Membebaskan Anak Dari Belenggu Jiwa

  Kategori Anak
  Oleh : Ubaydillah, AN
  Jakarta, 10/21/2008
  

Seorang ibu mengatakan pada anaknya agar menutup pintu gerbang segera setelah usai main sepeda.  "Nak, tolong pintu gerbangnya jangan lupa dikunci ya", perintah sang ibu. Tanpa sepatah kata, si anak melaksanakan perintah ibunya.

 

Di pelukan sang ibu, si anak bertanya kenapa pintu gerbang harus selalu dikunci. Ibunya kaget mendengar pertanyaan si anak. Dengan bahasa orang dewasa, si ibu menjelaskan, pintu gerbang harus dikunci karena di sekeliling kita banyak orang jahat. "Nanti kalau sepedamu  dicuri gimana?" Rupanya, si anak tidak punya pemahaman seperti itu selama ini. Menurut si anak, pintu gerbang harus dikunci supaya kalau ada tamu yang datang mengucapkan salam dulu atau permisi dulu.

 

Dengan kepolosannya dari berbagai kepentingan pribadi, anak-anak kita terkadang memiliki pemahaman yang lebih positif tentang hidup. Siapa pun tahu, termasuk anak kita, di dunia ini pasti ada orang baik dan ada orang jahat. Tapi, si anak terkadang tidak mau melihat dunia dari sisi negatifnya. Dia kerapkali melihat dunia dari sisi kemaslahatannya, sementara kita lebih sering melihat dunia dari kepentingannya.

 

Menurut Charles L. Whitfield, M.D. (Healing The Child Within:1989),  jiwa anak-anak itulah yang sebetulnya merupakan jiwa asli manusia yang kita sebut dengan  berbagai istilah:  The Real Self, The True Self, The Inner Core, dan lain-lain. Beberapa karakteristik yang menonjok dari jiwa anak-anak itu antara lain: loving, giving, communicating, accept self and others, spiritual, explorative,  (free to grow), assertive, creative, atau emphatic.

 

Intinya, dia baik sama dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya. Karena itu, menurut Charles, penting bagi kita untuk mengembalikan jiwa anak-anak yang ada di dalam diri kita dan remaja kita, yang sudah terkontaminasi oleh berbagai faktor dan kepentingan negatif. Dalam bahasa kita, jiwa anak-anak itu sering disebut fitrah. Fitrah bukan hanya bersih artinya. Arti fitrah juga kemenangan atau memiliki sifat-sifat pemeneng.

 

 

Belenggu Bagi Jiwa

Dalam prakteknya, tentu saja anak-anak kita tidak memiliki satu wajah positif semata. Ada juga wajah negatifnya. Andaikan anak itu hanya memiliki wajah positif seperti malaikat, selesai sudah dinamika urusan di dunia ini. Kalau kita amati, wajah negatif ini ada yang berasal dari energi potensial dia sebagai manusia dan ada yang berasal dari distorsi penggunaan potensi.

 

Yang berasal dari energi potensial itu misalnya saja Id, seperti menurut Freud, di mana Id hanya disadarkan pada pleasure prinsicple, terlepas itu baik atau buruk, salah atau benar. Misalnya minta dibelikan mainan berlebihan, dikit-dikit ngambek, ingin main terus, makan terus, nonton terus, main air terus-terusan dan lain-lain. Selama belum dicerahkan, energi Id atau nafsu egoisme akan terus  mendominasi.

 

Sedangkan yang berasal dari distorsi itu misalnya kreativitas yang destruktif. Kreatif itu bagus tetapi kalau destruktif artinya tidak pro-life, karena digunakan untuk merusak, entah merusak diri sendiri atau pun merusak orang lain. Unjuk-diri itu bagus namun kalau berlebihan sama artinya dengan mengajak perang. Intinya, semua yang berlebihan, dalam arti improportional, itu hampir bisa dipastikan jelek.

