|
|
 |
|
|
Memahami
Bagaimana Virus Kegagalan Berproses
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
Jakarta,
28 November 2002
|
|
Dalam
perjalanan hidupnya setiap orang pasti pernah mengalami
apa yang disebut sebagai kegagalan. Bahkan semakin
sukses seseorang maka semakin sering orang tersebut
mengalami berbagai kegagalan. Perbedaannya adalah pada
orang-orang yang dikenal "sukses", mereka
mampu menyadari akan kegagalan tersebut lalu segera
membenahi diri dan menyusun rencana baru. Sebaliknya
bagi orang-orang yang "gagal", mereka
tidak menyadari akan kegagalan tersebut, cenderung
terlena, tidak membenahi diri dan takut memulai
sesuatu yang baru lagi. Selain itu orang-orang gagal
cenderung terjebak dalam pola pikir negatif dan tidak
mampu keluar dari lingkungan yang negatif. Apakah
kegagalan terjadi dalam waktu yang tiba-tiba atau kah
sama dengan apa yang disebut kesuksesan yang biasanya
baru bisa dicapai setelah berjuang dalam kurun waktu
tertentu dan terus-menerus? Lalu bagaimana kita harus
menyiasati hal ini sehingga kita memiliki
kemampuan untuk menyadari adanya "virus-virus"
kegagalan yang menggerogoti kita secara perlahan-lahan?
Artikel singkat ini ingin menjawab kedua pertanyaan
tersebut sekaligus memberikan alternatif solusi yang
bisa anda lakukan agar anda tidak terjebak dalam
pilihan-pilihan yang akan membawa anda kepada kehancuran.
|
|
Dua
Hukum
|
|
Ada dua hukum yang berlaku di planet bumi ini.
Pertama, hukum buatan manusia dan kedua, hukum alam.
Hukum yang pertama menerima rekayasa, tawar-menawar, dan
pembalasan bagi yang melanggarnya pun masih dapat diatur.
Hukum kedua amat berbeda dengan hukum pertama. Hukum
yang kedua bersifat pasti dan tidak menawarkan
kesempatan negosiasi bahkan belas kasihan pun tidak.
Jika anda melanggarnya, baik anda tahu atau tidak tahu,
sadar atau tidak sadar, maka balasannya pasti akan anda
terima sesuai dengan pelanggaran tersebut. Hanya saja
balasan itu bersifat tersembunyi dan tidak anda rasakan
seketika sehingga sangat mungkin sekali terjadi
kelengahan dalam jumlah yang tidak terhitung.
Bentuk kelengahan yang tidak disadari itulah
yang disebut dengan virus kegagalan. Mengapa
disebut virus kegagalan? Karena ibarat virus yang hidup di dalam
tubuh seseorang dan menggerogoti tubuhnya secara tahap
demi tahap, demikian pula kelengahan yang tidak disadari berproses
terus-menerus melalui keputusan, pilihan atau pun
tindakan yang dibuat oleh seseorang tanpa sadar akan pembalasan
akhir atau dampaknya dalam jangka panjang.
|
|
Proses
|
|
Untuk mengetahui bagaimana virus kegagalan
berproses di dalam diri anda, berikut adalah kunci utama
yang perlu dipahami.
|
|
Tidak
Adanya Kesadaran akan Pembalasan Akhir
|
|
Kegagalan tidak pernah diciptakan oleh sekali tindakan
yang sifatnya sekali jadi. Kegagalan yang anda rasakan dihasilkan dari
akumulasi pilihan atau keputusan kecil yang salah dan
tidak anda sadari pembalasan akhirnya.
Dalam istilah psikologi dapat dikatakan bahwa kegagalan
adalah akibat ketidakmampuan individu dalam memahami reward
dan punishment dari tindakan yang dilakukannya.
Contoh paling gampang yang dapat dijadikan sebagai
ilustrasi tentang hal ini adalah perilaku menabung sejak
kecil. Orang yang mau menabung pasti menyadari betul
bahwa perilakunya tersebut akan menghasilkan reward berupa
keamanan uang simpanan, memperoleh bunga, jumlah uang
yang terus bertambah dan kemudahan hidup di hari tua.
