Kategori Anak
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 02 Juni 2010
Mengingat ujian sudah
dekat, Bu Ani mulai gencar menyuruh anaknya belajar. Pasalnya, waktu tray-out
kemarin, anaknya kebetulan terkena remedial
oleh gurunya. Si anak yang sedang asyik-asyiknya menonton acara televisi kesayangan,
agak menolak perintah ibunya. Untuk menghindari ketegangan, sang ibu memberikan
upeti yang masih dijanjikan agar anaknya cepat menuju ruang belajar. Pertanyaannya,
apakah perilaku Bu Ani itu tergolong penyuapan (bribery) atau penghargaan atas usaha anaknya yang mau beranjak
meninggalkan televisi (reward)?
Menyuap Dalam Pengasuhan
Praktek suap dalam pengasuhan
perlu dibedakan dengan praktek yang ada dalam birokrasi. Suap dalam birokrasi
diartikan sebagai perilaku yang mengiming-imingi atau menyepakati imbalan, baik
di depan atau di belakang, agar terjadi aksi yang unfair (merugikan orang
lain) atau unlawful (melanggar hukum).Misalnya, kita sedang
dalam proses mengintip pekerjaan tender
dari kantor departemen anu. Agar kita menang, kita membuat deal yang terkait
dengan iming-iming imbalan itu agar terjadi proses yang tidak fair atau
kalau perlu melanggar. Banyak proyek pemerintah yang anggarannya gila-gilaan,
tetapi mutunya edan-edanan. Ini terjadi karena praktek suap merajalela.
Sedangkan suap dalam ruang
lingkup pengasuhan, menerangkan tindakan orangtua yang memberi / menjanjikan
imbalan untuk hal-hal yang ditolak oleh anak, yang mestinya itu sudah merupakan
tanggung jawab anak, atau untuk hal-hal yang memang menjadi kewajiban orangtua melatih
si anak, seperti belajar, mandi, sabar dalam meminta, dan seterusnya.
Hampir semua orangtua
pernah melakukan suap kepada anaknya. Bedanya mungkin ada yang mempatenkan pola
suap itu dan ada yang menjadikannya sebagai strategi temporer. Ada yang
tingkatannya sudah berlebihan, tapi ada yang masih bisa dibilang wajar. Ada
yang mau memperbaiki, tapi ada yang membiarkan.
Potensi Bahaya
Meski dipahami tidak
sekotor seperti praktek suap dalam birokrasi, tetapi bila kebablasan atau tidak diiringi dengan penjelasan yang memahamkan
anak, bisa-bisa praktek suap ini dapat
menanamkan mentalitas yang kurang mendukung kemajuan anak di kemudian hari.
Suap sangat kurang mendidik
anak untuk mengembangkan kendali diri (internal
self control) yang menjadi landasan disiplin. Padahal disiplin itu sangat
dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Disiplin dibutuhkan untuk menanamkan perilaku
positif, dan melatih manajemen hidup. Anak yang tahu teori disiplin, belum
tentu bisa menjalankan, jika tidak disertai latihan sejak kecil.
Suap juga dapat
membuat sensitivitas anak terhadap tanggung jawabnya menjadi kurang tajam. Anak
akan cenderung mengandalkan suap atau iming-iming imbalan untuk melakukan
hal-hal yang baik bagi dirinya. Ironisnya, pada beberapa kasus anak-anak yang menjadi
sasaran program bantuan bencana pun
sudah bisa memilih dan menolak pihak
yang tawarannya kurang menarik. Jadi program-program bantuan masyarakat pun sampai
ada yang pakai strategi suap. Sebabnya, jika tidak pakai amplop, hadiah, dsb - tidak
ada yang mau ikut. Dikasih duit untuk mengikuti pengajian dan program. Dikasih
amplop untuk mengikuti training. Bahkan untuk membersihkan lingkungan sendiri
pun diiming-imingi dengan uang. Saat
itu, hampir semua orang melihatnya sebagai kebaikan yang luar biasa. Tapi,
gara-gara kebablasan, kebaikan itu
mulai menjadi petaka.
Bahkan jika suap ini
sudah membuat anak terbiasa kecanduan, anak akan menggunakan kelemahannya atau menggunakan
inisiatif negatifnya sebagai kekuatan untuk tawar-menawar dengan orangtua.