 

Untuk mengelola Id, dan mencegah potensi distorsi, kita perlu melakukan upaya transfer nilai, pengetahuan, pengalaman, budaya atau apapun yang bisa disebut pengasuhan dan pengembangan. Tapi, dalam prosesnya, entah sadar atau tidak, kita kerap menempuh teknik yang oleh Charles L.Whitfield disebut Stifling The Child Within (membelenggu kejeniusan jiwanya). Beberapa "karakter keluarga" yang dapat berpotensi membelenggu itu antara lain:

 

Belenggu jiwa itu tidak harus disebabkan oleh kejadian yang ekstrim. Kejadian negatif yang menurut kita biasa-biasa dengan intensitas yang tinggi pun sangat bisa menciptakan belenggu. Menurut riset, Anak yang kerap menerima ungkapan menyakitkan sangat berpotensi terkena cronically nice person. Komentar negatif bisa memperburuk konsep diri, kata Jack Canfield.

 

 

Penyalahgunaan Power

Berkah Tuhan yang diberikan kepada semua orangtua adalah power. Menurut McDonald (1980), power adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Supaya pola asuh efektif, orangtua menggunakan power. Hanya saja, power yang semula berkah ini bisa menjadi musibah apabila kita salah menggunakannya.

 

Sejatinya, power itu diberikan agar kita gunakan untuk meng-empower orang lain, dari mulai mendidik, mengarahkan, memberdayakan, dan seterusnya. Begitu power itu kita gunakan untuk memperkokoh egoisme, kesombongan, kediktatoran, dan semisalnya, maka yang muncul adalah reaksi dari orang lain untuk membebaskan dirinya dari penyalahgunaan power. Ini terjadi dari mulai keluarga, masyarakat, negara dan dunia.

 

Meminjam temuannya F. Philip Rice (Intimate Relationship: Marriage & Family: 1990), reaksi itulah yang disebutnya dengan Power Neutralization Strategy. Dalam konteks membina keluarga, ada beberapa indikasi yang bisa kita jadikan pedoman apakah selama kita menggunakan power untuk meng-empower mereka atau menyalahgunakannya atau menggunakannya secara kurang efektif. Indikasi itu antara lain:

 

Jika kita sudah menjumpai sejumlah indikasi di atas pada hubungan kita dengan anak, berarti cara kita dalam menggunakan power perlu kita perbaiki. Sebab kalau tidak, sangat mungkin prilaku kita akan bergeser ke pola asuh yang berpotensi mewariskan belenggu atau bahkan bisa menimbulkan permusuhan.

 

Ketika usianya 0-7 tahun, dia adalah rajamu.

Ketika usianya 7-11-an tahun, kamu adalah rajanya

Ketika usianya 11-an – 20-an, kamu dan dia berteman

Setelah itu, mungkin dia bisa menjadi temanmu dan bisa menjadi musuhmu.

 

 

 

Beberapa Solusi

Tidak ada orangtua yang sempurna. Kesempurnaan pola asuh itu hanya terjadi pada komitmen kita untuk selalu menyempurnakan yang bolong-bolong setiap saat sesuai keadaan kita. Terkait dengan bagaimana kita bisa membebaskan anak-anak dari belenggu jiwa, entah karena pola asuh atau karena faktor lain, beberapa hal yang penting untuk kita lakukan, antara lain:

 

1.     Hindari fanatisme pribadi.

Begitu kita sudah terlalu fanatik bahwa pengalaman kita dulu dan pengetahuan kita di kepala merupakan kebenaran mutlak yang pasti benarnya, maka kita akan cenderung memaksakan dengan power atau menolak mengubah paradigma. Lain soal untuk kebenaran yang sifatnya sudah disepakati secara universal. Fanatiklah dengan nilai namun fleksibelkan dalam menyampaikannya. Ini hanya bisa dilakukan apabila kita terus memperbaiki diri.

 

2.     Expressing, not attacking

Susah atau mudah, kita semua perlu belajar mengekspresikan perasaan tidak secara asertif (sopan, beralasan kuat, mempertimbangkan posisinya ) ketika hendak mengkoreksi, menegur, atau mendidik egonya. Yang perlu kita jauhi adalah menyerang, menghina, melecehkan atau merendahkan, entah melalui ucapan, penyikapan atau perlakukan. Dalam teorinya pasti kita tahu, tetapi dalam prakteknya kerap kita abaikan.

