Keanehan Positif & Negatif
Dalam prakteknya,
tidak semua kata "aneh" yang kita alamatkan ke orang lain atau yang dialamatkan
ke kita itu positif atau negatif. Konon, ketika pendiri perusahaan air minum
kemasan yang kini kita kenal Aqua itu dulu ingin meluncurkan produknya, banyak
yang mengatakan ini ide aneh. "Masak air putih dijual?" mungkin begitu
komentarnya.
Bukan hanya
masyarakat awam saja yang mengatakan seperti itu. Konon, seperti yang ditulis
Pak Hermawan Kertajaya, survei pasar yang dilakukan orang-orang yang disuruh
perusahaan saat itu juga menghasilkan rekomendasi yang sama. Tapi, si pendiri rupayanya tak mau begitu saja percaya dengan omongan orang
dan hasil survei.
Ia akhirnya lebih
memilih mendengarkan naluri bisnisnya. Ia tetap akan
menjual air putih yang dikemas itu, seperti yang ia lihat di luar negeri.
Setelah menjalankan idenya, ternyata kenyataan berkata lain. Air putih kemasan
itu kini menjadi kebutuhan orang. Bukan hanya orang kota saja yang membutuhkan.
Orang di kampung yang punya hajatan juga membelinya.
Dalam bisnis,
keanehan seperti itu sangat positif. Makanya, sebutan untuk orang seperti itu
bukan orang aneh, tetapi sebutan-sebutan yang memuliakan, misalnya kreatif,
inovatif, dan percaya diri. Ini semua adalah sebutan untuk orang yang memiliki
konstruksi mental yang bagus: punya ide yang di luar "box" masyarakat, berani
menjalankan, bisa dijalankan dengan tidak melanggar, dan mendatangkan benefit
atau profit.
Menurut ukuran
nilai tertentu, bisalah keanehan semacam itu dikatakan positif. Lalu, keanehan
yang negatif itu seperti apa? Dalam prakteknya, ada
atribut aneh yang konotasinya sangat negatif atau negatif. Ini biasanya dialamatkan untuk menyebut perilaku seseorang yang
bertentangan dengan standar normalnya akal sehat manusia yang normal, tidak
menambah nilai plus apapun bagi pelakunya atau orang di sekitarnya, dan
seringkali merugikan atau mencelakakan orang.
Hampir secara
umum, perilaku aneh demikian disebabkan, antara lain oleh kebodohon, ketidaksadaran,
dan kekacauan psikis. Bodoh di sini bukan tidak punya pengetahuan atau tidak
pernah sekolah. Bodoh adalah menutup diri dari pencerahan atau keras kepala
dengan egoisme kebenaran sendiri yang bertentangan dengan kebenaran universal.
Misalnya kita
memedomani filsafat hidup tertentu atau pemahaman keagamaan tertentu yang
secara riil dan secara akal sehat tidak menambah nilai plus apa-apa buat kita
dan orang sekitar, bahkan sering merugikan, tetapi itu kita pertahankan
habis-habisan atas dasar kebenaran-sendiri. Lama kelamaan kita akan menjadi orang aneh menurut normalnya orang yang
normal.
Sedangkan
ketidaksadaran di sini mengarah pada pengertian rendahnya sensitivitas pada
kebutuhan, keinginan, dan harapan orang di sekitar (low sensitivity of
feeling). Kalau umumnya orang butuh waktu sekitar 15 menit-an untuk mandi,
tapi kita butuh satu jam lebih, sampai pada tingkat yang sangat merugikan
banyak pihak, bisa-bisa kita jadi orang
aneh. Merokok, atau parkir sembarangan termasuk ciri sensitivitas yang rendah.
Dalam literatur
Psikologi, ada beberapa istilah yang bisa kita jadikan rujukan untuk
menjelaskan berbagai bentuk kepribadian dan perilaku yang aneh itu. Misalnya
saja ada istilah normal, abnormal, atau personality
disorder. Untuk mengecek perilaku kita sehari-hari, mari kita lihat
satu persatu.
Normal & Abnormal
Standar untuk
menyebut apakah seseorang itu normal atau abnormal dalam psikologinya terasa
cukup tinggi dari yang kita bayangkan. Seperti yang dijelaskan oleh Philip G.
Zimbardo dalam bukunya Psychology and Life (1979), seseorang disebut normal apabila
memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Punya kemampuan beradaptasi secara efektif dan positif terhadap tuntutan
situasi. Jika kita selalu bilang pusing
memikirkan pekerjaan di kantor, mungkin kenormalan kita perlu ditingkatkan.
Kenapa? Yang namanya kantor itu pasti situasinya menuntut, entah dengan deadline
atau target. Lain soal kalau itu terjadi secara insidentil.
2. Bisa perform atau berperilaku yang selaras dengan kapasitas. Kalau
kita secara fakta tidak / belum memiliki kapasitas untuk memperjuangkan
aspirasi masyarakat yang kita wakili, tapi kita ngotot ingin jadi caleg, bahkan sampai rela "buang-buang duit" dan
itu masih jauh dari kemungkinan untuk "pasti jadi", mungkin kenormalan kita
perlu ditingkatkan.
