Orang dulu bilang, masa remaja adalah masa yang
paling indah, masa yang penuh kenangan manis dan meski ada pahitnya, amat
berkesan sepanjang masa. Nah, apakah orang jaman sekarang juga menganggap masa
remaja adalah masa yang paling indah? Ada kemungkinan jika diteliti, ada
sebagian yang mengatakan "ya", tapi sebagian juga mengatakan
"tidak" dan ada sebagian lagi yang menganggap "tidak tahu"
atau "have no idea". Yang pasti, masa-masa remaja tidaklah semudah dan semanis yang dilihat orang.
Iklan selalu lebih bagus dari kenyataan. Ceria di luar belum tentu seceria di
dalam; bisa jadi ceria yang di luar untuk menyembunyikan berbagai hal yang
berkecamuk di dalam.
Sebenarnya, apa sih masalah yang sering membuat gundah remaja? Kalau ditanya,
banyak yang hanya mendelikkan mata, angkat bahu atau menggelengkan kepala.
Entah karena malas untuk dipikirkan atau pun terlalu rumit untuk dijawab. Tapi
secara umum, ada beberapa hal jika diuraikan :
2. Problem
cinta
Jatuh cinta tidak selalu berjuta rasanya, karena banyak lika liku yang
dihadapi. Jangan anggap remeh urusan patah hati, karena moment itu bisa membuka
pintu berbagai persoalan yang selama ini ditekan, disembunyikan, diabaikan,
dsb. Dengan catatan, jika di masa sebelumnya, remaja sudah punya persoalan
tersendiri yg kompleks tapi di-
repress
habis.
3.Problem akademik
Setiap remaja pasti ingin naik kelas, bahkan kalau bisa jadi juara. Tapi
tidak mudah dapat nilai baik, selain pelajarannya sulit, disiplin diri lebih
sulit lagi. Bellum lagi kalau banyak tugas kelompok dan tugas praktikum bagi
yang sudah di SMU atau kuliah.kompetisi di sekolah, bisa menjadi motivator
namun ada yang menganggapnya sebagai ancaman.
4. Problem dengan orang tua dan anggota
keluarga lain
Generation gap membuat komunikasi
anak dengan orang tua sering
on off
bahkan kurang nyambung. Beda perspektif, beda pendapat, beda kesenangan, beda
kebiasaan, dsb. Selain itu, remaja sering bersitegang dengan orangtua, merasa
kurang dimengerti dan terpaksa nurut karena takut. Belum lagi jika orangtua atau
anggota keluarga lain yg serumah mengalami masalah berat sampai berpengaruh
pada yang lain.
5.Problem diri sendiri
Remaja sering bingung dengan diri sendiri. Keinginan banyak, realisasi
kurang.remaja juga sering bertanya, “kenapa kok aku beda dengan dia?” “Kenapa aku
selalu nggak
PD ?” “Kenapa
sih aku selalu berubah-ubah? Kenapa
emosiku tidak stabil?” Dan masih banyak persoalan yang berakar dari dalam diri.
Mekanisme Pertahanan Diri
Tentu tidak mudah menangani problem 5 dimensi. Jangankan remaja, orang
dewasa sekalipun banyak yang tidak sukses mengelola problem-problem tersebut. Tidak
jarang, cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi problem malah menimbulkan
problem baru.
Krisis dan masalah sering membuat perasaan kita jadi tidak enak, gelisah,
sedih, marah, dsb. Hampir dipastikan ada reaksi spontan dari dalam diri untuk
mengatasi ketidaknyamanan itu. Mulai dari tindakan ringan sampai ekstrim.
Masalahnya, apakah tindakan itu menyelesaikan masalah, atau sekedar mengobati
perasaan; atau keduanya, atau tidak keduanya - alias, tidak menyelesaikan
masalah dan tidak juga mengobati perasaan.
