| |
Asertivitas
Oleh
Jacinta Rini
Team
e-psikologi
Jakarta,
20 Agustus 2001
Asertivitas
adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang
diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain
namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta
perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang
dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula
dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan
secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi,
memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Apakah
bedanya dengan agresif dan non-asertif ?
Seseorang
dikatakan asertif hanya jika dirinya mampu bersikap
tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran
dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak
merugikan atau mengancam integritas pihak lain.
Sedangkan dalam agresif, ekspresi yang dikemukakan
justru terkesan melecehkan, menghina, menyakiti,
merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain sehingga
tidak ada rasa saling menghargai dalam interaksi atau
komunikasi tersebut.
Sikap
atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak
lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan,
mempermalukan, menyerang (secara verbal atau pun fisik),
marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya
kritikan dan komentar yang tidak enak didengar),
sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.
Seseorang
dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal
mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya;
atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian
rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang
tidak dikehendaki atau negatif.
Mengapa
orang enggan bersikap asertif ?
Kebanyakan
orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada
rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya
dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu
alasan “untuk mempertahankan kelangsungan hubungan”
juga sering menjadi alasan karena salah satu pihak tidak
ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan
membiarkan diri untuk bersikap non-asertif (memendam
perasaan, perbedaan pendapat), justru akan mengancam
hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan
merasa dimanfaatkan oleh pihak lain.
Seberapa
asertif-kah Anda ?
Di bawah ini ada
beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri
Anda sendiri yang dapat menjadi indikator asertivitas.
-
Apakah
Anda terbiasa mengekspresikan secara jelas perasaan
atau pandangan Anda pada orang lain ?
-
Apakah
Anda meminta tolong pada orang lain pada saat Anda
memang membutuhkan pertolongan ?
-
Apakah
Anda mampu mengekspresikan kemarahan atau pun rasa
tidak enak Anda secara proporsional pada pihak lain
yang telah membuat Anda merasa sakit hati ?
-
Apakah
Anda suka bertanya pada orang lain pada saat
menghadapi kebingungan ?
-
Apakah
Anda mampu memberikan pandangan secara terbuka saat
Anda merasa tidak sepaham dengan pendapat orang lain
?
-
Apakah
Anda sering berbicara di depan kelas/umum ?
-
Apakah
Anda mampu untuk berkata “tidak” pada saat Anda
tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut ?
-
Apakah
Anda berbicara dengan sikap percaya diri, serta
berkomunikasi secara hangat ?
-
Apakah Anda memandang
wajah lawan bicara Anda pada saat Anda berbicara
dengannya ?
Tips
untuk bersikap assertif
Tips
untuk mampu mengatakan “tidak” terhadap permintaan
yang tidak diinginkan
-
Tentukan
sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau
tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda,
maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai
mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin
dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih
mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih
percaya diri.
-
Jika
belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda,
bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau
klarifikasi.
-
Berikan
penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas,
dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan
mengundang argumentasi pihak lain.
-
Gunakan
kata-kata yang tegas, seperti secara langsung
mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada
“sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya
kurang sependapat...saya kurang bisa.....”
-
Pastikan
pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan
atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan
pikiran dan verbalisasi Anda...Seringkali orang
tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun
dengan sikap yang bertolak belakang, seperti
tertawa-tawa dan tersenyum.
-
Gunakan
kata-kata “Saya tidak akan....” atau “Saya
sudah memutuskan untuk.....” dari pada “Saya
sulit....”. Karena kata-kata “saya sudah
memutuskan untuk....” lebih menunjukkan sikap
tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
-
Jika
Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus
mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali
menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang
dapat Anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan
pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
-
Anda
tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda
sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan
menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)...Sebenarnya,
akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati
seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak
menyenangkan bagimu.....tapi secara terus terang
saya sudah memutuskan untuk ...”
-
Janganlah
mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab
atas kehidupan orang lain...atau atas kebahagiaan
orang lain, bukan.....
-
Anda
bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah
pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus
mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan
masing-masing.(jr)
_____________________________
|