mengambil hikmah dari permainan tersebut diatas, kalau kita semua bisa menciptakan peristiwa dengan instruksi mental terhadap benda kecil, mestinya kita pun bisa menciptakan sesuatu terhadap benda atau hal lain yang berharga, misalnya saja target atau tujuan hidup kita sendiri. Sebab dari permainan itu terbukti bahwa kekuatan internal bisa berkomunikasi untuk menciptakan kesepakatan kinerja dengan kekuatan eksternal dengan syarat dikomunikasikan dengan mengerahkan fokus atau konsentrasi yang mencapai tingkat dominasi tinggi. Persoalannya jelas bahwa untuk mengerahkan fokus pada permainan di atas selain membutuhkan durasi terbatas juga berlangsung tanpa godaan atau tantangan. Kondisi itu tentu amat berbeda dengan target atau tujuan hidup yang biasanya penuh dengan godaan dan tantangan. Apa saja godaan atau tantangan itu? Lalu bagaimana kita mempertahankan diri agar tetap fokus?
Ibarat mengarungi lautan, situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari bisa normal dalam arti menciptakan perlakuan yang fair dan juga bisa sebaliknya. Dalam situasi fair semua berjalan sebagaimana direncanakan sekaligus tidak ada gangguan ombak yang menciptakan kekhawatian. Pada tingkat ini nyaris tidak ditemukan perbedaan antara nahkoda yang ahli dan amatiran karena bisa sama-sama mengarahkan kapal sesuai peta dan sampai ke tujuan. Dalam situasi seperti ini maka benar apa yang dikatakan orang bahwa laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang tangguh. Tetapi bagaimana kalau tiba-tiba terjadi ombak besar; situasi berkabut; rute tidak pasti dan tidak lagi bisa dijawab kapan bisa sampai ke daerah tujuan?
Memetik pelajaran dari kehidupan Jackson, seperti yang dikutip oleh Steven J Stein, dalam The EQ Edge: Emotional Intelligence and Your Success, (Howard E Book: Toronto 2000), bahwa rahasia di balik ketahanannya adalah kepercayaan pada kemampuan sendiri. Yakin pada apa yang dapat dilakukan dengan kualitas terbaik sekaligus tidak membiarkan jebakan emosi menguasai diri akibat orang lain atau situasi. Kemampuan tersebut adalah rumusan sudut pandang sendiri dalam melihat peta situasi yang menyangkut isu tentang orang dan peristiwa.
Kebanyakan manusia hanya bisa melakukan hal-hal positif atau fokus pada tujuan pada saat situasi fair dan selebihnya sedikit saja situasi berubah, maka berubah pola format tindakan. Kalau situasi hidup hanya berubah sekali tidak apa-apa, tetapi situasi berubah sepanjang hidup. Jadi konsentrasi pun berubah. Kalau konsentrasi berubah, maka jangankan terhadap tujuan hidup, terhadap benda kecil dalam permainan di atas pun tidak bisa menciptakan "thing happens".
Jika persoalan fokus dan konsentrasi berpusat pada orisinilitas sudut pandang tentang orang dan peristiwa, maka yang perlu anda lakukan adalah menjalani pendidikan situasi yang materinya antara lain: Jangan larut; Jangan lari; dan Jangan kalut. Atau menempuh proses pembelajaran diri melalui perubahan situasi.
1. Jangan Larut
Untuk bisa fokus pada tujuan hidup di tengah situasi eksternal yang terkadang fair dan unfair, dituntut ketahanan untuk tetap utuh. Jika anda larut di dalamnya maka itu artinya anda terbawa ke dalam situasi; hanyut dan tenggelam di dalamnya. Manusia secara umum punya kecenderungan untuk larut dalam situasi yang diakibatkan oleh kebiasaan reaktif, konformitas dan kehilangan jarak yang memisahkan space personal dan situasi.
2. Jangan Lari
Asas praduga mengapa anda tidak diperbolehkan lari dari situasi yang anda anggap sulit adalah karena setiap persolan akan memiliki wilayah polarisasi yang mengandung unsur solusi meskipun juga mengandung unsur persoalan lain. Solusi biasanya sudah memiliki bagian-bagian tertentu sebagaimana juga persoalan, tidak berdiri sendiri. Ketika anda tidak bisa menciptakan solusi secara utuh maka yang tidak boleh anda lakukan adalah menciptakan problem dari situasi yang sudah sarat problem. Sebaliknya anda bisa memilih bagian dari solusi yang dilihat paling sederhana.
3. Jangan Takut
Anda kehilangan kompas yang menunjukkan ke mana arah kiblat yang sebenarnya. Pada situasi demikian maka tidak ada lagi fokus kecuali ketakutan yang tidak beralasan. Ketika ketakukan sudah mendominasi muatan pikiran, maka jangan salah jika ketakutan tersebut mewakili keinginan. Artinya, jika orang takut gagal tidak berarti menginginkan sukses malainkan justru menginginkan kegagalan terjadi, karena dominasi muatan pikiran berupa ketakutan dan pikiran anda hanya akan bekerja menurut apa yang mendominasi muatannya, terlepas baik atau buruk; tahu atau tidak tahu. Maka diajarkan kepada kita, siapa yang takut terjerumus, ia akan terjerumus.
Belajar dari pengalaman kemenangan para jagoan perang dari sejak masa keemasan Sun Tzu di China lalu Musashi dengan Samurai di Jepang, bahkan sejak peperangan para nabi membawa misi ke-Tuhan-an ditemukan bahwa penguasaan situasi memiliki kontribusi kemenangan terbesar. Artinya apa? Kemenangan atau kekalahan dalam perang sangat sedikit sekali relevansinya dengan kekuatan atau kelemahan musuh tetapi lebih kepada mbagaimana sebuah pasukan menemukan sudut pandang "Kemenangan" yang diyakini bersama. Anda juga punya kesempatan sama untuk menemukan sudut pandang menang atau meraih tujuan hidup. Ketika anda menemukannya maka anda tinggal memfokuskannya dengan energi konsenstrasi yang total kemudian memberi instruksi mental ke arah mana langkah kaki diinginkan. Semoga berguna.