Sebaliknya orang yang tidak berpikir untuk menabung
sejak kecil maka mungkin tidak sadar bahwa ia pasti akan
mendapatkan punishment berupa tidak adanya uang
simpanan yang cukup untuk hari tua, tidak
memperoleh bunga, dsb. Semua orang tentu sudah tahu bahwa pembalasan itu
biasanya terjadi di bagian akhir, namun sayangnya tidak banyak
orang yang waspada atau eling dengan
kondisi tersebut. Kegagalan berproses ketika anda
dan kesadaran anda dalam kondisi offline atau disconnected
terhadap adanya hukum pembalasan akhir sehingga anda
seringkali mengakhiri dengan paksa sesuatu yang telah
anda awali dengan sangat cemerlang. Putus asa di tengah
jalan, mempertahankan kesalahan dengan mengedepankan
sikap egoisme, mencari
sesuatu di tempat lain yang sebenarnya sudah anda miliki
atau mengumbar pengembaraan yang masih penuh dengan
asumsi adalah sejumlah contoh ketidaksadaran tersebut. Kesadaran untuk selalu on-line dengan
hukum pembalasan akhir tidak tergantikan oleh skill atau
sertifikat akademik apapun yang anda miliki. Buktinya,
banyak orang yang anda lihat skill-nya terbatas akan
tetapi bisa hidup mandiri dengan keterbatasan itu
sementara tidak sedikit para penganggur yang mestinya
telah dibekali kemampuan dan ketrampilan akademik tinggi
tetapi tidak bisa mandiri. Mengapa? Kemandirian
adalah balasan akhir bagi orang yang pernah memulai
sesuatu! Anda membutuhkan ketrampilan mental untuk
membunuh virus kegagalan yang meracuni tubuh anda
di samping tetap membutuhkan job skill sebagai
penghantar langkah anda menuju kesuksesan..
|
|
Belenggu
Imajinasi
|
|
Tidak
main-main jika ilmuan sekaliber Einstein mengakui bahwa
imajinasi lebih penting dari pengetahuan karena
kekuatannya yang begitu dominan membentuk diri anda
dalam kaitan gagal dan sukses. Mayoritas manusia
dipenjara oleh
imajinasi
kegagalan tentang dirinya, imajinasi kesengsaraan hidup
dan imajinasi negativitas kehidupannya secara umum.
Memang faktanya hampir tidak ditemukan kesuksesan
yang tidak diawali dengan kegagalan, hanya saja bukan di
situ esensinya. Jika anda gagal kemudian kegagalan
tersebut anda jadikan stempel terhadap diri anda entah
dengan sengaja atau tidak, maka stempel itulah yang
menciptakan kegagalan demi kegagalan berikutnya. Karena
baik kegagalan atau kesuksesan, keduanya bukanlah materi
riil akan tetapi lebih pada persoalan the way
of thinking, senses of seeing, sense of feeling,
atau sistem keyakinan yang anda anut. Jadi ketika anda menghembuskan imajinasi negatif
tentang kegagalan terhadap sesuatu yang ingin anda
wujudkan, imajinasi tersebut mengudara di alam ini lalu
ditangkap oleh hukum gravitasi bumi yang kemudian
menjadi kenyataan di dalam kehidupan anda. Gambaran
mengenai hal ini bisa anda pelajari dari kenyataan bahwa
semua kreasi diciptakan dari dua hal yaitu penciptaan
mental berupa imajinasi atau ide atau gagasan baru
kemudian penciptaan fisik.
|
|
Lingkungan
Negatif
|
|
Pernahkah anda mengamati kenyataan bahwa setiap
diadakan pertemuan orang-orang sukses, pasti sebagian
besar di antara mereka sudah saling mengenal sebelumnya
baik secara langsung atau tidak langsung. Apa yang anda
pahami dari kenyataan tersebut? Jawabnya: mereka
dibesarkan oleh dan di dalam lingkungan yang sama atau
hampir sama.
Belajar dari kenyataan tersebut, maka pilihlah
lingkungan positif atau berusahalah dengan keras
untuk menciptakannya sendiri jika anda belum menemukan.
Ingatlah bahwa lingkungan juga memproduksi stempelnya
sendiri dan lingkungan juga memiliki hukum alamnya
sendiri. Ketika anda masuk ke lingkungan tertentu, maka
hukum yang berlaku adalah hukum alam kolektif tertentu
seperti kerja sama, kemitraan, persahabatan, percintaan,
permusuhan atau lainnya. Maka sama dengan kegagalan,
kesuksesan pun tidak mungkin dihasilkan hanya oleh
seorang diri.
Lingkungan yang sudah diwarnai muatan
negatif sama bahayanya dengan ideologi terlarang.
Bedanya, penyebar ideologi terlarang bisa langsung
dijebloskan ke penjara tetapi penyebar pikiran negatif
ada di sekeliling anda dan bisa jadi keberadaannya
sangat dekat sekali dengan anda bahkan termasuk di dalam
diri anda.
Dengan memahami bagaimana virus kegagalan
meracuni hidup anda maka paling tidak anda telah menyiapkan
pisau untuk membunuhnya dan hal ini membutuhkan
perjuangan anda terutama menjaga tombol potensi anda
tetap online atau connected . Bisa anda
bayangkan betapa halus, kecil, dan tersembunyinya virus
itu sampai-sampai dengan jarak yang paling dekat
pun masih sulit anda melihatnya di samping bahwa
gigitannya pun tidak langsung bisa anda rasakan seketika.
Jika ingin sukses maka tingkatkan kewaspadaan diri untuk
mendeteksi adanya virus kegagalan tersebut sebelum ia
sempat menggerogoti anda. Semoga berguna. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|