 |
|
|
Sederhana
Itu Sulit
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
30 Juni 2003
|
|
Salah satu bentuk paradok yang kita rasakan dalam
kehidupan sehari-hari adalah kenyataan di mana menjalani
hidup sederhana (mudah) justru yang paling sulit (The
simplest is the most difficult). Padahal kenyataan
juga menunjukkan bahwa biasanya konsep yang
sederhana lah justru yang bekerja dengan efektif. Konsep
yang ruwet, acak-acakan, njelimet justru seringkali
bernasib mandul dan menelan banyak biaya. Kita bisa
buktikan jumlah waktu dan biaya pulsa telephone yang kita
gunakan untuk hal yang jelas dan hal yang tidak jelas.
Bisa-bisa berlaku formula Paretto (20:80). Dua puluh
persen untuk hal yang jelas dan delapan puluh persen untuk
hal yang tidak karuan. Mengapa hal demikian ini bisa
terjadi?
|
|
|
Hambatan
|
|
|
Mudah sekali kita terjebak dalam pola hidup yang
tidak sederhana. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya.
Pertama adalah persepsi lingkungan di mana
kesederhanaan berpikir, bersikap, dan dan bertindak
dianggap sebagai kelemahan. Bentuk kelemahan yang
mewakili persepsi demikian adalah terlalu sembrono,
menyepelekan atau miskin. Padahal seperti pepatah
leluhur bilang, sederhana bukan berarti miskin tetapi
tepat sesuai kebutuhan. Sederhana berpikir dan bersikap
juga berbeda dengan sembrono. Berpikir dan
bersikap sederhana lahir dari kematangan dan kedalaman
pengetahuan / pemahaman seseorang tentang diri dan
wilayahnya sehingga lebih tepat dikatakan sebagai
keunggulan. Sementara sembrono lahir dari kedangkalan
yang berarti kelemahan. Alasan kedua adalah kualitas-diri.
Kualitas diri yang rendah bisa jadi merupakan hambatan
utama bagi kesederhanaan. Sebagian di antaranya dapat
kita uraikan
sebagai berikut:
|
|
|
1.
|
Kecenderungan
Liar
|
|
|
|
Sulit memiliki pola hidup sederhana kalau kita
tidak mampu menjinakkan kecenderungan yang ingin
memperluas wilayah secara liar atau dengan kata lain
terlalu serakah untuk menekuni banyak hal sekaligus
sementara satu hal belum lagi tuntas. Justru yang lebih
banyak kita butuhkan adalah mendalami wilayah. Kita
perlu belajar dari kehidupan orang sukses yang rata-rata
memulai sesuatu dari satu hal tertentu, baru meluas ke
wilayah atau hal berikutnya. Bahkan ada isyarat bahwa
perluasan wilayah itu hanya side - effect dari
kedalamannya. Contoh: dari sukses di bisnis kemudian di
tarik ke politik, sosial, dll.
|
|
|
2.
|
Ketidakpuasan
|
|
|
|
Kecenderungan liar di atas tidak bisa dipisahkan
dari unsur ketidakpuasan di dalam diri sang. Seperti
yang pernah di tulis oleh Swenson (Creating
"White Space in your life, Kathy Paauw: 2002),
bahwa ketidakpuasan merupakan penyebab yang menghalangi
orang untuk hidup sederhana. Ketidakpuasan di sini
diartikan kehilangan margin - space yang
kosong untuk membedakan space hidup yang lain.
Ketidakpuasan identik dengan ketidakmampuan menciptakan
rasa bahagia di dalam. Padahal kebahagian adalah kunci.
|
|
|
3.
|
Rendah
Diri
|
|
|
|
Kemungkinan yang paling dekat mengapa orang tidak
merasa bahagia dengan dirinya adalah karena adanya rasa
rendah diri (Inferioritas). Orang yang punya
merasa rendah diri akan mudah terjebak dalam pola hidup
yang tidak sederhana dengan cara menipu diri -self
deception (Hamacheck: 1987). Praktek hidup yang mudah
dikenali dari orang-orang yang rendah diri adalah: a)
mengurangi tanggung jawab (taking credit) atau
minimalistis, b) terlalu mementingkan diri sendiri (self
ego) karena rasa takut, c) beranggapan bahwa orang
lainlah yang harus berubah, d) menolak tanggung jawab
hidup untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
|
|
|
Karakteristik
|
|
|
Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus
dimiliki oleh seseorang untuk bisa memiliki pola hidup
sederhana. Beberapa esensi yang menjadi
ciri khas pola hidup sederhana dapat digambarkan sebagai
berikut:
|
|
|
1.
|
Keputusan
|
|
|
|
Esensi ini dapat membedakan antara sederhana,
sembrono, terlalu berhati-hati atau bentuk pola pikir,
sikap, dan perilaku yang berlebihan lainnya.
Kesederhanaan adalah kemampuan menentukan keputusan
hidup berdasarkan pada fakta optimal yang nyata dan
efektif. Keputusan hidup yang lebih banyak
didasarkan pada muatan perasaan pribadi atau ikut-ikutan
seringkali tidak sederhana, irrational dan
dibumbui muatan 'mestinya'. Padahal keputusan harus
menjadi solusi pada persoalan yang bermuataan 'kenyataannya'.
