Kategori Anak
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 23 November 2009
Persamaan
& Perbedaan
Berdasarkan standar rasa yang umum, stress itu sama saja, mau itu bagi orang
dewasa atau anak-anak. Rasanya pasti tidak enak, seperti sulit tidur, lebih
agresif, lebih sensitif, munculnya ketegangan, pusing, atau menurunnya semangat
hidup. Hal yang sama juga akan kita dapatkan pada bagaimana stress itu difungsikan. Menurut hukum
kehidupannya, stress itu netral
fungsinya, tergantung pada bagaimana stress
itu akan difungsikan, mau yang ke positif atau yang ke negatif, terserah
orangnya. Bedanya, orang dewasa mungkin sudah
mengantongi sekian mekanisme mengenai bagaimana stress itu difungsikan, dari pengetahuan, pengalaman, atau
keahliannya. Sementara, anak-anak mungkin hanya menguasai mekanisme yang masih sangat
terbatas. Terkait dengan mekanisme fungsi itulah yang kemudian muncul istilah stress positif dan stress negatif, seperti sering kita bahas di sini.
Stress positif adalah
berbagai tekanan yang membuat kita lebih positif, akhirnya. Misalnya lebih
terpacu mengejar target, ketuntasan, lebih kreatif, lebih disiplin, atau lebih
matang, dan seterusnya. Sebaliknya, stress
negatif adalah berbagai tekanan yang membuat kita semakin tertekan, semakin memburuk,
baik secara fisik, intelektual, emosional, atau spiritual, lebih kacau, dan
lebih mundur.
Ada hal lain lagi yang agak berbeda antara
anak-anak dan orang dewasa dalam memahami stresssor.
Beberapa kejadian tertentu yang mungkin bagi orang dewasa cukup menjadi stresssor, tapi bagi anak-anak
biasa-biasa saja. Sebaliknya juga, mungkin ada kejadian yang bagi orang dewasa
tidak begitu menjadi stresssor, tapi
bagi anak-anak tidak begitu.
Perbedaan itu muncul karena perbedaan
kepentingan, jangkauan pengetahuan, pemahaman, dan ilusi tentang hidup. Banyak
relawan yang tidak menemukan tanda-tanda stress
yang begitu gawat di anak-anak yang daerahnya menjadi korban bencana. Justru
orang-orang dewasalah yang kelihatan stressnya.
Begitu juga dengan kasus perceraian orangtua.
Seringkali yang suka “kasihan” itu orang-orang dewasa di sekitarnya atau yang
menonton mereka di televisi. Mungkin saja anak-anak ini tidak meng-ilusi-kan
kehidupan sekompleks orang dewasa. Cuma, walaupun aura stress itu tidak terlalu nampak, tapi perkembangan jiwanya sedikit banyak
mengalami hambatan. Ini karena perkembangan anak itu sedikit banyaknya akan
berhubungan dengan perkembangan orangtua. Logika sederhananya, kalau orangtua susah,
anak juga ikut susah. Orangtua yang sedang stress
sulit diharapkan memiliki hubungan yang bagus dengan anak-anak, padahal
hubungan itulah yang sangat berperan.
Stresssor Bagi
Anak-anak
Dalam beberapa hal yang sangat spesifik,
anak-anak memiliki sumber stresssor
yang berbeda dengan orang dewasa. Seperti yang sudah kita singgung di atas, mungkin
ini lebih terkait dengan alamnya, kebutuhannya, atau jangkauannya. Sumber stresssor yang spesifik untuk anak itu
antara lain adalah pelajaran sekolah. Pelajaran sekolah bisa berpotensi menjadi
stresssor ketika pelajaran itu
diberikan dalam jumlah yang banyak, dalam waktu yang sangat pendek, atau dengan
cara yang mengandung ancaman menurut pemahaman anak.
Meskipun sebetulnya dia mampu mengerjakannya
atau punya kapasitas untuk menyelesaikannya, tapi soal jumlah, waktu, dan cara bisa
menimbulkan persoalan. Banyak anak yang nilainya jeblok padahal dia sebetulnya bisa. Ini mungkin mirip seperti stress kerja pada orang dewasa, dimana
ada beban / tekanan yang imbalance dengan kapasitas dan sumber daya.
Sistem pengajaran di sekolah-sekolah sekarang
ini berbeda dengan zaman kita dulu, yang ujiannya hanya dua kali setahun.
Mereka bisa 4 kali sampai lebih. Kalau guru A besoknya menjadwalkan ujian, lalu
guru B memberi PR yang jumlahnya banyak, bisa saja memunculkan stress pada anak.