 

3.     Fokus pada kemaslahatan, bukan kepentingan ego

"Ayah tidak suka kalau kamu begini" atau "Ibu itu paling tidak suka dengan anak yang begini, begini, begini". Meskipun tujuannya baik, tetapi ungkapan ayah, ibu atau saya sangat kental suara subyektivitas-egonya. Untuk kebenaran dan kebaikan yang sifatnya sudah disepakati dunia, ini masih OK. Tetapi jika itu merembet ke hal-hal yang sifatnya subyektivitas pribadi, bisa-bisa itu sangat membatasi perkembangan jiwanya. Lebih tepat kalau kita selalu memakai alasan kemaslahatan (yang bermanfaat) untuk dirinya dan orang lain.

 

4.     Lebih banyak ke pencerahan, bukan ke indoktrinasi

Kata seorang tokoh masyarakat yang sering saya ajak berdialog, sekarang ini sekolah dan keluarga lebih suka memberikan indoktrinasi besar-besaran dalam mendidik. Terkadang masih juga dibarengi dengan ancaman. Ini bisa membatasi kapasitas anak. Di dunia akademik, hanya anak yang mendapat nilai pelajaran sembilan yang disebut anak cerdas. Padahal nilai akademik bukan satu-satunya prediktor kecerdasan.

 

Untuk mengimbangi kekacauan ini, kita bisa menciptakan usaha mandiri yang berbasiskan pencerahan. Ini bisa kita lakukan dari yang paling kecil sesuai kemampuan dan kebutuhan. Misalnya berkunjung ke musium, bersilaturrahim, ke perpustakaan, ke daerah bencana, ke kantor, dan lain-lain. Intinya, pencerahan adalah berbagai aktivitas yang dapat mendatangkan "new understanding" tentang hidup ini pada anak dari hasil usahanya.   

 

5.     Tak perlu tergoda oleh reaksi sesaat  

Menurut pemberitaan media, kekerasan pada anak itu setelah dihitung-hitung lebih banyak dilakukan oleh orangtua dan guru di sekolah. Kekerasan bisa muncul karena kita mudah tergoda reaksi penolakan, pengabaian, dan pembangkangan si anak yang sifatnya sangat temporer. Mungkin si anak belum sadar, tidak tahu, atau ingin menunjukkan kehebatannya.

 

Supaya tidak cepat mencuat kekerasan itu atau supaya tidak cepat pasrah, kita perlu memiliki keyakinan bahwa kebaikan yang kita tanamkan pada anak itu pasti akan berbuah. Soal ada yang cepat atau lambat berbuah, ini hanya soal waktu. Keyakinan ini pasti akan menolong kesabaran kita. Bukti menunjukkan bahwa ada periode kehidupan manusia yang disebut "titik balik".

 

Ini sebetulnya baru satu dari sekian buah yang dulu mungkin belum muncul. Intinya, jangan sampai kita cepat putus asa dalam mentransfer kebaikan dengan cara yang baik atau menyalahgunakan power, meskipun sepertinya itu semua ditolak, diabaikan, atau dibantah. Inilah cara mendasar dalam meningkatkan skill parenting.

 

 

Pintu Selalu Terbuka

Semua teori sepakat bahwa perkembangan manusia itu dipengaruhi oleh faktor bawaan dari kecil dan faktor pemberdayaan (on going development). Meski tidak ada kesepakatan berapa persen kontribusi masing-masing faktor, tetapi semua sepakat bahwa faktor pemberdayaan jauh lebih menentukan. Ini berarti bahwa kesempatan selalu terbuka untuk memberdayakan anak kita sesuai kemampuan kita untuk mengurangi belenggu di dirinya. Semoga bermanfaat.

 

 

  Isi Komentar
  Nama Anda :
  Komentar Anda :
   
Lihat Komentar ()