Kita semua,
sehari-hari, dari pagi sampai malam, harus menuntut diri untuk memiliki uang.
Pikiran kita, dengan uang itu pasti akan membuat kita bisa memiliki segala yang
kita inginkan. Setelah kita bisa memilikinya, target kita berikutnya adalah
kebahagiaan hidup. Kira-kira seperti itulah jalan pikiran yang kita ikuti
umumnya. Pertanyaannya kemudian adalah, apa benar uang dan barang-barang yang
berhasil kita beli itu lantas secara otomatik dapat membahagiakan kita? Baru-baru
ini, saya kebetulan membaca hasil riset sebuah lembaga. Anda juga bisa
membacanya di Science Daily Dot Com,
tanggal 22 Maret, 2010. Hasil riset itu dijadikan tulisan dengan judul “Money
Only Makes You Happy If it Makes You Richer than Your Neighbor”, uang hanya
bisa membahagiakan Anda jika sudah bisa membuat Anda lebih kaya dari tetangga.
Fakta Dan Kritik
Pernyataan di atas bisa
kita lihat sebagai fakta dan bisa pula kita lihat sebagai kritik. Akan lebih
bagus jika kita lihat sebagai keduanya bila kita concern terhadap
kebahagiaan hidup. Faktanya, memang manusia itu suka membandingkan dirinya
dengan orang lain yang lebih kaya.
Faktanya lagi, memang
hasil perbandingan itu kerap kita gunakan untuk membangun rasa bahagia atau
rasa nestapa. Jika hasilnya menunjukkan kita lebih OK, maka naluri paling bawah
kita akan memunculkan sensasi tersendiri. Nafsu mengatakan: “Andalah yang lebih
berhak untuk sombong!” Tapi, jika hasilnya ternyata NOT OK, mungkin di sini
yang parah. Banyak orang yang menurut kita kaya atau berkecukupan, tetapi
orangnya sendiri melihat dirinya miskin dan merasa masih perlu mengejar harta
yang lebih banyak lagi. Pasalnya, yang dijadikan standar kekayaan bukan kita,
tetapi teman-teman sekolahnya dulu di luar negeri, kelasnya, lawan politiknya
atau rival bisnisnya.
Mau dibilang tuntutan
zaman atau pergaulan, tapi haruskah kita menjadi orang yang lebih kaya dulu
baru kemudian bahagia? Setiap hari ‘lahir’
orang kaya yang lebih kaya dari kita. Jika kita harus lebih kaya dulu baru
kemudian bisa bahagia, akan sampai kapan kita bisa menjadi kaya yang sempurna? Dan,
yang lebih penting lagi adalah, apa bisa itu kita raih? Kalau kita masih bisa
meraihnya dengan kompetensi dan cara yang konsekuensinya sehat (tidak
melanggar), ini masih bisa dibilang OK. Tapi
kalau hanya mengkristal dalam ilusi dan nafsu, wah ini yang perlu direm. Sudah tidak kaya, tidak bahagia pula.
Sengsara dua kali kan?
Pada titik inilah
kita perlu melihatnya sebagai kritik. Kritiknya adalah, jangan sampai kita
mengejar harta, untuk kita memiliki, lalu kita bandingkan. Kita perlu menikmati
apa yang sudah kita miliki agar lebih bahagia. Kritiknya lagi, jangan sampai
kita memutlakkan materi sebagai standar tunggal kebahagiaan. Tanpa nilai, kita
akan cepat sengsara gara-gara tetangga lebih kaya. Ini karena fitrahnya kita
adalah makhluk materi dan nilai.
Naluri Perbandingan
Ternyata kita tidak
menciptakan perbandingan eksternal saja. Kita juga menciptakan perbandingan
internal. Sesama teman, saya sering mengajak bergurau tentang kendaraan. Kalau
kita bertanya jenis kendaraan apa yang bagus, mungkin kriterianya jelas. Bisa
dilihat dari spesifikasi, merek, atau harganya. Bahasa pasarnya, semakin mahal
kendaraan itu, berarti semakin bagus.
Tapi, kalau kita
bertanya kendaraan apa yang paling enak, maka relativitasnya semakin tinggi.