Hal lain yang juga kerap menjadi sumber stresssor adalah pergaulan. Di sekolah yang sebagus apapun, tetap saja ada
ruang pergaulan yang di luar jangkauan kontrol guru. Bedanya hanya pada
besar-kecilnya ruang itu. Semakin bagus sekolah, maka kontrolnya semakin bagus
juga, kira-kira.
Namanya juga anak-anak, mungkin ada di antara
mereka itu yang punya bawaan pelaku bullying (penindas), mungkin juga
ada yang membawa ciri-ciri korban bullying (lemah, kalahan, dst). Pergaulan
yang mengandung ancaman, ketakutan, tidak seimbang, dan lain-lain, sangat
mungkin menimbulkan stress.
Hal lainnya lagi adalah pengasuhan atau
keadaan keluarga. Model pengasuhan yang
sudah didekte oleh ambisi yang berlebihan, amarah yang berlebihan, atau iri dengki
terhadap anak lain, sangat mungkin menjadi stresssor.
Sikap orangtua yang cuek sampai menciptakan hubungan yang dirasakan oleh anak sebagai ketidakpedulian
juga berpotensi menjadi stresssor.
Hubungan suami istri yang dilanda konflik tidak sehat, lebih-lebih menahun,
juga berpotensi menjadi sumber stresssor
ketika semua itu sudah merembet pada buruknya hubungan orangtua-anak.
Untuk anak yang sedang “apes nasibnya”, tidak
menutup kemungkinan akan menjadi depresi atau stress yang semakin menggunung dan berlangsung lama. Misalnya saja,
sudah orangtuanya bertengkar terus secara tidak sehat, gurunya galak-galak
pula. Sudah begitu, dia sedang ada problem dengan temanya dan PR-nya menumpuk. Ini
yang sangat perlu kita antisipasi.
Di sisi lain, kita juga tetap perlu berpikir
bahwa tidak semua stressor itu jelek bagi anak kita. Barangkali itulah proses hidup
yang harus dia lewati atau “pendidikan Tuhan”. Tinggal kita mengarahkan
bagaimana menyikapi pendidikan Tuhan itu secara positif supaya mendapatkan
benefit yang positif.
Terlalu cepat mengambil tanggung jawab dari anak
dalam menghadapi stressor
(protektif), tidak berarti akan menjamin hasil yang bagus. Bahkan mungkin akan
membuat anak miskin pengalaman hidup yang pada dasarnya buruk buat anak.
Beberapa Gejala Stress Pada Anak-anak
Dari sejumlah pemaparan ahli, ada beberapa
gejala yang umum yang bisa kita pakai sebagai reminder / perhatian apakah anak kita sedang menghadapi stresssor atau tidak. Atau,
setidak-tidaknya, kita perlu mengintensifkan dialog untuk memverifikasi atau
mengkonfirmasi perasaannya.
Untuk anak-anak yang masih duduk di bangku
SD, beberapa gejala itu antara lain:
Enggan masuk
sekolah
Berbohong tanpa
alasan yang bisa diterima akal sehat
Mencuri yang
merupakan indikasi adanya pelampiasan kengawuran (losing control)
Tidak semangat
belajar atau kurang konsentrasi belajar
Hilangnya
semangat hidup sehingga rewel, ngambekan, atau tidak berdamai dengan
keadaan
Sikap cenderung
lebih menentang
Hiperaktif
Ngompol
Problem makan
Mudah
mengeluhkan rasa sakit, seperti pusing, sakit perut, atau rasa sakit yang
lain
Bagi anak-anak yang sudah mulai menginjak
usia remaja, mungkin akhir kelas 6 atau awal masuk SMP (kelas 7), gejala yang
perlu kita amati antara lain: sakit-sakitan atau mengalami banyak keluhan
fisik, ada problema tingkah-laku, misalnya nakalnya menonjol, rasa malu
berlebihan, ketakutan atau kekhawatiran, mudah tersinggung atau cepat
kehilangan kontrol diri, atau malas-malasan belajar.
Jika dia punya kegiatan di luar rumah yang di
luar kontrol orangtua, atau terlalu bebas, ini mungkin akan berpotensi sangat
membahayakan mereka. Banyak bahaya yang ditelan remaja karena awalnya dari
pengaruh pergaulan.
Beberapa Cara Membantu Mereka
Di luar dari apa yang perlu kita lakukan
untuk membantu anak-anak, yang perlu kita tanyakan lebih dulu adalah apa yang
mereka pikirkan untuk mengatasi masalahnya. Tujuan pertanyaan itu bukan untuk
menemukan jawaban yang paling bagus menurut kita, tetapi untuk melatih mereka memunculkan
kemandirian, minimalnya dalam berpikir.
