Seorang ibu
mengatakan pada anaknya agar menutup pintu gerbang segera setelah usai main
sepeda. "Nak, tolong pintu gerbangnya
jangan lupa dikunci ya", perintah sang ibu. Tanpa sepatah kata, si anak
melaksanakan perintah ibunya.
Di pelukan sang
ibu, si anak bertanya kenapa pintu gerbang harus selalu dikunci. Ibunya kaget mendengar
pertanyaan si anak. Dengan bahasa orang dewasa, si ibu menjelaskan, pintu
gerbang harus dikunci karena di sekeliling kita banyak orang jahat. "Nanti kalau
sepedamu dicuri gimana?" Rupanya, si
anak tidak punya pemahaman seperti itu selama ini. Menurut si anak, pintu
gerbang harus dikunci supaya kalau ada tamu yang datang mengucapkan salam dulu
atau permisi dulu.
Dengan
kepolosannya dari berbagai kepentingan pribadi, anak-anak kita terkadang
memiliki pemahaman yang lebih positif tentang hidup. Siapa pun tahu, termasuk
anak kita, di dunia ini pasti ada orang baik dan ada orang jahat. Tapi, si anak
terkadang tidak mau melihat dunia dari sisi negatifnya. Dia kerapkali melihat dunia
dari sisi kemaslahatannya, sementara kita lebih sering melihat dunia dari
kepentingannya.
Menurut Charles
L. Whitfield, M.D. (Healing The Child Within:1989), jiwa anak-anak itulah yang sebetulnya
merupakan jiwa asli manusia yang kita sebut dengan berbagai istilah: The Real Self, The True Self, The
Inner Core, dan lain-lain. Beberapa karakteristik yang menonjok
dari jiwa anak-anak itu antara lain: loving, giving, communicating, accept
self and others, spiritual, explorative,
(free to grow), assertive, creative, atau emphatic.
Intinya, dia baik
sama dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya. Karena itu, menurut Charles,
penting bagi kita untuk mengembalikan jiwa anak-anak yang ada di dalam diri
kita dan remaja kita, yang sudah terkontaminasi oleh berbagai faktor dan
kepentingan negatif. Dalam bahasa kita, jiwa anak-anak itu sering disebut fitrah. Fitrah bukan hanya bersih artinya. Arti fitrah juga kemenangan atau
memiliki sifat-sifat pemeneng.
Belenggu Bagi Jiwa
Dalam prakteknya,
tentu saja anak-anak kita tidak memiliki satu wajah positif semata. Ada juga wajah
negatifnya. Andaikan anak itu hanya memiliki wajah positif seperti malaikat,
selesai sudah dinamika urusan di dunia ini. Kalau kita amati, wajah negatif ini
ada yang berasal dari energi potensial dia sebagai manusia dan ada yang berasal
dari distorsi penggunaan potensi.
Yang berasal dari
energi potensial itu misalnya saja Id, seperti menurut Freud, di mana Id hanya disadarkan pada pleasure
prinsicple, terlepas itu baik atau buruk, salah atau benar. Misalnya minta
dibelikan mainan berlebihan, dikit-dikit ngambek, ingin main terus, makan terus, nonton terus, main air
terus-terusan dan lain-lain. Selama belum dicerahkan, energi Id atau nafsu
egoisme akan terus mendominasi.
Sedangkan yang
berasal dari distorsi itu misalnya kreativitas yang destruktif. Kreatif itu
bagus tetapi kalau destruktif artinya tidak pro-life,
karena digunakan untuk merusak, entah merusak diri sendiri atau pun merusak
orang lain. Unjuk-diri itu bagus namun kalau berlebihan sama artinya dengan mengajak
perang. Intinya, semua yang berlebihan, dalam arti improportional, itu
hampir bisa dipastikan jelek.
