Kemampuan Memiliki VS Kemampuan Menikmati

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 10 Juni 2010
Kita semua, sehari-hari, dari pagi sampai malam, harus menuntut diri untuk memiliki uang. Pikiran kita, dengan uang itu pasti akan membuat kita bisa memiliki segala yang kita inginkan. Setelah kita bisa memilikinya, target kita berikutnya adalah kebahagiaan hidup. Kira-kira seperti itulah jalan pikiran yang kita ikuti umumnya. Pertanyaannya kemudian adalah, apa benar uang dan barang-barang yang berhasil kita beli itu lantas secara otomatik dapat membahagiakan kita? Baru-baru ini, saya kebetulan membaca hasil riset sebuah lembaga. Anda juga bisa membacanya di Science Daily Dot Com, tanggal 22 Maret, 2010. Hasil riset itu dijadikan tulisan dengan judul “Money Only Makes You Happy If it Makes You Richer than Your Neighbor”, uang hanya bisa membahagiakan Anda jika sudah bisa membuat Anda lebih kaya dari tetangga.
 
Fakta Dan Kritik
Pernyataan di atas bisa kita lihat sebagai fakta dan bisa pula kita lihat sebagai kritik. Akan lebih bagus jika kita lihat sebagai keduanya bila kita concern terhadap kebahagiaan hidup. Faktanya, memang manusia itu suka membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih kaya.
 
Faktanya lagi, memang hasil perbandingan itu kerap kita gunakan untuk membangun rasa bahagia atau rasa nestapa. Jika hasilnya menunjukkan kita lebih OK, maka naluri paling bawah kita akan memunculkan sensasi tersendiri. Nafsu mengatakan: “Andalah yang lebih berhak untuk sombong!” Tapi, jika hasilnya ternyata NOT OK, mungkin di sini yang parah. Banyak orang yang menurut kita kaya atau berkecukupan, tetapi orangnya sendiri melihat dirinya miskin dan merasa masih perlu mengejar harta yang lebih banyak lagi. Pasalnya, yang dijadikan standar kekayaan bukan kita, tetapi teman-teman sekolahnya dulu di luar negeri, kelasnya, lawan politiknya atau rival bisnisnya.
 
Mau dibilang tuntutan zaman atau pergaulan, tapi haruskah kita menjadi orang yang lebih kaya dulu baru kemudian bahagia?  Setiap hari ‘lahir’ orang kaya yang lebih kaya dari kita. Jika kita harus lebih kaya dulu baru kemudian bisa bahagia, akan sampai kapan kita bisa menjadi kaya yang sempurna? Dan, yang lebih penting lagi adalah, apa bisa itu kita raih? Kalau kita masih bisa meraihnya dengan kompetensi dan cara yang konsekuensinya sehat (tidak melanggar), ini masih bisa dibilang OK.  Tapi kalau hanya mengkristal dalam ilusi dan nafsu, wah ini yang perlu direm.  Sudah tidak kaya, tidak bahagia pula. Sengsara dua kali kan?
 
Pada titik inilah kita perlu melihatnya sebagai kritik. Kritiknya adalah, jangan sampai kita mengejar harta, untuk kita memiliki, lalu kita bandingkan. Kita perlu menikmati apa yang sudah kita miliki agar lebih bahagia. Kritiknya lagi, jangan sampai kita memutlakkan materi sebagai standar tunggal kebahagiaan. Tanpa nilai, kita akan cepat sengsara gara-gara tetangga lebih kaya. Ini karena fitrahnya kita adalah makhluk materi dan nilai.
 
Naluri  Perbandingan
Ternyata kita tidak menciptakan perbandingan eksternal saja. Kita juga menciptakan perbandingan internal. Sesama teman, saya sering mengajak bergurau tentang kendaraan. Kalau kita bertanya jenis kendaraan apa yang bagus, mungkin kriterianya jelas. Bisa dilihat dari spesifikasi, merek, atau harganya. Bahasa pasarnya, semakin mahal kendaraan itu, berarti semakin bagus.
 
Tapi, kalau kita bertanya kendaraan apa yang paling enak, maka relativitasnya semakin tinggi. Kendaraan itu enak dan tidak enaknya di kita, seringkali bukan soal harga atau mereknya, tetapi soal kendaraan apa yang kita naiki sebelumnya. Jika sebelumnya kita naik sepeda lalu sekarang naik motor atau mobil box, rasa enaknya bukan main. Alhamduillah-nya kita sanggup muncul dari mulut, mungkin berkali-kali. Tapi coba kalau sebelumnya kita terbiasa naik mobil mewah di atas 500 juta kemudian kita naik kendaraan yang harganya 200-an juta? Hampir bisa dipastikan rasa tidak enaknya muncul dan bertambah setiap hari. Lama-lama pasti kita bosan sendiri. Akan lebih sempurna sengsaranya bila kita bandingkan lagi dengan teman-teman yang rata-rata mobilnya jauh lebih bagus.
 
