|
Media
yang sudah lazim digunakan dalam dialog-diri adalah
meditasi. Ada sekian cara yang dapat ditempuh
untuk menjalani meditasi mulai dari yang
diajarkan agama, tradisi atau pengetahuan tertentu (the
art) seperti seni bela diri, dll. Tetapi cara
meditasi yang paling ampuh (powerful) adalah cara
yang kita temukan sendiri dan bebas dari lalu-lalang
aturan formalitas dan kode konformitas. Sendiri di sini
memiliki konotasi ‘penjiwaan personal’. Dari praktek
yang sudah umum, meditasi dapat didefinisikan sebagai
upaya
menciptakan sarana menarik diri (baca:
membebaskan-diri) dari hambatan yang membuat kita
terasing dengan diri kita.
Tak
pelak lagi, keterasingan demikian telah menyebabkan
sensitivitas diri (self sensitivity) seseorang
menjadi tumpul. Tidak dapat merasakan apa yang sedang
terjadi di dalam dirinya dan apa akibat yang dapat
dimunculkan oleh pikiran, perasaan dan keyakinan
tertentu. Tidak dapat mengidentifikasi bagaimana sesuatu
terjadi dengan label masing-masing. Ketumpulan
sensitivitas juga mengakibatkan orang tidak bisa
mendengar apa yang disebut “inner critic” (baca:
suara hati kecil). Orang lebih memedomani interpretasi
permukaan yang salah akibat intuisi yang dimiliki tidak
beroperasi.
Keterasingan dengan diri
juga akan merenggut kenikmatan relaksasi mental padahal
relaksasi mental adalah obat mujarab yang sudah
dipraktekkan oleh sebagian orang berprestasi untuk
mengundang inspirasi ketika kejumudan (Blokade
Mental)
melanda, sekaligus sebagai sarana mengundang ide kreatif
/ inovatif ketika kebosanan menyerbu. Sejarah mencatat,
Edison adalah pakar praktisi relaksasi di mana dalam
waktu 15 menit menjalani relaksasi, Edison sudah
menemukan ide baru. Kecepatan Edison itu tidak bisa
dipisahkan dari intensitas, kuantitas dan kualitas
relaksasi sebagai latihan mental. Relaksasi mental juga
digunakan Einstein untuk bervisualisasi sehingga dirinya
sampai pada kesimpulan: “ Fantasi atau imajinasi lebih
bekerja di dalam dirinya ketimbang ilmu pengetahuan”.
Relaksasi yang telah
direnggut oleh kebiasaan hidup yang dinamakan oleh Covey
dengan istilah ‘keracunan urgensitas’ (the-must-do-activity)
membuat diri kita bagaikan tong sampah dari masalah (problem).
Di mana-mana timbul masalah. Di rumah bermasalah, di kantor bermasalah, di jalan pun
bermasalah. Akibat sekian banyak masalah yang menyiksa
akhirnya kita merasakan kelelahan mental dan
tidak punya waktu lagi untuk bercengkrama dengan
diri sendiri. Padahal seperti pepatah bilang, “Tak
kenal maka tak sayang”.
Keterasingan juga membuat
kita kehilangan peluang untuk mengekspansi wilayah yang
selama ini membatasi diri kita. Wilayah di sini lebih
tepat dikatakan keyakinan yang dalam ungkapan lain
disebut-sebut sebagai sumber arus (akar motif). Orang
tidak dapat berbuat melebihi dari keyakinannya sebab
perbuatan adalah aliran arus. Meditasi dapat berperan
sebagai upaya menggali keyakinan yang telah terkubur di
dalam lumpur yang dapat digunakan untuk mengubah diri. Perlu diakui bahwa semua orang
ingin mengubah-diri menjadi lebih baik. Hari ini lebih
baik dari kemarin dan esok hari seharusnya lebih baik
dari hari ini. Namun mengapa akhirnya tidak semua orang
berhasil menjadi lebih baik? Salah satu penyebabnya
adalah karena program perubahan diri yang dirancang
kurang mengakar pada sumber arus. Artinya bisa jadi
perubahan yang terjadi hanya karena ikut-ikutan atau
didorong oleh motif permukaan yang sifatnya hanya
mengikuti trend sementara. Program perubahan diri
yang tidak (kurang) berakar pada motif pokok
diibaratkan seperti orang malas yang tidak bergerak
kalau tidak dipecut sehingga dirasakan berat sekali (beban).
Bisa dibayangkan, sudah dirasakan beban ditambah lagi
mengalami kegagalan. Akhirnya membuat orang malu atau
putus dengan coretan agenda-diri yang tidak pernah
berhasil.
Selain dapat menghilangkan
keterasingan, meditasi juga merupakan sarana
mengkukuhkan definisi-diri tentang “who we are”.
Selama ini definisi yang kita buat bergantung
pada aktivitas, pekerjaan, atau pada definisi
yang disodorkan oleh orang lain. Aktivitas,
pekerjaan dan kondisi eksternal adalah variabel yang
sarat dengan perubahan dan kalau hal demikian kita
jadikan patokan untuk mendifinisikan who we are,
maka konstruksi definisi-diri kita menjadi compang-camping
tak berbentuk. Difinisi diri adalah ungkapan prinsip
keyakinan (value), visi, dan tujuan yang
terkadang perlu kita pisahkan (baca: selamatkan) dari
hiruk-pikuk realitas temporer.
Dengan sekian alasan yang
diuraikan di atas, maka meditasi seharusnya jangan kita
gunakan hanya sebatas sarana untuk menghasilkan daftar
dosa, kesalahan masa lalu, atau hukuman diri lainnya
yang akan menyebabkan kita membuat kompensasi kebablasan
dan mendorong pada
rasa takut untuk berbuat. Meditasi adalah ruang
memperkuat keinginan untuk memperbaiki diri (re-programme)
guna mendekatkan se-obyektif mungkin antara diri yang
kita persepsikan (perceived self), diri yang
ideal (ideal self) dan diri yang riil (the real
self). Ketidakdekatkan ketiga diri tersebut telah
membuat kita mudah
terperosok dalam lorong diri yang gelap - self-deceived
(Carter McNamara:
1999).
|