Untuk mengelola Id,
dan mencegah potensi distorsi, kita perlu melakukan upaya transfer nilai,
pengetahuan, pengalaman, budaya atau apapun yang bisa disebut pengasuhan dan
pengembangan. Tapi, dalam prosesnya, entah sadar atau tidak, kita kerap
menempuh teknik yang oleh Charles L.Whitfield disebut Stifling The Child
Within (membelenggu kejeniusan jiwanya). Beberapa "karakter keluarga" yang
dapat berpotensi membelenggu itu antara lain:
Belenggu jiwa itu
tidak harus disebabkan oleh kejadian yang ekstrim. Kejadian negatif yang
menurut kita biasa-biasa dengan intensitas yang tinggi pun sangat bisa menciptakan
belenggu. Menurut riset, Anak yang kerap menerima ungkapan menyakitkan sangat
berpotensi terkena cronically nice person. Komentar negatif bisa memperburuk
konsep diri, kata Jack Canfield.
Penyalahgunaan Power
Berkah Tuhan yang
diberikan kepada semua orangtua adalah power.
Menurut McDonald (1980), power adalah
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Supaya pola asuh efektif,
orangtua menggunakan power. Hanya
saja, power yang semula berkah ini
bisa menjadi musibah apabila kita salah menggunakannya.
Sejatinya, power itu diberikan agar kita gunakan
untuk meng-empower orang lain, dari mulai mendidik, mengarahkan, memberdayakan,
dan seterusnya. Begitu power itu kita
gunakan untuk memperkokoh egoisme, kesombongan, kediktatoran, dan semisalnya,
maka yang muncul adalah reaksi dari orang lain untuk membebaskan dirinya dari
penyalahgunaan power. Ini terjadi
dari mulai keluarga, masyarakat, negara dan dunia.
Meminjam temuannya F.
Philip Rice (Intimate Relationship: Marriage & Family: 1990), reaksi itulah
yang disebutnya dengan Power Neutralization Strategy. Dalam konteks membina
keluarga, ada beberapa indikasi yang bisa kita jadikan pedoman apakah selama
kita menggunakan power untuk meng-empower mereka atau menyalahgunakannya
atau menggunakannya secara kurang efektif. Indikasi itu antara lain:
Jika kita sudah
menjumpai sejumlah indikasi di atas pada hubungan kita dengan anak, berarti
cara kita dalam menggunakan power
perlu kita perbaiki. Sebab kalau tidak, sangat mungkin prilaku kita akan
bergeser ke pola asuh yang berpotensi mewariskan belenggu atau bahkan bisa
menimbulkan permusuhan.
Ketika usianya 0-7 tahun, dia adalah rajamu.
Ketika usianya 7-11-an tahun, kamu adalah rajanya
Ketika usianya 11-an – 20-an, kamu dan dia berteman
Setelah itu, mungkin dia bisa menjadi temanmu dan bisa menjadi musuhmu.
Beberapa Solusi
Tidak ada
orangtua yang sempurna. Kesempurnaan pola asuh itu hanya terjadi pada komitmen
kita untuk selalu menyempurnakan yang bolong-bolong setiap saat sesuai keadaan
kita. Terkait dengan bagaimana kita bisa membebaskan anak-anak dari belenggu
jiwa, entah karena pola asuh atau karena faktor lain, beberapa hal yang penting
untuk kita lakukan, antara lain:
1. Hindari fanatisme
pribadi.
Begitu kita sudah terlalu fanatik bahwa pengalaman kita dulu dan pengetahuan
kita di kepala merupakan kebenaran mutlak yang pasti benarnya, maka kita akan
cenderung memaksakan dengan power
atau menolak mengubah paradigma. Lain soal untuk kebenaran yang sifatnya sudah
disepakati secara universal. Fanatiklah dengan nilai namun fleksibelkan dalam
menyampaikannya. Ini hanya bisa dilakukan apabila kita terus memperbaiki diri.
2.