Kata Karen Horney (1945), psikolog asal Jerman, manusia itu memiliki tiga kebutuhan dasar. Kita butuh bergerak mendekati orang lain untuk meraih cinta, pengakuan, persamaan, atau sinergi. Kita pun butuh bergerak menjauhi orang lain untuk kebebasan atau kemandirian. Tetapi, kita juga butuh berbeda dengan orang lain untuk kekuatan, kehebatan, atau ke-aku-an. Bahwa ada cara yang terhormat atau tidak-terhormat, ada cara terpuji atau keji, ini semua soal cara. Intinya, kita memang memiliki kebutuhan-kebutuhan di atas. Biasanya, ketika seseorang memenuhi kebutuhan itu, ada naluri tersembunyi yang muncul dari dalam, yaitu perbandingan diri.
 
Sejauhmana Nilai-nilai Itu Penting?
Membandingkan itu bukan naluri yang jelek. Sampai pun kita bisa mengatakannya jelek, naluri itu tidak bisa hilang dari diri kita dan dari dunia ini. Naluri itu bisa kita sebut kreasi Tuhan. Karenanya, pasti ada gunanya.  Soal mau kita gunanakan seperti apa, Tuhan menyerahkannya ke kita. Di sinilah nilai itu berperan.
 
Nilai berperan jangan sampai kita kebablasan mengikuti naluri sehingga kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup. Membandingkan diri itu naluri, tapi bila itu kita ikuti secara kebabaslan, kita sendiri yang sengsara. Nilai akan mengajarkan kita untuk mengerem. Bahagialah dengan apa yang Anda miliki, berjuanglah mengejar apa yang ingin engkau gapai. Kira-kira begitu suara nilai.
 
Selain itu, kalau melihat kebiasaan, kebanyakan naluri membandingkan itu lebih condong ke hal yang tidak berguna, negatif, atau malah menegatifkan. Kajian psikologi memperkenalkan istilah NAT (Negative Automatic Thinking). Pemikiran manusia yang paling cepat muncul (superfisial) adalah yang negatif. Sederhananya begitulah kira-kira pengertiannya. Agar NAT tidak sering muncul, dibutuhkanlah hal-hal yang bisa mempositifkannya, yaitu pendidikan, latihan, pembiasaan, nilai-nilai, dan seterusnya, supaya menjadi “PAT”, (Positive Automatic Thinking). Jika belum positif secara otomatik, setidak-tidaknya positif secara paksaan, positive by conditioning. Nilai berperan mempositifkan kecenderungan naluri.
 
Nilai berperan meluruskan atau mengalihkan. Kita mungkin akan membandingkan diri lalu hasilnya kita gunakan untuk memiskinkan atau menegatifkan. Ini akan membuat kita antara dua: kalau tidak semakin rakus ya semakin malu (tidak bahagia). Nilai akan mengalihkan. Jadikanlah orang lain sebagai motivasi atau inspirasi meraih prestasi dengan cara yang lebih baik atau manfaat yang lebih banyak. Nilai akan membuat kita lebih contented (bernilai), minimalnya untuk diri kita lebih dulu. Biar pun kita sudah kaya, tapi kalau jiwa kita kosong dari nilai, mungkin akan membuat kita makin rakus. Walaupun belum kaya, tapi ada nilai yang kita perjuangkan, mungkin tidak sampai membuat kita malu ati.
 
Hanya yang perlu kita catat bareng-bareng adalah, jangan sampai kita menjadikan nilai-nilai itu untuk sombong-sombongan atau pelarian diri (self escapism). Misalnya, mengecam tetangga yang lebih kaya untuk menunjukkan kita lebih baik. Yang pas adalah menggunakan nilai itu untuk pegangan. Berjalanlah dengan naluri, tapi berpeganglah pada nilai.
 