Misalnya, anak akan menangis berlebihan jika tuntutannya tidak dipenuhi untuk
mendapatkan suap dari orangtuanya.
Secara sosial, suap juga
dapat menumpulkan kecerdasan sosial. Kalau dilogikakan, anak akan tidak tegerak
untuk menolong orang lain atau untuk melakukan kebaikan sosial, termasuk untuk dirinya
sendiri dan keluarganya ketika tidak melihat imbalan yang akan didapatkan. Bahkan,
kalau membaca hasil kajian lembaga-lembaga internasional mengenai suap dan korupsi
dalam sebuah bangsa, suap juga membahayakan kepentingan nasional. Terungkap
dalam berbagai studi bahwa budaya menduduki ranking atas dalam menggerakkan perilaku.
Selebihnya, sistem yang bobrok dan penegakan hukum yang lemah.
Budaya dalam hal ini
adalah perilaku kolektif yang digerakkan oleh sekian elemen (kebiasaan,
tradisi, nilai, contoh, dst) yang sudah masuk ke dalam sistem syaraf
masing-masing individu sehingga untuk mengubahnya tidak mudah. Ada kemungkinan
budaya itu terbentuk dari kecil atau dari proses waktu yang panjang.
Bagaimana Dengan
Reward?
Reward dalam pengasuhan
pengertiannya adalah memberi imbalan atas prestasi, pencapaian, atau perjuangan
anak dalam mencapai sesuatu. Ada learning
process di dalamnya. Misalnya, kita memberikan hadiah sepeda setelah dia
bisa menguasai gerakan tertentu atau mendapatkan nilai / peringkat akademik
tertentu.
Oleh pengalaman dunia
pendidikan, reward ini dinilai punya pengaruh positif bagi anak, antara
lain:
1. Reward akan memotivasi anak
untuk berjuang atau mencapai. Motivasi itu bersumber dari dorongan atau
rangsangan kita, lalu pengarahan kita ketika ada kesalahan atau penyimpangan,
dan penghargaan kita atas pencapaian. Banyak orangtua yang kurang memberi
dorongan, tetapi banyak menyalahkan. Sudah begitu, sikapnya juga kurang
apresiatif terhadap prestasi anak.
2. Reward akan membuat anak
merasa dihargai sehingga ini menjadi modal yang penting untuk membangun self-esteem. Untuk anak, faktor yang
paling banyak peranannya dalam membangun harga diri adalah faktor eksternal,
orangtua dan lingkungan. Harga diri yang positif membuat anak lebih optimistis,
misalnya tidak pasrah jika nilainya jelek.
3. Reward dapat memantapkan kepercayaan diri (pede). Anak membangun pede dari bukti dan pengakuan. Jika anak
melihat ternyata dia mampu melakukan sesuatu dengan bukti yang nyata (hasil
atau kompetensi), ditambah lagi dengan pengakuan orangtuanya, maka pede-nya akan membaik.
Dalam banyak hal, intinya,
memberi reward itu jauh lebih edukatif. Walaupun rewarding ini
tidak selalu secara sempurna bisa kita jalankan, tetapi hal ini harus dijadikan
acuan.
Butuh Alat Bantu
Supaya kita mudah
memberikan reward, memang butuh alat
bantu. Ketiadaan atau kekurangan alat bantu, dapat memudahkan kita terjebak
melakukan bribing untuk kepentingan sesaat atau melakukan demotivating
karena reaksi sesaat. Beberapa alat bantu yang penting itu adalah:
Ada disiplin tertentu
yang kita tegakkan secara konsisten sejak kecil. Akan lebih bagus disiplin itu
ditegakkan berdasarkan kesepakatan dan perkembangan anak, dijalankan dengan
cara friendly, dan konsisten mengawalnya. Disiplin akan memudahkan kita
memberi pengarahan dan memberi reward
karena dasarnya jelas.
Ada standar prestasi
/ pencapaian tertentu berdasarkan kemampuan dan keadaannya, misalnya bisa
menguasai kompetensi tertentu, nilai tertentu, kebisaan tertentu, dan
lain-lain. Sebaiknya, standar prestasi itu kita buat berdasarkan kesepakatan
yang menantang (challenging), bukan
yang menekan (pressing). Pencapaian
standar menjadi alasan yang pas untuk memberi reward
Ada harapan
tertentu. Tidak semua perilaku anak itu bisa dimasukkan ke dalam wilayah
disiplin dan standar. Memang harus ada yang di luar sistem. Misalnya saja
menangis, konflik, membanting barang, atau hal-hal yang serupa. Meski sulit
dihindari, tetapi ada harapan dari orangtua kepada anaknya. Jika si anak bisa
memenuhi harapan itu, walaupun tidak sempurna, memberi reward menjadi langkah yang pas.