Kendaraan itu enak dan tidak enaknya di kita, seringkali bukan soal harga atau
mereknya, tetapi soal kendaraan apa yang kita naiki sebelumnya. Jika sebelumnya
kita naik sepeda lalu sekarang naik motor atau mobil box, rasa enaknya bukan
main. Alhamduillah-nya kita sanggup muncul dari mulut, mungkin berkali-kali. Tapi
coba kalau sebelumnya kita terbiasa naik mobil mewah di atas 500 juta kemudian
kita naik kendaraan yang harganya 200-an juta? Hampir bisa dipastikan rasa
tidak enaknya muncul dan bertambah setiap hari. Lama-lama pasti kita bosan
sendiri. Akan lebih sempurna sengsaranya bila kita bandingkan lagi dengan teman-teman
yang rata-rata mobilnya jauh lebih bagus.
Kata Karen Horney
(1945), psikolog asal Jerman, manusia itu memiliki tiga kebutuhan dasar. Kita butuh bergerak mendekati orang lain untuk meraih cinta, pengakuan,
persamaan, atau sinergi. Kita
pun butuh bergerak menjauhi orang lain untuk kebebasan atau kemandirian. Tetapi,
kita juga butuh berbeda dengan orang lain untuk kekuatan, kehebatan, atau ke-aku-an.
Bahwa ada cara yang terhormat atau tidak-terhormat, ada cara terpuji atau keji,
ini semua soal cara. Intinya, kita memang memiliki kebutuhan-kebutuhan di atas.
Biasanya, ketika seseorang memenuhi kebutuhan itu, ada naluri tersembunyi yang
muncul dari dalam, yaitu perbandingan diri.
Sejauhmana
Nilai-nilai Itu Penting?
Membandingkan itu
bukan naluri yang jelek. Sampai pun kita bisa mengatakannya jelek, naluri itu
tidak bisa hilang dari diri kita dan dari dunia ini. Naluri itu bisa kita sebut
kreasi Tuhan. Karenanya, pasti ada gunanya. Soal mau kita gunanakan seperti apa, Tuhan menyerahkannya
ke kita. Di sinilah nilai itu berperan.
Nilai berperan jangan
sampai kita kebablasan mengikuti naluri sehingga kehilangan kesempatan untuk
menikmati hidup. Membandingkan diri itu naluri, tapi bila itu kita ikuti secara
kebabaslan, kita sendiri yang sengsara. Nilai akan mengajarkan kita untuk
mengerem. Bahagialah dengan apa yang Anda miliki, berjuanglah mengejar apa yang
ingin engkau gapai. Kira-kira begitu suara nilai.
Selain itu, kalau
melihat kebiasaan, kebanyakan naluri membandingkan itu lebih condong ke hal
yang tidak berguna, negatif, atau malah menegatifkan. Kajian psikologi
memperkenalkan istilah NAT (Negative Automatic Thinking). Pemikiran manusia
yang paling cepat muncul (superfisial) adalah yang negatif. Sederhananya begitulah
kira-kira pengertiannya. Agar NAT tidak sering muncul, dibutuhkanlah hal-hal
yang bisa mempositifkannya, yaitu pendidikan, latihan, pembiasaan, nilai-nilai,
dan seterusnya, supaya menjadi “PAT”, (Positive Automatic Thinking). Jika belum
positif secara otomatik, setidak-tidaknya positif secara paksaan, positive
by conditioning. Nilai berperan mempositifkan kecenderungan naluri.
Nilai berperan
meluruskan atau mengalihkan. Kita mungkin akan membandingkan diri lalu hasilnya
kita gunakan untuk memiskinkan atau menegatifkan. Ini akan membuat kita antara
dua: kalau tidak semakin rakus ya semakin malu (tidak bahagia). Nilai akan
mengalihkan. Jadikanlah orang lain sebagai motivasi atau inspirasi meraih
prestasi dengan cara yang lebih baik atau manfaat yang lebih banyak. Nilai akan
membuat kita lebih contented (bernilai), minimalnya untuk diri kita
lebih dulu. Biar pun kita sudah kaya, tapi kalau jiwa kita kosong dari nilai,
mungkin akan membuat kita makin rakus. Walaupun belum kaya, tapi ada nilai yang
kita perjuangkan, mungkin tidak sampai membuat kita malu ati.
Hanya yang perlu kita
catat bareng-bareng adalah, jangan sampai kita menjadikan nilai-nilai
itu untuk sombong-sombongan atau pelarian diri (self escapism). Misalnya, mengecam tetangga yang lebih kaya untuk
menunjukkan kita lebih baik. Yang pas adalah menggunakan nilai itu untuk pegangan.
Berjalanlah dengan naluri, tapi berpeganglah pada nilai.
Mengaudit 3 What!
Bagaimana supaya kita
tidak sering dinestapakan oleh naluri yang suka membanding-bandingkan? Salah satu caranya adalah dengan
mengaudit 3 What, seperti dalam
ilustrasi di bawah ini:
3 What >
What You See ? -
What You Create ? -
What You Get ?