3. Punya keseimbangan mental, sikap, emosi, dan tempramen dalam meresponi
lingkungan / keadaan.
Entah tanggal
berapa di bulan Juni tahun ini, saya hampir mau menabrak mobil yang mendadak
berhenti di depan saya dengan jarak dekat. Di malam yang hujan dan jalan lagi
lengang, orang itu berhenti mendadak dan langsung mengeluarkan senjata tajam
kemudian diacungkan ke orang yang di depannya. Anak dan istrinya keluar untuk
melerai. Terjadilah percekcokan yang mengundang kerumunan massa.
Setelah
tanya-tanya, ternyata sebabnya adalah terserempet kaca spion. Kalau berpikir
normal, pasti cara demikian tidak akan kita tempuh. Kenapa? Potensi adanya
bahaya terlalu besar dibanding dengan sumber masalah. Di samping itu juga akan
membayakan dan menggangu orang lain yang tidak punya urusan. Padahal, pasti ada
cara yang tidak se-berbahaya itu.
Personality Disorder
Dalam
Psikologi juga dikenal istilah Personality Disorder? Istilah ini dipakai
untuk menjelaskan salah satu tanda adanya pola perilaku yang melebihi batas
normal atau kurang dari nomal (Psychology & Life). Sebagian kategorinya
bisa dijelaskan seperti berikut:
Nah, tentu saja dalam
prakteknya, setiap kategori di atas memiliki gradasi atau stadium yang
berbeda-beda, dari mulai yang paling rendah sampai ke yang paling parah. Selain itu perlu dibedakan juga, apakah perilaku
di atas muncul sebagai reaksi yang sifatnya temporer dan insidentil ataukah
sudah menjadi tabiat dan sifat.
Selalu Ada Permulaan Yang Tepat
Baik itu
ke-abnormal-an atau personality disorder,
biasanya dikategorikan sebagai mental illness. Mengobati penyakit mental
dengan penyakit fisik itu ada sedikit perbedaan. Untuk penyakit fisik, obatnya
sebagian besar dari luar, entah dari dokter, ramuan tradisional atau lainnya.
Sama seperti kebutuhan fisiologis manusia.
Tapi, untuk
penyakit mental, terutama dalam hal ini personality
disorder, obatnya sebagian besar harus dari dalam. Artinya, sejauh kita
ingin memperbaikinya, berarti selalu ada permulaan yang tepat untuk
melakukannya. Keinginan atau dorongan untuk berubah inilah yang menjadi kunci.
Semakin kuat dorongan kita, berarti semakin besar potensi keberhasilannya.
Mungkin ada
pertanyaan, darimana dorongan itu dapat diperkuat? Dorongan dapat diperkuat
dengan senantiasa memunculkan ketidakpuasan dari apa yang kita rasakan terhadap
diri kita; ketidakpuasan karena merasa "belum berbuat apa-apa, belum melakukan
apa-apa" dan bukan tidak puas karena merasa "tidak punya apa-apa". Jangan
sampai kita gunakan ketidakpuasan itu sebagai pemicu konflik diri. Gunakan
ketidakpuasan itu untuk memperkuat dorongan berubah ke arah yang lebih baik.
Selain itu,
ciptakan pola berpikir yang terbuka. Berpikir terbuka
bukan semata bisa menerima pandangan orang lain. Berpikir terbuka adalah
kemauan untuk belajar dari orang lain atau menghilangkan egoisme "kebenaran sendiri".
Banyak orang yang tidak sanggup mengubah dirinya karena selalu merasa paling
atau sudah benar atau tidak merasa kurang.
Yang juga penting
adalah mengurangi penudingan atau keyakinan yang kurang mendukung. Kalau kita yakin
bahwa ke-disorder-an kita itu sudah
merupakan bawaan yang tidak bisa diubah, pasti kita gagal mengubahnya. Sama juga kalau kita selalu menuding situasi atau orang lain. Penudingan
adalah hambatan umum untuk sebuah perubahan.
Baru setelah kita
mampu mengelola ketidakpuasan, berpikir terbuka dan menghilangkan penudingan,
kita perlu menciptakan perangkat pendukung inti untuk keberhasilan perubahan.
Di antara perangkat itu adalah:
Hindari Kebalikan Ekstrim
Hal yang perlu
kita hindari adalah memunculkan kebalikan yang ekstrim hanya sebagai reaksi
terhadap keadaan buruk sesaat. Misalnya kita tak ingin menjadi orang obsessive-compulsive
terhadap pasangan atau sahabat karena mendapatkan perlawanan atau
membengkakkan tagihan telepon. Sebagai reaksinya, kita kemudian
membiarkannya se- "cuek" mungkin.
Kebalikan yang ekstrim akan memasukkan kita sebagai orang aneh versi baru.
Semoga bermanfaat.