Bahkan dengan alat bantu di atas
dapat juga menghindarkan kita dari praktek memuji-muji anak tanpa alasan yang
tepat. Memuji tanpa alasan dan berlebihan sangat berpotensi mendorong anak
menciptakan konsep diri yang salah.Teorinya, anak yang
sering diserang oleh orang dewasa di sekitarnya akan membangun konsep diri yang
lemah (The Poor Me), minder, takut,
dst. Tapi, jika kebanyakan dipuji yang hanya untuk menyenangkan hati tidak berarti
lantas bagus. Dia akan membangun konsep diri yang super (The Super Me), sombong, narsis,
berpikir harus menundukkan orang lain, menutut pujian, dst.
Supaya terhindar,
kita perlu membekali dia membangun konsep diri yang aktual (The Actual Me). Salah satu cara yang
penting adalah dengan menciptakan dan menjalankan alat bantu di atas. Untuk
kepentingan yang lebih besar, melatih anak supaya menjadi actualized itu
akan membekali paradigma mental yang lebih riil dalam menghadapi hidup.
Berbagai Bentuk
Reward
Reward itu tidak selamanya
harus materi. Reward dapat berupa materi
(tangible) dan bukan materi (intangible), misalnya pujian, dukungan,
ciuman kasih sayang, penghormatan, perlakuan, dan lain-lain. Artinya, tidak semua reward
mengharuskan kita merogoh saku. Dengan kata lain, semua orangtua punya
kesempatan yang sama untuk me-reward
anaknya. Hanya memang namanya juga anak-anak, secara umum, reward yang tangible atau yang berbentuk materi itu biasanya
punya nilai yang lebih sensasional dan itu biasanya yang lebih dulu diminta.
Meski demikian, kalau
keseringan, daya kejutnya bisa berkurang, selain juga kurang bagus. Jalan
tengah yang bisa ditempuh orangtua adalah menyesuaikan, memproporsionalkan
dengan situasi kondisi, anak dan segala sesuatunya. Tidak melulu materi atau
tidak melulu hanya omongan, tidak perlu seragam dengan yang lain, dsb.
Ada banyak teori yang
bisa kita jadikan acuan untuk memvariatifkan atau mengkomprehensifkan reward,
misalnya teori ERG yang membagi kebutuhan manusia menjadi tiga, seperti di
bawah ini:
E = Existence, kebutuhan fisiologis
dasar, misalnya makanan atau baju
R = Relatedness, kebutuhan emosional
sosial, misalnya mainan baru yang membuat dia punya gairah baru dalam berteman,
perlakuan yang lebih istimewa, penghargaan, kunjungan ke rumah nenek di
kampung, dan lain-lain
G = Growth, kebutuhan aktualisasi diri,
perkembangan, atau kemajuan, misalnya membelikan buku, mainan yang edukatif, atau
fasilitas kemajuan tertentu.
Selain itu, bentuk reward-nya
sendiri juga perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan perkembangan, atau juga
sebab-sebabnya. Ini supaya nilai gunanya tepat dan efektif. Reward yang terlalu besar sama jeleknya
dengan reward yang terlalu kecil.
Membelikan hape atau laptop untuk anak yang belum butuh, bisa
salah atau kurang berguna. Akan lebih sempurna lagi jika reward itu kita desain se-personal mungkin, spesial, dan unik. Kalau
terlalu umum atau biasa-biasa, padahal itu untuk sebuah prestasi yang luar
biasa, bisa-bisa kita malah dilecehkan, dengan istilah semacam pelit, kurang
perhatian, dsb.
Yang paling penting
untuk kepentingan pendidikan adalah, reward
itu memang sengaja kita rancang untuk menantang dia meningkatkan pencapaian,
prestasi, atau perjuangan. Jangan sampai
gara-gara hadiah itu lantas membuat dia berubah menjadi lebih buruk atau tidak
tertantang lagi. Hadiah membawa musibah.