Kategori Engineering
Oleh : Dimas Harsono
Jakarta, 07 Januari 2010
Dewasa
ini seringkali orang menganggap mempunyai atau membeli sebuah kendaraan sebagai
investasi, simbol status, atau bahkan sebuah tujuan hidup. Banyak orang tidak
sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan merupakan komitmen panjang, terutama dari
segi perawatan.
Perawatan
kendaraan bukan saja sekedar mengganti oli, ban, busi, atau wiper secara rutin,
tapi juga secara mendasar, dari tipe bensin yang dipakai, cara penggunaan fitur
mobil, bahkan cara mengendara. Karena ini adalah topik yang mendalam, untuk
sekarang ini kita tidak membahas tata cara mengendara kendaraan, tetapi kita akan
membahas perawatan mobil dengan arti sesungguhnya.
Salah Kaprah
Banyak
orang membeli kendaraan dewasa ini hanya sekedar melihat atau mendengar
informasi dari teman ataupun sanak keluarga mengenai kendaraan yang orang
tersebut pakai atau pernah pakai. Banyak contoh kasus seperti ini:
Seseorang ingin membeli kendaraan dengan merek tertentu
yang ia belum pernah pakai sebelumnya, lalu ia mencari tahu informasi hanya dengan nasehat dari keluarga atau
teman yang pernah memakainya. Dalam kasus ini bisa saja ia dinasehati untuk
tidak mengambil kendaraan dengan merek tersebut karena mempunyai masalah A, B,
dan C. Lalu, dibekali dengan nasehat pengalaman orang yang ia konsultasikan
tersebut, orang itu tidak jadi membeli kendaraan merek itu. Namun orang yang ia
tanya tersebut sudah lama sekali tidak memakai kendaraan dengan merek tersebut.
Jika dilihat dari hal logika atau proses analisis tentu saja ini tidak masuk
akal, sebab seiring waktu sebuah pembuat kendaraan pasti akan memperbaiki
kesalahan model kendaraannya (kecuali
jika pembuat kendaraan tersebut adalah perusahaan di negara komunis yang hanya
bisa menjiplak model pabrikan lain), selain itu faktor yang perlu dilihat
dan yang paling memberatkan adalah bagaimana cara orang tersebut merawat
kendaraannya.
Dapat kita lihat sekarang-sekarang ini di pom bensin
misalnya, sebuah kendaraan model terbaru yang sudah jelas memiliki mesin
teknologi baru mengisi bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi.
Contoh: sebuah
mobil mewah tahun 2009 dengan mesin V6 diisi dengan bensin premium!! Atau mobil
tahun 2005 yang biasanya memakai oli tertentu di bengkel resmi, diganti dengan
menggunakan standar yang lebih rendah di bengkel spesialis hanya karena masa garansi sudah habis dan menghemat uang!
Brand Versus Mind
Maka tidak heran jika di Indonesia tercinta ini banyak
sekali orang yang terbawa suasana-arus brand
minded.
Mungkin sekarang anda bertanya, apa hubungannya brand minded dengan
bensin, oli, atau perawatan mobil?
Jawabannya: Banyak sekali orang di Indonesia
menghubungkan Brand dengan Ease of Maintenance. Jadi di benak
orang-orang suka terdapat pikiran “Saya akan membeli mobil merek A, karena
sudah jelas gampang untuk di rawat”. Sebenarnya tidak seperti itu, sebelum anda
kaget, saya akan kasih tahu yang sebenarnya terjadi: It’s not WHAT you own, it’s HOW you own it! artinya, tidak penting
apa yang anda miliki, tetapi bagaimana anda merawat yang anda miliki. Kadang
bagi beberapa orang yang saya kenal, fanatik terhadap suatu brand itu menjadi
sesuatu yang bahaya secara sosial, karena orang tersebut dengan semangat
membara ’45 membela merek yang mereka senangi sampai batas akhir dan jika
diberi suatu kejelekan tentang merek tersebut akan mudah berapi-api alias
marah.
Untuk
itu, mari kita simak kalimat pembuka saya di artikel ini:
“Banyak orang tidak sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan
merupakan komitmen panjang, terutama dari segi perawatan.”
Dengan
kalimat tersebut, bisa diterapkan masalah perawatan kendaraan yang saya maksud,
dengan kondisi masyarakat yang Brand
Minded. Disini seperti saya bilang perawatan itu bukanlah sekedar hal rutin
yang kita dapat serahkan ke bengkel selagi kendaraan kita masih dalam masa
garansi, tetapi juga cara memakai
mobil tersebut, terutama memahami kompleksitas dan fitur yang terdapat di mobil
itu sendiri. Dewasa ini makin banyak mobil dijual dengan menggunakan teknologi
multimedia dan juga komputer informasi, dalam dunia mobil mewah sebut saja
Mercedes-Benz dengan sistem COMAND, BMW dengan iDrive, Audi dengan MMI, Lexus
dengan RemoteTouch, dan sebagainya. Bahkan mobil-mobil sekarang ini hampir
semuanya (bukan saja mobil mewah) mempunyai sistem limp-home, yaitu jika terdapat kerusakan pada mesin, sistem ini
akan bekerja dan membatasi putaran mesin pada RPM tertentu dan kecepatan
tertentu guna membawaya dengan keadaan utuh ke bengkel (jadi tidak mogok atau
kebakaran dan sebagainya).
