Konon pada tahun 1998 Wall Street Journal pernah membuka polling untuk menjaring pendapat umum tentang bagaimana orang menerima pekerjaan atau profesi yang saat ini dimiliki. Hasilnya, lebih dari 50 % responden menyatakan akan meninggalkan pekerjaan yang saat ini di tangan apabila (andaikan saja) mereka memiliki kesempatan untuk pindah atau ada peluang untuk ganti pekerjaan / profesi (Warshaw: 1998).
Kalau kita menggunakan indikator umum (logika matematis) angkanya bisa jadi bertambah. Mengapa? Di negara yang sudah punya kemampuan lebih bagus dari kita dalam melayani kepentingan publik saja masih ditemukan kenyataan seperti itu, apalagi di kita...? Tetapi logika matematis itu bisa jadi patah di lapangan kalau kita bicara urusan perasaan atau kalau kita menggunakan indikator khusus yang disebut paradoks kemajuan.
Mana yang benar menurut praktek hidup antara kita menyatakan bahwa "kalau saya mendapatkan pekerjaan yang saya cintai maka saya akan mencintai pekerjaan itu" ATAU "kalau saya mencintai pekerjaan yang ada saat ini maka cinta itu akan mengantarkan saya untuk mendapatkan pekerjaan yang saya cintai...?" Inilah yang kira-kira saya maksudkan logika telor-ayam di sini.
Will Rogers pernah mengatakan: "walaupun anda saat ini sudah berada di jalur yang benar tetapi kalau yang anda lakukan hanya diam saja, maka perubahan akan membawa anda ke tempat yang tidak aman". Pendapat ini bisa kita jadikan petunjuk bahwa terlepas apakah kita sudah mendapatkan pekerjaan yang kita cintai atau tidak, tetapi kalau dinamika kita mandek, perubahan akan membawa kita pada konflik-diri.
Herman Chain akhirnya menyimpulkan: "Kesuksesan bukanlah kunci kebahagian. Kebahagianlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika kamu mencintai apa yang kamu lakukan maka kamu akan sukses". Puisi cinta mengatakan: "Anda tidak mencintai gadis karena dia cantik tetapi si dia menjadi cantik karena anda mencintainya". Benarkah begitu...?