Apa yang sudah kita
lihat dari tetangga, teman, rekan, and so on? Lebih kayakah, lebih
hebatkah, atau lebih apalagi? Semua yang kita lihat itu (What You See) dapat membuat kita lebih bahagia atau juga
sebaliknya. Ini tergantung pada apa yang akan kita ciptakan di dalam diri kita,
What You Create.
Simpelnya, jika kita
menciptakan perbandingan negatif dan menegatifkan, pasti akan menyengsarakan.
Uang yang kita miliki tak bisa membuat kita bahagia jika ternyata tetangga
lebih kaya, seperti dalam tulisan di atas. Tapi bila perbandingannya positif
dan mempositifkan, pasti akan membahagiakan, baik langsung atau tertunda.
Misalnya saja kita jadikan motivasi atau trigger
untuk memacu diri. Jika konsekuensi yang masih bersifat kalkulatif ini belum
juga bisa menyadarkan kita dari perbandingan negatif, ajukan pertanyaan diri yang
lebih menyadarkan lagi, misalnya apa manfaatnya buat saya, bertambah bahagiakan
saya atau sebaliknya? Dan lain-lain.
Mensyukuri Untuk
Menikmati
Seperti pada waktu
berjalan, kaki yang satu menahan langkah, dan yang satunya menambah langkah.
Ini agar ada gerakan. Bahagianya jiwa kita pun dalam situasi tertentu
tergantung pada sejauhmana kita menikmati yang sudah kita dapatkan dan mencapai
apa yang belum kita dapatkan melalui perbandingan diri.
Supaya kita bisa
menikmati apa yang sudah kita capai, caranya tidak ada lagi kecuali dengan
mensyukurinya. Syukur sendiri pengertiannya adalah menciptakan diri sendiri
seperti pohon yang subur nan rindang: berbuah, berpohon lebat, subur, dan enak
dipakai berteduh oleh makhluk lain. Konkretnya adalah menciptakan penilaian
yang positif, pemaknaan positif, penghayatan positif, perbandingan positif, dan
penggunaan positif. Rasa nikmat yang akan kita dapatkan dari kesyukuran itu tergantung
tinggi-rendahnya skala. Untuk melihat skala,
kita bisa mengoreksinya melalui penjelasan di bahwa ini:
SKALA
PENJELASAN
Rendah
Kesyukuran
dengan mulut, misalnya kita kerap mengucapkan “syukur” setiap 30 menit
sekali, mengungkapkan rasa syukur dalam teks pidato, dst
Menengah
Kesyukuran
dengan mulut dan hati. Kita menciptakan makna-makna yang mendorong hidup kita
lebih bersyukur dari realitas yang kita alami, misalnya melihat kegagalan
sebagai kesuksesan yang tertunda, melihat bencana sebagai ujian, melihat
kekayaan sebagai amanah, dst
Atas
Kesyukuran
dengan mulut, hati, dan tindakan. Kita menggunakan potensi, resource, atau kenyataan sebagai alat untuk
meraih yang lebih bagus, bagi diri sendiri dan orang lain, dengan cara yang
tidak melanggar atau merugikan, melalui program atau agenda yang nyata,
dibarengi dengan hati dan mulut yang bersyukur
Misalnya saja ada
orang yang mulutnya sering mengucapkan alhamdulillah, tetapi hatinya suka
men-denial realitas, dan tindakannya tidak didasari visi yang diperjuangkan. Dibilang baik,
memang sudah baik, dibanding orang yang mulutnya mengeluh terus. Tetapi, kalau
bicara efeknya bagi kenikmatan hidup, tentu tidak mungkin dapat mengalahkan
kesyukuran dengan tindakan. Perubahan hidup kita sebagian besarnya diciptakan dari
kesyukuran dengan tindakan. Supaya kesyukuran itu terus meningkat skalanya, syaratnya adalah memperjuangkan
pencapaian materi dan nilai (material-spiritual) secara terus menerus dan
seirama sesuai keadaan (dinamika).
Kenisbian Dunia
Apapun yang kita
anggap akan membahagiakan kita, sejauh itu materi atau duniawi, maka sifanya
nisbi. Nisbi bukan berarti tidak penting atau patut kita rendahkan. Tetapi
nisbi dalam arti bukan itu saja, terus dinamis, sementara sifatnya, dan
relatif. Pada titik tertentu, kita membutuhkan uang untuk bahagia. Tetapi
setelah titik ini kita lewati, kita
butuh hal lain untuk bahagia.