Beberapa cara yang umum dilakukan saat remaja mengalami krisis :
-
Makan, nonton, jalan-jalan
-
Mengurung diri and do nothing, hanya
melamun, menangis, mengkhayal
-
Marah-marah, berantemin orang-orang dan melampiaskan emosi pada orang lain
atau pada benda-benda di sekelilingnya
-
Makin gencar ollah raga dan aktivitas fisik lainnya, seperti renang, tennis,
lari, bersepeda, naik gunung, martial
art, dsb
-
Tidur
-
Curhat dengan teman,sms, fb-an, menelpon sana sini
-
Baca buku, prakarya (artcraft),
main musik, ciptain lagu dan syair, bikin puisi, menggambar, membuat kue, memasak,
berkebun, menulis buku harian, dsb
-
Beres-beres dan bersih-bersih
-
Merokok
-
Mabuk-mabukkan dan menggunakan narkoba
-
Mengurus hewan peliharaan
-
Mengurus / utak atik mekanik mobil, motor atau mesin atau bahkan bikin
perabotan kecil-kecilan
-
Self-sabotage /sabotase diri,
seperti tidak makan, tidak mau belajar, tidak sekolah/kuliah, tidak mau mandi,
dsb
-
Pornografi dan gameografi
Masih banyak reaksi tindakan lain, namun kalau dikategorikan sebenanrnya hanya
ada 2 macam : destruktif atau konstruktif. Yang destruktif jelas merugikan diri
sendiri dan sudah tentu merepotkan orang lain; sebaliknya, yang konstruktif
memberikan efek positif paling tidak bagi diri sendiri. Emosi surut, ada hasil
yang bisa dinikmati pula, apalagi jika orang lain juga kena manfaatnya.
Masalahnya, tidak semua remaja bisa punya cara konstruktif. Jaman sekarang ini,
kegiatan positif seperti mengerjakan hobi dan ketrampilan, sepertinya sudah
banyak ditinggalkan, dan diganti dengan
hang
out untuk sekedar jalan-jalan, nonton,
gossip,
main
game dan
on line game, browsing internet,
atau tidur-tiduran. Tanpa sadar, miskinnya kegiatan ini membuat remaja bukan
saja jadi malas, tapi jadi
nggak
percaya diri ketika berhadapan dengan masalah.
Tentu saja mereka-mereka ini mudah panik
dan cemas, takut dan bingung kalau tiba-tiba kena masalah. Biasanya, mereka
mencoba mengandalkan bantuan teman-teman;
ya
kalau punya teman. Celakanya kalau tidak punya teman, mau bicara sama siapa?
Mau minta tolong sama siapa? Yang punya teman pun belum tentu problemnya bisa
beres karena teman-teman mereka kebanyakan berkebiasaan yang sama. Makan,
nonton, jalan, shopping, gossip, gaming, nongkrong..solusi apa yang bisa muncul
dari situ? Hiburan sesaat mungkin ya, tapi bukan solusi. Bahkan kalau dipikir
panjang, kebiasaan-kebiasaan itu
kan
mahal, butuh biaya. Jadi bisa kebayang, kalau reaksi tindakan tersebut bakal
tidak efektif selain mahal, juga tidak memberi jalan keluar.
Sementara, remaja-remaja yang punya kebiasaan dan kegiatan konstruktif,
menyalurkan emosi dan keresahan pada kegiatannya tersebut. Secara psikologis,
ketika emosi tersalur dengan cara dan media positif, tidak sekedar membantu
menenangkan pikiran, meredakan ketegangan dan menurunkan stress. Kegiatan
konstruktif justru membantu otak membuka kebuntuan-kebuntuan alternatif. Dikala
emosi disalurkan dan dikelola secara positif, otak tetap aktif bekerja sehingga
sering kita menemukan jawaban atas pertanyaan diri, menemukan
insight atas
masalahnya, melihat makna dan tujuan, bahkan melihat beberapa alternatif jalan
keluar yang bisa dicoba. Maka, lain halnya, kalau badan dan otak di pasif-kan.
Apa akibatnya kalau masalah dibiarkan
berlarut-larut?
Beberapa keluhan yang sering dialami remaja, seperti sulit konsentrasi,
kehilangan motivasi dan semangat, nilai pelajaran turun, dijauhi teman, makin
suka mengkhayal dan berfantasi, terlibat hubungan homoseksual atau lesbian,
kecanduan minum atau drugs, pornografi, onani/masturbasi, depresi, hingga
terlibat tindakan yang bisa membahayakan jiwa dirinya seperti ingin bunuh diri
atau membahayakan orang lain, seperti agresi. Masalahnya, dengan tidak
melakukan apa-apa, masalah tetap ada bahkan bertambah kompleks karena
ketambahan masalah harian lain. Nah, kalau sudah begini, tentu saja remaja
merasa masalah lebih besar dari dirinya. Remaja makin merasa terbeban,
tertekan, inferior dan stress. Kerentanan ini lah yang menyebabkan remaja
gampang sekali kena bujuk entah ikut kelompok radikal atau terjerumus dalam
tindakan melanggar hukum, serta terjerat lingkaran narkoba.
Menghadapi pertanyaan orang tua, terutama, menjadi masalah yang luar biasa
besarnya. Remaja jadi kian
sensi jika
orang tua mulai khawatir dan sering memberi wejangan. Yang sering terjadi,
remaja merasa orang tua tidak mau mengerti, sementara orang tua merasa anaknya
tidak mau terbuka. Komplit sudah masalahnya!