Keputusan yang lahir dari kedangkalan pengetahuan
dan pemahaman fakta optimal seringkali bukanlah ketukan
palu pengadilan solusi melainkan awal dari suatu masalah.
Dan sudah menjadi titah alam, persoalan apapun akan
menjadi sederhana apabila diterima oleh orang yang
berada dalam kapasitas mengambil keputusan. Sederhana di
sini berarti jelas antara YA & TIDAK. Orang yang
tidak jelas keputusannya (ketidaksederhanaan) akan
rentan terhadap berbagai
kafatikan, frustasi yang bisa merembet pada
stress, konflik dan lain-lain (Bradford dalam Living
simply in complex world: 1998 )
|
|
|
2.
|
Kekokohan
|
|
|
|
Esensi kedua adalah kekokohan pondasi personal
yang berisi kejelasan (clear-cut) tujuan &
fokus. Seseorang baru bisa berpikir, berbuat dan
bersikap sederhana kalau dirinya sudah jelas melihat
wilayah di mana ia berdiri. Dengan usia dunia yang
makin tua ini dipastikan semakin banyak distraksi dan
godaan yang membuat kita mudah mengatakan YA atau pun
TIDAk di luar konteks wilayah hidup kita yang sebenarnya.
Pondasi inilah yang menjadi sekat personal (Lihat
artikel: Membuat
Sekat Pembatas). Banyak persoalan kemanusiaan timbul dari
sekat personal yang hilang. Mestinya sekat kita
dengan orang lain adalah saling membantu tetapi ketika
kita langgar dengan tindakan intervensi, misalnya saja,
maka hilanglah kesederhanaan itu.
|
|
|
3.
|
Kemanunggalan
|
|
|
|
Berdasarkan The law of natural fixation (
keteraturan alamiyah), dunia ini satu dan menyatu antara
sekian objek yang kelihatannya di tingkat permukaan
terpisah. Kita menyatu dengan dunia di luar kita.
Kita akan dapat menjalani hidup dengan kesederhanaan
kalau kita sudah dapat menyatukan sekat yang terpisah
dalam bentuk pemahaman dan pemaknaan. Pemimpin
perusahan akan sederhana ketika seluruh urusan usaha
yang kelihatannya terpisah berakhir di meja kerjanya
yang satu. Sebaliknya akan tidak sederhana apabila
laporan tentang keadaan di lapangan yang terpisah
tidak menyatu di mejanya.
|
|
|
Beberapa
Kiat
|
|
|
Ada banyak cara untuk memulai hidup sederhana.
Salah satu yang bisa kita lakukan adalah 'tip
guideline' yang dikemukakan oleh Julie Jordan Scott
( 2000) sebagai berikut:
|
|
|
1.
|
Merumuskan
Tujuan Hidup dan Cara Mencapainya
|
|
|
|
Kita bisa membuat rumusan hidup dengan formula
sederhana, yaitu Formula SMART:
|
|
|
|
-
Jelas
(spesific),
-
Terukur, punya padanan fisik (measurable),
-
Bisa dicapai (attainable),
-
Relevan
(relevant)
-
Ada
tahapan waktu (time-based)
|
|
|
2.
|
Mengidentifikasi
dan Menyeleksi
|
|
|
|
Untuk bis ahidup sderhana maka diperlukan
kemampuan dalam mengidentifikasi dan menyeleksi bentuk
distraksi, toleransi, dan dukungan yang menyangkut
obyek berikut:
|
|
|
|
-
Barang.
Survey menunjukkan bahwa perusahaan
membuang banyak biaya pada peralatan teknologi yang
mestinya belum perlu sehingga hilanglah dimensi
kesederhanaan hidup di dalamnya (Progressive
Leadership: 2002).
-
Keadaan. Tidak semua keadaan
membutuhkan response dari kita. Ada yang perlu
dilupakan dan diselesaikan.
-
Cara. Tidak
semua pekerjaan harus ditangani sendiri tetapi tidak
semua bisa didelegasikan. Ada kalanya -
seperti digariskan teori manajemen - to spend
money in order to save time atau to spend time in
order to save money.
-
Masa
Lalu. Dari sekian lembar masa lalu, ada yang
masih bisa kita gunakan landasan merumuskan
masa depan dan juga ada yang sama sekali tidak
berguna.
|
|
|
Solusi yang ditawarkan Julie di atas dapat kita
lengkapi dengan menaati saran para ahli lain
yaitu menulis rumusan tujuan hidup, hasil identifikasi
dan seleksi di atas kertas putih (agenda harian). Memang
ada benarnya, justru menulis sesuatu yang kelihatannya
nyata, mudah, dan dekat dengan diri kita itulah yang
terkadang dirasakan sulit. Oleh karena itu tetap
dibutuhkan pembelajaran-diri. Mudah-mudahan bisa
direnungkan.(jp)
|
| |
_____________________________
|