Sayangnya
banyak pemilik mobil yang kurang memahami kendaraannya dan nekat mempercayai
apa yang orang lain katakan daripada mempelajarinya sendiri atau dari sumber
lain, seperti komunitas mobil, internet, pakar otomotif, dan sebagainya. Tidak sedikit
orang yang saya jumpai mengatakan “ah
nggak apa2 kok mobil ini diisi premium” padahal tertera secara jelas di
buku panduan “MINIMAL RON 91” alias Pertamax. Lalu orang itu mengatakan bahwa
dirinya diberi tahu oleh sales showroom dimana ia membeli kendaraannya bahwa
cukup dengan menggunakan premium saja mobil tersebut bisa jalan. Memang betul
dan tidak salah, sungguh benar sekali bahwa mobil tersebut bisa jalan dengan
bensin tersebut, walaupun seiring dengan waktu penimbunan kotoran yang terjadi
akibat penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat merusak mesin hingga fatal,
lantas yang disalahkan kalau sudah begini kemungkinan besar adalah merek
mobilnya. Intinya: umur mesin akan menjadi pendek secara cepat jika dibanding
penggunaan BBM yang sesuai. Sungguhlah, sebuah kendaraan itu sudah di desain
sedemikian rupa oleh para insinyur untuk menggunakan BBM, Oli, dan suku cadang
yang seharusnya dipakai, dan pada mobil-mobil modern sekarang ini, batas
toleransi semakin mengecil untuk kesalahan karena sistem-sistem canggih yang
digunakan.
Jadi
sungguh bahaya sekali sebuah pemikiran “saya
akan membeli mobil merek A karena merek tersebut terkenal gampang untuk di
rawat”. Seharusnya para pemilik mobil harus sudah bisa berpikir bahwa
dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih, sebuah kendaraan memiliki failure
rate yang tinggi pula JIKA
tidak di rawat dengan semestinya seperti menurut buku petunjuk penggunaan
mobil. Jadi tidak ada salahnya sebelum membeli sebuah mobil untuk konsultasi
dengan orang bengkel, orang yang pernah mempunyai mobil dengan merek, model,
dan tahun yang sama baik itu melalui komunitas mobil di internet atau di dunia
nyata. Brand tidak membuat sebuah mobil lebih gampang atau susah di rawat,
hanya mindset manusia sendirilah yang membuatnya lebih susah atau gampang.
Sekali lagi seperti dalam kalimat pembukaan saya:
“Banyak orang tidak sadar bahwa memiliki sebuah kendaraan
merupakan komitmen panjang, terutama dari segi perawatan.”
Teknologi
sekarang ini dibuat untuk memudahkan pengguna merawat barang-barangnya, begitu
juga dengan mobil. Mobil-mobil modern sekarang ini, apalagi mobil mewah
berharga miliaran rupiah yang sudah dilengkapi dengan komputer informasi dapat
memberi tahu kepada pengendara bagian mana yang rusak atau salah operasi,
sehingga bisa dibenarkan di bengkel dan tanpa ditipu pula. Walaupun begitu
sayangnya tidak sedikit pula orang yang suka mengakali atau mengganti
spare-part dengan yang tidak semestinya, biasanya barang yang sama tetapi
dengan kualitas rendah. Atau benar-benar diakali dengan kreatif sehingga
mengira dirinya seorang insinyur otomotif, seperti mengelas sesuatu yang
seharusnya tidak di las, atau memasang sesuatu yang tidak disarankan (biasanya
demi gaya), contoh: memasang lampu HID pada mobil yang batok lampunya tidak
layak dipasang lampu jenis tersebut. Sehingga hasilnya dapat membahayakan
pengendara lain, namun sayangnya showroom-showroom sekarang ini juga mengambil
inisiatif tersebut demi mendongkrak penjualan karena kompetisi penjualan mobil
yang ketat.
Maka
tidak heran jika ada suatu merek mobil yang di label “tidak gampang di rawat”
atau “rewel”. Bukan karena mobil tersebut memang rewel, atau mereknya yang
membuat rewel, tetapi dari ketidakbecusan pemilik yang mengambil jalan pintas
dalam merawat mobil tersebut atau terlalu kreatif dengan kendaraannya, sehingga
masa bakti mobil tersebut dapat terganggu dengan sering rusak. Harap diingat:
Bahwa merawat sebuah mobil tidak sama dengan merawat sepeda! Dan cara merawat
mobil itu selalu berbeda-beda dari satu merek, model, dan generasi.
Contoh: Merawat Toyota
corolla tahun 1979 TIDAK sama dengan merawat merk dan model yang sama tapi yang
tahun terbaru, terutama karena perbedaan desain sistem, teknologi, dan juga
persyaratan minimal (bensin yang digunakan berbeda, juga dengan oli, air radiator,
dsb).
Belajar, Belajar, Praktekan!
Para
pemilik kendaraan dewasa ini sangat disarankan untuk mencari tahu tentang
mobilnya sebelum dan sesudah mereka beli, karena walaupun mobil adalah sebuah
alat transportasi bukan berarti tugasnya hanya itu saja. Apalagi dengan
kemajuan teknologi yang dapat membantu pengendara dan penumpang untuk sampai ke
tujuan dengan selamat, dan juga pada saat yang bersamaan menopang dan membuat
kerjaan pemiliknya lebih efisien (beberapa mobil jaman sekarang sudah mempunyai
koneksi internet dan juga TV yang dapat membantu kerja seperti layaknya dalam
pesawat).
Kenalilah
keterbatasan kendaraan anda agar anda dapat dengan benar-benar menikmatinya dan
tidak merusaknya karena sesuatu hal yang tidak dimengerti, baik karena tidak
paham dengan teknologinya, ataupun cara penggunaannya. Mengenal keterbatasan
juga akan membantu pengemudi untuk mengemudikan mobilnya dengan aman, supaya
tidak terjadi hal yang tidak mengenakkan seperti mengira bahwa mobilnya dapat
dijadikan mobil balap atau dengan aman melibas jalanan dengan genangan air di
kecepatan tinggi.