Mencari jalan keluar
Hubungan yang pura-pura baik (karena seolah terlihat harmonis di luar),
lebih sering mengalami jalan buntu ketimbang jalan keluar, karena sama2
memaksakan kehendak dan jalan pikirannya sendiri-sendiri, teori dan asumsi
masing-masing. Pun jika ada salah satu pihak yang mengalah dan nurut,
motivasinya untuk menghindari pertengkaran dan resiko lain. Jadi, bukan
menyelesaikan masalah, tapi menunda masalah dengan cara
mendem jero, atau di
repress.
Nurutnya remaja dengan cara
mendem jero, sangat tidak sehat bagi remaja itu
sendiri dan hubungan dengan orang tua maupun teman-teman.
Selain memendam beban perasaan kesal, sakit hati, kecewa, remaja juga memendam
keinginan, ide-ide yang kalau dieksplorasi bisa membawanya pada solusi betulan,
yang dibutuhkan; bahkan bisa membuatnya jadi kuat karena menemukan identitasnya
lewat pengalaman-pengalaman ketika krisis.Tapi karena tidak berani menyatakan sikap dan mengambil resiko, pilihan untuk
submisif dan nurut adalah yang termudah. Setelah beberapa waktu berlalu, bisa
berminggu, berbulan atau bertahun, baru terlihat kalau ternyata masalahnya
tidak selesai dan mentalitas sang remaja malah makin lemah karena makin tidak
berdaya dan makin tergantung pada orang lain, tidak berani berinisiatif dan
bereksplorasi.
Keadaan ini bisa lebih parah jika remaja tidak punya hak bicara dan menyatakan
pendapat. Tapi tidak selamanya begitu, ada juga remaja yang sudah diberi hak
apapun, tetap tidak mau dan malas berinisiatif dan berusaha karena takut susah,
takut salah dan takut sakit (
emotional
pain). Kondisi yang pertama, bisa membuat remaja kian frustrasi, stress,
depresi, bahkan mengalami problem psikologis atau jadi apatis dan fatalistik.
Kondisi kedua, membuat remaja malas, juga apatis, pathetic, depresi bahkan bisa
jadi antisosial. Bayangkan saja, dilimpahi segala macam, tanpa diharuskan
bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Remaja jenis ini, menggadaikan
freedom and liberty - menurut istilah
Erich Fromm, “
escape from freedom”,
menggadaikan kemerdekaan jiwa demi kenyamanan semu. Inilah yang membuat jiwa
'mati selagi hidup'.
Oleh karenanya, keterbukaan adalah pintu gerbang untuk berbagai alternatif
solusi yang tersedia. Remaja sering merasa 'tak punya pilihan lain' padahal
karena memang belum pernah atau tidak mau menengok ke sudut lain. Ada juga yang
begitu lantaran tidak pernah diajarkan dan di
encourage untuk mencoba menjalani hidup dan memandang diri sendiri
dengan cara yang berbeda dari kebiasaan. Jadi, bayangkan saja jika hidup remaja
hanya diwarnai dengan 2 hal hitam putih, buruk baik, susah atau enak, begini
atau begitu, bagaimana remaja tidak gampang stress dan frustrasi kalau ketimpa
krisis?
Apa yang bisa dilakukan remaja jika
dirinya mengalami masalah?
1. Diskusikan dengan orang yang tepat
Teman tidak selalu pihak yang tepat, apalagi jika
hanya mengkonfirmasi hal-hal yang ingin di dengar. Teman seperti ini, hanya menambah
pikiran dan beban emosional, tapi belum tentu punya solusi. Carilah orang yang
mungkin saja punya pendapat dan jalan pikiran yang beda. Perbedaan itu membuat
otak berpikir kritis dalam membaca persoalan, sehingga sedikit demi sedikit
diperoleh gambaran yang obyektif akan apa yang sebenarnya terjadi. Cara ini
membantu menentukan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
Hanya, ada catatan penting, bahwa pola ini efektif membawa hasil jika ada
kerendahan hati untuk mau mengakui dan bisa melihat sikap/tindakan diri sendiri
yang menyebabkan terjadinya masalah. Sikap defensive,
membuat apapun saran dan tawaran solusi, mental. Sebaliknya, sikap defensive, baik itu
berupa keengganan menerima kritik, malu kalau kelihatan kurangnya, sehingga
menutup diri atau diam-diam saja seolah tidak terjadi apa-apa, membuat masalah tidak selesai,
meski dengan berlalunya waktu. Waktu tidak menyelesaikan persoalan.