Supaya suasana dan prosesnya eksploratif dan
kreatif, yang perlu kita hindari adalah menghakimi jawabannya atau menunjukkan
sikap yang meremehkan, seolah-olah jawabannya itu tidak berbobot, atau langsung
memotongnya. Justru yang perlu kita tunjukkan adalah menjadi pendengar yang
baik dan merangsang mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka
terpacu untuk berpikir bagaimana menemukan solusi dari masalahnya.
Khusus untuk masalah pergaulan, mau itu
dengan teman atau guru, yang perlu kita
hindari adalah membelanya habis-habisan atau menyalahkannya habis-habisan.
Membela tanpa alasan dapat melemahkan mentalnya.
Sebaliknya, menyalahkan anak yang sedang
terkena masalah dapat memunculkan perasaan nobody helps them. Yang perlu
kita lakukan adalah fokus pada persoalan dan bagaimana persoalan itu diselesaikan
dengan cara yang membuat dia lebih pintar atau lebih matang. Untuk hal-hal yang
perlu kita lakukan sebagai bantuan, kita bisa memformulasi strategi atau
langkah berdasarkan kebutuhannya. Sekedar sebagai acuan / pilihan, kita bisa
mengacu pada poin-poin di bawah ini:
Mengantisipasi:
membantu mereka mengerjakan PR atau mengajari cara-cara belajar yang lebih
mudah, menjalin hubungan yang lebih cooperative
dengan guru kelas, sering-sering berdialog agar cepat terdeteksi masalahnya,
menunjukkan perhatian dan dukunganyang
tulus. Ini bisa mengantisipasi stresssor.
Mengarahkan,
misalnya menjelaskan makna atau mengarahkan sikap positif. Ini pas digunakan
untuk menjelaskan stresssor yang
memang harus diterima, misalnya kematian, bencana, atau kepergian sahabat.
Memperbaiki
mekanisme atausiasat mental. Ini pas
untuk melatih anak yang sedang punya masalah pergaulan yang menurut kita masih
belum saatnya didiskusikan dengan pihak sekolah
Memotivasi
atau membesarkan hatinya yang diikuti dengan program nyata. Misalnya nilainya
jatuh atau dihukum sekolah karena keteledorannya. Yang perlu kita lakukan
adalah mengajak dia untuk meningkatkan kuantitas atau kualitas belajarnya.
Tanpa program yang nyata, bisa-bisa kita membohongi mereka.
Melaporkan
ke sekolah / guru. Ini jika di kelas sudah terjadi praktek bullying yang
didiamkan atau di luar kontrol guru. Kalau ada anak lain yang juga menjadi
korban, kita perlu ajak orangtuanya untuk mendiskusikan solusinya dengan pihak
sekolah. Tapi, karena anak-anak, maka fokus kita adalah problem dan solusi,
bukan ke anaknya.
Ada konsep pendek yang bisa kita terjemahkan
sevariatif mungkin untuk membantu mereka dalam mengatasi stress. Sebenarnya ini juga pas buat orang dewasa seperti kita.
Konsep yang yang pendek itu adalah:
Membiarkan,
untuk hal-hal yang sudah tak mungkin diubah.
Melakukan
sesuatu, untuk hal-hal yang memang harus diubah atau masih bisa diubah
Mengantisipasi
kejadian atau akibat yang bisa menjadi stresssor.
Cuma, semua itu butuh proses. Tidak bisa kita
menyuruh anak untuk melupakan atau membiarkan sesuatu yang ia anggap itu
menekan dirinya. Membiarkan pun butuh proses. Dalam banyak hal, peranan waktu
menjadi penting.
Beda Generasi Beda Stressor
Sepertinya kurang pas jika kita selalu
berpikir anak-anak kita itu sudah jauh dari stressor
karena hidupnya sudah jauh lebih enak dibanding kita dulu. Dalam beberapa hal,
memang mereka lebih enak dibanding kita, tetapi untuk hal-hal tertentu, dia
tidak lebih enak dibanding kita.
Dulu, problemnya kita mungkin kurangnya fasilitas,
seperti sekolah harus jalan kaki berkilo-kilo. Tapi sekarang ini problemnya
macet dan tuntutan kompetensi serta kompetisi. Banyak anak kecil yang harus
bekerja keras untuk sekolah. Intinya, setiap generasi itu ada masalahnya
sendiri dan ada peluangnya sendiri. Tuhan menyebut diri-Nya sebagi Pendidik
alam semesta. Sebagai Pendidik, pasti akan membedakan masalah dan peluangnya.
Semoga bermanfaat.