Expressing, not
attacking
Susah atau mudah, kita semua perlu belajar mengekspresikan perasaan tidak
secara asertif (sopan, beralasan kuat, mempertimbangkan posisinya ) ketika
hendak mengkoreksi, menegur, atau mendidik egonya. Yang perlu kita jauhi adalah
menyerang, menghina, melecehkan atau merendahkan, entah melalui ucapan,
penyikapan atau perlakukan. Dalam teorinya pasti
kita tahu, tetapi dalam prakteknya kerap kita abaikan.
3. Fokus pada kemaslahatan,
bukan kepentingan ego
"Ayah tidak suka kalau kamu begini" atau "Ibu itu paling tidak suka dengan
anak yang begini, begini, begini". Meskipun tujuannya baik, tetapi ungkapan
ayah, ibu atau saya sangat kental suara subyektivitas-egonya. Untuk kebenaran
dan kebaikan yang sifatnya sudah disepakati dunia, ini masih OK. Tetapi jika
itu merembet ke hal-hal yang sifatnya subyektivitas pribadi, bisa-bisa itu
sangat membatasi perkembangan jiwanya. Lebih tepat kalau kita selalu memakai
alasan kemaslahatan (yang bermanfaat) untuk dirinya dan orang lain.
4. Lebih banyak ke
pencerahan, bukan ke indoktrinasi
Kata seorang tokoh masyarakat yang sering saya ajak berdialog, sekarang ini
sekolah dan keluarga lebih suka memberikan indoktrinasi besar-besaran dalam
mendidik. Terkadang masih juga dibarengi dengan ancaman. Ini bisa membatasi
kapasitas anak. Di dunia akademik, hanya anak yang mendapat nilai pelajaran
sembilan yang disebut anak cerdas. Padahal nilai akademik bukan satu-satunya
prediktor kecerdasan.
Untuk mengimbangi kekacauan ini, kita bisa menciptakan usaha mandiri yang
berbasiskan pencerahan. Ini bisa kita lakukan dari yang paling kecil sesuai
kemampuan dan kebutuhan. Misalnya berkunjung ke musium, bersilaturrahim, ke
perpustakaan, ke daerah bencana, ke kantor, dan lain-lain. Intinya, pencerahan
adalah berbagai aktivitas yang dapat mendatangkan "new understanding"
tentang hidup ini pada anak dari hasil usahanya.
5. Tak perlu tergoda oleh
reaksi sesaat
Menurut pemberitaan media, kekerasan pada anak itu setelah dihitung-hitung lebih
banyak dilakukan oleh orangtua dan guru di sekolah. Kekerasan bisa muncul
karena kita mudah tergoda reaksi penolakan, pengabaian, dan pembangkangan si
anak yang sifatnya sangat temporer. Mungkin si anak belum sadar, tidak tahu,
atau ingin menunjukkan kehebatannya.
Supaya tidak cepat mencuat kekerasan itu atau supaya tidak cepat pasrah,
kita perlu memiliki keyakinan bahwa kebaikan yang kita tanamkan pada anak itu
pasti akan berbuah. Soal ada yang cepat atau lambat berbuah, ini hanya soal
waktu. Keyakinan ini pasti akan menolong kesabaran kita. Bukti menunjukkan
bahwa ada periode kehidupan manusia yang disebut "titik balik".
Ini sebetulnya
baru satu dari sekian buah yang dulu mungkin belum muncul. Intinya, jangan
sampai kita cepat putus asa dalam mentransfer kebaikan dengan cara yang baik
atau menyalahgunakan power, meskipun sepertinya itu semua ditolak, diabaikan,
atau dibantah. Inilah cara mendasar dalam meningkatkan skill parenting.
Pintu Selalu Terbuka
Semua teori
sepakat bahwa perkembangan manusia itu dipengaruhi oleh faktor bawaan dari
kecil dan faktor pemberdayaan (on going
development). Meski tidak ada kesepakatan berapa persen kontribusi masing-masing
faktor, tetapi semua sepakat bahwa faktor pemberdayaan jauh lebih menentukan.
Ini berarti bahwa kesempatan selalu terbuka untuk memberdayakan anak kita
sesuai kemampuan kita untuk mengurangi belenggu di dirinya. Semoga bermanfaat.