 
Mengaudit  3 What!
Bagaimana supaya kita tidak sering dinestapakan oleh naluri yang suka membanding-bandingkan?  Salah satu caranya adalah dengan mengaudit  3 What, seperti dalam ilustrasi di bawah ini:
 
3 What  >      What You See ?  -  What You Create ?  -   What You Get ?
 
Apa yang sudah kita lihat dari tetangga, teman, rekan, and so on? Lebih kayakah, lebih hebatkah, atau lebih apalagi? Semua yang kita lihat itu (What You See) dapat membuat kita lebih bahagia atau juga sebaliknya. Ini tergantung pada apa yang akan kita ciptakan di dalam diri kita, What You Create.
 
Simpelnya, jika kita menciptakan perbandingan negatif dan menegatifkan, pasti akan menyengsarakan. Uang yang kita miliki tak bisa membuat kita bahagia jika ternyata tetangga lebih kaya, seperti dalam tulisan di atas. Tapi bila perbandingannya positif dan mempositifkan, pasti akan membahagiakan, baik langsung atau tertunda. Misalnya saja kita jadikan motivasi atau trigger untuk memacu diri. Jika konsekuensi yang masih bersifat kalkulatif ini belum juga bisa menyadarkan kita dari perbandingan negatif, ajukan pertanyaan diri yang lebih menyadarkan lagi, misalnya apa manfaatnya buat saya, bertambah bahagiakan saya atau sebaliknya? Dan lain-lain. 
 
Mensyukuri Untuk Menikmati 
Seperti pada waktu berjalan, kaki yang satu menahan langkah, dan yang satunya menambah langkah. Ini agar ada gerakan. Bahagianya jiwa kita pun dalam situasi tertentu tergantung pada sejauhmana kita menikmati yang sudah kita dapatkan dan mencapai apa yang belum kita dapatkan melalui perbandingan diri.
 
Supaya kita bisa menikmati apa yang sudah kita capai, caranya tidak ada lagi kecuali dengan mensyukurinya. Syukur sendiri pengertiannya adalah menciptakan diri sendiri seperti pohon yang subur nan rindang: berbuah, berpohon lebat, subur, dan enak dipakai berteduh oleh makhluk lain. Konkretnya adalah menciptakan penilaian yang positif, pemaknaan positif, penghayatan positif, perbandingan positif, dan penggunaan positif. Rasa nikmat yang akan kita dapatkan dari kesyukuran itu tergantung tinggi-rendahnya skala. Untuk melihat skala,  kita bisa mengoreksinya melalui  penjelasan di bahwa ini:
 
 
SKALA
PENJELASAN
 
Rendah
Kesyukuran dengan mulut, misalnya kita kerap mengucapkan “syukur” setiap 30 menit sekali, mengungkapkan rasa syukur dalam teks pidato, dst
 
Menengah
 
Kesyukuran dengan mulut dan hati. Kita menciptakan makna-makna yang mendorong hidup kita lebih bersyukur dari realitas yang kita alami, misalnya melihat kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda, melihat bencana sebagai ujian, melihat kekayaan sebagai amanah, dst
 
Atas
 
 
Kesyukuran dengan mulut, hati, dan tindakan. Kita menggunakan potensi, resource, atau kenyataan sebagai alat untuk meraih yang lebih bagus, bagi diri sendiri dan orang lain, dengan cara yang tidak melanggar atau merugikan, melalui program atau agenda yang nyata, dibarengi dengan hati dan mulut yang bersyukur
 
Misalnya saja ada orang yang mulutnya sering mengucapkan alhamdulillah, tetapi hatinya suka men-denial realitas, dan tindakannya tidak didasari  visi yang diperjuangkan. Dibilang baik, memang sudah baik, dibanding orang yang mulutnya mengeluh terus. Tetapi, kalau bicara efeknya bagi kenikmatan hidup, tentu tidak mungkin dapat mengalahkan kesyukuran dengan tindakan. Perubahan hidup kita sebagian besarnya diciptakan dari kesyukuran dengan tindakan. Supaya kesyukuran itu terus meningkat  skalanya, syaratnya adalah memperjuangkan pencapaian materi dan nilai (material-spiritual) secara terus menerus dan seirama sesuai keadaan (dinamika).
 
Kenisbian Dunia
Apapun yang kita anggap akan membahagiakan kita, sejauh itu materi atau duniawi, maka sifanya nisbi. Nisbi bukan berarti tidak penting atau patut kita rendahkan. Tetapi nisbi dalam arti bukan itu saja, terus dinamis, sementara sifatnya, dan relatif. Pada titik tertentu, kita membutuhkan uang untuk bahagia. Tetapi setelah titik ini kita lewati,  kita butuh hal lain untuk bahagia.
 
Semoga bermanfaat
 
 
  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar (0)