2. Lakukan tanggung jawab kita
Tanggung jawab harian kita, adalah obat mujarab bagi setiap persoalan. Tanpa
kegiatan, energy stuck, pikiran
buntu, emosi membludak, kecemasan meningkat, kecurigaan dan pikiran negatif
bertambah. Jadi, apa yang harus dilakukan, lakukanlah sebaik mungkin, seoptimal
mungkin, bukan demi orang lain, tapi itu adalah anak tangga menuju jalan keluar
dan kunci memelihara stamina mental serta memberikan therapeutic effect.
Jadi, jangan hindari apalagi hentikan kegiatan yang jadi tugas kita dengan
dalih 'sedang tidak mood'.
3. Jalani hobi dan kegiatan positif
Seperti uraian di atas, menekuni hobi adalah kegiatan nurturing our soul.
Melepaskan tekanan, mengelola emosi dan menenangkan batin. Kita bisa berdialog
dengan diri sendiri dan bahkan mendengarkan petunjuk bijak Tuhan, justru saat
asik mengerjakan hobi.
4. Berinisiatif untuk mencari solusi dan realisasikan dalam tindakan
Bergerak dan mengusahakan sekecil apapun tindakan, akan membawa perbedaan
besar. Meskipun usahanya mentok, bukan berarti gagal, malah memberi pengetahuan
baru bahwa perlu cara lain untuk melangkah berikutnya.
5. Membuka diri, mau melihat sisi lain
Ibarat belajar, jangan hanya membaca dari 1 buku atau 1 orang dan menganggap
itu satu-satunya yang paling baik dan benar. Coba cari teori dan penjelasan
lain tentang masalah yang dihadapi, bisa dengan bertanya pada profesional yang accessible, baik secara langsung maupun
tak langsung (lewat email/internet) banyak web
site yang menyediakan informasi yang dibutuhkan remaja untuk membantunya
memahami, apa sih yang sebenarnya
terjadi.
6. Membuka akses komunikasi yang baru
Membuka jalur-jalur komunikasi yang baru, merintis jalur kegiatan baru dan
membuka diri terhadap orang-orang yang punya kepribadian positif. Remaja bisa
banyak belajar dari orang-orang yang jauh lebih matang dalam kepribadian dan
pengalaman; karena orang-orang itu juga pernah jadi remaja dan mengatasi
kompleksitas kehidupan mereka saat itu.
7. Merubah kebiasaan
Tanpa sadar, banyak dari kebiasaan dan rutinitas yang
malah memacetkan pertumbuhan kedewasaan dan penemuan diri. Rutinitas memang
membuat nyaman, tapi jadi tidak sehat kalau kita takut merubah kebiasaan hanya
karena takut kehilangan kenyamanan atau cemas menghadapi ketidakpastian dari
sesuatu yang baru.
8. Berhenti meracuni diri sendiri
Banyak orang yang ketika sedang emosional, punya
kebiasaan meracuni diri sendiri. Merokok, minum, narkoba, bahkan overeating atau
malah tidak mau makan sama sekali, adalah tindakan meracuni diri. Tidak hanya
itu, entertaining asumsi buruk,
kecurigaan terhadap orang lain, berpikir negative tentang diri sendiri,
memendam marah, sakit hati, sedih, benci dan iri, adalah bentuk lain dari
meracuni diri. Berbagai hal itu perlu di kelola dan di buang dengan cara yang
tepat dan sehat, supaya tidak berdampak negative buat diri sendiri maupun
orang-orang di sekeliling kita. Istilah kerennya, GIGO – garbage in, garbage out. Kalau yang dimasukkan buruk, maka yang
keluar juga buruk, pikiran buruk akan menghasilkan tindakan buruk, tindakan
buruk akan menghasilkan reaksi buruk dari sekeliling. Mulailah bertindak selektif, kalau tidak
positif – ya untuk apa di lakukan
kalau nantinya hanya merugikan diri sendiri, apalagi orang lain.
9. Berpikir
Positif
Prinsip yang harus di yakini, bahwa selama
hidupnya, manusia pasti menghadapi masalah karena dari masalah kita belajar
menjadi bijak, pandai dan dewasa. Jadi, krisis dan masalah bukanlah akhir dari
segalanya, tapi awal dari perjalanan, bekal dalam menempuh petualangan hidup.
Carilah segi positif dari masalah yang sedang dihadapi, pasti ada manfaat di
balik semua ini. Orang mengatakan “blessing
in disguise”.